Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Bye Indonesia


__ADS_3

Menyetujui untuk terapi di Singapura, bahkan ayah dan bunda nya sangat mendukung saran dari papa BG. Abel bersiap untuk melakukan perjalanan menuju negeri singa. Abel cukup antusias mendapat perhatian dari sang papa mertua. Tidak dengan BG yang sedari kemarin memberengut karena akan ditinggalkan sang mama bersama dengan Abel dua minggu kedepan.


"Bagas ikut yah ma please." melas BG.


"Nope, you must go to school." sahut mama BG.


"God, otak Bagas masih cerdas ma meskipun gak ikut pelajaran."


"Ini anak yahh, astaga."


Mendengar upaya BG merayu sang mama, membuat Abel diam-diam tersenyum memandang kasihan sang tunangan.


"Sini." panggil Abel.


"Kamu harus sekolah, kalau ikut aku terapi yang ada nanti aku gak bisa cepat recovery." lanjut Abel sambil menangkupkan kedua tangan dipipi BG.


"Maksudnya."


"Karena kalau kamu berada didekatku, aku merasa nyaman disana jadinya aku gak pengen cepet-cepet sembuh." jelas Abel.


"Nahh bener tuuh kata Abel." potong mama BG.


"Jadi kalau kamu gak ikut justru memotivasi aku untuk cepat bisa jalan trus pulang nemuin kamu. Can you believe me." papar Abel.


"ehhmmm, aku usahain. Semisal kangen sabtu pulang sekolah langsung nyamperin kamu yah." jawab BG.


"Begitu juga lebih baik." sahut papa.


"Kalau Abel yang ngomong langsung deh paham." gumam mama BG.


"Tapi Bagas jadi sendirian." melas BG.


"Aduhh ma ya ampunn panas." ucap BG ketika telinganya dijewer sang mama.


"Biarr, kayak biasanya gak sendirian juga kamu gak ngeluh, sekarang giliran ditinggal Abel bilang sendirian." jawab mama.


"Iyee-iyee ma, ishh panas telinga Bagas." ucap BG, Abel mengkodenya untuk mendekat lalu mengusap telinganya yang dijewer mama BG.


Papa dan Mama BG melihat interaksi keduanya, Abel yang lemah lembut mampu mencairkan seorang Bagaskara yang dulunya hampir tak bisa diatur.


Abel membawa arah positif untuk BG, cukup dengan ucapan dan tindakan yang menjadi daya tarik sendiri dari seorang Arabella.


Walaupun masih tak terima dirinya ditinggalkan, tapi demi kesembuhan sang tunangan BG harus rela. Mengantarkan keberangkatan Abel diujung lorong pemberangkatan private jet milik keluarganya.


"Jang nakal, belajar yang pinter jaga diri jangan sampai ketempelan ulet kecentilan." pesan Abel sebelum menaiki tangga pesawat.


"Siapp ndan."


Melihat pesawat lepas landas dari kejauhan, membuat BG kebingungan mau melakukan apa setelah ini. Berapa minggu bersama Abel dalam waktu hampir 24 jam penuh setelah tak mendapati keberadaan Abel seolah dirinya hampa.


"Entah di mana dirimu berada


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu


Apakah di sana s'lalu rindukan aku?


Seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


Selalu merindukanmu."


"Aduuhhhh, belum sehari ditinggal juga." celetuk Kevin yang mendatangi BG dirumahnya.


"Hemm, udah kebiasaan sama-sama, kerasa banget ilangnya." ucap BG sendu.


"Doain aja Abel cepet pulihnya." sahut Riki.


"Ada PR apa Rik."


"Kagak ada, yang ada noh Kembang kantil nyariin." jawab Riki, karena hari ini BG tak bisa masuk sekolah sekedar mengantar Abel ke bandara.


"Hahhh, itu manusia satu kapan berhentinya yah." gumam BG.


"Nyokap loe tahu kagak." sela Wira.

__ADS_1


"Tau dia, mama bilang nggak mau punya mantu ambisius, yang ada obsesi bukan cinta." jawab BG.


"Hahh, mama loe bilang gitu." tanya Kevin.


"Hemm, tau gara-gara dia Abel celaka, papa langsung kirim ke Singapura."


"Emang rada-rada itu si Kayla, cantik sihh kalau maniak gitu sapa yang mau." sahut Kevin.


"Elo aja yang jomblo gak mau, apalagi kita yang udah ada pawang." jawab Riki.


"Tapi bonyok loe kenal sama keluarga Kayla kan Gas." tanya Wira.


"Dulunya kenal dekat trus udah bertahun-tahun gak ketemu, udah gak pernah hubungan lagi." jelas BG.


"Tapi beneran loe ngomong mo jadiin dia bini loe." tanya Riki.


"Gak ingat gue sumpah, masih bocah ini." jawab BG.


"Lagian ngilang bertahun-tahun datang-datang minta kejelasan, orang gak waras." ucap Wira, diangguki BG dan lainnya.


"Madesuuu."


"Btw itu ondel-ondel kagak tau rumah loe kan Gas." ucap Wira, sontak membuat teman-teman nya terkekeh.


"Ppppfftttt."


"Buakakkakkk."


"Lhaa iya ondel-ondel kan dempulannya aja astagfirullah." jawab Wira.


"Sampai detik ini sih enggak, karena rumah gue yang dulu di Ronawe. Kagak tau sekarang dia kalau gak nyari-nyari info. Nomer gue aja dia tau." jawab BG.


"Lahh tuh dapet darimana dia."


"Tauuukk." jawab BG sambil menghendikan bahu.


"Hahhh meresahkan."


"Sumpahh jadi takut gue."


Mendengar ucapan para sahabatnya BG pun memikirkan dan mencernanya. Kedepannya dia harus berhati-hati dengan segala tingkah laku Kayla.


Setelah beberapa jam perjalanan Indonesia menuju Singapura, setelah tiba Abel segera mengabarkan pada ayah dan bunda lalu BG.


"Hai baby, udah sampai."


"Udah, langsung masuk rawat di rumah sakit."


"Hai Bell."


"Abbbeeelll."


"Ehh busett sakit telinga gue."


Teriak BG karena mendengar para sahabatnya menyapa Abel, sedangkan Abel hanya memasang senyum.


"Kalok balik oleh-oleh yah Bell."


"Loe kira dia holiday apa."


"Tauk si Kevin emang gak ngotak."


"Mau oleh-oleh apa aku aja gak bisa keluar."


"Gak usah didenger sayang."


"Iyaa."


"Yaudah istirahat gihh, jangan capek- capek yah."


"Byee."


Diakhir sambungan video call nya BG memandang teduh Abel, sungguh dia sangat merasa kehampaan tanpa ada Abel disisinya. Ketiga sahabatnya itu menjadi saksinya, Abel membuat pikiran BG porak-poranda.

__ADS_1


Lima hari berlalu, dihari keempat Abel berada di RS menjalani terapi, sang mama memberi tahukan BG semua perkembangan tentang Abel. Tak lupa sang mama mengabadikan Abel ditengah proses terapi.


Walaupun lemah namun semangat Abel cukup tinggi, kini dia sudah bisa berdiri mandiri tanpa bantuan. Bahkan fokus BG kini hanya Abel, Abel dan Abel. Dikelas pun tak ada yang dia pikirkan selain memikirkan Abel.


BG yang tengah tidak mood jarang sekali tersentuh alias enggan berbuat apa-apa. Bahkan sahabatnya tak akan ada yang bisa mengganggunya.


Sudah Lima hari ini dia enggan ke kantin, namun hari ini dia dengan terpaksa mengikuti Riki.


"Lemes banget sihh."


"Tambah hari tambah kek kurang darah loe Gas." celetuk Dekka.


"Ditinggal 2minggu, masih kurang delapan hari loe jadi apa dahh." ucap Kevin.


Sementara BG tak bergeming mendengar sahutan dari sahabatnya.


"Kak, akhirnya ketemu juga." ucap seseorang.


BG dan yang lainnya menoleh, seketika mereka memasang raut tak bersahabat pada sosok yang datang.


"Loe ngapain sihh."


"Gak ada capeknya diusir." gumam Dekka.


"Emang kagak tau malu banget." celetuk Cindy.


"Loe pergi dari sini gih, bikin mood Bagas tambah ancur tau gak, dan kita juga enek sama loe." ucap Riki sarkas.


"Kenapa sih pada jahat sama aku." ucap Kayla.


BG menoleh kearah Kayla, hanya sekilas karena tak lama ponselnya bergetar.


"Yaa ma."


Sapaan BG terhenti kala dia fokus dengan pemandangan diponselnya yang cukup membuatnya senang sekaligus nyeri. Mama BG tengah menampilkan Abel tengah berlatih berjalan, dan Abel mampu berjalan tertatih dengan langkah pelan. Namun yang membuatnya kesal adalah petugas yang didepan Abel terlihat cukup tampan membuatnya merasa cemburu.


"Gimana seneng nggak mama telp."


Terdengar sang mama berbicara namun fokus BG tetap melihat Abel yang sedang berjalan tertatih.


"Slowly, but you did it so well."


Ucap petugas yang menyemangati Abel, sekaligus membuat BG sakit karena paras petugas itu dibilang cukup menawan.


"Seneng ma, tapi kenapa perawatnya harus ganteng sihh."


"Haaaah...emang kenapa kalau perawatnya ganteng."


"Tsk mama."


"Kak, aku boleh nggak bicara sama tante." sela Kayla.


"Dihh gak tau malu banget."


"Emang nih cewek gak punya ahlak."


"Siapa yang bicara Gas."


"Bukan siapa-siapa mam."


"Yaudah yah, kayaknya Abel udah selesai,  ohiyaa jangan khawatir meskipun perawatnya ganteng dari tadi Abel enggak mau disentuh dia juga kok."


"Hemmm."


"Menantu mama berkelas yahh, gak bakalan dia tersentuh seganteng apapun laki-laki nya, ngapain kamu cemburuin hal yang enggak pernah terjadi."


Mama BG menutup sambungan sepihak, namun membuat hati BG sedikit menghangat. Senyumnya merekah, namun tidak dengan Kayla, mendengar ucapan live dari mama BG seolah meruntuh kan segala niatannya.


"Nohh loe dengar sendiri, mantunya mama Bagas cuma Abel seorang."


"Mantunya berkelas guys."


"Disini gak ada yang budiii kan."

__ADS_1


BG tak sedikitpun mengeluarkan sepatah katanya, dia masih merasa tersanjung dengan ucapan sang mama.


__ADS_2