Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 101


__ADS_3

"Jadi sebenarnya Zayn itu ayahnya Ziyyan?"


Ara tertunduk mendengar pertanyaan maminya itu. Semalas bagaimanapun ia mendengar bahasan tentang Zayn, akan tetapi pria itu adalah memang mantan dari masa lalunya. Dan memang dialah ayah biologis dari Ziyyan.


"Huuft..." Viona hanya menghela nafas panjangnya, melihat Ara yang hanya terdiam.


"Kalau kamu diam saja, bisa jadi dia bukan ayah kandungnya Ziyyan."


"Mami?" Seketika wajah Ara terangkat menatap Viona yang seakan tiada bersalah telah berkata demikian.


"Makanya kamu jujur dong sama Mami. Kalau cuma diam begitu, wajar dong mami ngira kamu pernah tidur sama orang lain juga."


"Astaga, Mami!" Ara sangat tak percaya maminya itu akan berkata demikian padanya.


"Iya deh, Ara ngaku. Dia memang ayahnya Ziyyan. Jadi berhenti lah mami menuduh Ara pernah tidur sama orang lain juga."


Tentu Ara sangat tersinggung dan juga marah dengan ucapan maminya itu. Makanya dari pada bertambah sakit hati lebih baik ia pergi masuk ke kamarnya saja.


Ceklek.


Pintu kamar Ara telah terbuka lebar, wanita itu menutup pintunya sedikit lebih kasar. Lalu setelah itu ia langsung menghempas tubuhnya ke atas ranjangnya.


"Apa-apaan sih mami nuduh aku pernah tidur sama yang lain juga? Dia pikir aku cewek apaan? Pernah ditiduri Zayn aja aku gak sadar. Tau-tau dah hamil Ziyyan. Iiiih, sebal!" Wanita itu mengoceh sendiri sambil menatap pada langit-langit kamarnya.


Sesaat ia melirik pada jam kecil yang berada di atas nakasnya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat sore, tapi sampai saat ini pun Zayn belum juga mengantar Ziyyan pulang.


"Iiih, kemana sih? Kalo ngomong aja kayak mau ditepatin. Udah benar-benar gak bisa dipercaya lagi!" Ara masih menggerutu sambil mulai menggulir layar ponselnya.


"Mm, telpon nggak ya?" Hatinya mulai resah sendiri.


"Kalo aku biarin, entar malah keenakan dia." Akhirnya Ara mulai memberanikan diri menghubungi seseorang yang ia anggap dapat membantunya.


"Hallo," sapanya sedikit ragu ketika seseorang yang di telponnya itu sudah menjawab panggilannya.


"Iya, ini siapa?" Tanya seorang pria yang menjawab panggilan dari Ara.

__ADS_1


"Mm, aku Ara, Mas."


"Oalaaah.... Dek Ara?" Pria tersebut langsung bersuara kegirangan.


"Mas Hanung gimana kabarnya? Masih ngurus proyek di sana?" Ara masih basa-basi dulu sebelum ia mengatakan maksud tujuannya menelpon asisten Zayn itu.


"Ya begitulah, Dek. Maklum, Boss nya Mas pergi gitu aja. Dia malah milih ngejar calon istrinya yang hilang, ketimbang ngelanjutin tanggung jawabnya di sini."


Entah mengapa setelah mendengar perkataan dari Hanung itu muncul rasa yang tiba-tiba berdesir dari lubuk hati Ara. Ia pun hanya bisa terdiam membiarkan Hanung melanjutkan sendiri obrolannya.


"Eh, kok aku malah ghibahin Boss ya?" Hanung terkekeh sendiri begitu menyadari dengan apa yang telah diucapkannya.


"Dek Ara gimana kabarnya? Ziyyan gimana juga, Dek? Duh, Mas Hanung jadi kangen sama Ziyyan. Sama Dek Ara juga sih." Hanung sedikit memelankan suaranya pada kalimat terakhirnya, namun masih bisa didengar oleh Ara.


"Aku sama Ziyyan baik kok, Mas."


"Ini ada apa? Kok tumben-tumben nelpon?"


"Mm, sebenarnya..."


"Jadi ngomong nggak ya?" Ara masih ragu, sedang denyut jantungnya sudah terasa gugup duluan sebelum ia mengatakan tujuannya itu.


Sesaat kemudian sudah terlihat wajah Hanung yang tersenyum lebar kepada Ara, dan gadis itu tentu juga membalasnya dengan senyum manisnya juga.


"Tadi kamu mau ngomong apa?"


"Nanti aku chat kamu aja." Ara urung mengatakan secara langsung kepadanya. Selain ia malu untuk mengatakannya secara langsung, tentu ia juga merasa takut ditanyakan hal-hal lainnya nanti.


"Mm, kayaknya kamu lagi sibuk ya, Mas. Aku tutup ya? Sebentar lagi aku chat mas Hanung."


"Oke Dek. Mm, Mas boleh kan simpen nomornya Dek Ara?"


Ara hanya mengangguk pertanda setuju. Lalu kemudian ia pun menyudahi panggilannya itu, dan segera membuka aplikasi hijau untuk mengirim pesan singkat kepada Hanung.


[Mas, tolong kirimi alamat rumah Zayn sekarang.]

__ADS_1


Sebuah pesan singkat itu telah terkirim dan dibaca langsung oleh Hanung.


Hanung pun segera membalas pesan dari Ara itu, tanpa mencurigai untuk apa wanita itu menanyakan alamat apartemen Boss nya.


Setelah mendapatkan alamat itu, Ara langsung masuk ke kamar mandinya untuk secepatnya membersihkan badannya. Karena setelah ini ia telah bertekad akan menjemput Ziyyan langsung ke alamat apartemen yang dikirim Hanung padanya.


Beberapa saat kemudian....


"Ara, kemarilah! Papi mau bicara dulu sebentar." Haris menyapa Ara yang saat itu sedang lewat di ruang keluarga.


"Maaf, Pi, nanti malam saja bisa?" Wanita itu langsung menolak sambil menangkupkan kedua tangannya kepada Haris.


"Memangnya kamu mau kemana lagi? Entar lagi sudah malam loh." Viona turut menyapa anaknya.


"Mau keluar sebentar. Aku nggak lama kok Pi, Mi."


Wanita itu langsung berpamitan kepada kedua orangtuanya, kemudian bersalaman kepada mereka secara bergantian.


"Hati-hati di jalan, Ra. Ingat! Pulangnya jangan terlalu malam." Viona berpesan kepada anaknya sebelum akhirnya wanita itu telah benar-benar keluar dari rumahnya.


.


.


Ara sudah sampai di alamat apartemen seperti yang Hanung berikan padanya. Segera ia memarkirkan mobilnya di basement kemudian segera mencari nomor apartemen milik Zayn.


Cukup lama ia mematung di depan pintu yang bernomorkan seperti yang diberikan Hanung. Ragu dan juga takut, malas bercampur enggan, semua rasa itu berkecamuk sedari tadi. Akan tetapi jika ia tidak bertekad untuk datang ke sini, bisa jadi pria itu tidak akan mengembalikan Ziyyan lagi padanya.


Teeet Teeet.....


Akhirnya wanita itu memberanikan diri menekan bel yang berada di samping pintu tersebut. Tak lama kemudian....


Ceklek.


"Bunda?"

__ADS_1


.


*Bersambung


__ADS_2