
Tak terasa sudah lebih dari seminggu Zayn dan Ara terpisah jarak. Kendati begitu tak membuat mereka putus komunikasi, meski sebenarnya ada sesuatu yang masih dipendam oleh Ara. Apalagi dengan adanya seorang anak diantara mereka tentu membuat hubungan itu semakin hangat.
Ara yang pandai menutupi perasaannya yang masih bimbang kepada Zayn, tentu pria itu menyangka jika semuanya sudah baik baik saja. Resepsi pernikahan yang dua minggu lagi akan digelar terasa sudah berada didepan mata.
Setiap harinya Ara selalu menunggu kapan Zayn pulang, bukan karena rindu, melainkan karena sesuatu hal yang ingin ia selidiki di apartemen Zayn. Entahlah apa yang membuat wanita itu tetap keras kepala dan masih tak bisa setulusnya menerima Zayn kembali. Padahal si pengirim foto itu, Keanu, telah memberinya saran untuk tak lagi mengusutnya dan menyuruhnya untuk menganggap sebagai masa lalu Zayn saja.
Keanu sempat menyesali diri atas keegoisannya itu. Dirinya yang awalnya berniat hanya ingin melihat Ara tidak kecewa dikemudian hari, tentu saat ini semakin resah setelah melihat Ara dibuat tak tenang oleh perbuatannya itu.
Sudah terlanjur kepalang, maka mau tak mau Keanu menyetujui Ara untuk menjadi mata mata Zayn, andai pria itu sudah kembali pulang ke apartemennya. Tentu semua itu juga melibatkan Reno, sebab temannya itu satu-satunya orang terdekat yang ada disekitar apartemen Zayn.
[Zayn pulang.]
Sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke ponsel Ara dari nomor yang tidak dikenal.
Awalnya wanita itu masih cuek, karena menganggap pesan itu hanya dari orang iseng yang bertanya Zayn. Akan tetapi setelah nomor asing itu juga menyertakan foto Zayn yang akan masuk ke apartemennya, tentu membuat wanita itu terhenyak kaget. Dan seketika teringat mungkin nomor asing itu adalah dari Reno, teman yang juga membantunya yang dimaksud Keanu.
Tadi pagi Zayn masih bicara jika ia akan pulang minggu depan. Nyatanya malam ini pria itu pulang tanpa mengabari Ara sebelumnya. Sebelum ia pergi menyusul Zayn kesana, wanita itu tentu ingin menyelidikinya dahulu dari Hanung. Ia sangat yakin jika asisten Zayn itu pasti tahu kenapa dan ada apa Zayn pulang mendadak hari ini.
"Tadi Bos cuma bilang ada urusan mendesak yang harus bos tangani sendiri," terang Hanung, saat Ara menghubunginya dan langsung menanyai Zayn kepadanya.
"Cuma itu?" Ara masih tak percaya.
"Iya, Dek. Aku juga tidak tahu urusan apa itu."
"Proyek di sana baik-baik saja kan?" Ara sedikit resah, takut kepulangan Zayn itu karena ada sesuatu yang tidak beres dengan proyeknya itu.
"Semua baik-baik saja kok, Dek. Ngomong-omong ada apa ya, kok dek Ara tumben nelpon aku?"
"Aah, tidak ada apa-apa. Hanya ingin mengobrol sama mas Hanung saja." Ara berkilah.
"Ooh...." Terdengar kekehan dari Hanung di sana.
"Mas, aku udah dulu ya. Soalnya Ziyyan minta temenin main keluar." Wanita itu berdusta lagi.
"Ooh, iya Dek. Mmm, dek Ara?"
"Iya, ada apa?"
"Aku masih boleh panggil adek, kan?" Tentu Hanung merasa canggung sendiri setelah mengetahui siapa sebenarnya Ara, akan tetapi lidahnya sudah terlanjur biasa memanggil Ara dengan panggilan khasnya itu.
"Iya, tidak apa-apa." Ara menyahut ramah.
Meski Hanung hanyalah sebatas asisten pribadi Zayn, dan dirinya adalah anak dari CEO nya, akan tetapi tidak membuat Ara berubah seenaknya kepada Hanung. Pria itu dulu yang sering mengunjungi dan menemani dirinya dan Ziyyan. Atas kebaikan yang pernah dilakukannya itu, tentu Ara sudah menganggapnya seperti teman, bukan sebagai bawahan.
__ADS_1
Ara secepatnya beranjak keluar dari kamarnya. Ia sudah bertekad akan mengunjungi Zayn ke apartemennya. Lebih tepatnya mungkin melabraknya, karena hingga detik ini pun Zayn sama sekali tidak memberinya kabar jika sudah pulang. Sepintas pikiran negatifnya kembali hinggap, siapa lagi jika bukan bayangan Bella yang melintas dibenaknya.
Bahkan wanita itu sampai tak sempat untuk sekedar pamit kepada orangtuanya. Ia hanya berpesan kepada Rudy, karena pria itu kebetulan sedang berada dihalaman depan, menemani security yang berjaga.
Setelah menempuh perjalanan yang menguras kesabaran karena kemacetan di jalanan ibu kota, akhirnya Ara sudah sampai dan segera memarkirkan mobilnya di basemen apartemen Zayn.
Langkah kakinya berjalan begitu cepat, menyusuri lorong yang menuju apartemen Zayn berada. Hingga akhirnya ia pun juga sudah berdiri didepan pintu bernomorkan 212 dan menekan bell nya berulang ulang.
Ceklek.
Tak menunggu lama pintu itu akhirnya terbuka. Menampilkan wajah Zayn yang segar, akan tetapi matanya masih terlalu fokus berselancar dilayar ponselnya.
"Kenapa tidak terus terang kalo pulang sekarang?" Ara langsung mencercanya, tak lagi mau basa basi atas masalah hatinya yang terlampau resah.
Zayn mendongak, lantas kemudian langsung tersenyum lebar begitu menyadari bahwa yang berkunjung adalah istrinya.
Ara tetap dengan wajah juteknya. Ia tak habis pikir dengan pria didepannya yang tetap tersenyum santai melihat kedatangannya.
"Baru saja aku mau chat kamu." Zayn menunjukkan pesan yang belum sempat ia kirim itu kepada Ara.
Ara membacanya sekilas. Memang benar kalau pria itu berencana akan mengabarinya, akan tetapi menurut Ara hal itu tetap keliru. Seharusnya pria itu mengabarinya tadi sebelum pulang kesini, atau ketika masih berada di proyeknya.
Ah, sudahlah. Yang terpenting kali ini Zayn berada di apartemennya. Tapi ini sudah satu setengah jam pria itu pulang, bisa jadi tadi ia sempat bertemu dengan orang lain.
Ara melirik ke arah sekitar, menyelidiki adanya kamera CCTV yang terpasang diluar apartemen itu.
Wanita itu masih terdiam tanpa bicara. Sedang matanya begitu awas menyelidiki setiap sudut dari ruang tamu suaminya itu yang terpasang CCTV.
"Duduklah. Aku buatkan minum dulu." Zayn menuntun Ara untuk duduk di sofanya.
Seketika sorot mata Ara membulat lebar begitu mengetahui bahwa didepannya kini ada laptop Zayn yang sedang menyala. Kemungkinan pria itu barusan sedang mengontrol rekaman CCTV nya. Membuat tangan Ara ikut tergerak untuk mencari tahu tentang adanya rekaman dari dua bulan terakhir.
"Sayang, kamu mau minum apa?" Tetiba Zayn sudah berdiri dibelakangnya sambil menekan pundaknya.
"Eh-- Terserah kamu." Ara menyahut singkat. Ia melihat suaminya itu tidak marah meski dirinya ketahuan sedang mengutak-atik laptopnya.
"Aku kehilangan flashdisk. Maksudku, mungkin aku terlupa meletakkannya dimana. Padahal disitu ada beberapa file penting. Cerobohnya aku!" jelasnya sambil mengaduk teh matcha hangat untuk Ara.
Ara tak meresponnya, ia tetap fokus menatap layar laptopnya. Hingga sampai Zayn sudah duduk disebelahnya, wanita itu masih sibuk dengan kegiatannya.
"Kamu cari apa, hmm?" Zayn turut mencermati yang sedang dicari Ara.
"Aku mau membantumu," sahutnya sekenanya, tanpa mau menoleh kepada Zayn.
__ADS_1
Tap.
"Sudah lah, jangan dicari lagi." Tetiba Zayn menutup laptopnya, membuat Ara langsung terlonjak kaget olehnya.
"Aaaahhh....!!!" Protesnya kesal.
Ara kembali berusaha membuka laptop itu, namun tangannya langsung dicegah oleh Zayn.
"Kamu mau cari apa? Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" Zayn masih dengan nada lembutnya.
"Mencaritahu semua tentang kamu!" sahutnya ketus.
Zayn sedikit terhenyak mendengarnya, akan tetapi pria itu tetap berwajah tenang menghadapi istrinya yang ketahuan sedang mencurigai dirinya.
"Nggak usah cari kesitu. Tanyakan langsung ke aku apa yang menjadi ganjalan hatimu sekarang." Zayn menaikkan kakinya, duduk bersila di sofanya sambil menghadap kepada Ara. Ia pun menuntun Ara supaya juga duduk sepertinya, saling berhadapan, agar bisa santai saling bercengkrama.
"Sekarang apa yang mau kamu tanyakan?" Zayn beralih menyentuh kedua pundak istrinya.
"Apa yang kamu curigai dari aku, hmm?" Mata Zayn melirik ke arah laptopnya.
"Kamu pasti dengar yang tidak-tidak tentang aku kan?" Zayn semakin melekatkan pandangannya.
Ara melepas rengkuhan tangan Zayn dipundaknya, pria itu langsung membawanya dalam genggamannya.
"Tanyakanlah. Jangan ada uneg-uneg lagi. Keluarkan semua yang ingin kamu tanyakan." Pria itu mencium lama telapak tangan istrinya.
"Bella." ucap Ara, singkat tapi terdengar menekan.
Zayn bergeming. Ia berpikir sendiri kenapa istrinya itu menyebut nama Bella. Mungkinkah ada sesuatu yang membuatnya mencurigai Bella? Atau....
"Sh*iitt!! Dia pasti sudah menerimanya." umpatnya kesal sendiri.
Beberapa hari yang lalu petugas keamanan apartemen ini memberitahu Zayn jika Reno meminta rekaman CCTV yang berada didepan apartemennya. Meski Zayn sendiri tidak mengenal siapa Reno, akan tetapi masalah itu sekarang sudah terlanjur diketahui oleh Ara. Jalan satu-satunya yaitu menjelaskannya kepada Ara, dan semoga saja ia mau percaya.
"Bella?" Zayn masih pura pura tak paham.
"Iya, Bella. Ada hubungan apa kamu sama dia?"
"Tidak ada. Aku sama dia sudah lama tidak bertemu."
"Bohong!" Ara meraih ponselnya, lantas ia menunjukkan foto itu kepada Zayn.
"Ini masih sekitar dua bulan. Dan ini jelas didepan apartemen sini. Kamu masih mau bilang kalo kamu sudah lama nggak saling ketemu?" Ara berkata sedikit emosi.
__ADS_1
"Kamu cemburu?"
*