
Keanu mengusap lembut rambut panjang Ara dengan penuh kasih. Tangannya masih saja merengkuh tubuh gadis yang tengah menangis sendu dalam pelukannya. Biarlah gadis itu menangis sampai puas, hingga tak kan ada sisa kesedihan lagi yang ia rasa setelah ini.
Ara melepas pelukannya, ia menatap wajah Keanu yang juga menatapnya dengan sendu. Entah kenapa pria itu kebetulan ada tadi, ketika Ara sudah tak tahu lagi harus kemana ia menumpahkan segala emosinya yang meluap.
"Sudah?" Keanu menangkup wajah Ara dengan kedua telapak tangannya, sedang kedua ibu jarinya turut mengusap air mata Ara yang membasahi pipi lembut gadis itu.
Ara mengangguk tak yakin. Mendapati respon yang seperti itu, lagi-lagi Keanu membawa Ara dalam pelukannya.
"Ceritakan aja kalo lo mau cerita, tapi kalo itu cerita yang menyakitkan, mending lo buang jauh-jauh gak usah lo inget-inget lagi," lanjutnya.
Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap wajah Keanu lagi. Lantas ia pun menggelengkan kepalanya di ikuti senyum yang ia paksakan mengembang.
Keanu memahami maksud Ara, gadis itu memang sedang sedih atau bahkan terluka, tapi gadis itu memilih tak mau menceritakannya. Itulah kira-kira jawaban dari bahasa wajah Ara.
"Kita ngafe, nonton, trus ngemall, mau?" Keanu mulai menyemangati Ara dengan hal-hal yang kebanyakan disukai para gadis.
Ara mengangguk setuju. Lantas ia melepas pelukan itu yang benar-benar telah membuatnya sedikit rileks. Ia pun juga tak menolak genggaman tangan Keanu, saat pria itu menuntunnya pergi dari tempat yang telah membuat Ara sedih hari ini.
Sedang dari kejauhan Sisil tersenyum lega melihat Ara sudah baik-baik saja. Mungkin saatnya kini Ara harus berhenti mencintai Zayn yang sudah menjadi milik Bella, dan mungkin sudah semestinya Ara mempertimbangkan kehadiran Keanu yang selalu ada di saat Ara sedih maupun senang.
"Hey!" Tommy tiba-tiba saja menepuk pundak Sisil yang sedang fokus melihat Ara yang sudah masuk ke dalam mobil Keanu. Ia pun menoleh kepada Tommy yang entah sejak kapan berada di belakangnya.
"Mau kemana mereka?" Tommy menanyai Sisil, namun tatapannya tertuju kepada Ara dan Keanu yang sudah berlalu pergi.
"Gak tahu, bukan urusan gue!" Sisil menjawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.
Tatapan Tommy begitu nyata kalau pria itu tidak menyukai Ara, makanya Sisil memilih pergi saja dari pada nanti ia yang akan menjadi sasaran kejailan Tommy.
"Tunggu dulu!" Tommy menarik bahu Sisil, menahannya agar tak pergi dulu. Karena masih banyak hal yang ingin Tommy ketahui tentang Ara pada Sisil.
"Keburu amat," lanjutnya.
Sisil menoleh malas. Pasti Tommy pingin tahu tentang hubungan Ara sama Keanu, gadis itu mulai bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
"Ada apa? Mau tanya apa?" Wajah Sisil mulai jutek.
Tommy hanya tersenyum geli melihat Sisil, gadis penurut dan baik hati, cantik dan juga menggemaskan menurutnya, memasang wajah juteknya padanya yang semakin membuatnya merasa tambah gemas dan ingin mencubit pipinya yang chuby.
"Iiish.... Gak jelas!!" Sisil pergi, tapi ternyata Tommy mengikuti langkahnya bersejajar dengannya.
"Mereka udah jadian ya?" Tanyanya, masih tetap mengikuti langkah Sisil yang semakin cepat, terkesan ingin segera menghindar dari Tommy.
"Mana gue tahu!" Sisil menjawab tanpa menoleh pada Tommy yang ternyata diam-diam mencuri pandang padanya.
"Masa' sih lo gak tau, bukannya kalian teman dekat?"
"Emang kita teman dekat, tapi gue gak pernah kepo ngurusin hal pribadi masing-masing. Gak kayak--" Sisil urung melanjutkan omongannya. Ia harus waspada pada Tommy. Syukur-syukur ia tidak jadi objek kejailan Tommy setelah ini.
"Kayak gue maksud lo?"
Sisil melirik sekilas pada Tommy yang ternyata langsung tersenyum manis begitu Sisil menatapnya tadi.
"Emang urusannya sama lo apa sih? Lo diem-diem naksir sama Ara?" Sisil balik bertanya lebih kepo.
Tommy langsung menggelengkan kepalanya. "Gue gak naksir sama Ara. Gue naksirnya sama lo!" Lanjutnya, yang seketika membuat Sisil terdiam menatap Tommy yang juga menatapnya penuh keyakinan.
"Ehem!" Tommy berdeham, membuat Sisil tersadar dari diamnya yang tak percaya dan menganggapnya hanya salah dengar dengan perkataan pria itu barusan.
"Jadi lo beneran gak tau mereka udah jadian apa belum?" Tommy kembali ke topik awal,ia tidak akan berhenti menanyai hal itu sebelum mendapatkan jawaban yang jelas.
"Setau gue masih belum, gak tau kalo setelah ini," jawab Sisil sambil kemudian pergi meninggalkan Tommy yang sudah tak mengejarnya lagi.
Tommy tersenyum tipis mendapati jawaban itu, lantas ia segera menyalakan ponselnya berniat menghubungi Zayn yang seharian ini tiada kabarnya.
Namun Tommy di buat kaget ketika tak sengaja ia menemukan unggahan postingan Bella di laman story WhatsApp milik mantan kekasihnya itu dulu.
"Lo beneran jadian sama Bella?" Pria itu langsung menanyai Zayn ketika telponnya sudah tersambung.
__ADS_1
"Gak, Tom." Zayn menyahut malas.
"Di mana lo sekarang?"
"Di rumah."
"Oke. Gue kesana sekarang." Tommy langsung menyudahi telponnya dan segera mungkin pergi menuju arah tempat parkir.
Sisil di buat semakin bertanya-tanya dengan apa yang ia dengar. Ia yang memang menguping pembicaraan Tommy yang ia yakini sedang bicara dengan Zayn, mulai menaruh curiga dengan tujuan Tommy yang ingin tahu segala urusan Ara dan ketidak sukaannya mengetahui kabar Zayn jadian dengan Bella.
*
Gelak tawa terpancar dari rona Ara dan Keanu yang begitu senang dengan apa yang telah mereka lewati.
Keanu benar-benar telah mampu membuat Ara terlupa dengan kesedihannya itu. Sedari perjalanan mengelilingi Mall, pria itu tak pernah bosan merangkul, kadang menggenggam tangan Ara, yang sama sekali tidak ada penolakan dari gadis itu.
"Mau es krim?" Keanu menanyai Ara ketika tak sengaja mereka berhenti di depan toko penjual es krim.
Ara menggeleng." Gak mau, udah kenyang." ucapnya sambil mengelus perutnya yang benar-benar kekenyangan setelah memakan dua porsi spaghetti tadi, sebelum mereka melanjutkan tujuan terakhirnya ke Mall ini.
Keanu tertawa melihat ekspresi Ara yang demikian. "Lagian lo tadi rakus amat sih, gak takut gendut apa?"
"Biarin! Itu tandanya gue lagi stres." Ara memang sering begitu, tiap kali banyak pikiran gadis itu sering melampiaskannya lewat makan makanan sebanyak yang ia mampu.
"Hari ini dan seterusnya, gue gak akan biarin siapapun yang buat lo sedih kayak tadi." Keanu berucap sambil menatap tepat pada netra Ara.
Ara hanya tersenyum, tapi hatinya masih belum tersentuh dengan apa yang di ucapkan Keanu. Begitu sulitnya ia untuk move on, mencoba mengalihkan perasaannya itu pada Keanu. Namun lagi-lagi bayangan Zayn masih terlintas di benaknya.
Keanu kembali membawa Ara dalam pelukannya. Ia benar-benar bahagia bisa melewati hari ini dengan gadis yang ia sukai semenjak SMA dulu.
Ara hanya terdiam tanpa membalas pelukan itu juga. Lagi-lagi ia tak bisa menolak dengan apa yang Keanu lakukan. Hatinya memang masih menyukai Zayn, namun tubuhnya tak bisa menolak kehangatan yang Keanu berikan padanya.
*
__ADS_1