Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
End Game


__ADS_3

Sesi dua Round Two berakhir, meskipun unggul tipis bukan berarti BG dan Players bisa santai. Lawannya sekarang adalah juara beruntun 3 kali dalam turnamen ini.


"Okeyy pertahankan permainan yang seperti tadi yahh." ucap Abel.


"Sakit kuping gue denger kapten mereka murka."


"Murka boleh begok jangan." sahut Angga.


"Lhaaa begimane tuh kamsudnya." tanya Devan.


"Murka tuh imbangin dengan skill bukan malah lampiasin ke temannya."


"Padahal yee temennya udah pada kerja keras juga, ehh masih dibegok-begok in."


"Yaa trus next apa strateginya Bell." tanya Gama.


"Ehmmm kalau menurutku sihh, Devan and Kevin yang harus kerja keras. Aku tau teknik serang mental lawan mereka berdua top deh." ujar Abel sambil tersenyum.


"Jang senyum-senyum baby." potong BG.


"Yaelahhh dikit doang capt, senyuman Abel tuh menawan bikin adem hati abang." sahut Devan, membuang sang BG menutupi mulut Abel dengan tangannya.


"Gak boleh entar kalian diabetes semua, wkwkwkkw." sela Kevin.


"Hahaha, sa ae loe tong. Ehh btw maksudnya duo kimvrit serang mental apaan Bell." tanya Airin.


"Ohh tauk tuhh mereka bicara apa sampek bikin tuh anak labschool mendadak pucat pasi." jawab Abel


"Lahh kok loe tau Bell, gue agak curiga loe ini indigo yahh." tanya Devan.


"Sembarangan aja, kan aku punya mata dan feeling ku kalian gertak dia kan." ucap Abel, Devan dan Kevin pun hanya cengengesan saja.


"Gak bolehh yahh, itu bagian aku untuk usut masalah ini. Kalian main aja yang terbaik, nanti kalau emang dia bikin ulah aku terpaksa minta mereka di Dis min." lanjut Abel.


"Trus maksimalnya apa."


"Maksimalnya tuntut lah, udah bahayain orang, itu aku gak tau mereka di doktrin apa sampai menghalalkan segala cara untuk menang." jawab Abel.


"Kalau menurut gue sihh sepertinya mereka juga kebawa beban harus menang lagi." sahut Airin.


"Licik tapi gak punya skill, otaknya yang penting menang."


"Otaknya kecil sihh." sahut Angga.


"Lahh jadi gue juga otaknya kecil dong Ngga." tanya Devan.


"Tsk, maybe tapi seenggaknya loe gak punya niatan buat nyelakain orang jadi..." ucap Angga menggantung.


"Jadi Apaaa."


"Yahh berarti otak loe sedang, bwahahhahhh."


"Anjritt siyalan loe Ngga."


Time rest berakhir sesi ketiga akan dimulai, BG dan semua players berkumpul saling berpelukan berdoa dan saling meningkatkan semangat mereka.


"Ada apa-apa koreksi yahh baby." ucap BG sebelum melangkah menuju tengah lapangan.


"Siapp Capt."


"Semangaatttt guys."


"SMATUKA.. SMATUKA."


"Ayo maju2, ayo maju2 Heii Rebut piala."


Sayup-sayup mulai terdengar yel-yel dari para suporter membuat tribun bergemuruh. Sengaja Airin meminta David menyorot kamera kearahnya dan Abel untuk mengucapkan semangat kepada para suporter.


BG berhadapan kembali dengan Diego kapten tim SMA Labschool.


Pritttt....


Grepp dengan cepat BG menyambarnya lalu mengoper ke Gama, Abel terus memantau setiap gerak gerik lawan.


Abel mengkode untuk 3 point pada pemainnya, Sedangkan sang Kapten tengah terblok oleh tiga orang Abel mengkodenya untuk memutar. Benar saja saat BG berhasil lolos segera ia shooting jarak jauh..


Blaaammmm point dari kapten. Setelah mencetak point BG pun segera memposisikan untuk penjagaan pada kapten lawan bersama Kevin dan Wira, seolah ada ikatan batin Abel merasa Diego hendak mencelakai BG, Abel berlari mendekat ke lapangan, meminta Nia mengarahkan kamera ke tengah lapangan.


"My captain, watch out." teriak Abel lantang.


"Hahhh."


Bughhh.. Diego menabrakkan dirinya pada BG, dan dia pun melesat mendekat ring untuk mencetak point.


"Gas you Okey." tanya Wira.


"Nyeri dikit pundak gue."


Abel mendekat kearah sang kapten, Airin segera mengganti BG dengan Orlando, sementara itu Abel membawa pertolongan pertama kit ketempat BG.

__ADS_1


"Sayank."


"Berhenti kita gak banyak waktu." Ucap Abel sambil menyemprotkan pereda nyeri, lalu memberikan plester bandage untuk menarik otot dipundak BG yang kemungkinan dislokasi.


"Bell." teriak Angga, Abel menoleh mengkode jika BG okey dan meminta mereka untuk mengulur waktu meskipun mereka masih unggul namun tak bisa dipungkiri kemungkinan mereka terkejar.


"How you feel."


BG nampak sedikit menggerakkan bahunya.


"Kurang baby." jawab BG lalu menambahkan Ethylcloride (Spray pereda nyeri) hingga BG merasa nyaman dan menambahkan plaster bandage untuk mencegah pergeseran berlebih.


Dilayar menampilkan Abel yang tengah memberikan pertolongan kepada sang kapten.


"Yaa ampun Abel gercep yahh kalau pak kapten yang kenak." ucap Mia dari PMR.


"Hehh, lakiknya mahh wajib." sahut anak PMR lainnya.


"Bisaa ajah sihh kalian, nihh mamaci yahh." ucap Abel pada petugas PMR sambil mengembalikan alat-alat P3K.


"Astogee maniss banget."


"Couple goals ceileee."


"Ini cuma bertahan sebentar nanti pulang langsung periksa yah." ucap Abel BG pun mengangguk, mereka kini menuju ke station player milik teamnya. Untuk pergantian pemain setidaknya 10 menit lagi atau jika ada player yang meminta regulasi.


"Gas, aman kan."


"Gak papa nih Bell."


"Hemm aman kok." jawab BG.


"Gak masuk Fault yah."


"Biarin aja, sampe ada 1 lagi pelanggaran Q yang maju." potong Abel.


Dilapangan Gama dan Angga terus beraksi dengan mencetak point sebanyaknya, namun karena penjagaan Diego berkurang Labschool pun mampu menyeimbangi karena mereka masih bisa mencetak point.


BG masuk menggantikan Angga yang sudah nampak lelah.


"You are the best." ucap BG saat berpapasan dengan Angga.


"Yess, thanks capt."


Gama memegang kendali bola, nampak Orlando di dekat ring, Kevin Wira masih dengan Diego, tim dari lawan beberapa player nampak sudah lelah. BG menerima operan dari Gama lalu melakukan Shooting dan masuk, bola langsung dilemparkan oleh pemain lawan kearah Ring milik team BG, namun dengan sigap Gama merebut dan membalikkan menyerang ke ring Labschool, Orlando menangkap bola dari Gama namun saat shooting ke ring berhasil di blok oleh pemain Labschool, dan dengan gerak cepat mereka membawa menuju ring SMATUKA.


"Gam." BG mengkode Gama untuk menjadi pemain Shooter dan BG akan mendekat ke ring.


Gama berhasil menangkap bola lalu dilemparkan ke BG, dengan posisi jarak jauh BG melemparkan tiga angka, namun dia melihat ada pemain Labschool yang akan memblok tembakannya akhirnya BG memilih mengecoh dengan membawa bola ke ring, 2 point bertambah tim BG semakin unggul dengan skor 56-62 hingga babak akhir peluit panjang berbunyi.


"Yeyyyyyyyy."


"Horeeee."


Akhirnya tim SMATUKA berhasil membawa pulang piala kejuaraan Basket.


"Siyalaan kalian goblokk semua." ucap sarkas Diego.


"Dimata loe kita gak ada yang bener Di."


"Loe gimana jadi kapten, udah becus hahhh."


"Gue relain sampek nyelakain orang juga buat kita menang nyatanya apa." ucap Doni.


"Bacot doang loe anjengg."


"Loe yang anjingg."


Brakkk bruukkk bugghhh..


Pemain Labschool tengah baku hantam sesamanya, ditengah BG dan semua pemain sedang menerima piala.


Saat berfoto mereka memanggil Abel dan Airin untuk bergabung berfoto bersama.


"This is our team, our family too." ucap BG penuh penekanan dan meyakinkan pada tim lawan jika mereka team bersatu bukan hanya sebagai teman namun juga sebagai saudara.


"Ahhhhkkk so Happy." teriak Abel.


"Kamulah yang mengobarkan api semangat kita Bell."


"Coba kamu yang pegang baby." ucap BG sambil mengulurkan piala.


"Enggak mau tangan aku gemeteran."


"Yahhhh, Abel udik bet dahhh." celetuk Devan, BG pun segera menyentil mulutnya.


"Ishhh auuuhh sakit capt."


"Huhhuhhhuu, makasih yah kalian udah berjuang sampai tetes keringat bercucuran." ucap Abel.

__ADS_1


"Hahhhh."


"Adahh yah perumpamaan gitu."


"Sampai titik darah penghabisan baby Abel." ucap Devan.


"Terserah Abel dahh, orang cantik mahh bebas."


"Hhahhahahah."


Senda gurau BG dan team setelah mendapat piala, mereka pun mengucapkan terimakasih kepada para suporter yang rela berdesakan. Abel meminta Airin melaporkan kepada pihak penyelenggara jika ada tindakan fault, namun dari tindakan mereka justru membuat api semangat team BG tak padam.


Dengan membawa serta bukti-bukti yang sudah dikumpulkan, pihak penyelenggara mengatakan kenapa tidak memberitahukan saat pertandingan. Abel pun menjawab jika saat pertandingan diusut mereka tak mau menang karena mendapatkan dispensasi karena lawan di Diskualifikasi. Abel akan membuktikan jika team dari sekolahnya solid dan memiliki soft dan hard skill yang mumpuni.


"Semakin sayang dehh sama baby Abel" ucap para suporter yang berasal dari kelas Abel.


"Saya yakin pemain dari sekolah kami mampu juara dari hasil kerja keras bukanlah dari hasil berbuat jahat." ucap Abel menjelaskan kepada pihak panitia yang disambut gemuruh oleh suporter di tribun.


"Kalian melangkah jauh sekali yahh bahkan kami tidak terfikirkan kesana."


"Disekolah kami setiap kegiatan pasti ada dokumentasinya kak jadi kami memanfaatkan teknologi yang kami punya, untuk kedepan kami pasti akan meningkatkan lagi supaya kami bisa layak mengemban sekolah pencetak juara." jelas Airin sebagai ketua OSIS dia tak ubahnya ingin sekolahnya maju.


*


*


Setelah acara penerimaan piala, BG menyerahkan piala secara simbolis kepada perwakilan sekolah bagian kesiswaan. Setelahnya mereka berkumpul untuk acara syukuran kecil-kecilan yang dibuat Abel dan Airin.


"Makan-makan."


"Rejeki anak Soleh dari soleha."


"Mamam gretongan nihh."


"Selamat menikmati yah, maaf seadanya." ucap Abel.


"Kalau segini seadanya yang enggak seadanya kek gimana tuh." ucap Devan melotot dikala melihat banyak aneka makanan dari dapur kantin diborong Abel untuk syukuran.


"Hahhaha, yahh kan makanannya dari kantin pasti udah sering dimakan." jawab Abel.


"Jadi kamu kemana baby." bisik BG.


"Nanti aja yahh, aku belum kepikiran sumpah, mau maem apa aku ambilin." jawab Abel.


"Apa aja, yang kamu pilih aku mau."


"Gado-gado mix siomay mau." tanya Abel.


"Emang bisa, boleh aja sihh."


"Pundaknya gimana jadi periksa."


"Ehh enggak perlu baby, mendingan kok."


"Riki gimana."


"Gak papa Bell, paling yahh agak manjaan dikit." sahut Dekka sambil menyuapkan makanan kemulut Riki.


"kita mainnya kok nggak seemosional pas versus Starlight yahh." ucap Angga.


"Lhaaa di final malah nguras Emosi bett sumpah." sahut Devan.


"Lahhiyaa si Abel aja jadi marah-marah tuh."


Sementara Abel yang mendengar perkataan mereka pun mengernyit, tak paham. BG peka dengan sikap Abel pun menyela.


"Kamu Premenstrual baby, makanya sensian."


"Hahhh, enggak kok gak marah." jawab Abel.


"Ehh tapi kamu kok tahu kalau aku mau mens." lanjutnya.


"Yaaa soalnya loe kayak kucing oren, dikit-dikit Raarrrrr." celetuk Devan.


"Emang aku gitu yah." tanya Abel pada BG, sang Bagaskara pun tersenyum mendapati Abelnya polos sekali.


"Gak tau aja tadi die marahan sama pak boss, kite-kite yang tegang hahhahah."


"Yoiii suasana jadi mencekam kek di medan perang."


"Loe lupa si Abel anaknya pak Jendral, hawa pen nembak musuh, lahh musuhnya pak boss buahahah."


"Makan yahh jang gibah." potong Airin.


Mereka menikmati segala moments, rasa haru dan bahagia pertama kalinya sekolah mereka mengikuti lomba diluar sekolah.


Semoga kedepannya lebih baik lagi, pertengkaran akan selalu ada dalam hubungan namun yang perlu digaris bawahi adalah pemicu dari pertengkaran itu. Jangan sampai hal kecil menjadi besar, selagi masih kecil segera bereskan jangan dibiarkan berlarut.


MASIH DI PUTIH ABU-ABU

__ADS_1


__ADS_2