Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Recehnya mama BG


__ADS_3

Setelah mendapat kesepakatan dengan ayah dan bunda membawa Abel pulang kerumahnya. Mama BG senang bukan kepalang bak habis menang lotre.


Setelah menyiapkan kamarnya, mama BG pun telah mengubah menjauhkan barang-barang yang menghalangi ruang gerak Abel.


BG dan papanya melihat euforia sang mama pun hanya mampu geleng-geleng.


"Udah siap mari kita jemput anak mantu." ucap Mama BG.


"Mama sehat kan." sahut papa BG.


"Papa mau mama sakit, orang lagi bahagia gini kok dibilang sakit." jawab mama BG.


"Iyaa deh iyaa."


Melihat kedua orang tuanya yang tengah berdebat receh membuat BG terharu. Dalam hatinya berharap semoga dia dan Abel kelak bisa bahagia seperti kedua orang tuanya.


"Udah ma."


"Yukkk, anak mama kayaknya juga gak sabar jemput si cantik."


"Iyaa dong."


"Hemmm." sang papa hanya mampu memandang takjup kedua ibu dan anak yang senang menunggu kedatangan sosok Arabella.


Agaknya pesona Abel membuat keluarga BG menjadi lengkap. Mungkin jika BG dengan Kayla belum tentu bisa se effort saat BG bersama Abel.


Setelah menjemput Abel, tak sabar mama BG segera membawa calon menantu kesayangan itu kerumahnya.


"Ini pertama kali Abel main kerumah kan." ucap mama BG, ditengah perjalanan menuju rumahnya.


"Iyaa ma, Abel belum pernah."


"Setelah ini harus sering main yah sayang." jawab mama BG.


"Ya harus di daftarin ke KUA dulu mam." celetuk papa BG.


"Hahh."


Abel melongo mendengar penuturan papa BG yang dengan santainya. Sedangkan sang Bagaskara nampak senyam- senyum di balik kemudinya.


"Abel mau langsung KUA." tanya mama BG.


"Ehhhmm.. ma-mau ma. Tapi kan harus kuliah dulu."


"Yahh padahal Bagas nya udah terlanjur senang itu."


"Memangnya Abel mau nikah umur berapa." tanya mama BG.


"Ehmm mungkin diatas 23 tahun ma, tapi itu terserah Bagasnya." jawab Abel.


"Kalau aku maunya habis lulus gimana." celetuk BG, sontak membuat pipi Abel terasa panas. Blushing campur malu dan juga terkejut.


"Nahh tuhh gimana Bell." goda papa BG.


"Ehhmm gak tau." ucap lirih Abel sambil mendelusupkan wajahnya dibalik boneka leher.


"Hahahha, Abelnya malu pa, jangan digodain ah.." sahut mama BG.


"Pa, mampir makan siang aja kali yah." ucap mama BG.


"Ta-tapi ma." potong Abel.


"Kenapa." tanya mama BG.


"Ehhmm." Abel tak mampu berucap, BG yang melihat dari spion tengah melihat sepertinya Abel tengah berfikir tentang kondisinya.


"Abel kan kayak gini, mama dan papa gak malu dilihat orang." ucap Abel.


"Lohh kenapa, kan kamu lagi sakit." jawab mama BG, namun tidak dengan BG dia tahu betul perasaan Abel. Apalagi sebelumnya dia mendapatkan nyinyiran dari murid disekolah.

__ADS_1


"Ehhmm, Abel malu ma." jawab Abel bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


BG lupa mengatakan pada mamanya jika Abel tengah dalam posisi merasa insecure.


BG menoleh ke arah papanya mengkode untuk mengalihkan dan mencairkan suasana.


"Jadi Abel pengennya maem dirumah yahh." ucap papa BG, Abel pun mengangguk.


Agaknya papa BG sedikit paham jika Abel mudah menarik diri jika menyangkut kondisinya.


"Kenapa sihh sayang, mama tau Abel anak yang kuat kenapa sekarang gampang menyerah." ucap mama BG sambil memeluk Abel.


"Enggak ma, Abel hanya malu ajah beneran kok." jawab Abel lirih.


"Baiklah mama mau Abel ceria lagi yahh, jangan pikirin omongan orang." ucap mama BG sambil mengusap kepala Abel.


Beruntungnya Abel seperti kata Fransiska, Abel mendapatkan mertua yang sama baiknya seperti bunda. Ibarat kata, jika kita baik pada sesamanya maka kita akan mendapatkan feedback lebih dari itu.


"Ini gak ada yang mau dibeli." tanya BG mencairkan suasana.


"Mama, Abel." tanya papa.


"Mama enggak pa, Abel ada yang mau dibeli sayang." tanya mama BG pada Abel.


"Ada ma."


"Apa.."


"Pengen cepet pulang trus bobo." jawab Abel, membuat mama dan papa BG kicep.


"Dia habis minum obat ma, ngantuk biasanya." balas BG.


"Ohhhh."


"Okeyy, lets go back home."


Perjalanan mereka nampak tak ada kendala, bahkan Abel pun sudah nampak terlelap disamping mama BG. Setibanya di rumah BG, tanpa membangunkannya BG membopong Abel menuju kamar yang sudah disiapkan oleh sang mama mertua.


"Hahhh."


"Abel itu sempat dapat dengar nyinyiran, dia juga mengalami gangguan body image, merasa rendah diri takut gak bisa jalan lagi." jelas BG, bahkan masih ada papanya disitu.


"Nyinyiran."


"Iyaa, pas sidang pelaku bullying dan yang mencelakakan Abel. Dia dikatain ca.cat lah lumpuh lah. Dengar langsung dia."


"Nanti papa bawa ke Singapura untuk berobat." ceplos papa BG, yang ikut sakit hati dengan perlakuan yang diterima Abel.


"Gak perlu pa, sebenarnya hanya butuh waktu untuk terapi. Bisa sembuh kok." jawab BG.


"Anak jaman sekarang udah bikin celaka anak orang, bicaranya juga enggak ada sopannya." gumam mama BG.


"Mama tau nggak ini semua ada sangkut pautnya sama Bagas." ucap BG.


"Apaa."


"Mama ingat sama anaknya om Ruslan tetangga kita dulu."


"Siapa."


"Kayla."


"Kenapa."


"Dia nyebar berita Abel ngerebut Bagas dari dia, yahh dia menggerakkan murid-murid yang ngebully Abel." jelas BG, sejenak sang mama terkejut, lalu BG pun menjelaskan semua duduk perkara pemicunya.


"Mama gak mau lah punya mantu kayak gitu modelannya." celetuk mama BG.


"Papa terbangin Abel minggu depan ke Singapura biar cepat pulih." ucap papa BG.

__ADS_1


"Nanti kita tanya Abel yah pa, papa, mama tau sendiri Abel gimana."


Papa dan mama BG pun mengangguk, Abel sosok rendah hati tidak suka jika dia terlalu merepotkan.


BG mencoba mengecheck Abel dikamarnya, seminggu menjaga Abel di rumah sakit membuatnya tahu detail Abel. Matanya masih terpejam nampaknya Abel betah dan mulai nyaman dirumah BG.


Sejam kemudian giliran mama BG yang mendatangi kamar Abel, menemukan Abel yang sudah yang sudah membuka matanya.


"Mama."


"Mama kira belum bangun."


"Baru aja kok ma." jawab Abel.


"Udah laper belum sayang."


"Belum sih ma, tapi Abel minta tolong ke kamar mandi bisa." ucap Abel.


"Bisa dong, yuk." jawab mama BG, lalu membantu Abel ke kamar mandi.


"Mama tungguin disini yah, nanti panggil aja kalau sudah." ucap mama BG Abel pun mengangguk.


Setelah selesai dari kamar mandi mama BG memapah Abel menuju kasurnya kembali, tepat pintu kamar Abel dibuka muncul sang Bagaskara.


"Lohh kok mama gak panggil Bagas aja sih ma."


"Gak apa-apa mama masih sanggup ko." jawab sang mama.


Abel merasa terharu, dia sungguh tak ingin menyusahkan BG dan mamanya. Tapi mengingat jika dirumahnya sendiri cukup bahaya dengan keberadaan Arkana, Abel akhirnya pasrah.


"Lohh kenapa nangis." tanya mama BG.


"Hikss, Abel nyusa-hin ma-ma sam- a Ba- gas. Hiks."


Mama BG memandang putranya ternyata benar Abel cukup sensitif dengan kondisinya seperti ini.


"Enggak kok, mama bahagia jadi bisa punya anak perempuan. Mama bahagia banget bisa kayak gini. Abel kan kelak istri Bagas jadi mama juga punya tanggung jawab jagain Abel." jelas mama BG.


"Abel merepotkan, eng-gak bisa man-diri."


"Kan emang lagi sakit, mama juga kalau sakit pasti butuh bantuan Bagas atau papa. Stop untuk bilang nyusahin mama, mama gak suka yah Abel gak anggep mama." papar mama BG, Abel pun mengangguk memeluk erat sang mama mertua.


Sungguh BG trenyuh melihat sang mama bisa akrab dengan sang tunangan. Bahagia rasanya melihat dua wanita yang dia sayangi.


"Abel mau cepet sembuh nggak." tanya mama BG.


"Mau ma."


"Ikut mama berobat di Singapura, mau yah." jawab mama BG, nampak Abel tengah berfikir menatap BG bingung.


"Sayang."


"Ehmm Abel nggak tau ma, coba tanya ayah dulu, boleh tidaknya." jawab Abel.


Benar dugaan BG, Abel licin sekali kayak iler baby. Selalu banyak alasan diotak cantiknya.


"Nanti biar papa yang telp ayah yah, Abel manut mama okeyy." ucap mama BG.


"Ehmmm."


"Okeyy dong sayang, mama sedih kalau Abel sedih terus. Biarlah yang sudah membuatmu seperti ini kena balasan sendiri nantinya." ujar mama BG, Abel pung menganggukinya.


"Kenapa mantu mama cantik sekali sihh, siapa ini yang pinter dapetinnya." kelakar mama BG, sambil mengusap kepala Abel, BG yang disanjungnya memutar bola malas. Sang mama memang sedikit receh kalau bercanda.


"Udah jodoh mam." sahut BG.


"Kalau bukan jodoh kamu juga, mama maksa biar dia berjodoh sama kamu." jawab mama BG.


"Dihh Bagas juga gak mau dapat jodoh lainnya, udah mentok Abel titik." balas BG.

__ADS_1


"Hemmmb." hela nafas Abel terdengar melihat kedua ibu dan anak yang berdebat receh.


__ADS_2