
"Tappp... tapiiii. .Hikksss...Ni.. Niaaa." Abel tak mampu berkata-kata lagi, karena dia menangis hingga sesenggukan.
Setelah melihat Riki dan Kevin datang membawa kendaraan Angga membopong Devan dimobil Kevin. Tanpa banyak membuang waktu BG segera menaikkan tubuh Nia yang tengah dipeluk sang tunangan nya itu kedalam mobil, jangan tanyakan Cindy dia bahkan sudah pingsan.
Kevin dan Angga ikut menuju rumah sakit sedangkan Riki mau tidak mau mengurusi Cindy yang tengah pingsan, apalagi dia harus menunggu Dekka yang masih ada kuliah. Baiknya dia menyusul bersama kedua gadis itu nanti, Riki tak akan membiarkan kedua gadis itu terlantar. Karena Riki membawa motor, dia akhirnya menghubungi Wira, yang mungkin masih mengurusi kafe.
"Hallo Wir."
"Lohh Rik, dimana Loe.. kagak kesini Loe udah jam segini juga."
"Hahhhh burukk Wir."
"Apanya yang buruk."
"Hahhh, Devan dan Nia Kecelakaan depan kampus."
"Hahhhhhh apaaa, serius Loe. Truss gimana kondisinya."
"Lagi dibawa anak-anak ke rumah sakit."
"Yaudahh gue susul kesana."
"Loe justru mending kesini deh, cewek Loe pingsan anjir."
"Hahhh kok bisaaa, okehh okehh tunggu gue otewe."
Setelah mengabari Wira, tak lama Dekka datang menghampiri Riki, dan Riki pun sudah menjelaskan kejadian yang menimpa Devan dan Nia. Mereka pun menyusul BG ke rumah sakit setelah Wira datang.
Sementara itu di mobil BG melihat Abel yang menangis dalam diamnya sampai sesenggukan membuatnya resah. BG bingung harus bagaimana, menenangkan agar ia tak menangis itu tak mungkin, membiarkan Abel menangis saat ini hanya satu-satunya cara.
"Niaaaa... Niaaa..." gumam lirih Abel sambil menoleh kearah dimana Nia berada di jok belakang.
__ADS_1
"Nyaaa.. hikks.. hikss."
Mendengar tangisan pilu dari sang tunangan yang cukup menyayat hatinya, membuat BG turut dalam kesedihan. Air matanya ikut menetes jatuh bulir per bulir. Kenapa bisa semuanya terjadi, harusnya hari ini mereka bercanda tawa berkumpul bersama. Nyatanya sungguh diluar prediksi BMKG.
"Sayankk, Niaaaa." gumam lirih Abel, suara nya parau hampir tak terdengar.
"Syuuutttt bentar lagi udah sampai yahh." jawab BG, tak mau banyak membebani pikiran Abel.
Beruntung jalanan lengang, dengan kecepatan yang tinggi BG dan Angga sampai dirumah sakit tanpa kendala. Bahkan Abel sudah tak memperdulikan lagi saat BG mengendarai cukup kencang.
Setibanya di UGD Devan sudah mendapat pertolongan, beruntung kepala nya terlindungi helm yang masih terpakai. Beda dengan Nia yang bahkan entah kemana helmnya, secara keseluruhan luka Nia berasal dari kepalanya.
Nia pun sudah dibawa masuk kedalam, mereka berempat menunggui diluar UGD agar Devan dan Nia mendapatkan pertolongan.
"Gas, Abel." ucap Kevin terpotong saat BG menggeleng kan kepala mengkodenya untuk tak banyak bicara saat ini.
"Nia udah gaaaakk adaa. Hikkss.. Hiksss." akhirnya Abel yang membuka kebisuan mereka berempat lalu memeluk erat BG, sontak membuat Kevin dan Angga terkejut tak bisa lagi berkata-kata.
Tak lama pintu UGD terbuka, seorang dokter laki-laki masih nampak muda muncul.
"Dengan keluarga saudara Devan."
"Saya temannya dok." sahut Kevin cepat karena dia berjarak dekat dengan sang dokter.
"Keluarganya belum datang."
"Be belum dok, kami yang akan bertanggung jawab karena kondisi keluarganya." lanjut Kevin.
"Baiklah untuk sementara Saudara Devan saya pindah ICU, untuk memantau tanda vital nya karena kondisinya saat ini tidak sadarkan diri."
"Baik dok, tolong ditangani dengan baik." bukan Kevin yang menjawab melainkan BG yang masih duduk disebelah Abel.
__ADS_1
"Baik, dan untuk saudari Nia.... Mohon maaf kami sudah berusaha semaksimal namun saudari Nia sudah tiada sebelum dibawa kemari. Dan saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya." lanjut dokter menjelaskan kondisi Nia, yang sempat terjeda. Tak ada yang terkejut dengan kondisi Nia, seperti yang Abel katakan tadi Kevin dan Angga sudah memprediksikan kondisi hatinya. Kevin dan Angga mengurus jenazah Nia, tak lupa mengabarkan pada keluarga Nia karena mereka harus menunggu prosedur rumah sakit selama dua jam.
Dekka dan Riki datang bersamaan dengan keluarnya brankar yang berisi tubuh Nia yang sudah ditutupi oleh selimut rumah sakit.
Tangis Abel yang sudah mereda kini pecah kembali melihat tubuh yang sudah terbujur kaku.
"Niaaaaa.... huaaaa... Nyaaa jangannn pergi."
"Ni... Niaaa." gumam lirih Dekka yang sudah lemas syok melihat Abel menangisi sosok yang tertutupi selimut didepannya, Riki pun sudah mendekapnya.
"Innalilahi wa innailaihi." ucap Riki.
BG pun sudah merengkuh gadisnya yang seolah tak rela dengan kepergian Nia. Meskipun Abel meraung-raung ingin berlari menuju brankar yang sudah dibawa petugas menuju ruang jenazah.
"Babyyy sudah yahh ikhlaskan, biar jalannya Nia tenang." ucap BG sambil mendekap erat Abel.
"Niaaa, hu hu huhhhh. Niaaaa." ucap Abel tak lama badannya sudah lemas tak sadarkan diri mungkin terlalu histeris dan lelah menangis. Kondisi psikis nya terguncang hebat hari ini, BG dan yang lainnya tak bisa apa-apa.
Mereka ingin mengantarkan Nia ke peristirahatan untuk yang terakhir kalinya, akhirnya BG menghubungi ibu Devan agar menjaganya untuk sementara.
Menyadari kondisi Abel yang masih penuh dengan darah Nia, bahkan di wajahnya masih terdapat bekas darah yang mengering. Dekka pun menggantikan baju Abel dan membersihkan wajahnya dari noda darah.
Kabut mendung masih menghiasi Abel dan yang lainnya, tatapan kosong mata Abel masih menghias wajah cantiknya. Dekka yang bisa menyikapi dengan dewasa mendampingi sahabatnya. Semuanya sudah berkumpul dirumah Nia, sahabat yang seharusnya datang di reuni hari ini berpindah kerumah Nia untuk bertakziah.
"Nyaaa, gue belum ketemu Loe tadi." ucap Fransiska, disampingnya ada Gama yang bersiap menyetop omongan nya yang terkadang diluar nalar. Gama bahkan sudah menarik-narik tangan Siska setidaknya dia tidak membuat huru-hara saat ini.
"Apaa sihh bebbh." teriak Siska, yang tak ingin dicegah oleh Gama. Benar dugaan Gama, cewek bar-bar satu ini harusnya tak datang hari ini.
"Gam, Loe bawa keluar singa Loe." bisik Kevin, Gama pun mengangguk lalu menarik Fransiska keluar.
Saat Jenazah Nia sudah dimasukkan ke liang lahat, tangisan semua teman-teman dan keluarga menghiasi. Suara Fransiska sangat mendominasi, seakan tadi ia merasa jaim namun pada akhirnya menangis kejer juga.
__ADS_1
Jangan tanya Abel dia bahkan sudah terjatuh tak sadarkan diri dipelukan BG. Sungguh psikologis nya down hari ini, jika direka ulang yang dapat mendengar suara Nia dan sentuhan untuk yang terakhir kalinya adalah Abel. Niana meninggal dalam pelukan sang Arabella. Abel belum bisa mengikhlaskan kepergian sahabatnya untuk selama-lamanya.