Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Permulaan


__ADS_3

Keesokan harinya..


Pagi ini Abel datang dengan senyum ceria, senyumannya hampir setiap detik terbit.


Meskipun hatinya sedang berbunga karena hubungannya dengan BG membaik Abel pun tak bisa selalu sering bertemu.


"Berkas insiden kecelakaan kamu sudah masuk Bell, nanti mas pelajari." ucap Alvin saat Abel hendak turun dari mobil.


"Sudah ketemu pelakunya." tanya Abel dan Alvin pun mengangguk.


Meskipun dengan jutaan tanda tanya dalam hatinya, Abel tak bergeming dia memilih untuk menyerahkan pada sang ajudan.


Saat memasuki koridor Abel melihat keberadaan BG yang memang sepertinya sudah menunggu kedatangannya.


"Udah lama."


"Nggak kok barusan." jawab BG.


Abel dan BG berjalan menuju kelas masing-masing, karena kelas Abel diurutan pertama BG mengantarnya hanya sampai depan kelas lalu melanjutkan menuju kelasnya.


BG pun sudah tau jika ayah Abel melarangnya untuk makan dikantin, sehingga BG berinisiatif membawakan makanan untuk Abel kedalam kelasnya saat jam istirahat.


"Bell, demi apa gue gak salah lihat kan." tanya Airin yang datang- datang langsung memberondongnya.


"Enggak Ai, bener kok."


"Sumpahh, trus si kutu kupret loe maafin gitu aja."


"Ai, dia udah jelasin kemarin." jawab Abel.


"Kalau gue nihh yahh udah gue cakar tuh muka." sahut Airin yang masih sebal.


"Calm down, Ai sekarang aku tanya. Kamu kalau lihat temen yang sampe malam gak ada yang jemput gimana. Kasihan kan, trus pengen antar nggak. Begitulah maksud Bagas." jelas Abel.


"Lhaa tapi kenapa harus sering, trus kemana - mana juga ngintil mulu itu cabe goceng." ujar Airin sebal.


"Hahhahahha." terdengar tawa lepas dari Angga.


"Nihh kamu aja juga ngintil mulu sama Angga gak sadar yahh. BG tuh sebenarnya risih diikutin mulu padahal BG gak suka, mau ngusir takut dosa." jawab Abel.


"Kamu tuhh ya sebegitu percayanya sama si Bagas, nggak ada marah-marahnya gitu."


"Marah Ai, aku juga gak langsung respon dia, tapi aku gak lihat kebohongan dimatanya. Malah jadi kasihan dia seolah kebebanin sama statemen si Melisa, padahal Bagasnya enggak feel sama dia gimana dong." jelas Abel.


"Harusnya loe jambak dulu Bell, biar jera gak pasrah aja gitu di tempelin sama cabe-cabean."


"Ihhh Ai mahh lucu, kok jadi kamu yang sewot sih, dah lah.. Anggap aja BG sial ketempelan jin gatel, udah gitu doang aku nyikapinnya, tapi kedepannya ini sampek aku lihat kek gini lagi udah gak ada ampun, kayak Abel gak laku aja." jelas Abel panjang.


"Nahh tuh Ai setujuh banget."


Selanjutnya mereka pun mengikuti pelajaran, Namun ditengah pelajaran Abel terhubung dengan Alvin.


Bipppp.


"Jam 10 mas jemput, kamu harus ikuti prosedur penyelidikan."


"Hemmm."


Bipp, Tuttt.....


"Kenapa Bell." bisik Airin karena mendengar Abel bergumam.


"Mas Alvin." jawab Abel sekilas lalu


melanjutkan fokus pada pelajaran.


Setelah jam pelajaran berlalu, Abel yang sedang menunggu BG pun bersantai. Dia pun sudah mengatakan pada Airin kalau Abel sudah titip makanan pada BG.


Airin apresiasi BG yang perhatian pada Abel meskipun mereka sempat ada jarak, namun Abel belum mengatakan jika BG berniat mengajak tunangan.


"Maaf yahh lama, Siomaynya pas antri."


"Hemm, makasih yahh." jawab Abel.


"Sabtu malam aku main yahh."


"Ehhh hahh, mau ngapain." sahut Abel..


"Main, ketemu sama ayah mau diskusi."


"Diskusi apaa." jawab Abel pura-pura.


"Kerja kelompok." jawab BG, Abel pun menoleh.


"Teruuuuss."


"Yahh nggak tau kan belum ketemu jadi gak ada terusannya." jawab BG.

__ADS_1


Mereka pun mengobrol ringan untuk memecah keheningan.


"Aku jam 10 pulang ada penyelidikan." ucap Abel.


"Yang waktu kamu kecelakaan." jawab BG.


"Kamu tau aku kecelakaan sama Angga."


"Hemmm, beritamu selalu jadi trending sayang." ucap BG sambil berbisik ditelinga Abel.


"Ahhh biasa ajahh."


"biasa karena kamu jadi tren sekarang, ada apa emangnya." tanya BG pada Abel.


"Mas Alvin bilang aku harus mengikuti proses penyelidikan."


BG mengernyit bingung, Abel yang kecelakaan lalu kenapa dia yang diproses.


"Maksudnya, ayah menyelidiki kasus ini takut pelakunya dari sisi ayah jadi ayah gak lepas ini jika kasusnya terungkap." lanjut Abel.


"Trus udah ketangkep."


"Gak tau makanya nanti mas Alvin jemput mungkin ada kemajuan proses penyelidikan." jawab Abel.


"Ikuti aja prosesnya." sahut BG.


Kling, Kling...


Bunyi ponsel Abel muncul notif pesan.


@AjudanKuhh


Mas udah di depan Bell, mau nyerahin surat ijin kamu dulu.


@Arabella


Siapp 86


*


*


"Mas Alvin udah di depan, mau ke bu Silvi dulu."


"Selesaikan maemnya dulu." jawab BG.


Dikantor Ayah Abel.


Kedatangan Abel disambut hangat oleh team penyelidik sang ayah. Abel pun sudah melihat pelaku pengendara motor. Abel tak mengenalnya.


Dari hasil penyelidikan kecelakaan Abel tidak ada hubungannya dengan sang ayah, namun ada dugaan kuat mengarah ke beberapa orang yang terlibat.


Abel sudah mengantongi satu nama, bahkan berkas- berkasnya pun sudah ditangannya.


Rencananya Abel akan meminta bantuan Airin.


Abel tak akan mengungkap identitas otak dibalik kejadian itu sebelum waktunya tiba.


"Gimana tadi."


"Hemm, udah kok." jawab Abel pada telp BG.


"Sama pelakunya."


"Iyaa."


"Truss, kamu kenal gitu sama orangnya."


"Enggak, tapi ada otaknya sihh."


"Hahhh, siapa." tanya BG begitu penasaran.


"Ada dehh nanti juga ada waktunya aku ungkap."


"Hemmm, ya udah. Ohhiya besok aku main kerumah yah mau ketemu ayah."


"Iyaa, mang berani." goda Abel pada BG.


"Enggak lahh kan ada kamu."


"Dihh gak berani kok minta ketemu."


"Yahh berani dong, mo mintak kamu ini yah harus berani." ucap BG, menggoda balik Abel.


Abel yang digoda sedikit sudah membuatnya salting, sedangkan BG nampak santai.


Sudah lama BG rasanya bisa ngobrol lewat telp lagi, setelah kontaknya diblok oleh Abel.

__ADS_1


Minggu pagi, Abel turun dari kamarnya untuk sarapan dengan keluarganya.


"Pagi ayah, bunda." sapa Abel.


"Pagi sayang." sahut ayah dan bunda bersama.


"Ayah nanti Abel mau keluar sama Bagas." ucap Abel, bunda menoleh seolah mengingat Abel sudah lama tidak terlihat dekat dengan BG.


"Mau kemana." tanya ayah.


"Nemenin ektra basket, disekolah kok yah." jawab Abel, sang bunda hanya menjadi pendengar setia tak memberikan komentar.


Sekitar pukul delapan pagi BG sudah nampak didepan gerbang karena penjagaan, mau tak mau memang harus diikuti.


Abel menjemput lalu mengajaknya masuk menemui sang ayah.


"Assalamualaikum ayah." sapa BG.


"Wa'alaikumsalam, waduh kapten basket baru kelihatan nampaknya." sahut ayah Abel.


"Iyaa ayah, kemarin-kemarin lagi adaptasi jadi gak sempat main." jawab BG.


Lalu mereka berdua terlihat mengobrol, karena ayah Abel pun sudah mengenal dekat dengan BG tak terlihat ada kecanggungan.


"Ayah, Bagas mau bicara serius sama ayah."


"Hahh, ada apa."


"Hemm, begini ayah Bagas mau serius sama Abel, tidak ada pacaran tapi Bagas berniat untuk."


"Untuk apa." potong ayah.


"Meminta ijin untuk dekat sama Abel." jawab BG tegas tanpa ragu.


"Bukan kah sudah ayah ijinkan sebelumnya, ayah tidak pernah melarang kalian. Tapi apa benar kalian tidak berpacaran."


"Tidak ayah, kami hanya dekat inginnya Bagas sih mengikat Abel."


"Hahh, maksud kamu."


"Bertunangan, Abel banyak yang mendekati ayah, jadi was-was kan, Bagas juga sudah bicara sama mama Bagas."


"Terus orang tuamu gimana." tanya ayah lagi.


"Siapa yang akan menolak pesona Arabella sih ayah."


"Hahahhahh, jadi mau Bagas gimana."


"Kalau memang ayah setuju jika kami bertunangan maka Bagas akan ajak mama sama papa kesini, bukankah ayah melarang Abel untuk pacaran makanya Bagas mau mengikat saja kami akan tetap melanjutkan pendidikan." jelas BG, ayah Abel hanya manggut-manggut.


Memang benar ayah Abel melarangnya untuk berpacaran, namun dengan bertunangan pun ayah masih belum terpikirkan jika sang putri sudah ada yang berniat serius.


Ayah perlu membicarakan dengan sang bunda tentunya. Ayah tak ingin salah ambil keputusan, bukan BG tak baik namun ayah berniat memberikan kebebasan pada sang putri.


Malam harinya ayah Abel menginterogasinya, kenapa BG tiba-tiba datang mrminta untuk bertunangan dengan Abel.


"Jadi nduk kenapa Bagas tiba-tiba minta bertunangan." tanya Abel saat mereka kini berada diruang keluarga termasuk ada bunda disana.


"Ehmmm, kemarin Abel sempat bertengkar sama Bagas yah, bukan tengkar salah paham maksudnya."


"Salah paham gimana." sahut bunda.


"Hahhhh, Bagas dideketin teman sekelasnya, padahal dia cuma anggap teman gak lebih teruss."


"Terus Abel marah."


"Yahh, Abel dikasih foto dia pas anter cewek itu, padahal Bagas cuma kasihan karena dia gak ada yang jemput pulang ekstra basket."


"Kasihan Bagas nya dicuekin yahh, padahal dia cuma niat baik sama teman." sahut sang bunda.


"Ihhh, bunda."


Sang ayah melihat bunda dan Abel hanya tersenyum.


"Trus kenapa tiba-tiba mintak ditunangkan." tanya ayah.


"Bagas mau ada kejelasan, Abel gak mau kalau pacaran jadi dia niat mau ngelamar, yah Abel juga gak mau masih mau sekolah. Trus Bagas bilang yaudah tunangan aja kalau gitu biar Abel terikat sama dia, ada label Bagas nya. Trus Abel bilang sana hadap ayah baru Abel jawab." jelas Abel.


"Hahahhahahha." tawa bunda pecah mendengar keluguan dua remaja itu.


"Bun..." peringat ayah.


"Jadi kenapa kok mintak tunangan, karena Abel gak mau pacaran." lanjut ayah.


"Katanya kalau udah tunangan kan udah gak ada yang bakal deketin Abel, soalnya Bagas juga udah jarang ketemu Abel, pulang sekolah Ekstra trus kadang kerja di kantor papanya."


"Ohhh ceritanya posesif juga nih sama kayak bapak mertuanya." celetuk bunda.

__ADS_1


"Bundaaaaa." teriak Abel dan Ayah kompak.


__ADS_2