Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 24


__ADS_3

"Gue mau jadi pacar lo."


Ara mengungkapkan itu dengan satu tarikan nafasnya.


Mata Keanu langsung berbinar bahagia, begitu mendengar sebuah jawaban yang selalu ia tunggu selama ini. Pria itu berhambur memeluk Ara begitu erat, ia di buat speechless. Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan Keanu saat ini, karena sudah tak bisa digambarkan dalam bentuk apapun saking bahagianya.


"Lo gak bercanda kan?" Tanyanya sambil menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya.


Ara hanya mengangguk. Bibirnya terus tersenyum menatap rona bahagia Keanu. Juga tersenyum melihat sorot mata Zayn yang berubah redup melihat pengakuannya yang ia sengaja lakukan itu di depan Zayn.


"Makasih My Queen. Makasih udah mau terima gue," ungkap Keanu sambil kembali membawa Ara dalam pelukannya. Dan Ara juga membalas pelukan itu.


"Gue janji, gue akan selalu buat lo."


"Ssstt..." Ara menyematkan jari telunjuknya di depan bibir Keanu, dan seketika pria itu terdiam tak lagi melanjutkan bicaranya.


"Gak usah banyak janji, gue cuma butuh bukti." Ara berucap yang kemudian di sambut senyum tulus Keanu padanya.


Mereka sama-sama saling bertatapan penuh makna. Senyum bahagia tetap terukir indah pada dua insan yang baru saja menjalin hubungan sebuah ikatan percintaan.


Mereka telah benar-benar terbawa perasaan masing-masing, sehingga terlupa dengan keberadaan Zayn diantara mereka.


Sesekali tawa renyah terdengar dari Ara ketika Keanu terus menggodanya dengan cubitan gemas pada hidung mancung Ara.


"Iih... Ken!" Ara membalas mencubit pinggang Keanu ketika pria itu mencoba mencuri ciuman di kening Ara.


Gadis itu melirik pada Zayn yang masih belum beranjak dari tempatnya. Sebenarnya hatinya belum siap menerima ciuman dari Keanu, ia menolak ciuman itu sekedar pura-pura merasa tidak enak saja karena ada Zayn yang melihatnya, padahal Ara sangatlah ingin memancing kecemburuan Zayn padanya.


Mungkin bukan saat ini dulu, tunggu saja nanti ketika Ara sudah yakin dengan arti tatapan Zayn itu padanya. Ia mau Zayn cemburu. Ia mau Zayn berterus terang tanpa harus saling diam dalam tatapan yang penuh tanda tanya.


Keanu menoleh pada Zayn yang kini beralih menatap Keanu dengan tatapan yang sudah berbeda. Ia pun mulai tersenyum salah karena sudah mengabaikan keberadaan Zayn.


"E... e... Sorry, Kak," ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Alih-alih mendapat jawaban dari Zayn, pria itu malah menatap Keanu begitu tajam.


"Kita pergi aja yuk?" Ara menarik tangan Keanu, mengajaknya pergi karena sudah merasa puas melihat Zayn yang sepertinya sedang memendam amarah.


"Sorry, Kak." Tangan Keanu sudah terlanjur ditarik oleh Ara sehingga mau tak mau Keanu harus mengikuti langkah kaki Ara yang menuntunnya pergi dari tempat itu.


"Gak sabaran amat sih My Queen," seru Keanu ketika sudah mendapati Ara kembali memelankan langkahnya dengan santai.

__ADS_1


"Gue gak enak kalo kita pacaran ada dia." Ara berucap sambil menengok ke belakang melihat Zayn yang ternyata masih belum beranjak dari tempat itu.


Diam-diam Ara tersenyum puas melihat kenyataan Zayn yang masih betah memandanginya dari kejauhan.


"Jadi ini adalah kencan pertama kita, enaknya mau kemana?" Ucapan Keanu membuat Ara kembali tersadar bahwa Keanu kini sudah menjadi kekasihnya.


Yach, Keanu memang berhasil menjadi pacar pertama Ara, namun ia masih belum bisa menggantikan posisi cinta pertama Ara pada cowok yang terus memandanginya dengan tatapan sendu padanya, Zayn.


"Ke kantin aja gimana?" Ara memilih kantin kampus sebagai tempat kencan pertama mereka.


"Serius?" Keanu menanyainya tak percaya.


"Iya! Yuk ah, gue udah kebayang makan siomay pedes level 10 nih." Ara bersemangat mengajak Keanu yang begitu pasrah dengan ajakan kekasihnya itu.


Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di kantin yang lumayan sepi hari ini. Mereka pun mulai mengantri di depan stand makanan dan minuman yang mereka inginkan. Sesekali mereka terlibat senda gurau manja, yang menyita perhatian yang lain dengan penasaran.


"Jangan pedes-pedes My Queen, entar kalo lo sakit gue juga susah." Keanu menasehati Ara yang tak biasanya suka dengan makanan pedas melebihi kemampuannya.


Alih-alih mendengarkan nasehat Keanu, Ara semakin berselera menatap siomay yang sudah tersaji di atas mejanya.


"Lo gak lagi banyak pikiran kan?" Keanu mulai curiga dengan porsi siomay Ara yang tak seperti biasanya.


Ara beralih menatap Keanu yang sangat tepat dengan tebakannya itu. "Nggak!" jawabnya mulai bohong.


"Gue bantu habisin ya? Gak tega gue lihat cewek gue makan kebanyakan trus sakit perut gimana?" Keanu mulai mencicipi siomay pesanan Ara yang sumpah, pedes bangeeeet......


Ara terkekeh melihat tampang Keanu yang kebingungan karena kepedesan. Ia memberikan segelas jus melon pada Keanu yang kemudian Keanu langsung menyambutnya, terkesan Ara sedang menyuguhkan minuman itu pada Keanu dengan begitu romantis.


"My Queen."


"Hem,"


"Lo habis nangis ya?" Keanu baru tersadar dengan kondisi mata Ara yang sembab.


Ara memicingkan matanya, pura-pura tak mengerti. Padahal dirinya tengah menyusun alasan yang tepat agar Keanu tak lagi curiga.


"Oh, tadi tuh mata gue kemasukan hewan kecil, trus gue basuh sambil kucek-kucek, hewannya gak keluar malah mata gue yang gini." Alibinya yang berhasil membuat Keanu percaya.


"Lain kali jangan di gituin lagi, bisa bahaya." Pria itu mengusap-usap lembut ujung pelipis mata Ara dengan penuh perhatian.


Ara hanya tersenyum mendapat perhatian Keanu yang sampai hati ia balas dengan awal kebohongan yang ia buat.

__ADS_1


Tommy berlalu di samping mereka. Tatapan mata Ara dan Tommy saling bersirobok. Tapi Ara tak mau peduli lagi dengan semua hal yang berbau tentang Tommy. Ia pun kembali beromantis ria dengan Keanu di depan Tommy yang menatapnya sangat tidak suka.


Zayn, seketika Tommy teringat akan bagaimana nasib sahabatnya itu. Ia pun memilih pergi untuk mencari keberadaan Zayn, meski sebenarnya tadi ia ingin bertanya langsung pada Ara tentang bagaimana bisa ia menjalin hubungan dengan Keanu, padahal dirinya juga tahu kalau gadis itu menyukai Zayn.


[Lo dimana?] Sebuah pesan singkat ia kirim pada Zayn.


[Pulang] Zayn langsung membalas pesan itu.


[Jangan ngerokok lagi, gak baik.]


Tommy menasehati sahabatnya itu, mengingatkan kebiasaan buruk Zayn yang sering di lakukannya tiap kali banyak pikiran.


Tommy menghentikan langkahnya, ketika tak sengaja menubruk tubuh Sisil yang sedang kerepotan membawa buku-buku tebal di dekapannya.


"Sorry," ucapnya kemudian kembali fokus menatap ponselnya yang tak ada balasan pesan lagi dari Zayn.


Sisil merengut mendapati Tommy yang terkesan tak mau membantunya membereskan buku-bukunya yang jatuh berserakan.


"Tanggung jawab lo!" Sisil menyapa Tommy yang masih cuek, tapi terlihat gelisah dari sorot mata Tommy.


"Tommy..........." Sisil mulai meninggikan suaranya.


"Iya, Sil, gue mau tanggung jawab kok. Tunggu gue sukses dulu, baru gue mau nikahin lo." Tommy menatap Sisil sekilas, lalu lagi-lagi kembali fokus pada layar ponsel miliknya.


Bug.


Hantaman keras mendarat di lengan Tommy. Pria itu tak melawan, ia semakin terkekeh melihat tampang Sisil yang memerah. Entah itu sedang marah atau tersipu, Tommy tak peduli itu.Ia hanya semakin dibuat gemas dengan ekspresi Sisil saat ini.


Bug.


Lagi-lagi Sisil menghantam lengan Tommy dengan buku tebal yang ia pegang.


"Dasar makhluk aneh!"


"Gila!"


"Gak jelas!"


Sisil mengumpat Tommy dengan segala uneg-uneg yang ingin ia lontarkan. Lalu kemudian memilih pergi dari pada harus berurusan dengan Tommy yang makin kesini makin aneh menurutnya.


"Sil, yang gue bilang tadi gue serius." Tommy mencoba meneriaki Sisil yang semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


*Bersambung.


__ADS_2