Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 128


__ADS_3

"Sayang."


Perlahan Zayn mengguncang pelan lengan Ara, bermaksud membangunkannya agar pindah tidur diranjang saja.


"Sayang." Zayn lebih mendekatkan lagi suaranya, hingga membuat wanita itu bergerak sedikit namun masih tetap dengan mata yang terpejam rapat.


"Kok tidur di sini sih?" Batinnya hanya bisa heran sendiri, sedang tangannya tergerak untuk menyentuh pipi wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Mengusapnya lembut, meninggalkan jejak kecupan hangat di pipinya.


"Hmmm...." Ara hanya melenguh, dan kembali terlelap lagi.


Mendapati Ara yang rupanya sudah begitu nyenyak, akhirnya Zayn memindah tubuh Ara. Menggendongnya layaknya bridal style, lalu merebahkan tubuhnya begitu pelan agar wanitanya tetap terlelap.


Pria itu tetap memandangi wajah Ara yang sudah semakin terbawa dengan alam mimpinya. Senyumnya tersungging merekah saat menyadari bahwa wanita satu satunya penghuni hatinya itu kini telah resmi menjadi pasangan halalnya.


Kruwek... kruwek...


"Duh!"


Pria itu memegangi perutnya yang berbunyi. Saking senangnya ia memandangi wajah Ara, hingga terlupa bahwa dirinya terbangun barusan karena rasa lapar yang melanda.


Zayn memilih turun dari ranjangnya. Sebelumnya ia memasangkan selimut untuk Ara, lalu kemudian beranjak keluar kamar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Ia sudah berada di lantai bawah, tepatnya masih berada di undakan tangga terbawah. Langkahnya terpaksa terhenti sampai disitu karena melihat suasana rumah itu sudah sepi senyap. Mungkin semua penghuni rumah sudah terlelap karena kelelahan mengurus acara sore tadi, padahal waktu masih menunjukkan lewat lima menit dari jam sepuluh malam.


Pria itu pun terpaksa memilih kembali lagi ke kamarnya dengan keadaan perut yang masih meronta minta diisi. Memang seharian tadi ia hanya sarapan pagi saja, itu pun karena dipaksa oleh Rahayu. Seharian tadi, tepatnya sebelum acara ijab kabulnya, Zayn terlalu gelisah hingga membuat selera makannya berkurang akibat nervous yang tak berkesudahan.


Hingga kini setelah acara itu usai, ia malah tertidur tadi. Dan terbangun lagi karena rasa laparnya yang mendera.


Pria itu sudah berada di kamarnya lagi dan langsung merebahkan diri tepat disamping Ara. Rasanya ia tak tega untuk membangunkannya, meski akhirnya nanti ia tak akan bisa tidur dengan perut kosongnya itu.


Ara bergerak merubah posisinya. Awalnya mereka berbaring saling berhadapan, kini malah Ara membalik tubuhnya, memunggungi Zayn.


Zayn bergerak lebih mendekat, mengikis jaraknya dengan pelukannya pada Ara. Tak apalah kali ini laparnya itu sedikit menyiksa, asal kali ini ia bisa memeluk wanitanya itu dengan lama tanpa ada penolakan darinya.


Aroma wangi khas tubuh wanita itu begitu terasa, menggoda naluri Zayn untuk menghirupnya lebih lama. Dan pria itu pun mencondongkan wajahnya, membenamkan diri di ceruk leher Ara yang beraroma menggoda.


"Ehhmm...." Lagi-lagi suara Ara melenguh tanpa sadar. Rasa geli tentu dirasa, hanya matanya masih tak bisa terbuka saking ngantuknya.


"Sh*iit!" Pria itu mengumpat sendiri begitu terasa ada yang terbangun tidurnya dibawah sana.


Sial! Hanya karena mendengar suara lenguhannya saja sudah sukses membangunkan juniornya. Alamat akan lebih tersiksa jika hanya menahannya, akan tetapi hal itu tak baik dilakukan dengan kondisinya yang lapar.


Zayn mengangkat wajahnya, kembali memandangi Ara dan lagi-lagi mencium pipi wanitanya berulang-ulang.


Ara bergerak lagi, mungkin ia sudah mulai terasa sedikit terganggu tidurnya. Kini posisi wanita itu sudah telentang, menonjolkan gunung kembar yang seakan menantang Zayn untuk merabanya.


Tangan Zayn terangkat. Ragu-ragu ia ingin mencoba memainkannya, takutnya nanti Ara terbangun dan akan memicu hal yang tidak-tidak, andai wanita itu marah telah diperlakukan demikian diam-diam.


"Ah, biarlah!" Pria itu sudah semakin tergoda, hingga tangannya itu sudah mendarat diatas gunung kembar yang masih terbungkus kain penghalang.


Perlahan tapi pasti bagian teratas kancing piyama yang dikenakan Ara sudah terlepas, mengekspos belahan gunung kembar yang menjulang menantang.


"Tidak!" Tangannya tertarik, tak jadi membuka kancing berikutnya.

__ADS_1


"Aku nggak mungkin melakukannya diam-diam lagi. Aku nggak mau dianggap sebagai lelaki yang senang mencuri start. Tapi, uuuuh......."


Zayn dibuat tersiksa sendiri oleh juniornya yang telah sesak dibalik sarangnya.


"Sayang." Pria itu akhirnya membangunkan Ara, mengguncang tubuhnya pelan pelan.


"Bangun dong." Suaranya sudah terdengar begitu berat, sudah tak kuat menahan libidonya sendiri.


Masih belum ada pergerakan lagi dari Ara, sepertinya ia benar benar terlelap begitu dalam.


"Oke! Salahmu tidak bangun. Jadi jangan salahkan aku, kalau aku nekat," gumamnya dengan mulai menaikkan sebelah kakinya diatas tubuh Ara, memeluknya lagi layaknya guling dengan tangan yang bertumpu di atas gunung kembar itu.


Tanpa ragu lagi tangannya meraba, memijit, dan mere mas pelan gunung kembar yang sangat ingin ia menjelajahinya lebih dalam lagi.


Dan terpaksa permainannya itu terhenti, begitu tangannya dihempas oleh si pemilik gungung kembar.


"Kamu?!" Sorot matanya terpancar ada kemarahan di sana.


"Dari tadi aku sudah membangunkanmu, tapi tidak bangun bangun," ucap Zayn, tanpa merasa bersalah.


"Menyingkir!" Ara mencoba menyingkirkan kaki Zayn yang terasa berat menindih tubuhnya.


Pria itu menurut begitu saja. Mengangkat kakinya, masih dengan tatapan matanya yang tak pernah lepas menatap netra Ara.


"Sayang, aku lapar," seru Zayn kemudian, mencoba meredakan kemarahan yang terpendam dari Ara.


Ara hanya bergeming. Ia dibuat bingung sendiri dengan keberadaannya yang entah sejak kapan sudah berada di kasurnya.


"Sayang." Tangan Zayn menyentuh lengan Ara. "Aku mau makan, udah nggak kuat nih," ujarnya lagi.


"Tega kamu!" Sontak pria itu mundur sedikit dengan mulut yang mengerucut.


Deru nafas Ara tersengal-sengal. Ia sudah menolak permintaan Zayn, akan tetapi hal itu masih membuat perasaannya tak karuan.


"Temani aku di dapur saja. Aku mau masak mie instan." Tetiba Zayn menarik tangan Ara, mencoba mengangkat tubuh wanitanya yang terlihat lebih banyak melamun.


"Apa?" Seketika Ara terduduk saat mendengar perkataan Zayn barusan.


"Jadi dia lapar beneran? Aku pikir mau makan--" gumamnya lagi sambil melirik dadanya, dan seketika terhenyak begitu menyadari dua kancing bajunya sudah terlepas.


Zayn sudah turun dari ranjangnya, bahkan ia terkesan meninggalkan Ara begitu saja dengan langkahnya yang menuju arah pintu kamarnya.


Wanita itu ikut turun juga, akan tetapi langkahnya berbelok ke arah kamar mandi. Sungguh benar-benar tak menghiraukan bagaimana tatapan mata Zayn yang mulai nakal begitu melihat Ara yang sudah masuk kesana.


Lima menit sudah Ara hanya terdiam tanpa melakukan aktifitas apa-apa didalam kamar mandi itu. Dirinya hanya termenung sambil menatap pantulan dirinya didepan cermin di sana.


Apalagi disaat ia memandangi dua gundukan di dadanya itu, yang berhasil membuat pikirannya kembali travelling kemana-mana.


Wajahnya kembali gelisah sendiri begitu teringat kembali saat ia merasakan pijitan lembut dari Zayn tadi. Ia sangat tahu jika suatu saat hal yang lebih dari itu akan terjadi padanya, akan tetapi jika harus terjadi malam ini, sungguh ia masih belum siap melakukannya.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandinya terbuka, dilihatnya Zayn juga turut masuk di sana. Hingga membuatnya segera memasang kembali kancing bajunya yang terlepas tadi dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Tanpa ragu lagi tiba-tiba Zayn memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar erat di perut rata milik Ara dengan dagu yang bertopang di pundaknya.


"Kok lama, hem?" Zayn mulai bersuara lembut, hingga cukup membuat wanitanya terasa meremang karena deru nafasnya yang berhembus disekitar area senssitiffnya.


"Aku udah nungguin, kamunya lama," ujarnya lagi, sambil sengaja menggigit pelan cuping telinga Ara.


Wanita itu menggeliat geli sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan suaranya agar tidak mende sah. Dan tentu ia hanya bisa tertegun mendapati perlakuan seperti itu dari Zayn.


"A-aku mau pipis," kilahnya sambil mencoba melepas rengkuhan Zayn dari tubuhnya.


Zayn melepasnya, akan tetapi begitu tubuh Ara berbalik pria itu malah menguncinya lagi dengan lebih posesive.


Kini netra mereka sudah saling bertautan. Mereka sama sama terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hanya saling melempar pandang dengan jarak yang perlahan mulai terkikis.


Cup.


Bibir Zayn menyambar bibir ranum Ara. Wanita itu masih terhenyak tanpa ada balasan darinya, meski pria itu sudah mengajaknya bermain begitu lembut.


Menyadari tiada balasan darinya, membuat pria itu tak kehabisan akal. Ia pun terpaksa menggigit kecil bibir wanitanya hingga terpaksa membuat Ara membuka mulutnya dan sukses membuat lidah itu bermain puas di sana, menjelajahi setiap rongganya dengan pagutannya yang semakin menjadi.


Sesaat Zayn melepas pagutannya, ia memandangi bibir Ara yang telah basah karena ulahnya. Tak lama ia kembali mengulanginya dan tak dinyana ternyata Ara mulai membalasnya meski masih perlahan.


Zayn menarik tengkuk wanitanya agar pagutannya terasa lebih dalam, sebelah tangannya menarik tangan Ara dan mengalungkannya ke lehernya. Juga perlahan mengangkat tubuh Ara untuk duduk di wastafel.


Kedua pasangan pengantin baru itu masih terlena dengan saling bertukar saliva. Saling memagut, melummaat, menyesap, dan semakin terasa lebih nikmat.


Hingga permainan itu terpaksa terhenti oleh karena lutut Ara tak sengaja menyenggol sesuatu yang mengeras di balik celana.


"Ada apa?" Tanya Zayn, sudah dengan sorot matanya yang memandang penuh hassrat.


Ara hanya bergeming, perasaannya kembali tak karuan setelah menyadari pria itu sudah berada diambang hasssrattnya.


"Aku mau pipis."


Kali ini Ara tidak berbohong. Karena yang ia rasa diarea miliknya seperti ada yang aneh dan terasa sedikit basah.


Tiba-tiba Ara mendorong dada Zayn, lalu turun dari wastafel itu. Tak sampai disitu, wanita itu terus mendorong tubuh Zayn hingga keluar dari kamar mandinya.


"Aku temani ya?" Tangan Zayn masih berusaha menahan pintu yang akan ditutup oleh Ara.


"Apaan sih?" Ara mendorong tangan Zayn lebih keras lagi.


"Aku khawatir, kamu pasti takut sendirian didalam," sahutnya sekenanya.


"Sejak kapan aku takut dikamar mandi? Di rumah sendiri pula?"


"Tuh, mata kamu. Kayaknya kamu sangat ketakutan aku makan," ujarnya sambil jarinya bergerak seakan ingin mencengkram ke arah gunung kembarnya.


"iiiiih.... Mesum deh kamu!"


Brak!


Pintu kamar mandi itu tertutup keras. Dan pria itu hanya terkekeh sendiri setelah apa yang telah terjadi dengannya barusan. Ia memahami jika wanitanya itu masih belum siap jika ia mengajaknya melakukan yang lebih. Makanya ia memilih menahannya saja, hingga sampai nanti wanitanya itu telah bersedia dengan suka rela. Meski tak ditampik juniornya itu akan sedikit terasa nyeri karena terpaksa menahan sesuatu yang seharusnya dikeluarkan.

__ADS_1


"Sh*itt!" umpatnya lagi, setelah ia mencoba menidurkan kembali juniornya yang ternyata terlalu sulit untuk sekedar menenangkannya kembali.


*


__ADS_2