
"Apa!"
Viona terhenyak kaget mendengar pengakuan dari cucunya itu. Ia pun beranjak berdiri ingin menemui Ara di kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Haris tiba-tiba muncul menyapanya.
"Sayang, bantu aku."
Pria itu berlagak akting seakan-akan sedang membutuhkan bantuannya sambil memegang dada sebelah kirinya.
Viona yang saat itu sudah bersiap menaiki tangga menuju kamar Ara tentu sangat panik melihat suaminya yang sepertinya sedang kambuh.
"Mas Haris," ujarnya sambil mendekat ke arahnya.
"Kau ini, Mas, sudah ku bilang jangan sibuk urusin pekerjaan dulu. Lihat sekarang." Cerocosnya sambil mendekap dan menggiring tubuh suaminya untuk beristirahat di kamarnya.
Haris tak menyahutinya apa-apa, pria itu semakin melancarkan aktingnya karena Istrinya benar-benar percaya kalau penyakitnya sedang kambuh.
"Berbaringlah, Mas," ucapnya saat tubuh Haris sudah berada di ranjang tidurnya.
"Temani aku ya?"
Viona terdiam sambil berpikir sendiri. Ia dibuat dilema antara ingin menemani suaminya yang sedang tidak sehat, akan tetapi ia juga penasaran ingin menemui orang yang Ziyyan panggil ayah itu.
Rautnya begitu kentara sedang gelisah, dan Haris tentu tahu itu. Pria itu beralih meraih tangan istrinya untuk ia genggam dengan erat, lalu melempar senyum hangatnya kepada istri tercintanya.
Viona pun luluh, lantas ia pun turut berbaring di sebelah Haris sambil tetap saling berpegangan tangan.
"Tak terasa kita sudah menjadi kakek dan nenek. Rasanya masih baru kemarin kita menggendong anak kita Aurora." Haris memandang ke atas sambil meletakkan tangan istrinya di dadanya.
Viona tersenyum hangat, perempuan itu ikut terbawa lamunan akan kenyataan yang begitu cepat membuatnya menjadi seorang nenek. Bayangan akan senyum Ziyyan kembali mengiang indah di benaknya.
"Mas..."
"Hmm..."
"Ara kan sudah kembali, bagaimana kalau kita segera carikan dia calon suami. Biar Ziyyan juga bisa punya ayah seperti anak-anak lainnya, Mas."
Haris tersenyum singkat. "Kan sudah ada calonnya, Vi."
"Aku tetap gak setuju sama calon pilihanmu itu!" Viona pun pura-pura merajuk.
Dan Haris tentu sudah teguh dengan keputusannya memilih Zayn sebagai calon suami Ara, tentu karena pria itu adalah ayah kandung dari Ziyyan. Salah satu alasan kuatnya juga karena Zayn sangat bisa di andalkan untuk melanjutkan Rahardian Group.
"Oh iya, Mas, tadi Ziyyan bilang kalau Ara sedang bicara dengan seseorang di kamarnya. Aku mau susul Ara, Mas." Viona beranjak dari tidurnya.
Kali ini Haris tidak mencegahnya, ia juga ikut beranjak menyusul istrinya yang sudah bersiap membuka pintu kamarnya.
"Tunggu, Vi!"
Seakan Haris memang sengaja memperlambat gerakannya agar Viona tak segera sampai ke kamar Ara dan tentu akan mengganggu perbincangan antara Ara dan Zayn.
Viona kembali mendekat ke suaminya, dengan telaten Viona pun menggiring langkah kaki Haris yang dibuat sepelan mungkin. Sebenarnya ia sudah tak sabar ingin segera tahu siapa seseorang yang di panggil ayah oleh Ziyyan, akan tetapi melihat Haris yang demikian tentu ia menjadi tak tega.
__ADS_1
Terlihat Zayn sudah berada di ruang tengah sambil membawa Ziyyan dalam dekapannya.
"Ziyyan!"
Ara memanggil anaknya itu dengan nada sedikit sebal.
"Hei, kau jangan bawa anakku!" Ara memanggil Zayn hanya dengan sebutan hei.
Memang sedari ia bertemu kembali dengan Zayn hari ini, sama sekali ia tak menyebut nama pria itu dalam percakapannya. Rasanya lidahnya terlalu kelu untuk sekedar menyebut namanya itu lagi.
Zayn menoleh kepada Ara. "Aku gak mau bawa Ziyyan pergi. Aku cuma mau nunjukin dia mainan yang aku beli di mobil."
"Kau berbohong!" Ara tetap tak mempercayainya.
Bagaimanapun Zayn berucap, ia sudah terlanjur takut jika Zayn akan mengambil Ziyyan darinya.
"Kalau kamu gak percaya, ayo ikut?" Pria itu malah menawari Ara untuk mengikuti dirinya yang memang benar-benar tidak berniat membawa Ziyyan pergi.
"Ayok, Ayah." Bocah itu terus mengajak Zayn untuk segera menunjukkannya mainan baru yang dibelinya itu.
"Tunggu! Jangan bawa cucuku!"
Viona yang melihat Zayn sedang menggendong Ziyyan menuju keluar rumah, tentu langsung mencegahnya.
Zayn menoleh kepada Viona, ia pun langsung mengembangkan senyumnya kepada istri dari atasannya itu.
"Ck! Kamu lagi!"
Apalagi ia juga melihat kalau cucunya itu seperti sudah sangat akrab dan sayang dengannya. Hal itu tentu membuat Viona bertambah tak suka terhadapnya. Jika pria itu sudah bisa mengambil hati Ziyyan, tentu tak lama pula Ara juga akan kepincut olehnya. Bagaimana dengan Keanu nantinya? Hal itulah yang sedang dipikirkan oleh Viona saat ini.
Dan Ara yang memang tak paham dengan apa yang terjadi sebenarnya tentu sudah semakin curiga. Bagaimana awalnya papinya dan Zayn itu bisa saling mengenal? Hal itu yang akan ia tanyakan nanti kepada Haris.
Viona pun melangkah mendekati Zayn, lalu ia berusaha mengambil Ziyyan dari dekapan pria itu.
"Gak mau!" Ziyyan langsung menolaknya.
Ara ikut mendekat, ia pun turut berusaha mengambil Ziyyan dari Zayn.
"Iyyan gak mau Bunda! Iyyan mau sama Ayaaaaaah....." Dan akhirnya bocah itu pun menangis.
"Ayah?" Viona bertanya-tanya dalam hatinya.
Ia pun menoleh kepada Haris yang sedari tadi hanya terdiam tanpa bereaksi apa-apa melihat Ziyyan yang akan dibawa pergi oleh Zayn. Melihat senyum Haris yang sumringah memandang kepada Ziyyan, tentu membuatnya semakin sebal. Karena ia berpikir Haris lah yang mengajari cucunya itu agar memanggil ayah kepada calon pilihannya itu.
"Sudah ya. Cup cup..." Zayn berusaha menenangkan Ziyyan yang sedang menangis tersedu.
"Ayah gak boleh pergi lagi," pintanya di sela-sela tangisannya.
Zayn pun tentu tak bisa menjawab permintaan anaknya itu. Seberapa besarnya ia ingin selalu bersama dengan Ziyyan, tentu itu masih teramat mustahil sekarang. Hubungan antara dirinya dan Ara itulah yang masih membuatnya seakan terhalang jarak untuk bisa bermain dengan anaknya sepuas hatinya.
"Kamu mau ikut sama Ayahmu, Ziyyan?" Suara Haris seketika membuat Viona dan Ara terhenyak kaget.
__ADS_1
"Papi?"
"Mas!"
Keduanya seakan berbarengan menyerukan kepada Haris atas rasa keberatannya itu.
"Iya, Iyyan mau ikut Ayah." Seketika tangis bocah itu terhenti disaat mendengar penawaran dari kakeknya itu.
Seketika Ara menarik lengan Zayn mengajaknya keluar dari rumahnya.
"Apa yang sebenarnya kamu mau dariku? Kamu ingin mengambil Ziyyan, hah?" Ucapnya ketika ia dan Zayn sudah berada di halaman rumahnya.
"Ara." Zayn berusaha menyentuh pundak gadisnya itu namun selalu ditangkis dengan kasar olehnya.
"Tidak puaskah kamu sudah merusak masa depanku? Tidak cukupkah kamu membuat hidupku berantakan karena sikap pengecutmu itu?" Mata Ara kembali berkaca teringat akan luka hatinya lagi.
"AKU SUDAH MUAK!! AKU LELAH!!"
Kali ini tangisannya itu kembali pecah seiring ucapan yang keluar dari mulutnya.
Saat mendengarnya tak terasa air mata Zayn ikut menetes. Hatinya terasa bagai tertikam beribu sembilu saat mendengar curahan luka dari gadisnya itu.
Dan Ziyyan pun kembali menangis. Ia begitu tentu karena melihat kedua orangtuanya yang sedang menangis.
Narsih menghampiri keduanya, ia lantas mengambil Ziyyan dari Zayn dan bocah itu langsung mau.
"Kalian bicarakan dengan tenang, tidak baik jika kalian terus begini apalagi di depan Ziyyan." Narsih berusaha menasehati mereka.
Ara langsung mengusap bersih air matanya, lantas ia mengulurkan kedua tangannya agar Ziyyan kembali ke dekapannya.
"Ziyyan, sini sama Bunda."
Tetapi bocah itu tetap menggeleng. Tatapannya seakan ikut sedih menyaksikan sendiri kedua orangtuanya tidak akur di depannya.
"Biarkan Ziyyan ikut dia, Bi." Haris kembali berucap.
Dan Viona sudah sangat marah dengan ucapan Haris itu. Ia pun lantas pergi begitu saja, masuk kembali ke dalam rumahnya dengan amarahnya yang tersulut nyala.
Zayn terlihat kebingungan. Antara senang dan sedih bercampur aduk di hatinya. Akan tetapi melihat kode dari Haris itu lah yang membuatnya tega membawa Ziyyan ikut dengannya, harus terpisah sementara dengan Ara.
"Aku tidak akan memisahkan kamu dengan Ziyyan, Ra. Ini anakmu, tapi Ziyyan juga anakku. Ijinkan aku membawa Ziyyan menginap denganku semalam saja. Aku janji besok pagi aku antar Ziyyan kembali kesini." Zayn berusaha meyakinkan gadisnya yang menatapnya dengan tatapan yang entah.
Ziyyan kembali ke dekapan ayahnya, pria itu akhirnya pamit pergi kepada Haris dan Narsih. Dan Ara, gadis itu hanya bisa terdiam tanpa bisa berucap apa-apa lagi. Apa yang di ucapkan oleh Narsih tadi, itulah yang membuatnya menjadi terdiam.
Beradu mulut di depan anak, apalagi masih bocah polos seperti Ziyyan, memang itu kurang baik terutama bagi perkembangan pshycologisnya. Dan karena hal itulah ia kembali terpaksa menahan amarah itu, demi kebaikan Ziyyan juga.
Ara tetap memandang lekat pada mobil yang telah membawa anaknya itu hingga benar-benar telah keluar dari balik pagar rumahnya. Tangisnya pun kembali pecah, meratapi nasib hidupnya yang tak pernah ia bayangkan akan seperti ini sebelumnya.
Dan Narsih, ibu angkat dari Ara itu mendekapnya sambil membelai lembut punggung Ara. Mencoba memberinya ketegaran akan yang di alaminya selama ini.
*
__ADS_1