Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Penyebab Drop


__ADS_3

"Bell Loe kuat yah, rileks, tarik nafas dalam demi dedek nya yahh." ucap Airin menyemangati Abel, dia tahu Abel sangat tertekan saat ini entah permasalahan nya apa.


Suara Airin mendominasi dipikiran Abel kini, Benar saja setelah merasa tenang perutnya yang terasa kram berangsur pudar hingga mobil Angga sudah berhenti tepat di UGD.


Bukan berniat lancang Angga tak banyak berfikir langsung membopong sahabat Airin itu menuju UGD agar tak membuang banyak waktu.


"Ada keluhan apa mbaknya." tanya petugas, Airin pun menjelaskan dari awal hingga akhirnya Abel harus dibawa kerumah sakit karena tidak ingin ada hal yang tak diinginkan.


Sementara itu di rumah BG Nina segera mengatakan informasi tentang Abel pada ayah Abel. Begitu terkejutnya ayah dan bunda jika Abel kini dibawa ke rumah sakit bahkan tanpa pikir panjang lagi langsung meninggalkan rumah itu begitu saja.


"Bagaimana bisa terjadi Nin, apa Airin ada bicara padamu." tanya ayah didalam mobil perjalanan kerumah sakit.


"Tidak tau jelasnya Ndan, Airin hanya pesan tidak memberi tahu Bagas dan keluarga karena masih menyambut para tamu agar tak membuat panik."


"Apa terlalu capek itu anak." desis bunda tak habis pikir.


Tak ada yang bisa menjawab mereka hanya diagnosa dari dokter lah menjadi acuan saat ini.


Disisi lain BG dan kedua orang tuanya terkejut kala sudah tak mendapati orang tua Abel diantara para kolega dan keluarga tanpa pamit. Bahkan pengawalan pun sudah tak ada menandakan jika kini ayah dan bunda Abel sudah meninggalkan tempat.


"Ma, Bagas naik dulu mau lihat Abel." ucap BG melihat hanya beberapa tamu dan kolega, ada sedikit rasa cemas yang tiba-tiba datang.


"Pergilah." sahut mama Mia singkat namun belum beranjak Aira sudah bergelayutan padanya.


"Lohh mas Bagas kok mau ninggalin Aira."


"Hehh, Loe dari tadi juga udah aku temenin, justru karena kamu aku jadi ninggalin istriku." ucap BG tegas, bahkan tanpa mereka sadari mama Mia memperhatikan tingkah Aira yang cukup janggal.


"kok itu anak kayak suka sama Bagas." gumam mama Mia.


"Aira menyingkir lah biarkan mas mu mengurusi istrinya."


"Hufftt lagian aku kan gak sering kesini, giliran main dicuekin."


"Kamu kenapa jadi keganjenan sama suami orang gini." sindir mama Mia, membuat Aira seketika kicep dan menegang terlebih saat mata Sagara melotot ke arahnya karena tak bisa menjaga sikapnya pada sang sepupu.


"Iyyaaa, iyaa, hissshh gitu aja gak boleh." gerutu Aira namun semua orang bisa mendengar jelas.


Setelah terlepas dari jerat ulat bulu Aira, BG pun tergesa-gesa mencari sang istri namun nihil kamarnya kosong bahkan ponselnya tergeletak di nakas.


BG turun mencari keberadaan dibawah bahkan menanyakan pada para ART kemana istrinya berada.


"Mbak lihat istri ku."


"eummm anuu, itu mas." ucap salah satu asisten rumah tangga tergagap bingung hendak mengatakannya.

__ADS_1


"Apa mbak."


"Ada apa Gas." sela mama Mia yang mendengar keributan yang dibuat oleh putra tunggalnya karena berteriak begitu kencangnya.


"Mam, Abel gak ada dikamarnya."


"Lohh terus kemana."


"Anu nyonya."


"Anu apa mbak, bilang yang jelas."


"Huffft." desis BG frustasi.


"Non Abel tadi dibawa temannya mbak Ai."


"Hahhhh, kemana."


"Kok bisa."


"Itu nyonya dengar-dengar mau ke RS tadi."


"Apaaaa."


"Hahhh."


"Bagaimana dok putri saya." tanya ayah yang sudah datang beberapa saat lalu. Disana Airin dan yang lain pun ikut cemas.


"Nona Ara baik pak, kondisi sudah stabil, tapi apa saya boleh tahu jika nona Ara sudah menikah."


"Sudah dokter, tapi sudami nya sedang perjalanan mungkin."


"Baiklah, beruntung segera dibawa kesini. Nyonya Ara drop, terlebih dia sepertinya sedang mengalami stres. Beban pikiran yang berlebih bisa berdampak buruk untuk kandungannya, sehingga membuatnya drop saya mohon dijaga agar tidak terlalu banyak fikiran." jelas sang dokter ayah pun mengangguk, dia tahu betul Abel cukup pendiam jika memiliki masalah.


"Alvin apa yang terjadi sebenarnya." tanya ayah pada ajudan Abel.


"Saya kurang paham Ndan, Abel bahkan menyimpan rapi masalah nya." jawab Alvin sekenanya, kini tinggal suami Abel lah yang harus ia interogasi.


"Apakah Abel cerita ke kamu Ai." tanya bunda pada Airin, Airin menggeleng karena ia bahkan belum sempat bercerita Abel sudah mengeluh kesakitan.


Abel sudah dipindah keruang rawat, ponsel Angga dan Airin terus bergetar mendapatkan spam dari sang Bagaskara.


"RS Pelita."


Pesan Angga kirimkan pada sang bos, meskipun kini belum pasti masalah apa yang ada dipendam Abel namun Angga dan Airin sudah menduga BG masuk dalam faktor terbesar sampai Arabella harus menginap disini.

__ADS_1


Sementara itu Bg yang sudah mendapat info keberadaan Abel pun gegas meluncur.


"Abel kenapa Gas bisa dibawa kerumah sakit."


"Entahlah ma, aku juga gak tau." ucap BG singkat karena dia sedang fokus menyetir.


"Gas apa benar Abel melarang Aira untuk dekat-dekat sama kamu."


"Hahhh."


"Iya Aira bilang Abel memarahinya karena dekat sama kamu apa itu betul."


"Ya ampunn ma, mama kan udah kenal Abel berapa tahun. Apa mama meragukan menantu mama."


"Enggak justru mama baru tau kalau ternyata kelakuan Aira gak lebih kayak perempuan ganjen gitu ke kamu. Hemmm mama curiga dia suka sama kamu."


"huuuhh entah lah ma, yang jelas istri ku kemarin hanya mengatakan jika aku dan Aira itu bukan mahram jadi gak baik dilihat jika tingkah Aira yang nempel kek gitu ke Bagas." jelas BG sontak mama Mia membola mengingat kala dia justru membela Aira.


"Masyaalloh mama salah sama Abel, apa gara-gara mama Abel jadi masuk RS."


"Sudah mama tenang dulu kita belum tau kenapa sampai Abel masuk RS." sela papa Hermawan yang sedari tadi hanya mendengar kali ini ikut berkomentar.


"Hikkksss, Abel pa trus cucu aku."


"Hahhhh."


Terdengar pilu tangisan mama Mia, bahkan BG pun merasa kesal jika sampai benar masalah ini justru membuat istrinya masuk RS maka pelaku utama nya adalah Aira yang mengkambing hitamkan Abel dengan mama nya.


Kembali di rumah sakit, ayah dan bunda pun menghampiri putri sulungnya yang terbaring di bed pasien.


"Bell."


"A-ayaah."


"Ssuuhhhhhtt jangan nangis, kasian Bebi nya nduk." sela bunda, Abel mengangguk tak lagi dia ingin mencelakakan janinnya.


"coba cerita sama ayah apa yang lagi kamu fikirkan."


"Euummm, itu ayahh." akhirnya mengalir lah cerita Abel kepada sang ayah dan bunda.


Ayah dan bundanya paham dengan situasi hati anaknya, terlebih memang Abel suka memendam bebannya sendiri, namun kondisi sekarang berbeda dimana ada nyawa yang tumbuh di tubuhnya.


Ceklekkkk..


"Sayang."

__ADS_1


__ADS_2