Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 121


__ADS_3

"Apa?!"


Mulut Ara seketika menganga begitu mendengar pengakuan dari Zayn bahwa gadis yang selama ini dicemburuinya itu adalah adik kandung Zayn.


"Aku nggak percaya!" Ucapnya kemudian, disaat Zayn hanya diam saja dengan tatapannya yang tak pernah lepas darinya.


"Kalo nggak percaya ayo ikut kedalam. Mereka juga nunggu kamu dari tadi," ajak Zayn yang semakin membuat Ara bertambah bingung dengan perkataannya.


"Mereka siapa?"


"Ayah ibuku," sahutnya yang spontan membuat wanitanya kembali terperangah.


"Mereka hanya ingin kenal sama kamu. Maksud aku mereka kesini karena ingin tahu bundanya Ziyyan seperti apa?" Jelasnya yang rupanya masih mendapat respon kerutan kening dari Ara.


"Kalo cuma ingin tahu wajahku kamu kan punya fotoku. Tinggal tunjukkan fotoku sama mereka, sudah beres. Ngapain mesti repot jauh-jauh kesini?" Ujarnya begitu percaya diri kalau Zayn masih menyimpan fotonya.


"Masalahnya aku nggak punya foto kamu. Satu pun nggak ada." Tentu kali ini Zayn lagi-lagi dusta.


"Apa?"


"Astaga! Kenapa rasanya sakit sekali mendengar dia sudah tidak menyimpan fotoku. Itu berarti dia sudah benar-benar akan melupakanku. Come on, Ra! Bukannya kamu sendiri yang memintanya menjauh dan melupakan semuanya?" batin Ara mengoceh sebal.


"Coba kesini." Tiba-tiba Zayn merangkul pundak Ara lalu mengarahkan kamera ponselnya dan....


Cekrek.


Zayn berhasil mencuri foto berdua dengan Ara sambil merangkulnya mesra. Akan tetapi hasil foto itu terlihat raut Ara yang sedikit cemberut.


"Iish, jelek!" Ujarnya sambil langsung menghapus foto itu.


"Ayo lagi." Lagi-lagi Zayn mengarahkan kameranya.


"Buat apa sih? Gaje banget kamu dari tadi!" Ara langsung menangkis rangkulan tangan Zayn dari pundaknya.


"Loh, bukannya tadi kamu bilang tinggal nunjukkan foto kamu sama ayah ibu. Aku nggak punya foto kamu, satu pun. Atau kalau kamu mau langsung menemui mereka secara langsung, ayo kita temui mereka didalam."


Seketika Ara terdiam. Wanita itu dilema antara memilih menemui orangtua Zayn atau menuruti ajakan pria itu barusan.


"Sudahlah. Sepertinya kamu keberatan bertemu orangtuaku." Lagi-lagi Zayn merangkul Ara dan mengarahkan kameranya lagi. Modus curi-curi kesempatan beraksi. Hehe...

__ADS_1


"Senyum." Titahnya singkat begitu tangannya sudah bersiap menekan tombol kameranya.


Ara langsung tersenyum dibuat-buat. Lebih baik ia difoto saja dari pada bertemu langsung dengan orangtua Zayn, karena sebenarnya dirinya sangat tidak siap bertemu dengan mereka saat ini.


"Senyumnya yang ikhlas dong, kayak terpaksa banget lihatnya." Pria itu tentu akan terus mencari cara agar bisa lebih lama berdua dengan Ara.


"Iiiiiiii...." Dengan konyolnya Ara langsung memamerkan deretan gigi putihnya sambil bersuara aneh yang membuat Zayn langsung terkekeh.


"Jadi gemes aku." Jari Zayn langsung menoel pipi Ara, dan....


Cup.


Cekrek.


Sebuah foto berhasil ia abadikan saat dirinya mencium pipi Ara dengan sengaja.


Pria itu langsung tersenyum riang begitu melihat hasil tangkapan kameranya sesuai harapan. Tanpa ia pedulikan lagi raut Ara yang kesal karena merasa kecolongan dicium pipinya oleh Zayn.


"Perfect!" Gumamnya sambil terus memandangi foto dirinya dengan Ara barusan.


"Sudah kan?" Ara kembali bersuara setelah ia berhasil mengatur emosinya setelah insiden dicium Zayn barusan.


"Masih mau apalagi?"


Lantas Zayn memandangnya dengan raut wajah yang lebih serius dari sebelumnya. "Aku mau jujur sama kamu," ujarnya.


Pria itu tak langsung mengutarakan maksud kedatangannya yang sebenarnya, karena kali ini hati dan perasaannya dibuat nervous untuk mengutarakannya. Takut-takut nanti langsung ditolak oleh Ara setelah ia mengatakannya. Akan tetapi karena kedua orangtuanya sudah terlanjur datang, tentu hal itu harus ia ungkapkan saat ini juga.


"Ijinkan aku untuk melamarmu saat ini. Aku ingin memperbaiki hubungan kita, aku ingin menebus semua yang seharusnya aku tanggung. Ijinkan aku merawat Ziyyan bersama-sama, dalam rumah tangga yang utuh." Zayn berucap dengan satu kali tarikan nafasnya.


Deg.


Ara dibuat terdiam oleh pernyataan Zayn itu. Entah mengapa hatinya kembali bergetar disaat mendengar pria itu mengucapkan hal yang serius kepadanya.


"Ara, maukah kamu menerima lamaranku?" Zayn meraih tangan Ara untuk ia genggam lagi.


"Oh Tuhan..... Benarkah yang aku dengar ini? Dia yang aku suruh menjauhi dariku malah sekarang melamarku? Ini dia yang keras kepala atau karena memang dia benar-benar tulus mencintaiku? Beri aku petunjuk itu Tuhan...." Wanita itu kembali bimbang dengan suatu hal yang dihadapkannya saat ini.


"Ara," Zayn kembali menyapanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak membicarakan masalah ini sama aku saja? Kenapa malah langsung mengajak ayah ibumu kesini? Kamu mau langsung menodongku?"


Rupanya Ara masih mempermasalahkan Zayn yang membawa kedua orangtuanya itu. Pria itu hanya bisa menghela nafasnya dan berusaha memaklumi jika wanitanya saat ini mungkin sedang shock saja.


"Karena aku mau menunjukkan sama kamu kalau aku benar-benar serius sama kamu. Kita bukan lagi ABG yang harus melamar kekasihnya di tempat romantis. Kita sudah ada Ziyyan. Dan lagi sudah seharusnya kita menebus kesalahan kita yang dulu dengan mengabulkan keinginan orangtua kita."


"Ayo kita mencobanya, Ra. Kita jalani saja dulu sesuai keinginan mereka. Paling tidak kita tidak mengecewakan mereka lagi. Jika nanti kamu masih merasa tak nyaman dengan ini, aku akan mundur. Aku tidak akan memaksamu lagi. Ku mohon, jangan lagi kecewakan hati kedua orangtua kita setelah kesalahan yang kita coreng dulu."


Dibalik perkataannya itu sebenarnya Zayn tidak benar-benar akan mundur begitu saja. Ia selalu akan berusaha agar wanita itu bisa menerimanya kembali tanpa adanya rasa terpaksa.


Dan Ara masih terdiam. Apa yang telah diucapkan Zayn itu memang ada benarnya. Dirinya yang pernah membuat luka hati kedua orangtuanya, tentu tak ingin membuat luka lagi di hati mereka. Apalagi jika ia teringat tentang ucapan Haris yang begitu mempercayai Zayn untuk menjadi pendampingnya. Jika mereka sudah yakin, lantas apalagi yang harus diragukan?


"Nih dia mereka!" Tetiba suara Cinta mengusik keberadaan mereka.


"Kalian ngobrolnya udah belum?" Tanyanya sambil memandangi Zayn dan Ara bergantian.


"Tunggu sebentar lagi," sahut Zayn kepada Cinta yang masih memandang dengan tatapan penuh curiga.


"Jangan lama-lama! Kita udah kelaparan nunggu kalian dari tadi." Hardiknya sambil lalu pergi lagi.


"Ara." Zayn menyapanya lagi sambil sedikit menarik genggaman tangannya untuk mengajaknya masuk.


"Kak."


"Hmm?" Zayn menatapnya lebih intens.


"Aku.... aku...."


"Duh! Kenapa jadi nyut-nyutan gini sih hatiku?"


Seketika wanita itu tertunduk malu. Ia ingin mencobanya seperti yang dikatakan Zayn tadi, hanya saja lidahnya seketika terasa kelu untuk mengatakannya. Dan pria itu kemudian hanya mengulas senyumnya disaat menangkap sorot Ara yang bersemu merona.


"Bismillah, Sayang," ucap Zayn dengan tenang. Lalu semakin mengeratkan tangan Ara yang masih berada dalam genggamannya. Menuntunnya untuk masuk bersama, menemui kedua orangtua mereka yang sudah menunggu keputusan dari acara malam ini.


Dan Ara, ia hanya bisa terdiam tanpa menolak lagi kemana Zayn menuntunnya saat ini.


"Bismillah... Semoga apa yang menjadi keputusanku saat ini menjadi yang terbaik untukku dan Ziyyan." Lirih hati Ara begitu ia sudah dihadapkan dengan dua keluarga yang memandanginya, disaat ia sudah berada bersama mereka diruang keluarga kediaman Rahardian.


Eng ing eng... Lanjutannya tunggu besok ya😁

__ADS_1


__ADS_2