
Hai readers waktunya mee meen minta vote,, pencet tombol 🎫 Votenya ❤️ sama 🌷☕ jangan lupa 👍 juga yahh luvv mamacii.. Yuuukkk dipencet- pencet lahhh, minthor tunggu yah bestieee..
*
*
Malam harinya Abel mendapat visite dari psikiater nya bersama dengan dokter koas nya. BG sudah menyampaikan semua keluhan Abel, karena sang istri bahkan tak menyadari itu semua.
"Masih sering mengigau dokter, tapi waktu tidur saja."
"Apa obat dari saya diminum mas." tanya dokter.
"Sudah dokter hanya mengigau tapi tidak sampai berteriak seperti kemarin." jawab BG, Abel pun hanya mendengar apa yang BG ucapkan karena memang jujur Abel bahkan tak menyadari ini semua.
"Abel masih sering mimpi kejadian itu." kini giliran sang dokter bertanya pada Abel. Abel menoleh pada sang suami yang berada disampingnya.
"Tidak saya sadari dokter, tapi bayangan itu selalu ada." jawab Abel lirih, BG pun refleks meraih jemari Abel.
"Tak apa, memang butuh waktu, hanya saja setelah ini mbak Ara harus tenang dan satu lagi harus legowo yah." ucap sang dokter jumawa sambil tersenyum yang sangat menenangkan bagi Abel.
"Saya akan mencoba nya dok-ter." jawab Abel, sang dokter mengangguk. Seperti biasanya dokter Kirana menyempatkan untuk mengobrol sama Abel, tujuan nya hanya untuk mencoba membuka ruang hati Abel agar lebih luas menerima kejadian itu.
"Saya ketinggal disini boleh yah dokter." ijin dokter Kirana pada dokter Firsa, dan dianggukinya. Abel dan dokter Kirana masih sebayanya membuat dokter Kirana tertarik untuk mencoba ilmunya agar bisa mengendalikan pasiennya.
"Bell, Minggu depan masa koas ku di stase ini selesai tapi masih akan disini sampai bulan depan hanya pindah stase ajah." cerita dokter Kirana, Abel menyambut nya.
"Trus nanti aku siapa yang ngerawat."
"Lahh, emangnya kamu mau sakit terus." goda dokter Kirana, dokter berjilbab yang nampak cantik dan anggun.
"Enggak juga ihhhh."
Obrolan mereka berdua berlanjut hingga kedatangan BG menghentikan tawa riang mereka. BG meninggalkan istrinya bersama dokter agar lebih leluasa, benar saja mendengar tawa renyah lagi dari sang istri yang beberapa hari ini hampir hilang membuat hatinya senang.
"Syukurlah."
"Cocok dia sama dokter Kirana." ucap Angga yang datang bersama Riki, sedangkan Dekka dan yang lainnya tak bisa datang malam ini begitu juga Devan sedang sibuk di kafe.
"Entahlah mungkin keinget sama Airin." jawab BG, Angga pun sepakat dengan pendapat BG.
__ADS_1
Cekreeekk
"Seru banget."
"Iyaaa, wahh pangerannya udah kembali. Aku pamit yah Bell, emmhh besok aku jaga pagi entar main kesini deh." ucap dokter Kirana memang sudah cukup klop dengan Abel.
"Boleh, sekalian maksi disini aja besok bakalan ramai kok." sela BG karena besok memang rencananya para sahabatnya akan datang menjenguk Abel.
"Okeeehh siapp bos."
"Eummm, aku tau kamu masih ada yang mengganjal, but aku yakin kamu bisa bersahabat dengan takdir mu. Ada hikmah dibalik itu semua, berterima kasih lah pada Tuhan yang masih memberikan kesempatan kamu bisa berjodoh dengan Bagas." bisik dokter Kirana, ucapannya merasuk dalam sanubari Abel. Abel akui dengan kejadian kemarin kini dia berstatus menjadi istri seorang Bagaskara, namun bukan itu yang ia syukuri. Melainkan dia berterima kasih pada Tuhan yang telah baik menolongnya hingga tak terjadi hal buruk padanya.
Airmata Abel lolos, mendengar bisikan dari dokter Kirana. Bukan mengingat pada kejadian itu, tapi mengingat kan nya agar bersyukur atas keselamatan nya.
"Ma-makasih yah Kirana. Hikss." sahut Abel lalu memeluk dokter kirana. BG dan Angga diam memandang kedua gadis itu, BG tak menyalahkan Kirana yang membuat istrinya menangis dia percayakan Abel seutuhnya pada Kirana.
Setelah dokter Kirana meninggalkan kamar rawat Abel, BG pun segera merengkuh tubuh Abel hingga membuat nya semakin sesenggukan.
"A-aku salahh."
"Kenapa heumm."
"Tentu saja baby, besok kalau sudah pulang kita syukuran yah undang dokter Kirana juga." jawab BG menenangkan. Tak ada syukuran pun, mereka akan segera menggelar pesta pernikahan.
"Airin gimana Angga, ..." akhirnya Abel pun bisa berbaur lagi dan melupakan sejenak beban dipundaknya.
*
*
Keesokan harinya
Semalam Abel sudah tak meracau lagi, ia hanya sesekali berjengit selebihnya BG segera menenang kan Abel. Seperti dalam bayangan BG jika ia ingin selalu menjadi yang pertama kali dibutuhkan oleh Abel. Dia ingin Abel selalu tergantung padanya bukan lah orang lain.
"Selamat pagi.. Permisi." ucap seseorang yang baru saja masuk keruangan Abel.
BG yang sedang menyuapi sang istri memandang sosok itu. Mata mereka tak asing dengannya, namun segera BG menyatakan nya.
"Pagi, maaf anda mencari siapa, dan sepertinya saya pernah melihat anda apa kita pernah bertemu." tanya BG, nyatanya orang itu malah tersenyum.
__ADS_1
"Sure, we have been meets." jawab lelaki itu, justru membuat BG dan Abel saling pandang namun sedetik kemudian seolah mendapat gambaran, Abel mengingat sesuatu.
"Apa kita pernah ketemu pas basket."
"Heumm."
"Ohh i see, kamu dari SMA Starlight right." sahut BG, dan lelaki itu mengangguk.
"Nahh iyaa."
"So, ada keperluan apa Loe Dav." desak BG karena kedatangan Davio secara mengejutkan.
"Sorry guys, sebelumnya gue mau minta maaf especially you Ara." jawab Davio, namun semakin membuat kedua orang itu bingung.
"Haaahh."
"Maksud Loe."
"Gue Davio Adelard yang itu artinya kalian ada dirumah sakit milik keluarga gue. Daaan, insiden yang terjadi pada Loe Ara, gue mau minta maaf atas nama pribadi dan keluarga." jelas Davio ambigu, BG masih juga tak paham.
"kenapa Loe yang minta maaf."
"Maaf, Leonard adalah sepupu gue." lanjut Davio, Abel seketika meremat tangan BG dan BG pun merasakan Abel mendadak berubah sikapnya.
"Hemm, gue tau Loe merasa bersalah Dav, tapi maaf gue gabisa cabut laporan." jawab BG.
"It's okey, gue rasa itu setimpal dan untuk pengobatan Ara gue akan jamin semua biayanya."
"Tak perlu Dav, gue udah deposit bahkan hingga istri gue pulang." sahut BG.
"Istri..?"
"Yaapph, kita menikah kemarin. Dan gue rasa Loe bisa paham dengan situasi saat ini." jelas BG, Davio mengangguk paham. Saat ini dia belum bisa mengupayakan pertolongan untuk sepupunya.
"Morning every body." ucap salam seseorang dokter cantik yang mengenakan jilbab masuk keruangan Abel. Namun ucapannya terhenti kala sang dokter menatap Davio disana.
"Kamuuu."
"Heummm..."
__ADS_1