Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 107


__ADS_3

Pagi sudah menjelang. Semburat sinar mentari pagi menembus lewat celah gorden. Dua orang insan masih tertidur dengan lelapnya dengan posisi saling berhadapan. Sang pria yang sebenarnya sudah terbangun satu jam yang lalu, semakin mengeratkan pelukannya pada wanita yang masih belum sadar jika pria itu semalam tidur bersamanya.


Hingga pada akhirnya wanita itu sedikit menggeliatkan tubuhnya karena merasa pergerakannya seakan terkunci. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, merasakan hembusan nafas dari seseorang yang entah sejak kapan tidur bersamanya.


Sedang tangan pria itu melingkar erat ditubuhnya, sebelah tangannya lagi menjadi tumpuan kepala wanita tersebut sebagai pengganti bantalnya.


"Oh, tidak! Sejak kapan dia tidur di sini?" Wanita itu masih tertegun begitu menyadari apa yang telah dilihatnya pagi ini.


Ara mencoba terlepas lagi dari pelukannya namun pria itu masih belum mau bangun juga, yang ada pria itu malah membawa kepala Ara semakin mendekat ke dadanya. Tentu pria itu berbuat demikian karena ia hanya pura-pura masih tertidur.


"Kak!" Ara bersuara sedikit geram. Ia tak berani mengeraskan suaranya karena takut Ziyyan akan terbangun.


"Kak Zayn!!" Ara semakin dibuat sebal dan masih tak percaya mengapa pria itu bisa tidur satu kasur dengannya.


"Astagaaaaa.... Udah kayak kebo aja tidurnya!" Umpatnya kesal.


Mendengar ocehan Ara, Zayn malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku nggak bisa nafas, Kak! Dadaku sesak!" Ara terus memberontak.


Pria itu masih belum terbangun. Ara semakin sebal dengannya, mungkin cara terakhir ini bisa membuatnya terbangun.


Dug.


"Aduh!" Zayn merintih kaget.


Kepala wanita itu sengaja ia benturkan dengan keras di dada bidang pria yang memeluknya, sehingga berhasil membuatnya terbangun juga.


Zayn berpura-pura bangun sambil mengerjapkan matanya. Setelah tersadar betul ia malah mengulaskan senyum tanpa bersalah pada Ara yang menatapnya begitu kesal.


Ara memandangnya dengan biji bola mata yang sudah hampir meletup. "Bisa-bisanya dia cengengesan kayak gitu?" batinnya mengumpat sebal, tatapannya pun semakin menajam.


"Mm, pasti aku lagi mimpi." pria itu kembali berakting dengan berpura-pura sedang bermimpi, dan ia pun kembali memejamkan matanya dan membawa wanita itu lagi ke dalam pelukannya.


"Hei! Kamu tuh nggak mimpi! Kamu mau membunuhku?" Ara memberontak lagi karena merasa nafasnya sedikit sesak, dan Zayn masih bertahan dengan akting modusnya.


Melihat Zayn yang demikian, wanita itu muncul ide lagi untuk membangunkan kembali pria itu. Tangannya sedikit ia gerakkan ke perut Zayn, meski sebenarnya ia risih sendiri meraba otot keras perut pria tersebut. Dan....


"Aauw!!!" Kali ini Zayn benar-benar menjerit kesakitan.


Sebuah cubitan keras benar-benar mendarat di perut pria tersebut. Dan Ara semakin menekan cubitannya itu hingga sampai pria itu benar-benar mau melepas pelukannya.


"Aduuuh.... Sakit, Ra!" Rintihnya sambil mengusap-ngusap bekas cubitan wanitanya itu di perutnya.


"RASAIN!" Wanita itu kini berhasil terlepas dari pelukan Zayn.


Ara menggeser tubuhnya dari Zayn dan setelah itu ia akan beranjak duduk namun tangan Zayn menarik lengan wanita tersebut hingga membuatnya terjatuh kembali dalam pelukannya.


"Lepasin nggak?!" Umpatnya benar-benar marah.


"Nggak mau!" Zayn menyahut santai.


"Mau aku cubit lagi, hah?" Tangan Ara mulai digerakkan lagi namun Zayn langsung bergerak cepat menahan tangan wanita itu.


"Kau?"


Ara sedikit terhenyak. Sebab ia baru menyadari kalau Ziyyan sudah tidak ada diantara mereka.


"Di mana Ziyyan?" Tanya Ara gelisah.

__ADS_1


Zayn hanya melongo sebentar tanpa mau melepas pelukan posesifnya itu. Sepintas terdengar bunyi gemericik air mengalir dari arah kamar mandinya.


"Sepertinya lagi di kamar mandi. Ayo tidur lagi?" Ajaknya semakin iseng dan kembali memejamkan matanya.


"Apaan sih!" Ara semakin geram dengan perlakuan pria tersebut.


"Kenapa kamu bisa tidur di sini? Bukannya semalam kamu tidur di luar?"


"Entahlah! Aku juga nggak tahu." Zayn menyahut masih dengan matanya yang terpejam.


"Kok bisa nggak tahu? Jangan bilang kamu sering tidur sambil berjalan?" Tanyanya heran.


"Mungkin, bisa jadi," sahutnya semakin santai.


"Nggak mungkin!" Ara masih tak percaya.


"Ya sudah kalau nggak percaya." Perlahan Zayn sedikit mengendorkan pelukannya, tapi rupanya wanita itu tidak merubah posisinya. Masih nyaman dalam pelukan pria tersebut.


Tentu Ara tak lekas mempercayainya. Mana mungkin pria tersebut memiliki gangguan sleep walking? Masa iya sih?


Ara baru tersadar kalau pelukan Zayn sudah semakin longgar, makanya ia sekali lagi mencoba terlepas dari pelukan pria tersebut.


"Mau kemana?" Zayn menahannya lagi, dan pria itu kini sudah benar-benar membuka matanya.


"Aku mau mengurus Ziyyan," nada bicaranya kembali ketus.


Semenit kemudian ternyata Ziyyan sudah keluar dari kamar mandi dan langsung tersenyum senang begitu mengetahui kedua orangtuanya rupanya sudah bangun.


"Ayah.... Bunda..." pekik Ziyyan sambil berlari kecil mendekat ke arah Ara dan Zayn.


Mereka sama-sama mengulaskan senyumnya kepada bocah yang sudah naik dan ikut menyela diantara kedua orangtuanya yang masih berbaring.


Tentu Zayn menanyakan hal itu sekedar basa basi saja. Karena sebenarnya tadi ia sudah tahu kalau anaknya itu terbangun dan pergi ke dalam kamar mandi.


"Iyyan di kamar mandi. Iyyan sudah cuci muka sama gosok gigi," jelasnya sambil memamerkan deretan giginya kepada kedua orangtuanya.


Ara sedikit melongo mendengar penjelasan anaknya yang rupanya sudah mulai belajar mandiri.


"Nih, Iyyan harum nggak?" Bocah itu mendekatkan wajahnya ke arah Ara, tujuannya agar bundanya percaya kalau ia benar-benar sudah membersihkan giginya.


"Hmm... Iya, sudah wangi." Ara memuji anaknya yang rupanya tidak berbohong dengan apa yang sudah dilakukannya berada lama didalam kamar mandi.


"Coba kesini deh. Ayah pingin lihat harumnya juga." Zayn ikut berkata.


Bocah itu pun mendekatkan wajahnya kepada Zayn dan ternyata ayahnya itu langsung mencium pipi lembut Ziyyan.


"Hmm... Beneran harum. Anak ayah sama bunda rupanya sudah pintar ya?" Pujinya yang tentu langsung membuat bocah itu tersenyum sumringah.


"Coba kalau baunya bunda gimana ya?"


Pria itu mendekatkan wajahnya kepada Ara dan sedetik kemudian...


Cup.


Kecupan hangat Zayn mendarat sempurna di kening wanita itu. Ara sudah tentu kaget, namun entah mengapa ia hanya dibuat terdiam tanpa bisa memberontak lagi setelah mendapat morning kiss dari pria tersebut.


Ziyyan yang saat itu menjadi penonton tentu semakin melebarkan senyum kecilnya. Bocah itu merasa sangat senang telah memiliki orang tua yang lengkap. Ada ayah dan bundanya yang tidur satu kasur bersama dengannya juga semalam.


"Bunda masih bau ya, Yah? Bunda kan masih belum cuci muka." Kekeh bocah itu, masih terus berbinar memperhatikan kedua orangtuanya yang sudah terlihat akur.

__ADS_1


"Kalau begitu bunda harus cuci muka dulu. Lepaskan!!" Wanita itu menekan perkataannya di kalimat terakhir sambil membulatkan matanya kepada Zayn.


Zayn hanya menyeringai licik, tapi kemudian ia pun melonggarkan pelukannya karena sudah merasa puas telah berhasil mengerjai Ara sepagi ini.


Akhirnya wanita itu telah benar-benar terbebas dari pelukan pria menyebalkan seperti Zayn. Ia pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan tak mau menunda lama lagi untuk segera keluar dari apartemen Zayn setelah ini.


"Ziyyan lapar nggak?" Tanya Zayn saat mereka sama-sama menunggu Ara selesai dari kamar mandi.


Dan bocah itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kita minta bunda masak bagaimana? Kita sarapan bareng. Ada ayah, bunda dan Ziyyan." Zayn mulai menghasud pikiran anaknya, dan ternyata bocah itu pun mengangguk menurut.


Tak peduli lagi ia akan dianggap sebagai orang tua yang memanfaatkan keberadaan anaknya untuk keberhasilan tujuannya. Pria itu melakukannya hanya demi kebahagiaan Ziyyan, dan juga karena cinta itu masih kuat ia rasa untuk Ara.


Tak lama kemudian Ara sudah selesai dari kegiatannya di kamar mandi. Wanita itu keluar dengan wajah segar dan rambut yang sedikit basah di ujungnya. Membuat pria itu hampir tak mengedipkan matanya, terpesona memandang Ara yang lebih cantik secara natural.


"Bunda, Iyyan lapar." Suara bocah itu berhasil membuyarkan lamunan Zayn.


"Kita sarapan di luar saja, Ziyyan. Sekarang kita harus segera pulang." Ara mendekat ke arah Ziyyan yang duduk bersila di atas ranjang itu.


"Nggak mau! Iyyan mau makan di sini."


Sekilas senyum licik Zayn kembali menyeringai mendengar ucapan anaknya yang sesuai harapannya.


"Kita harus segera pulang, Ziyyan. Kakek sama nenek sudah menunggu kita di rumah."


Tentu Ara akan terus membujuk anaknya agar menuruti perkataannya kali ini. Ia sudah tidak sudi untuk berlama-lama lagi berada satu atap dengan pria yang masih memandangnya dengan sangat intens.


"Ara, mungkin Ziyyan beneran sudah sangat lapar. Semalam dia kan tidur duluan, belum sempat makan kan?" Zayn mencoba merayunya juga, siapa tahu merasa iba dan berhasil.


Ara pun kembali teringat kalau memang semalam Ziyyan sudah tertidur duluan sebelum makan malam. Ia memandang kasihan kepada Ziyyan, antara mau menurutinya sarapan di sini tapi egonya terlalu tinggi demi mengalah kepada Ziyyan.


"Ziyyan beneran lapar?" Tanyanya masih berharap semoga anaknya bisa berubah pikiran.


Bocah itu hanya mengangguk singkat.


"Baiklah! Bunda akan masak sebentar buat Ziyyan. Tapi habis ini Ziyyan harus janji nggak boleh rewel lagi. Harus mau pulang sama bunda. Oke?!" Dan bocah itu lagi-lagi mengangguk setuju.


Ara menyetujuinya karena ia berpikir memasak telur dadar untuk anaknya itu tentu tidak akan lama.


"Bagaimana kalau ayah buatkan Ziyyan nasi goreng? Ziyyan mau nggak?"


Tentu Zayn usul demikian karena sebenarnya ia ingin mengulur waktu mereka saja. Apalagi sebelumnya ia memang pandai memasak nasi goreng. Semasa pacaran dengan Ara dahulu, wanita itu sering memakan olahan nasi goreng buatannya.


"Iyyan mau, Yah!" Bocah itu mengangguk senang mendengar usulan dari ayahnya.


Lantas Zayn pun kembali menyeringai karena tujuannya kembali berhasil. Harapannya tentu ia ingin Ara bisa merasakan nostalgia lagi dengan menu andalannya itu nanti.


"Oke! Kalau begitu ayah mandi dulu ya, tunggu sebentar saja, oke!"


Pria itu sekilas melirik kepada Ara yang ternyata sedang meliriknya juga. Entah apa yang sedang dipikirkannya Zayn sudah tidak mau mempedulikannya. Ia hanya mau apa yang menjadi modusnya bisa berjalan dengan lancar.


"Ziyyan nggak boleh pulang loh ya? Tunggu ayah selesai mandi. Awas saja kalau berani pulang!" Tentu kalimat terakhirnya itu ia tujukan kepada Ara.


"Iya, Ayah." Bocah itu menyahut senang.


Haddeeeeh.... Sial!


Lagi-lagi Ara terpaksa harus menuruti kemauan anaknya itu.

__ADS_1


*


__ADS_2