
Pagi sudah beranjak menjadi siang, namun sampai saat itu pula Ara tak jua mendapatkan Zayn mengembalikan Ziyyan seperti janjinya kemarin. Gadis itu terlihat sangat gelisah, untuk sekedar mencoba menghubungi Zayn tentu ia masih besar gengsi. Apalagi ia masih belum mengaktifkan kembali nomor ponselnya yang dulu.
Sisil yang sedari tadi juga menemaninya menunggu kedatangan Ziyyan di ruang tamunya, tentu sudah merasa jenuh melihat Ara yang tak mau diam. Ibu satu anak itu sedari tadi selalu berdiri mondar mandir didepannya, membuat Sisil merasa bertambah pusing dibuatnya.
Sedangkan Haris, mulai mereka sarapan pagi tadi, mereka tak mendapatkan papinya Ara ikut sarapan bersama. Entah kemana perginya. Bertanya kepada Viona, maminya Ara itu tak mau menjawabnya.
Meski sebenarnya Sisil sudah merasa curiga dengan gelagat tantenya yang seakan sedang perang dingin lagi dengan Haris, berbalik dengan yang di rasa oleh Ara. Ia sudah bisa menduga kalau maminya demikian mungkin karena masih marah dengan papinya, karena kejadian Zayn membawa Ziyyan kemarin. Ara pun juga sedikit sebal dengan papinya, karena telah membiarkan Zayn membawa Ziyyan yang pada akhirnya sampai sekarang pria itu tak kunjung datang lagi.
"Udah, di telpon aja coba." Sudah kesekian kalinya Sisil menyuruh Ara menghubungi Zayn, agar bisa tahu mengapa ia masih belum mengembalikan Ziyyan.
Dan Ara masih angkuh dengan hatinya. Ia masih tak mau dengan usulan dari Sisil.
"Kali aja Zayn emang sengaja gak mau balikin Ziyyan, nunggu lo nelpon duluan mungkin."
"Iish!!" Mendengar ucapan Sisil, Ara hanya menghentak kaki sebal.
"Ya udah, mending lo ikut gue deh. Kita shopping yuk? Dah lama nih gak keluar bareng." Sisil mulai merayunya lagi agar mau di ajak keluar. Sebab dari kemarin wanita itu masih tak mau di ajak jalan-jalan olehnya.
"Males gue!" Tolaknya lagi.
"Pliis deh, Ra." Sisil menangkupkan kedua tangannya kepada Ara.
Ara hanya memutar bola matanya merasa jengah dengan ajakan Sisil itu. Andai saat ini ada Ziyyan, tentu ia akan senang hati menerima ajakan dari Sisil itu. Karena ia juga ingin mengenalkan kehidupan dan suasana kota kepada anaknya itu.
"Eh, gue telpon Keanu ya?" Tiba-tiba Sisil menggulir layar ponselnya ingin menghubungi Keanu.
"Buat apa?" Ara mengambil paksa ponsel yang dipegang Sisil, lalu meletakkannya di atas meja.
"Ya ajak kesini lah. Lo nya aja gak mau gue ajak keluar, mending gue ajak Keanu kesini kan? Biar tambah rame. Pusing gue lihat lo muter-muter kayak trenggiling." Sisil meraih kembali ponselnya, tapi ia hanya menscrol gak jelas. Urung menghubungi Keanu lagi.
Tiba-tiba Ara beranjak pergi menuju kamarnya. Gadis itu melangkah cepat, hingga tak lama kemudian ia sudah keluar dengan tas kecil yang di selempangnya.
"Yuk!" Ajaknya langsung.
Sorot mata Sisil langsung berbinar melihat Ara sudah tiba-tiba siap berangkat untuk keluar bersamanya. Ia pun memakai tas kecilnya kemudian segera menyusul Ara yang sudah melenggang jauh didepannya.
"Ibu, aku mau keluar sama Sisil. Tolong bilangin ke mami ya? Aku tadi gak sempat pamit sama mami." Ara menyapa Narsih yang kebetulan sedang membantu Rudy merapikan bunga hias di halaman rumahnya.
"Iya. Kalau boleh tahu kamu mau kemana?"
"Mau jemput Ziyyan ke rumah Zayn kali, Bi." Sisil ikut menyahut, yang kemudian langsung dapat respon pelototan mata dari Ara.
Narsih yang mendengarnya hanya memandang tak yakin. Tapi sebenarnya ia juga senang, andai yang dikatakan Sisil itu benar. Sebab jika benar, tentu hubungan di antara mereka akan cepat membaik.
"Lo itu yaa!" Ara mencubit kecil lengan Sisil. Tentu ia sangat geram mendengar Sisil menggodanya lagi dengan hal yang berkaitan dengan Zayn.
"Aduh! sakit tau!" Sisil mengusap-ngusap lengannya, bekas cubitan Ara.
__ADS_1
"Sejak jadi ibu, lo berubah galak sama gue," umpatnya lagi, masih memegangi bekas cubitan darinya itu.
"Biarin!" Ara meraih tangan Narsih lalu kemudian mencium punggung tangannya itu dengan takdzim.
"Eh, jangan, Nak." Narsih muncul rasa tak nyaman sendiri ketika Ara mencium tangannya. Sebab kali ini posisinya sudah berbeda. Dulu di kampung Ara memang telah menjadi anak angkatnya, tapi sekarang ia berada di sini hanya sebagai kakak dari pekerja rumahnya.
"Kenapa sih, Bu? Aku kan tetap anaknya ibu?" Kali ini Ara malah merengkuh tubuh Narsih dalam pelukannya.
Narsih menyambut hangat pelukannya itu, ia tersenyum sangat senang. Menghadapi kenyataan Ara yang tak berubah meski telah kembali kepada orangtuanya. Sedangkan Sisil juga tersenyum lebar melihat pemandangan yang mengharukan itu.
"Aku pamit yaa." Lagi-lagi Ara mencium tangan Narsih.
"Iya, hati-hati di jalan, Nak." Narsih sedikit mengelus pucuk kepala Ara dengan penuh kasih.
"Aku pamit juga, Bi. Jangan lupa salamkan ke tante Vi, paling nanti aku langsung pulang." Sisil ikut berpamitan padanya.
Narsih mengangguk ramah. Lalu setelah itu ia melihat Ara dan Sisil telah memasuki sebuah mobil mewah yang berada di garasi rumah tersebut. Tak lama setelah itu mereka pun telah benar-benar keluar dari balik pagar tinggi kediaman Haris Rahardian.
"Kita mau kemana, Ra?" Sisil mulai menanyainya saat Ara sedang fokus menyetir mobil miliknya, yang telah cukup lama tidak ia gunakan.
"Mau ngurus nomor telepon gue," sahutnya.
"Ooh, kirain mau jadi shooping."
Ara melirik sekilas kepada Sisil. "Kalo itu lihat entar lah."
"Kenapa emang?"
"Emang lo masih paham cara nyetir mobil?"
Sisil berkata demikian karena ia tak yakin Ara masih mahir dalam mengemudi. Secara selama bertahun-tahun saudara sepupunya itu tinggal di desa dan sama sekali tak pernah bersentuhan dengan mobil lagi.
"Lo ngeremehin gue?" Tiba-tiba Ara sedikit menambah kecepatan laju mobilnya, membuat Sisil berteriak-teriak tak jelas saking takutnya.
Melihat Sisil yang begitu, Ara pun terkekeh. Setelah merasa puas mengerjai Sisil akhirnya ia pun kembali menormalkan laju kendaraannya lagi.
"Huft!" Sisil mendengus lega.
Ia sekilas melirik ke arah Ara, lalu tak lama setelah itu mereka pun sama-sama tertawa lepas. Sejenak terlupa akan hadirnya Ziyyan dalam kehidupan Ara, saking senangnya mereka saat ini.
Satu jam kemudian, akhirnya Ara sudah selesai meregistrasi ulang nomor telponnya itu. Ia pun segera kembali masuk ke mobilnya, karena disana ada Sisil yang menunggunya.
"Sudah?" Tanya Sisil ketika Ara sudah duduk di balik kemudinya.
Wanita itu hanya mengangguk. Lantas kemudian ia merogoh isi di dalam tasnya, mencari sebuah kartu nama yang diberi oleh Hanung saat di kampung.
Setelah menemukannya ia pun segera menyimpan nomor ponsel yang tertera di sana. Sisil sedikit mencondongkan badannya kepada Ara, megintip nama seseorang yang di catat Ara dalam ponselnya.
__ADS_1
"Siapa Hanung?" Tanyanya penasaran.
"Teman gue," sahutnya santai, lalu kemudian meletakkan begitu saja kartu nama itu di atas dashboardnya.
Sisil meraihnya, ia pun bertambah kepo dengan seseorang yang bernama Hanung itu.
"Teman apa teman?" Godanya sambil menyikut kecil pada lengan Ara.
"Teman, Sisil." Ara menyahut yakin.
"Mm, pantesan keberatan dijodohin sama Keanu. Jadi sudah ada Hanung ini ya?" Sisil masih terus menggodanya, sambil terus memainkan kartu namanya itu didepan wajah Ara.
"Apaan sih lo!" Sergahnya sambil merampas potongan kertas persegi itu dari Sisil.
"Dia itu orang yang baik sama Ziyyan di kampung dulu." Jelasnya.
"Mmm...." Sisil mencebikkan bibirnya tak yakin.
"Kalau gak percaya ya udah." Lantas Ara menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Gak sekalian masukkan nomor yang ini, Buk?" Tiba-tiba Sisil menyodorkan sebuah kartu nama juga kepada Ara.
Wanita itu meraihnya, tapi setelah mengetahui nama yang tertera di sana Ara langsung melemparnya lagi ke atas dashboard mobilnya.
"Kali aja lo butuh. Entar kalo besok-besok Ziyyan di bawa dia lagi, kan lo gak bingung nelponnya." Sisil membiarkan saja kartu nama milik Zayn teronggok di tempatnya.
Ara tak menyahut apa-apa. Wanita itu kemudian melajukan mobilnya, berjalan tanpa arah dan tujuan.
Untuk apa Ara menyimpan nomor ponsel Zayn, karena ternyata nomor ponselnya tak pernah berganti. Dan Ara sudah tentu sangat hafal nomornya itu.
"Ra, nomor lo tetap yang itu kan?"
Ara hanya mengangguk. Kali ini wanita itu kembali terdiam, tentu karena ia tiba-tiba teringat Ziyyan lagi. Sedang apa anaknya itu sekarang? Apakah Zayn sudah mengantarnya pulang?
Drrrrrrrrrrttttt......
Terdengar notif chat masuk ke ponsel Ara.
"Gue kirim nomor Keanu. Siapa tahu lo butuh," seloroh Sisil tiba-tiba.
Ternyata pesan masuk itu dari Sisil yang mengirim nomor ponsel Keanu kepada Ara. Gadis itu sengaja memberinya nomor ponsel Keanu, karena sebenarnya ia sangat mendukung jika nanti Ara jadi berjodoh dengannya.
Meski mulutnya kadang masih sering menggoda Ara dengan Zayn, akan tetapi ia melakukannya karena sedang salah tingkah saja. Karena sebenarnya ia masih merasa sangat takut jika nanti video dirinya yang menampar Zayn kemarin sampai kepada Haris, gadis itu masih tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Om nya itu nanti.
*
Jangan lupa.. Budayakan Like, komentar, setelah selesai membaca😊
__ADS_1