Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 40


__ADS_3

Denting jam sudah menunjukkan pukul lima pagi hari, ini sudah ketiga kalinya Zayn bolak balik pergi ke kamar mandi. Pria itu benar-benar di buat lemas pagi-pagi setelah perutnya merasakan gejolak untuk memuntahkan isi perutnya yang hampir habis terkuras.


Zayn masih terkapar lemas di dalam kamarnya, wajahnya nampak pucat. Untuk sekedar meminum obat pun rasanya perutnya sudah tak bisa menerima. Alhasil pria itu hanya bisa berbaring saja hingga matahari itu mulai menampakkan sinarnya.


"Gue anter lo periksa ya?" Tommy merasa sangat iba dengan kondisi sahabatnya itu.


Zayn hanya menggeleng. "Sebentar lagi pasti dah baikan," ujarnya sambil mata itu masih terpejam.


"Atau gue panggil dokter Ryan buat kesini." Tommy mulai menggulir layar ponselnya untuk memanggil dokter yang biasa merawat neneknya itu.


"Gak usah, Tom, makasih," Zayn beranjak lagi karena perutnya kembali bergejolak.


Huek..... huek...... huek......


Tommy mengekor di belakang Zayn. "Ini nih parah, Zayn, kalo lo gak periksa takutnya entar tambah parah." Pria itu begitu telatennya memijiti tengkuk Zayn.


Zayn tak bergeming. Pria itu kembali berjalan gontai menuju ranjangnya untuk merebahkan kembali tubuhnya yang benar-benar terasa lemas.


"Palingan gue cuma masuk angin, istirahat bentar nanti sembuh." Kilahnya.


Tommy mulai percaya sambil menganggukkan kepalanya. Mungkin memang benar, sebab kemarin Zayn memang kehujanan.


"Lo istirahat dah, gue pesankan makanan ya?" Tanpa Zayn setuju, Tommy sudah memesan makanan untuk sarapan pagi Zayn.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya makanan yang di pesan oleh Tommy sudah tiba. Pria itu dengan lihainya menyajikan bubur ayam yang di pesannya, menuangkannya ke dalam mangkuk dan membawanya ke dalam kamar Zayn.


"Zayn."


"Hmm." Zayn hanya bergumam.


"Di makan dulu mumpung panas." Tommy meletakkan semangkuk bubur ayam itu diatas nakas samping tempat tidur Zayn.


Zayn hanya melirik, seleranya benar-benar tak bergairah untuk sekedar mencicipi sesendok bubur ayam yang dari aromanya saja membuat perutnya kembali mual.


"Kalo lo ada acara gak pa-pa, gue udah mending kok." Zayn menyuruh Tommy pergi, karena setahunya pria itu hari ini harus ke kampus untuk mempersiapkan acara pergelatan wisudanya lusa.


Tommy pun akhirnya pergi setelah benar-benar mendapati kondisi Zayn yang mulai membaik dan memastikan sahabatnya itu sudah benar-benar terlelap.


"Kak, aku hamil." Ara menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui dirinya sedang mengandung benih cinta mereka.


"Aku akan bertanggung jawab, Sayang." Zayn membawa kekasihnya itu dalam pelukannya.


Ara masih terisak. Sesaat mereka sama-sama tak dapat berucap apa-apa lagi selain hanya merasakan penyesalan yang mendalam karena sebuah kekhilafan yang pernah mereka lakukan.

__ADS_1


Gadis itu mendorong tubuh Zayn, terlihat ia memaksa menghapus air matanya yang terus saja mengalir. Zayn mencoba merengkuh kembali tubuh kekasihnya itu untuk ia peluk. Ia tahu, mungkin Ara sangat kecewa pada dirinya. Tapi ia harus bisa meyakinkan Ara bahwa dirinya benar-benar akan mempertanggung jawabkan kesalahan yang ia perbuat itu.


Ara melangkah mundur tiap kali Zayn mencoba merengkuhnya. Gadis itu seperti sedang menolak di sentuh oleh Zayn. Kecewa, sebuah kata itu begitu kentara pada raut Ara yang menatapnya dingin.


"Jangan dekati aku lagi!" Ara berucap sambil mendorong kasar tubuh Zayn dari hadapannya.


"Ara." Zayn masih tak putus asa mendekati kekasihnya itu yang mulai muncul rasa jijik di sentuh olehnya.


"AKU BENCI KAMU!!!" Gadis itu berteriak, ia menatap nanar pada Zayn yang sukses membuat pria itu menangis.


"Ara!" Zayn berhasil meraih tangan kekasihnya itu, namun yang ada Ara menghempasnya kasar.


"Jangan sentuh aku!" Ara kembali terisak.


Zayn memeluk erat tubuh Ara. Sekeras apapun gadis itu mencoba melepas dari pelukan Zayn, tapi kali ini Zayn tak akan melepas itu. Hingga pada akhirnya Ara pasrah, terbawa kembali dalam pelukan lelaki yang telah merusak masa depannya itu.


"Aku akan mengaborsinya." Suara Ara begitu jelas, membuat Zayn spontan melepas pelukan itu.


Zayn menggeleng, tangisnya semakin menjadi mendengar pernyataan Ara yang tak mau menerima kehadiran benih cintanya itu di rahimnya.


"Jangan, Sayang. Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu secepatnya." Zayn memegang pundak Ara, mencoba meyakinkan Ara yang sudah terlanjur kecewa kepadanya.


Ara menggelengkan kepalanya. "Aku benci anak ini. Kalau aku membiarkannya, dia akan merusak masa depanku. Aku juga benci kamu, aku benci anak ini!"


Zayn terhenyak dari tidurnya. Nafasnya yang terengah-engah keluar dari alam mimpinya yang menakutkan.Peluh dinginnya bercucuran dari keningnya, jantungnya masih terasa berdegup kencang teringat jelas perkataan Ara walau hanya dalam mimpi.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, masih bisa bernafas lega setelah menyadari bahwa itu hanyalah mimpi.


Segera ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Sial! Gue lupa gak aktifkan." Pria itu segera mengaktifkan kembali ponselnya yang semalam ia non aktifkan.


Matanya menoleh pada jam dinding di kamarnya, dan betapa kagetnya ia setelah mengetahui dirinya sudah terlelap cukup lama.


Ia berlari ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan badannya, karena ia teringat kalau ia sudah berjanji akan menemui Ara di kampus. Meski sudah telat tiga jam dari waktu yang ia janjikan, namun Zayn tetap akan menemuinya, meski nanti ia akan mendapati wajah kekasihnya itu berubah bagaimanapun kepadanya, ia tak peduli itu.


Belum sempat Zayn mengguyur badannya, Suara dering ponsel miliknya berulang-ulang berbunyi.


"Pasti Ara." Pria itu mengurungkan niatnya untuk mandi, memakai handuk sebatas perut dan pahanya kemudian keluar dari kamar mandi itu untuk menjawab panggilan masuk yang ia duga dari Ara.


Ayah calling.


"Assalamu'alaikum, Ayah."

__ADS_1


Ternyata bukan panggilan masuk dari Ara, melainkan panggilan itu dari ayah Zayn yang berencana datang hari ini untuk menghadiri pergelatan wisudanya besok.


"Nak, kami sudah ada di depan rumah. Kamu kemana kok ibu ketok-ketok dari tadi gak ada jawaban?" Beralih suara ibunya yang menyapa.


Zayn langsung berlari ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum abang Zayn." Sambutan ceria ia dapat dari adik perempuannya begitu Zayn sudah membuka pintu rumahnya yang semula memang terkunci.


"Wa'alaikum salam." Zayn mencium takdzim tangan kedua orangtuanya, kemudian berganti adiknya yang mencium tangannya takdzim.


"Hmm, Abang belum mandi ya?" Adiknya itu menatap lekat tubuh Zayn yang hanya terlilit handuk di tubuhnya.


Zayn hanya menggaruk-garuk kepalanya. "Masuk, Ayah, Ibu, adekku yang baweeeel...." Pria itu mencubit pipi Cinta, adik perempuannya yang masih berusia empat belas tahun.


"Dari tadi kamu kemana, kita sampe kepanasan nunggu kamu di depan." Malik, ayah Zayn mulai bersuara.


"Maaf, Ayah, aku tadi ketiduran."


"Hmm, yang udah lulus. Mager ya?" Cinta kembali bersuara dengan celotehnya yang sedikit bawel.


"Sudah, kamu mandi sana. Biar ibu yang bereskan barang-barangnya. Lain kali jangan kebiasaan tidur pagi-pagi, pamali!."


"Baik, Bu." Zayn masuk ke dalam kamarnya untuk segera masuk kedalam kamar mandi.


"Ngapain ikut, Dek?" Pria itu menatap heran pada Cinta yang turut mengekor dibelakangnya.


"Pingin tau isi kamar tidur punya abang ada apa aja." Mata Cinta menyapu bersih seluruh ruang di kamar tidur milik Zayn.


"Kamu bawa apa itu?" Zayn menanyai Cinta yang tetap menenteng sebuah kantong plastik di tangannya.


"Oh, ini? Asinan, tadi aku mampir beli di ujung jalan depan sana."


Zayn menelan salivanya begitu kentara karena mulutnya juga ikut bergerak.


"Sini buat abang." Zayn meraih paksa bungkusan asinan itu dari tangan Cinta.


"Iiiihh..... Ya udah!" Cinta keluar dari kamar Zayn sambil melangkah menghentak-hentakkan kaki ciri khas bocah kalau lagi ngambek.


Zayn memandang asinan yang ia rebut dari Cinta. Seleranya seakan menggugah membayangkan makan asinan yang menyegarkan. Secepatnya Zayn masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan badannya sekilat mungkin. Karena sudah tak sabar untuk segera melahap habis asinan yang entah mengapa ia sangat ingin memakannya saat ini.


*


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2