
Disinilah Abel berada setelah jam pelajaran pertama berakhir, Abel masuk dijam pelajaran kedua.
"Hi guys, sorry yahh sebelum ada guru mapel selanjutnya masuk aku mau ngomong sebentar." ucap Abel.
"Apaan penting nih."
"Yuhuuu my Abel."
"langsung aja yahh, jadi ibu Nayla kan lagi sakit, kebetulan juga lagi ketimpa masalah. Nahh aku punya saran gimana kalau kita patungan, gimana setuju nggak."
"Setujuuu." sahut teman sekelas Abel kompak.
"Even cuma sepuluh ribu, udah ngebantu banget guys." lanjut Abel yang memilih tak bercerita kisah Nayla pada teman sekelasnya.
Kelas Abel merupakan kelas yang tersolid dibanding lainnya. Aura Abel dan Airin cukup melekat dikelas XI IPA1.
"Angga kumpul duit langsung pegang dulu yah." kata Abel pada Angga sang ketua kelas.
"Kumpul 675 Bell." jawab Angga.
"Okay, besok yang mau bantu Nay periksain ibunya sapa." tanya Abel.
"Biar gue aja Bell, entar bantuin bilang bu Silvi yakk." sahut Devan.
"Urusan gue itu mah." potong Airin, bahkan mereka pun kompak mengangguk.
"Trus solusinya biar Nayla gak kerja tapi ada penghasilan gimana Bell." potong Nia.
"Iyaa sihh biar dia fokus berobat ibunya." sela Misel teman sekelas Abel.
"Hemmmb." hela nafas Abel berat.
"Lhoo ngomong lakik loe gihh Bell, sapa tau bisa bantu dana." celetuk Devan.
pletakk...
"Ouuchhh, my Abel kekerasan yahh." ucap Devan kesakitan setelah Abel menyentil dahi Devan.
"Habisnyaa tuhh mulut, dia belum jadi suami aku jadi aku gak berhak minta-minta."
"Ya.. yayaa kan sapa tau dikasih, rejekinya Nay kan." jawab Devan.
"Coba deh Bell, yang bisa sokong dana emang cuma tunangan loe." ucap lirih Airin.
"Bukan berarti elo matre juga, i know you so well." potong Devan yang melihat raut muka Abel seperti berfikir keras.
"Hoo.ooh Bell."
"Hmb, kita bantu doa biar dikasih."
"Nanti aku coba dehh." ucap Arabella.
Setelah sekian lama berbincang membahas Nayla ternyata kelas Abel mendapat jamkos. Tentunya Abel tak menyiakan kesempatan itu mencari sumber dana.
Abel menelpon sang bunda guna meminta ijin menghabiskan tabungannya selama ini. Akhirnya mendapat persetujuan bahkan sang bunda memberikan tambahan.
Semuanya terkumpul sekitar hampir 8 juta ditambah dengan patungan dari kelas Abel.
"Jadi untuk bulan ini selagi Nay gak bisa kerja semoga cukup yahh." ucap Abel
"Amieenn." sahut teman-temannya yang masih setia mendampingi Abel mencari Dana.
Teeet..tettt.
Bel istirahat berbunyi, para murid berhamburan. Namun tidak dengan murid di kelas Abel mereka masih enggan untuk enyahh dari tempat duduk mereka. Seolah mereka sedang dalam masa berduka.
"Guyys yang laper makan aja dulu entar kita sambil jalan cari solusinya." ucap Airin.
Ponsel Abel berbunyi, menampilkan nama sang BG.
"Hallo."
"Kamu dimana Baby."
"Hemmb masih dikelas, Mager."
"Aku bawakan makan mau apa." tanya BG lalu Abel pun tak menolak tawaran BG.
Sementara itu Airin menggerakkan Anggota OSIS untuk mencari sumbangan, hanya beberapa dari orang yang mengenal dekat Nayla.
Dikelas Abel tinggal beberapa orang, Abel masih fokus pada ponselnya guna mencari ide yang tepat.
"Sibuk banget sihh sayang." ucap BG yang baru saja mendudukkan dirinya disebelah Abel.
"Hemmb, lagi mikir dikit." jawab Abel lalu meraih makanan yang disodorkan oleh BG.
__ADS_1
"Masalah Nay." tanya BG pun diangguki gadisnya itu.
"Maem dulu." lanjut BG.
Mereka keduanya menikmati makan bersama sambil sesekali saling bertanya.
"Ahiyaaa Mas Alvin sama mbak Nina jadi lohh."
"Hemmb, beneran." tanya BG Abel mengangguk semangat.
"Ini nanti mas Alvin mau pulkam dia."
"Kamu pulang sama siapa teruss."
"Gampang bisa telfon mamang kok." jawab Abel, membuat muka BG masam.
"You don't need mee.."
"I need you but you have another business."
"Nanti pulang sama aku gak ada penolakan." ucap BG tegas.
"Enggak ke kantor." tanya Abel, BG pun menggeleng.
"Nihh." BG mengeluarkan sebuah kartu Atm pada Abel.
"Apaa."
"Pake buat kamu, disitu semua penghasilanku, bisa buat bantu Nay juga..
"Ahh enggak, kamu kan masih belum punya kewajiban ke aku."
"Gak papa baby, Aku masih ada yang lainnya."
Abel bingung mau mengambil atau tidak, sementara itu beberapa teman Abel yang berada dikelasnya nampak saling pandang.
"Bawa baby, mau kamu pake or enggak simpen aja. Pinnya our engagement date." lanjut BG, Abel tak bergeming dia hanya mampu merespon ucapan tunangannya itu dengan mengerjapkan matanya.
Tak ada pilihan lain Abel pun menerima kartu yang diberikan BG padanya. Walaupun terpaksa menggunakannya pun bukan untuk Abel sepenuhnya.
"Kamu masih belum berkewajiban kasih aku loh." ucap Abel lirih, BG menyorot tajam pada Abel.
"Soon to be, don't you denials."
"Nope, i just feel that.. Hemmmb." ucap Abel terjeda.
"Fine, this yours, and you're mine. Everything that i haven it's is yours too honey, remember that." ucap BG tegas, Abel pun mengangguk paham.
Akhirnya sepulang sekolah Abel pulang bersama BG, namun karena ada latihan basket Abel harus menemani Tunangan nya itu terlebih dahulu.
Tak ada masalah bagi Abel, belum menjadi tunangannya pun Abel dulu sering menemani BG latihan.
Sampai dilapangan basket Abel sengaja duduk jauh dari pos team basket karena ingin bertukar kabar dengan Devan yang sedang mengantar pulang Nayla.
"Aku TF yah Dev buat besok jadi kalau ada apa-apa, semisal dana kurang kamu chat atau langsung telp."
"oke Bell."
"Bu Silvi nyumbang dikit, beliau juga ingin kabar selanjutnya."
"Wahh ternyata banyak yang sayang Nay."
"Semua Dev, Nay gak sendiri." ucap Abel sesekali dia memperhatikan sang BG terus melihat kearahnya.
Abel memutuskan sambungan dengan Devan, mendapati sang Bagaskara sedang kearahnya. Abel mengambilkan minum untuknya.
"Telponan sama siapa." tanya BG sambil meraih minum yang disodorkan Abel.
"Devan, cuma mau bilang aku kirim uang buat besok." jawab Abel lalu mengusap peluh BG didahinya dengan tissue.
"Nanti aku Transfer dia." sahut BG.
"Buat apa kan udah dari aku, ini Atm kamu juga belum kepake. Dapet tambahan dari bu Silvi juga."
"Uang transport baby, dia udah jalanin perintah kamu. Biar dia semangat juga kalau dikasih uang jajan." jawab BG, Abel masih belum puas dengan jawaban tunangannya itu.
"Devan pun sama nasibnya kayak Nay, kalau kamu mau tau." lanjut BG.
"Mmmaksudnya."
"Aku kenal dekat sama Devan sejak kita bertengkar dulu. Aku ketemu dia sedang ngamen dijalanan karena penasaran aku selidiki. Ayah ibunya bercerai, kini dia tinggal dengan ibu dan adiknya yang juga masih sekolah. Devan bantu ibunya cari uang dengan ngamen dan jadi kuli panggul dipasar. Sejak saat ketemu aku ajak dia nyanyi dikafe milik Kevin. Aku kasih dia kerjaan ngawasin kamu dan juga selalu kasih info tentang kamu." jelas BG.
"Jadi selama ini Dev bilang gaji-gaji itu beneran." tanya Abel penasaran
"Hemm, tiap bulan aku kasih karena aku gak bisa ngejebolin pertahanan keamanan kamu saat itu. Dari Devan lah aku bisa pastikan kamu sedang apa dan baik-baik saja. "
__ADS_1
"Devan gak pernah nunjukin kondisinya."
"Itupun aku juga gak akan tau baby kalau aku gak nemuin dia ngamen, Don't worry about it. Devan layak seperti pegawai ku di kantor, dia urusanku."
Abel diam meresapi segala yang dia dengar dari BG, masih banyak yang butuh bantuan. BG melanjutkan latihannya karena 2 minggu lagi team basket sekolah akan mengikuti lomba kejuaraan.
Abel harus benar-benar membantu meringankan beban teman-temannya itu. Nayla masuk kategori siswa cerdas begitu pula dengan Devan meskipun Devan suka slengean.
Abel memejamkan mata guna menelisik otak kecilnya sapa tau ada ide terlintas. Tak lama otak cantiknya merespon, lalu dia mencoba membuat design sebuah selebaran di ponselnya.
"Nays Bimbel."
Calistung and Elementary Tutoring.
Mungkin lebih ringan dibanding kerja di cafe, Abel memiliki ide untuk menjadikan Nay guru Bimbel. Semoga Nay pun setuju dengan ide dari Abel.
Jika Nay setuju, maka Abel akan meminta bantuan sang BG untuk membuat media promosi.
Abel segera mengirim design yang sudah dia buat kepada Airin, dan menjelaskan singkat padanya. Tentu saja Airin pasti akan full support sahabat kecilnya itu.
Sejenak meregangkan badannya dan melihat BG berlatih, dia memperhatikan sang BG yang sedang memberikan pengarahan pada anggotanya.
Nampaknya Abel tak tau dia sudah menghabiskan waktu dua jam menunggu Tunangan nya itu latihan basket.
"Yuk baby, kita pulang."
"Hemmb." sahut Abel tersenyum mengangguk.
"Gak mau mampir kemana dulu."
"Ke hatimu aja cukup." celetuk Abel.
"Baby, jangan godain yahh."
"Ehhh hahh kok godain sih."
"Kenapa kamu jadi manis gini hemm." ucap gemas BG sambil mencubit hidup Abel.
"Habisnya diajak mampir-mampir, mana bisa aku mampir kesembarang tempat."
"Maksudnya enggak ada tempat yang dituju lagi gitu." jelas BG, Abel menggeleng kuat.
Sesampainya di mobil BG dan Abel dihentikan oleh gadis yang dilihat dari gesture nya seperti adik kelas mereka.
"Ehh maaf kak Bagas."
Abel dan BG menoleh sadar jika yang dipanggil BG, Abel pun memilih untuk masuk mobil BG.
"Ada apa." jawab BG sambil memperhatikan Abel yang masuk kemobilnya.
"Ehhm ini kak cuma mau ngasih ini, diterima yah kak." ucap gadis itu memberikan sebuah kotak.
"Ini apa."
"Bukan apa-apa kak, mohon diterima yah." ucap gadis itu lalu dia berlari meninggalkan begitu saja.
Dengan terpaksa BG pun menerimanya, sekarang baginya adalah menemui tunangannya takut-takut kalau dia ngambek.
Klik, Bukkhh.
Suara pintu BG tertutup dia menoleh kesamping memperhatikan sang tunangannya.
"Udahh." tanya Abel, BG mengangguk dia masih setia menatap intens Abel.
"Jalan yuuk."
"Gak marah kan." tanya BG.
"Kenapa harus marah, hatimu tetap di aku." jawab Abel pede. Alasan BG jatuh sejatuh-jatuhnya pada Abel karena sifatnya yang easy going dan memiliki positive vibes tidak mudah terpengaruh hal sepeleh. Siapapun akan terpesona dengan Arabella ini.
Karena tak tahan dengan baiknya Abel BG pun mendekat mendaratkan sebuah kecupan pada Abel.
Cuppp..
"Sedari tadi pipi yang Chubs ini selalu menggoda dan menggemaskan." Ucap BG setelah mencium pipi cantik Arabella.
"Astagaaa ini masih disekolah lohh." ucap Abel salting.
"Don't worry enggak akan kelihatan dari luar kok."
"Bandeel yahh."
"Cuma sama kamu kok."
"Diihhh awas yahh sampek curi-curi kesempatan."
__ADS_1
"Buat apa, sudah ada kamu ngapain nyari yang lain, you're perfect the only one in my mind, my hearts, my breathing my everything." ucap BG tulus sambil menggenggam jemari tunangannya.