
Tommy menemui Zayn di rumahnya. Ia mendapati pria itu duduk menyendiri di halaman belakang rumahnya sambil menghisap rokok yang di pegangnya.
Tommy mulai tahu, mungkin Zayn saat ini sedang tak senang atau ada sesuatu yang membuatnya banyak pikiran, melihat dari beberapa puntung rokok yang telah habis di hisap oleh pria itu.
Ia duduk bersebelahan dengan Zayn, memandangi wajahnya yang benar-benar sedang tak karuan.
Zayn melempar bungkus rokok itu pada Tommy namun di tolak oleh Tommy dengan gelengan kepalanya.
"Lo kesini mau nanyain gue sama Bella kan?" tanyanya yang kemudian menyudahi kegiatan merokoknya, beralih fokus pada Tommy yang menatapnya penuh heran.
Tommy mengangguk. Ia melihat Zayn menghela nafasnya begitu berat.
"Gue sama Bella gak ada hubungan apa-apa," ucapnya penuh keyakinan.
"Apa yang di posting Bella itu memang gue, cuma gue gak habis pikir aja Bella bisa senekat itu. Dan lo jangan berpikir yang macem-macem, gue sama dia gak ngapa-ngapain." Jelasnya lagi ketika mendapati ekspresi menganga dari Tommy yang mendengarnya.
"Kalo lo emang gak ada apa-apa sama Bella, lo harus segera bergerak. Gue lihat tadi Ara nangis, cuma gue sebel dia nangis dalam pelukan si Keken itu." Jelas Tommy yang membuat hati Zayn sedikit terluka mendengarnya, namun ia pandai menyembunyikan rasa itu sehingga Tommy tidak menyadari akan perubahan suasana hati Zayn saat ini.
Zayn kembali terdiam. Ia menatap langit yang begitu cerah namun tidak dengan suasana hatinya saat ini. Satu batang rokok kembali di hisapnya dan Tommy pun turut menemani kegiatan Zayn itu.
Uhuk... uhuk... uhuk...
Tommy terbatuk karena ia memang bukan perokok, lalu ia pun segera menekan-nekan ujung rokok tersebut dan menoleh kepada Zayn yang sebenarnya pria itu bukan perokok juga setahunya. Selama Tommy berteman dengan Zayn, ia tidak pernah melihat Zayn merokok hingga sebanyak ini dan Zayn terlihat enjoy dengan kegiatannya itu.
"Gimana ceritanya tangan lo nempel gitu di itunya Bella?" Tommy mulai kepo maksimal, setelah ia lagi-lagi melihat postingan Bella yang masih ada.
Zayn menatap tak suka pada Tommy, yang menanyai sesuatu hal yang tak ingin ia ingat-ingat lagi kejadian itu.
"Lo diem, itu tandanya beneran ada yang terjadi antara lo sama Bella."
"Terserah apa kata lo!"
"Ck! Emang Bella itu cewek nekat!" Tommy mulai berkutat dengan bayangannya pada Bella, sambil matanya tak henti-hentinya melihat unggahan Bella di ponselnya.
Zayn tak peduli lagi dengan apa yang di pikirkan Tommy. Ia menekan ujung rokoknya, menyudahinya untuk yang kesekian kalinya. Lalu ia menggulir layar ponselnya dan tangannya mulai mengetik pesan, kemudian senyumnya terlepas ketika mendapati balasan dari seseorang yang ia kirim pesan tadi.
"Loh, kok sudah gak ada?" Tommy terkesiap begitu menyadari postingan Bella yang sudah di hapus oleh Bella.
"Zayn, Bella ngapus storynya, udah nyadar kali ya, kalo lagi ngehalu sama lo, ha... ha.... ha...." Tommy tertawa begitu puas.
Zayn hanya melirik pada Tommy yang masih tertawa sangat puas, melebihi suasana hatinya yang juga puas karena Bella benar-benar menghapus unggahannya atas permintaannya lewat pesan yang ia kirim tadi.
__ADS_1
"Zayn."
Zayn menoleh pada Tommy yang terlihat menghentikan tawanya dan serius menatapnya.
"Sebenarnya lo suka kan sama Ara?"
"Ee... Apa? Nggak dengar gue?" Zayn pura-pura tak mendengar pertanyaan Tommy.
"Ngaku aja, gak usah sok kuat memendam perasaan, mata lo gak bisa bohong, gue tau itu."
"Kalo gitu ayo tebak, gue suka Aurora apaaa..... Sisil?" Zayn berbalik menanyai Tommy, berniat menggodanya yang begitu kentara lagi naksir Sisil.
"Jangan Sisil dong. dia kan calon ibu anak-anak gue kelak." Tommy langsung ngegas mendengarnya.
"Hmm, halu lo lebih parah dari Bella." Zayn malah mencebikkan bibirnya pada Tommy.
"Eh, gue memang halu saat ini. Tapi masih mending ketimbang lo. Lihat aja besok, lo bakalan ancur sehancur-hancurnya karena udah di tikung duluan sama si Keken itu."
Zayn terdiam mendengar ucapan Tommy yang ada benarnya. Ia harus segera bergerak mendekati Ara lebih dekat lagi, sebelum akhirnya kesempatan itu akan hilang, sebelum Ara menjadi milik Keanu.
Ia tak boleh terus-terusan menjadi pria pengecut yang takut untuk mengutarakan perasaannya pada gadis pujaannya, Aurora.
Zayn menangkis kasar tangan Tommy. "Lo lihat aja besok," ucapnya yang membuat kening Tommy berkerut tak paham.
"Maksud lo?"
"Iya lo lihat aja besok, masih gak ngerti?"
"Maksud lo, gue lihat lo besok nyatain cinta lo ke Ara gitu?"
Zayn beralih menatap Tommy dengan jengah.
"Atau gue lihat lo besok patah hati karena ternyata Ara udah jadian sama Keanu?" Tommy menahan tawa kecilnya ketika mendapati Zayn yang mulai melotot menatapnya.
"Sialan lo!" Zayn memilih masuk ke dalam rumahnya, di ikuti Tommy yang juga mengekor di belakangnya.
Keesokan harinya....
Zayn begitu bersemangat melangkahkan kakinya di tiap koridor Kampus, berharap bisa menemui sang pujaan hati,Ara.
Pria itu sudah mencari Ara dikelasnya, Perpustakaan, taman Kampus, Kantin, namun nihil. Hanya satu tempat yang belum Zayn tuju, toilet cewek. Namun itu tak mungkin Zayn akan mencarinya disitu. Bahkan sekedar menunggu di depannya pun, Zayn tak mungkin lakukan itu.
__ADS_1
Ia lantas menyalakan ponselnya, matanya berbinar ketika mengetahui Ara tengah online. Ia pun berniat mengirim pesan pada Ara,sekedar menanyai keberadaannya, namun selalu ia urungkan. Karena yang ia rasa menurutnya, dirinya akan lebih enjoy ngobrol dengan Ara dalam situasi yang tidak di sengaja.
Zayn kembali melanjutkan langkahnya mencari keberadaan Ara. Rasanya dirinya saat ini seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Celingak-celinguk, kebingungan, namun begitulah Zayn, pria itu masih besar malu untuk bertanya pada siapapun tentang dimana Ara berada.
Tapi langkah itu harus terhenti ketika Zayn mendapati seorang perempuan yang tengah tersenyum menyapanya.
"Hai Zayn," sapa Bella.
Zayn tak menyahutinya, matanya langsung tertuju pada kaki Bella yang ternyata sudah tidak kenapa-napa.
Bella semakin mendekat ke arah Zayn yang hanya terdiam. Terlihat jelas sorot mata tak suka Zayn padanya, karena kecerobohannya kemarin.
"Maafin gue." Bella mencoba meraih tangan Zayn, namun belum sempat tangan itu berhasil di genggam olehnya, Zayn malah pura-pura menggosok-gosok hidungnya yang tak gatal.
"Zayn." Suara Bella semakin terdengar mengiba, memohon perhatian Zayn padanya.
"Ehm," akhirnya Zayn menyahut dengan mode malas.
"Pliiss, maafin gue." Bella berhambur memeluk tubuh Zayn begitu posesive.
"Bella!" Zayn mencoba melepas pelukan itu, namun hal itu ia urungkan ketika mendapati gadis itu sudah menangis sendu di dekapan dadanya yang bidang.
"Lo gak papa gak balas suka sama gue, lo berhak memilih cewek lain yang lo cintai, tapi plis Zayn, lo jangan benci gue, ngehindar dari gue, gue gak bisa hidup dalam kebencian dari lo." Gadis itu semakin terisak dalam tangisannya.
"Pliiss, maafin gue. Gue menyesal udah berbuat seperti kemarin sama lo," ucapnya lagi semakin lirih.
Entah kenapa Zayn tak merasa iba sama sekali mendengar pengakuan penyesalan Bella padanya. Sebenarnya ia bisa saja memaafkan Bella atas kejadian kemarin saat ini, tapi tidak semudah itu Zayn bisa biasa-biasa lagi kepada Bella yang telah membuatnya ilfil dan kecewa.
"Kak Zayn?"
*Bersambung.
Hai Readers....
Jangan lupa kasi komentar masukannya ya.
dukungan kalian sangat berarti bagi otor๐๐๐
Maafin otor ya kalo ada salah atau typo, karena otor masih dalam proses belajar menyalurkan hasrat kehaluannya yang sudah melebihi ubun-ubun Wkwkwk....
Salam sayang buat Readers semua๐
__ADS_1