
"Eeuuuugh......"
Suara lenguhan pria yang baru saja terbangun dari tidurnya terdengar begitu keras. Pria itu menggeliatkan tubuhnya berulang-ulang layaknya ulat keket kepanasan. Seluruh tubuhnya dirasa sangat remuk, kepalanya masih terasa pusing untuk segera bangun dari tempatnya.
"Sudah jam berapa ini? Ayo bangun kau! Ck!"
Reno tiba-tiba datang sambil sengaja memercikkan air di wajah temannya yang baru bangun hampir jam sepuluh siang.
"Duh... duh..."
Keanu mengusap wajahnya yang sudah basah. Lantas ia pun berusaha terbangun, karena kalau tidak, Reno sudah tidak akan segan lagi menyiramnya dengan air sebaskom yang di pegangnya.
"Mmm.... Macam kebo aja kau! Lihat, sudah jam sepuluh, hei! Mana bisa aku berangkat kerja kalau kau tetap tidur sampai siang gini!" Racau Reno sambil memunguti bantal sofa yang berserakan di lantainya.
"Hmmm...." Ternyata pria itu belum sepenuhnya sadar. Ia masih memijit-mijit tengkuknya sembari memejamkan matanya karena masih terasa sedikit pusing.
"Kacau sekali kau semalam! Kenapa sampai mabok begitu, hah? Putus cinta?" Reno turut duduk bersebelahan dengan Keanu.
Keanu pun masih terdiam, karena ia sendiri masih berusaha mengingat kejadian semalam yang membawanya sampai tertidur di apartemen Reno.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanyanya setelah sekian detik berusaha mengingat kejadian semalam yang tak kunjung teringat.
"Iiish...." Reno menimpuk tubuh Keanu dengan bantal sofa yang di pegangnya.
"Semalam kau tuh mabok. Kalau tidak segera ku lerai, kau hampir saja melecehkan anak gadis orang di luar apartemen ini," sungutnya penuh emosi.
"Benarkah?" Keanu langsung terperanjat begitu mendengar penjelasan dari temannya itu.
__ADS_1
"Aiiih... Kau ini! Mesum sekali kau semalam! Berdo'a sajalah semoga cewek semalam nggak ngelaporin ke aparat."
Mendengar pernyataan Reno pria itu kembali berusaha mengingat kejadian seperti yang di ungkapkan Reno padanya. Sekelibat ia teringat kalau kemarin siang ia bertemu dengan Viona dan kemudian setelah itu ia pergi ke sebuah Bar dan ia pun sudah tak ingat apa yang terjadi setelah itu.
"Aku masih tak ingat!" Ucapnya kemudian sambil memijit keningnya yang terasa seperti ada benjolannya.
"Aaah.... Sudahlah!" Reno pun akhirnya pergi menuju kamarnya, entah apa lagi yang akan diambilnya di dalam sana.
Keanu berusaha beranjak dari tempatnya, ia ingin berkaca karena penasaran dengan benjolan di keningnya yang terasa sedikit nyeri jika ditekan.
"Ooh... shiit!!" Umpatnya begitu ia melihat keningnya yang sedikit benjol berwarna kemerahan.
"Reno!" Teriaknya, masih di depan kaca wastafel.
Reno datang dengan pakaian yang sudah rapi. Ia berdiri disebelah temannya itu sambil terkekeh melihat kening Keanu yang begitu.
"Rasain kau!" ejeknya, masih dengan kekehnya yang khas.
"Kenapa? Kau penasaran sama aksi panasmu itu? Sini biar aku yang ceritakan!"
Keanu terdiam sambil menunggu Reno menceritakan kejadian semalam.
"Pertama kau menariknya dan lalu menciumnya rakus. Tak sampai situ, kau juga sampai memegang buah dad--"
"Aaah... STOP!" Keanu tak kuasa mendengar apa yang diceritakan oleh temannya itu. Apalagi tadi ia geli sendiri melihat Reno juga mempraktekkan aksinya itu semalam.
"Ya sudahlah! Cepatlah mandi sana. Aku tunggu kau. Sudah terlalu siang aku berangkat kerja gara-gara kau! Ck!" Lalu kemudian Reno pun keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Keanu masih berkaca selama mungkin. Ia menatap keningnya sendiri, mungkin ini akibat semalam gadis itu memukulnya dengan benda keras hingga keningnya benjol dan merah seperti ini.
*Keanu flashback on.
"Maafkan tante Ken. Jujur, tante tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu. Tapi setelah tante memikirkan ulang, memang seharusnya Ara menikah dengan ayah kandung Ziyyan. Apalagi setelah tante melihat dengan mata kepala tante sendiri, ayahnya Ziyyan tidak terlalu mengecewakan. Maksud tante, ia sangat penyayang kepada Ziyyan dan masih begitu mencintai Ara." Jelas Viona kepada Keanu, disaat mereka sudah saling bertemu di Cafe yang mereka sepakati sebagai tempat bertemu.
"Apa tante yakin kalau Zayn benar-benar masih mencintai Ara? Dia tidak pernah menduakan perasaannya, begitu?"
Tentu Keanu berani bertanya begitu setelah kemarin ia sempat mendengar dari Reno kalau Zayn pernah membawa Bella main ke apartemennya.
Dan nyatanya Viona menanggapi pertanyaan Keanu dengan anggukan kepalanya begitu mantap.
Pria itu lalu menyandarkan tubuhnya di kursinya, sesekali hembusan nafasnya keluar begitu berat.
Sebenarnya ia bisa saja merelakan Ara menikah dengan pria lainnya asal tidak dengan Zayn. Entah mengapa ia masih sangat tak bisa merelakan Ara kembali kepada rangkulan Zayn, hingga sampai ia melihat sendiri wanitanya itu hidup bahagia dengan pria pilihannya nanti. Meski bukan dengannya.
"Misalnya saya punya bukti kalau Zayn ternyata ada main dengan wanita lain, apakah tante masih percaya sama dia? Apakah tante masih akan menyetujui Ara menikah dengannya?"
"Misalnya kau memiliki bukti itu, lebih baik kau simpan saja. Aku rasa tiap orang pasti pernah memiliki masa lalu yang tidak baik. Dan seseorang yang berusaha menutupi aib keburukan orang lain, itu terlihat lebih baik dan lebih bijak."
Ungkapan Viona itu tentu langsung menohok di hati Keanu. Bagaimana bisa Viona menganggapnya sebagai pria yang tak baik andai ia berani mengusut perbuatan Zayn lainnya yang mereka masih belum mengetahuinya.
"Keanu." Tangan Viona terulur menyentuh telapak tangan Keanu.
"Maafkan tante. Tante harap kamu bisa ikhlas, Nak. Tante pasti akan mendoakanmu juga, semoga kelak kau dipertemukan jodoh yang lebih baik dari pada anak tante," ujarnya lalu kemudian beranjak pergi begitu saja meninggalkan Keanu seorang diri.
*Keanu flashback off.
__ADS_1
Keanu masih berdiam diri di depan cermin. Rahangnya tiba-tiba mengeras begitu teringat akan ucapan Viona kemarin. Ia pun jadi teringat dengan sendirinya tentang kenapa dirinya bisa sampai di apartemen Reno. Mungkin saat dirinya mabok semalam ia bermaksud ingin menemui Zayn. Akan tetapi ia jadi hilang kendali setelah tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang membuat keningnya memerah seperti saat ini.
*