
Hampir seminggu Devan masih belum sadar dari koma, membuat sang ibu sedikit frustasi. Setelah Kevin sah menjadi suami Dania, mereka tinggal terpisah karena kondisi Dania yang sedang berbadan dua dan Kevin tidak boleh menggauli Dania sampai anaknya terlahir.
Dania tinggal bersama Cindy, sedang Kevin akan tinggal bersama Angga yang masih satu lantai apartemen namun beda unit.
"Iyaa kakak juga kangen Arkana."
"......."
"Iyaa sayank, nanti kalau liburan kakak main kesana okey."
"......"
"Janji..
"Cupp muahh bye Arkana." terdengar percakapan Abel dengan Arkana yang sudah hampir enam bulan tak bertemu. Kegiatan itu tak luput dari sorot mata BG karena kini mereka sedang ada di kafe middle hendak berkumpul.
"Kenapa lagi Arkana." tanya BG, Abel meringis mengingat semalam sang bunda menelepon nya karena tiba-tiba Arkana meminta untuk telpon padanya.
"Kangen, masa semalam bunda telpon terus, gara-gara si bocil nangis minta vc."
"Trus kok baru telp."
"Yaah kan bunda telp jam, ehmmm 11an kalau gak salah. Akunya..."
"udah bobo." potong BG karena mereka mengakhiri telpon sebelum jam 10 malam karena Abel mengeluh ngantuk.
"Sapa aja yang bakalan kesini." ucap Angga yang baru bergabung karena dia ada kelas tambahan.
"Siska doang sama Gama." jawab BG karena Metta dan Riki ada di kafe, sedang Wira dan Kevin menjemput pasangannya masing-masing.
"Hahhh, guys sekalian pesen menu aja biar gak barengan bentar lagi jam maksi pas lagi rame dibawah." potong Metta karena hari ini dia sedang membantu kasir, karena pegawainya sedang ijin.
"Aku pesenin chicken salted, sama blue ocean yah pengen yang seger-seger." ucap Abel bertuju pada sang tunangan, lalu dia beranjak dan berlari menuju toilet, sedang apalagi kalau tidak buang air kecil.
"Ckk kebiasaan banget." gumam BG, melihat tingkah Abel yang masih suka menahan pip nya.
Dretttdrtt
Ponsel Abel bergetar, sekilas BG melihat ke layar ponsel milik gadisnya tertera Airin disana, BG tak mau lancang asal dia tau siapa yang menghubungi Abelnya dia kalem.
Ponsel Abel terus bergetar kini sudah dua kali Airin menelpon Abel, kenapa Abel begitu lama di kamar mandi membuat BG sedikit panik.
"Baby masih lama." ucap BG mengetok pintu toilet karena tak kunjung keluar.
Ceklekk
Pintu terbuka disusul kepala Abel menyembul keluar, membuat BG menarik nafas lega.
"Kok lama."
"Iyaa, sekalian ganti itu." jawab Abel, dan BG pun sudah paham karena ia tau jika Abel sedang dalam masa period nya.
__ADS_1
"Lohhh." gumam Abel terkejut melihat notif diponselnya, 3 panggilan tak terjawab dari Airin.
"Makanya aku panggil kamu tadi, mau aku angkat gak enak." jawab BG.
"Seharusnya kamu angkat aja sapa tau penting."
"Ya udah entar pasti telp balik, minumnya smoothies aja, gak boleh soda." ucap BG tegas, Abel pasrah dan mengangguk kan kepalanya.
Semuanya sudah berkumpul untuk makan siang yang tertunda beberapa saat yang lalu karena kejadian Devan dan Nia Kecelakaan. Ditengah sedang menikmati maksi dan bersantai sambil bercanda tawa, ponsel BG bergetar.
"Hallo."
"Nak Bagas assalamualaikum."
"Wa'alaikum ibu, ada apa ibu." ucap BG, semua mata terpusat padanya bibir BG mengucap "ibu Devan" tanpa bersuara.
"Alhamdulillah nak, Alhamdulillah Devan sudah sadar."
"Alhamdulillah ibu." sahut BG, bahkan sangking senang nya dia sampai berdiri dari duduknya.
"Nanti Bagas sama teman-teman kesana nggeh Bu, ibu ikuti prosedur dari perawat nya yah."
"Iyaa nak, gitu aja ibu mau ngabari kamu, Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah mengakhiri panggilan, semuanya pun penasaran apa yang ibu Devan ucapkan.
"Devan sudah sadar, habis ini kita kesana tapi Jang ikut semua, besok aja kalau udah dapat kamar rawat." jelas BG, membuat semuanya bernafas lega.
"Syukurlah."
"Puji Tuhan."
"Ibunya ada bilang kondisinya gimana sekarang." tanya Abel pada sang tunangan, namun BG menggeleng pelan tanda ibu Devan tak mengatakan apapun.
"Gue agak worry dia bakal amnesia nggak sih." celetuk Fransiska, dan untuk kali ini pertama kalinya mereka semua setuju dengan ucapannya.
"Yahh secara kemarin jatuhnya parah banget."
"Kalau dia lupa, trus gak inget kita gimana dong." sahut Cindy membuat beberapa nya berdecak.
"Ckkk."
"Gue kok lebih suka dia amnesia biar gak inget sama kejadian itu, tapi kasihan juga kalau enggak tau realita nya." ucap Metta tak berniat mengingat kejadian meninggal nya Nia, disana ada Dania, Kevin sedikit menggeram ketika metta mengatakan hal itu.
"Maksud loe apa." ucap Kevin meninggi.
"Hahhh."
"Apa sih."
__ADS_1
"Iya maksud Loe ngomong gitu apa."
"Lohh, gue cuma mikir gimana sakitnya Devan saat tau Nia udah gak ada, cuma itu. Kenapa elo bentak-bentak sih." ucap Metta naik 2 oktaf tak terima disudutkan Kevin, padahal dia hanya menimpali ucapan Fransiska.
"Sudah-sudah."
Abel menggenggam tangan Metta, menguatkan nya agar tak meninggalkan meja mereka. Abel mengkodenya agar tenang dan jangan berespon apa pun lagi.
Abel tahu jika Metta sudah berkaca-kaca bahkan sebentar lagi air matanya sudah diujung pelupuk.
"Ehhmmm, bagaimana pun kondisi Devan nanti kita pelan-pelan buat kasih tau kondisinya." ucap Abel, kondisinya sulit mencegah bagaimana pun agar Dania tak tersinggung itu tak mungkin mengingat dia sedang berada disana saat ini.
"Iyaa, gue ikut yah." sahut Fransiska, sedangkan para lelaki entah mengapa mereka semua bungkam tak ada yang bergeming.
"maaf gue belum jam pulang." sela Metta singkat, walaupun dia bisa meninggalkan kafe namun alangkah baiknya dia tak ikut ke RS agar tak menambah beban psikisnya melihat keberadaan Dania.
"Loe banyakin dah duit Loe Mett, trus perawatan liat tuh badan Loe makin kurus."
"Cin, mulut Loe yah tambah tua Napa tambah nyablak amat." sahut Fransiska.
"Gue gak mau gendut, entar kelihatan cepet tuanya."
"Iyaa deh, yang pengen awet muda, noh queen Abel aja pipinya makin cubby tapi masih keliatan kek anak kecil." potong Dekka, karena mendengar ucapannya membuat Abel menoleh ke arah BG.
"Apa iya." ucap nya pada sang tunangan, sedang BG hanya senyum simpul sambil menjewer pelan pipi Abel.
"co cuittt."
"Gas mo ke RS jam berapa kita." potong Angga.
"Udah kelar, sekarang aja gimana." jawabnya semua setuju, namun Riki dan Dekka akan menyusul karena Riki masih ada laporan, dan Metta sesuai ucapannya dia tak akan ikut ke rumah sakit.
Dretttdrtt
Ponsel Abel bergetar, Airin menghubunginya lagi. Tak menunggu lama Abel pun mengangkat nya.
"Hallo, kamu dimana."
"Hahhh."
"Astaga kenapa Loe jadi gagu Bell."
"Aku, di middle cafe kenapa ai."
"Yaudah kalau gitu."
Ucapan Airin yang gak jelas membuat Abel bingung.
"Kenapa."
"Nggak tau cuma tanya aku dimana trus dimatiin."
__ADS_1
Bugghhhh bughhh
"Kenapa gue dikacanginnnnn."