
Zayn telah bersiap menunggu kedatangan Haris di sebuah restoran elite yang Wisnu katakan padanya. Sengaja ia datang terlebih dahulu karena memang tadi ia memilih tidak masuk kerja alias bolos kerja.
Di tangannya sudah ada map berisikan surat pengunduran dirinya. Yah, tekadnya sudah bulat hari ini. Ia sudah benar-benar rela kehilangan semuanya asal dirinya bisa terbebas dari kekangan atasannya itu. Bayangan tentang tempat dimana ia akan mencari keberadaan Ara sudah ia ancang-ancang sebelumnya.
Mungkin tempat pertama yang akan ia tuju adalah rumah Sisil. Ia sudah tak peduli lagi meski Tommy selalu melarangnya untuk ia pergi kesana. Akan tetapi setelah urusan dengan Haris selesai hari ini, ia telah berniat untuk datang ke rumah Sisil. Bagaimana pun sambutannya nanti, Zayn harus siap dengan segala resikonya.
Sudah dua puluh menit lamanya pria itu menunggu kedatangan Haris. Sambil menunggu kedatangannya, Zayn menyibukkan diri sambil mengecek ponselnya. Tiba-tiba saja ia merasa kangen dengan Hanung, asisten yang biasanya selalu bersamanya yang kini sudah terpisah walau hanya beberapa hari saja.
"Iya, Pak," Sapa Hanung dari seberang sana.
"Bagaimana kabar di sana, Nung?" Zayn menyapanya ramah.
"Mmm, kangen ya?" Hanung malah menggodanya.
Zayn terkekeh mendengarnya. Ia tak munafik kalau ia sedang kangen dengan suara bising asistennya itu.
"Pak, kita VC yuk?" Tiba-tiba Hanung mengganti mode panggilannya dengan video call, dan Zayn menyetujui hal itu.
"Haaiii....."
Bukan hanya Hanung yang menyapanya ketika panggilan itu telah berubah mode, melainkan juga ada bocah kecil yang sudah tidak asing lagi turut menyapanya.
"Hai...." Zayn turut melambaikan tangannya kepada Hanung dan Ziyyan.
"Nung, kau tidak bekerja?" Zayn langsung menanyainya karena merasa heran kenapa ia bisa bersama dengan bocah kecil itu.
"Ini lagi istirahat sejenak, Pak, lagi isi perut di rumah makan Bu Narsih." Hanung memelankan suaranya di kalimat terakhirnya.
"Ck! Kau itu!" Zayn sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebab ia sendiri sebenarnya sudah tidak begitu peduli lagi dengan proyeknya yang di sana, karena ia memang telah berniat resign dari tugasnya.
"Ayaaaah...."
Ziyyan memanggilnya dengan begitu semangat. Binar matanya begitu menandakan ia sangat senang bertemu lagi dengan Zayn, yang ia akui sebagai ayahnya.
Zayn tertegun sejenak, ini kedua kalinya bocah itu memanggilnya dengan sebutan ayah. Ia pun bertambah curiga dengan pengakuan bocah itu, mengapa ia masih memanggilnya begitu.
"Ayah kapan kesini lagi?" Ziyyan menyapanya lagi.
"Ziyyan, dia bukan ayahnya Ziyyan." Seorang wanita paruh baya turut menyapa Ziyyan.
Seketika bocah kecil itu menangis setelah mendengar teguran dari neneknya itu. Lantas kemudian terlihat neneknya itu tadi membawanya pergi dari pangkuan Hanung.
__ADS_1
"Hanung," tegur Zayn yang membuat Hanung langsung gelagapan.
Sebenarnya Hanung juga tidak mengerti kenapa Ziyyan masih memanggil atasannya itu ayah. Padahal setahu Hanung, ibu Narsih dan juga ibunya Ziyyan sudah memberitahunya.
"Kau kenapa bisa sama dia, hah?" Zayn sudah bertambah penasaran.
Sebenarnya Zayn sendiri tidak terlalu keberatan jika bocah tadi menganggapnya sebagai ayahnya, hanya ia ingin tahu alasan ceritanya bagaimana bisa terjadi demikian.
"Begini, Pak." Hanung nampak berpikir sejenak.
"Kapan anda kembali kesini? Nanti saya jelaskan semuanya kepada anda."
Sungguh, Hanung merasa akan butuh waktu yang lama jika ia harus menjelaskan hanya lewat telepon saja. Karena sebenarnya bukan hanya hal itu yang mau ia jelaskan, melainkan juga ada hal yang lebih genting lagi yang bersangkutan dengannya.
Tiba-tiba ekspresi Hanung berubah kaget, setelah melihat adanya Haris yang berdiri dibelakang Zayn.
"Ehem...." Haris berdeham dengan keras.
Zayn dan Hanung pun akhirnya menyudahi kegiatannya itu, setelah Haris telah duduk di depannya.
Zayn menoleh ke sekitar, ternyata atasannya itu menemuinya hanya seorang diri. Sesaat mereka hanya saling tatap tanpa bertegur sapa.
"Beri saya satu alasan kenapa kau tidak mau menerima tawaran dari saya." Haris langsung to the point dengan tujuannya mengajak bertemu dengan Zayn.
Zayn tertunduk, hatinya sedikit resah untuk berterus terang kepada atasannya itu.
"Apa kau sudah punya calon sendiri?"
"Tapi setahuku kau tidak pernah punya waktu mencari calon istri kan?"
Zayn menatap lekat pada pria yang duduk didepannya itu." Anda menyelidiku?" Tanyanya tak suka.
Haris hanya berdecak. Ia pun lantas menyunggingkan senyum tipisnya kepada pria yang terlihat risau dengan perkataannya itu.
"Kalau aku tidak menyelidikimu, tidak mungkin aku menawari kau menikah dengan anakku!"
Hal itu benar juga. Dan Zayn pun kembali hanya bisa terdiam saja.
"Bahkan bagaimana keadaan orangtuamu saja aku juga tahu." Haris menekankan di kalimat itu.
"Jadi, apa kau sudah pikirkan bagaimana resiko yang harus kau tanggung?"
__ADS_1
Zayn pun mengangguk yakin. Pria itu terlihat sangat pasrah dengan keputusan dari atasannya itu yang berniat melaporkannya ke pihak berwajib jika ia tetap menolak tawarannya itu. Zayn hanya tak mau menghianati perasaannya, mungkin inilah salah satu caranya untuk menebus kesalahannya yang dahulu kepada Ara. Yaitu tetap mencintai gadisnya itu sampai di akhir hidupnya nanti.
"Maafkan saya, Pak." Satu kata itu akhirnya terucap dari bibir Zayn.
Haris memandangnya serius. "Kau masih belum menjelaskan kenapa kau tidak mau menikah dengan anakku." Ternyata Haris masih menunggu alasannya itu.
"Sebenarnya..."
Zayn masih sedikit ragu untuk menceritakannya, hanya jika ia tidak menyelesaikannya saat ini juga tentu atasannya itu akan tetap kekeh dengan kemauannya.
"Sebenarnya saya punya masa lalu yang kelam dengan kekasih saya, Pak," aku Zayn pada akhirnya.
Haris tetap menunggu pria itu melanjutkan ceritanya.
"Saya pernah melakukan hal yang fatal, hingga-- pacar saya hamil."
"Trus, kau tidak bertanggung jawab. Begitu?" Haris semakin penasaran dengan kelanjutannya.
Zayn menggeleng ragu. "Saya baru tahu kalau pacar saya hamil setelah saya berada di sini. Saat itu mungkin pacar saya mencoba memberitahunya, tapi keadaan yang membuat kami terpisah sampai sekarang."
Mata Zayn mulai berkaca-kaca saat menceritakannya, dan Haris menyadari hal itu. Sebenarnya Haris sendiri sudah tahu jika hal itu tidak disengaja oleh Zayn. Ia sudah tahu semua itu dari Ridwan. Dan sebenarnya Haris memaklumi hal itu, karena saat Ara terusir dari rumahnya itu bersamaan dengan Zayn yang terkena musibah kecelakaan saat itu.
Maka dari itu Haris tak mau menyalahkan Zayn, disebabkan suatu hal peristiwa yang tak disengaja oleh pria itu. Zayn tidak pernah berniat akan meninggalkan kekasihnya saat itu, seandainya saja kecelakaan itu tidak pernah menimpanya. Setelah mengetahui itu, makanya Haris membuatnya demikian. Ia ingin menyelidiki sendiri bagaimana gelagat dan karakter kekasih anaknya itu, meski dengan cara yang terkesan arogan kepadanya.
Haris sangat tak mau kekasih anaknya itu terlepas dari genggamannya. Awalnya ia juga merasa kecewa dan sangat marah dengan Zayn. Namun setelah mendapati niat tulus pria itu saat bekerjasama dengannya, membuatnya semakin sayang jika harus melepaskan sosok pria yang bisa ia andalkan di Rahardian Group. Untuk mengandalkan anaknya sendiri sudah tidak mungkin, karena memang pendidikan Ara harus terputus disaat gadis itu mengandung diluar dugaan.
Haris sengaja membuang mukanya dari pria yang telah menangis didepannya. Sebenarnya ia sangatlah ingin berterus terang kepada pria itu bahwa dirinya adalah ayah dari pacar yang dimaksudnya itu. Namun hati itu masih terlalu angkuh untuk mengakuinya.
"Ini apa?" Haris mengalihkan pembicaraannya lewat menanyai isi map yang diserahkan Zayn kepadanya.
Zayn segera menghapus air matanya. Ia harus siap mendengar apapun keputusan atasannya itu setelah membaca surat pengunduran dirinya.
Perlahan Haris membuka map tersebut, dibacanya dengan seksama. Kening Haris langsung berkerut disaat membaca isi surat tersebut, dan pria itu sesekali menatap tajam pada Zayn yang menunggu persetujuan darinya.
"Kau!"
Haris terdiam sambil sebelah tangannya mencengkram dada kirinya yang terasa sakit. Tak lama setelah itu...
Brukk!!
*
__ADS_1