Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 146


__ADS_3

Setelah selesai menemani Ziyyan tidur di kamarnya, Ara segera kembali lagi ke kamarnya. Perasaannya saat ini sungguh sangat senang, sebab tadi ia sudah berhasil mengerjai Zayn dengan ulah konyolnya. Bahkan ia pun juga mengabadikan kejadian tadi dengan menyimpannya di galeri ponselnya.


"Ah, Mas, fotonya jangan dihapus." serunya disaat ia sudah masuk ke kamarnya dan menjumpai Zayn yang sedang mengutak-atik ponsel milik Ara.


"Nggak. Aku cuma lihat-lihat kok."


Meski terkesan sangat konyol bahkan terlihat bodoh, mau maunya ia tadi dibedaki setebal itu oleh Ara. Zayn jadi terkekeh sendiri memandangi foto dirinya dengan wajah tebal oleh bedak dan rambut yang dikuncir mirip rambut jagung.


"Lucu kan, Mas?" Kali ini posisi Ara sudah menempel saja di dada bidang suaminya yang sedang duduk bersandarkan pada papan ranjang.


"Terserah kamu lah, asal jangan disebar kemana-mana. Bisa turun pamor ketampananku kalau sampai foto ini tersebar kemana-mana." Zayn sangat pasrah. Satu-satunya cara agar istrinya bisa terslimurkan oleh aroma keringatnya yang katanya mengganggu itu, maka lebih baik ia menuruti kemauannya itu tadi.


"Sayang," Pria itu mendekap erat tubuh Ara yang senantiasa menempel hangat di dadanya.


"Kita honeymoon yuk?" ajaknya semangat.


Ara mengangkat tubuhnya, lalu menatap lekat pada netra suaminya yang menunggu jawaban darinya. Sejenak ia mengulaskan senyum tipisnya, kemudian mencondongkan wajahnya dan mencuri ciuman kilat dibibir Zayn.


"Hmm, kode apa nih?" Sorot Zayn tentu sangat berbinar.


"Menolak honeymoon," jawabnya mantap.


Kening Zayn seketika berkerut, pertanda sedikit kecewa karena Ara langsung menolak ajakannya.


"Kenapa memangnya?"


"Nggak mau saja," kali ini Ara merebahkan kepalanya lagi pada dada Zayn. Meski ia menolak ajakan itu, tapi sungguh ia terlihat sangat manja malam ini.


"Kita pilih tempatnya di sini saja. Maksudku nggak perlu ke luar negeri, Sayang. Di negara kita juga nggak kalah bagus kok buat review honeymoon." Zayn masih sangat berantusias ingin mengajak Ara honeymoon.


"Raja ampat, Lombok, Bali, atau ke Bromo. Kita sewa villa di sana seminggu. Pasti bakal seru deh, Sayang. Masa kamu nggak pingin gitu."


Ara masih menggeleng yakin.


"Kenapa? Ayolah, Sayang. Kapan lagi coba? Sebelum kamu keburu isi," Kali ini Zayn berucap sambil sengaja mengelus perut rata istrinya.

__ADS_1


Ara sedikit terhenyak mendengar kata isi dari Zayn. Bukan karena kepikiran akan kata-katanya, melainkan ia baru menyadari bahwa tamu bulanannya itu seharusnya sudah datang berkunjung. Tapi kenapa bulan ini tiada datang lagi?


Ia sedikit mengendorkan pelukannya. Perasaannya mulai gamang sendiri, termasuk sedikit bimbang jika saja bulan merahnya itu benar benar tak berkunjung lagi. Masa iya harus hamil lagi secepat ini? Bukannya menolak atau pun tak senang, akan tetapi ia masih ingin merasakan masa masa indah pernikahannya itu tanpa harus hamil dalam waktu dekat ini.


"Mas, aku ke kamar mandi dulu, mau pipis." Tak perlu menunggu sahutan Zayn, Ara sudah melenggang begitu saja sambil membawa ponselnya kedalam sana.


Wanita itu menggulir layar ponselnya, menghitung waktu periodnya pada bulan kemarin di kalender yang tertera di ponselnya itu. Sungguh ia dibuat terdiam dalam beberapa saat, setelah menyadari dirinya sudah telat hampir seminggu.


"Pasti karena kecapean. Hormon wanita sewaktu-waktu bisa berubah kan?" gumamnya sendiri.


"Apa sebaiknya aku coba tes aja ya, biar nggak meresahkan begini."


Huft.


Setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya sendiri, kemudian Ara kembali keluar dari kamar mandi itu. Ia melihat suaminya itu rupanya masih setia menunggu dirinya, belum terlelap dan yang pasti masih berbinar ria.


"Sayang," sapa Zayn, begitu Ara sudah merebahkan diri disampingnya.


"Gimana usulanku tadi, tentang honeymoon kita."


"Mas," sapanya sambil merapatkan diri, dan Zayn segera menyambut tubuh istrinya itu masuk kedalam pelukan hangatnya.


"Aku nggak butuh honeymoon. Beneran, Mas. Lagian aku juga nggak mau terus-terusan jauh sama Ziyyan. Kemarin saja pas aku ikut kamu, sebenarnya aku berat banget ninggalin Ziyyan." ujarnya sendu.


Zayn terlihat berpikir sejenak. Jadi teringat sendiri jika statusnya kini pengantin baru yang sudah memiliki seorang anak. Ia pun sebenarnya juga kepikiran dengan apa yang diungkapkan istrinya itu. Ulahnya yang sering meninggalkan bekas kepemilikan dileher Ara sudah membuat Ziyyan sedikit menjaga jarak, apalagi harus sering ditinggal lagi oleh ia dan Ara.


"Kita ajak Ziyyan sekalian, Sayang." usul Zayn, yang tentu membuat Ara sedikit merasa heran.


"Kalau ada Ziyyan gimana mau honeymoon? Jangan ngadi-ngadi deh, Mas" gerutu Ara, merasa gemas sendiri.


"Yah kita ajak bu Narsih juga, gimana?"


Melihat begitu antusiasnya Zayn, membuat Ara menghela nafasnya begitu saja. "Kita lihat besok-besok aja deh, Mas," ujarnya kemudian.


"Ayo, tidur." Ara menarik tubuh Zayn lagi, mereka tidur dengan saling memeluk.

__ADS_1


"Sayang," rupanya Zayn masih belum bisa terlelap. Sesuatu miliknya itu saat ini mengajak berpetualang lagi.


"Hmm..." Ara menyahut malas, meski matanya terpejam namun sebenarnya ia juga belum terlelap.


"Aku belum mengantuk," Jemari Zayn mulai mengelus-elus pipi mulus Ara, sedikit kecupannya terkadang mendarat tanpa permisi.


Ara membuka matanya lagi, menatap gemas pada suaminya yang sebenarnya ia sudah tahu jika suaminya itu sedang dalam kondisi on alias yaa itulah.


Seulas senyuman manisnya cukup membuat sorot mata Zayn seketika berbinar, mendapat kode setuju dari istrinya yang perlahan mulai melucuti satu persatu kancing piyamanya.


"Uuh, gemes deh. Rasanya pingin aku gigit sampai puas." Zayn ikut ikutan melepas kaos yang menempel ditubuhnya.


"Apa sih, Mas. Nggak usah mesum deh. Aku buka baju karena kepanasan saja." Tentu ini hanya candaan Ara, merasa senang saja menggoda suaminya yang sedang diambang hassrat.


"Aku nggak peduli," bukannya akan merajuk, akan tetapi Zayn turut membantu Ara melepas kain pengikat bukit kembarnya.


"Mas," Ara merasa geli sendiri. Niat hati ingin ngeprank, malah langsung disergap begitu saja oleh Zayn.


Mata Zayn sudah mengerling nakal. Pemandangan tubuh indah istrinya sudah terpampang didepan mata. Membuatnya kesulitan meneguk salivanya, dan serasa sudah tak kuat untuk tidak menerkamnya saat ini juga.


"Uuuugh.... Mas," racau Ara merasa nikmat, begitu Zayn sudah asyik menyesap pucuk bukit kembarnya dengan sebelah tangannya yang meremmmas di bukit satunya.


Blup.


Suara mulut Zayn yang terlepas sejenak dari kegiatan mimi shushu. Ia menatap senang pada wajah istrinya yang terlihat sudah bergairah seperti halnya dirinya.


"Aku akan pelan-pelan, Sayang. Aku nggak mau setengah permainan kamu ngajak berhenti," Zayn berkata begitu bukan karena sebab, ia tak mau kejadian kemarin malam terulang lagi. Harus berhenti ketika ronde kedua akan dimulai karena Ara merasa terganggu dengan aroma keringat dari tubuhnya.


Tapi, sejak kapan coba begituan itu nggak akan berkeringat? Duh, othor udah mulai ngelindur😄


Selanjutnya, readers bisa tahu lah kelanjutannya bagaimana. Othor nggak pede buat bikin cerita ohok-ohoknya. Takutnya nggak menarik dan membosankan. Dah, othor mau cari info dulu ya, gimana caranya begituan yang sekiranya tidak berkeringat setelah begituan. Duh, ribet amat. Si Ara apa othornya nih yang bikin ribet😬


Bantu like ya, jangan lupa komentar juga. Vote sama bunga atau kopi, othor mau kok😊


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2