
Pagi hari yang sudah dinanti para murid SMA Tunas Kelapa pun tiba. Berdoyong-doyong para murid mencari kursi duduk di Bis masing-masing sesuai dengan pembagian kursi.
Tidak dengan Abel dan BG yang masih di mobil bersama Alvin. Sesuai dengan syarat dari ayah supaya Abel bisa ikut camping adalah dengan Alvin akan tetap mendampinginya.
Untuk menuju bumi perkemahan Abel akan berangkat bersama Alvin dengan kendaraan pribadi, tidak bergabung dengan teman-teman sekelasnya.
"Nanti mas mau melapor kantor wilayah setempat yah Bell." ucap Alvin.
"Kenapa mas."
"Perintah Bapak, jaga-jaga aja. Beliau sudah hubungi petinggi Kodim setempat."
"Ngikut aja dehh mas." sahut BG yang duduk disebelah Alvin sambil membuka iPad guna mengecek pekerjaannya.
Nampak Abel memilih memejamkan mata karena perjalanan memakan waktu 1 jam lebih.
Mobil terparkir di kantor wilayah terdekat dengan bumi perkemahan, Alvin keluar dari mobil, BG pun masih nampak sibuk dengan iPad nya. Tak lama Alvin kembali dan melanjutkan perjalanan ke lokasi sekitar 10 - 15 menit lagi.
Setibanya di lokasi nampak Bis sekolah mereka sudah berjejer rapi, namun masih terlihat jika murid masih di dalam Bis.
"Tetap pake conector phone yahh Bell, karena disini susah sinyal."
"Siapp mas."
"Mas, Loe tidur dimana." tanya BG.
"Gampang, dimobil pun jadi. Abel udah bawain semprotan nyamuk kok." jawab Alvin.
"Bangun tenda juga bisa kan."
"Gampang."
BG dan Abel meninggalkan Alvin di parkiran, bergabung dengan kelompok kelas masing-masing.
Satu tenda cukup untuk 6 orang, setelah membangun tenda Abel dan kelompoknya pun segera berbenah. Satu hal yang tidak diperkenankan ikut oleh ayah Abel adalah pendakian. Karena pendakian akan beresiko karena memerlukan fisik yang kuat dan ditakutkan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Agenda camping yang dibuat Airin hanya seputar Outbound, api unggun, arena bakat dan Makrab (Malam keakraban) dimana semua murid dari kelas X sampai XII melebur menjadi satu.
Makrab sekaligus menjadi arena untuk pelepasan kakak kelas karena akan segera menjalani Ujian Nasional.
Setelah Tenda berdiri semua OSIS pun memberikan pengumuman jadwal kegiatan yang akan dilakukan beserta timingnya.
"Bell anterin ke toilet dong." ucap Nayla.
"Astagaa masih sore juga pake minta anter."
"Yaudahh ayukk." jawab Abel, lalu beranjak menuju toilet tak jauh dari tendanya. Karena toilet hanya berjumlah 6 bilik dan digunakan untuk banyak orang akhirnya dengan terpaksa mereka harus mengantri.
"Kalau gini kan mending sekalian mandi." ucap Nayla.
"Ehhh masih jam segini juga entar kegerahan lagi." jawab Abel yang masih dalam posisi mengantri.
Bipppp..
"Jangan mandi di sumber sungai, banyak Lintah." pesan Alvin tiba-tiba menghubunginya.
"Lahh mas Alvin tau dari mana."
"Udah nyobain nihh sama Bagas dan anak laki-laki juga."
"Ohhh."
Jawab Abel singkat dan sambungannya terputus.
"Kenapa Bell."
"Enggak mas Alvin telp."
"Heummm."
Setelah menuntaskan hajatnya mereka kembali ke tenda.
*
Malam Api unggun....
Malam harinya tepat pukul 7 setelah makan malam mereka berkumpul membentuk lingkaran. BG mencari keberadaan Abel ditenda namun tendanya sudah kosong, setelah berkeliling dan dari sudut matanya menemukan keberadaan Abel bersama dengan temannya BG menghampirinya. Duduk dibelakang Abel tanpa sepengetahuan darinya.
Nampak Abel sedang menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu. BG yang memperhatikan dari belakang tersenyum gemas.
"Nyariin siapa." ucap BG, sontak membuat Abel menoleh kebelakang.
"Siapaaa yahh." jawab Abel sambil menekan-nekan dagunya dengan jari telunjuknya.
"Seseorang yang tadi habis mandi disungai."
"Kann banyak tuh yang mandi disungai." sahut BG tak terpengaruh.
"Iyaaa tapi yang punya cincin couple sama aku kan cuma satu."
"Oooohhh." ucap BG sambil manggut-manggut.
Api sudah dinyalakan dan hampir sebagian besar murid sudah berkumpul, karena tempat camping ini berada didataran tinggi semakin larut hawanya semakin dingin.
"Rambutnya gerai aja." ucap BG melepaskan kuncir Abel.
Abel tak bergeming membiarkan segala perhatian dari BG, dia terus ngobrol dan bercanda dengan teman-temannya.
"Bapak kenapa ada disini, kelompok you dimana." celetuk Devan yang menyorot keberadaan BG tidak pada tempatnya.
"Tunangan gue disini."
"Kagak bakal ilang juga."
"Tuker kelompok lahh Van." sahut BG ngeyel.
"Astagaaa dragoon, masak iya sekelompok sama cewek, kagak bisa. Balik cepet."
"Potong gaji." gumam BG.
"Ohhh noooo.. please Bu Airin." teriak Devan, melenggang menuju tempat Airin.
"Iniii begimane kelanjutannya, selesaikan." lanjut Devan sambil menenteng Airin.
Sedangkan BG tetap duduk sambil terkekeh melihat Devan cemas.
"Gas, balik mau mulai ini." ucap Airin.
"Ogahhh." jawab BG sambil menarik Abel agar mendekat kearahnya.
"Omaygattt, bengal banget nihh bocah." teriak Devan, membuat BG semakin mengeratkan pelukannya.
"Balik sayang." ucap Abel lembut.
"Anterinnn." jawab BG.
"Kalok biniknya yang bilang dahh, cuzz."
__ADS_1
"Iyaaa, Hermaaannn guwe."
"Heraaaan kelees."
"Segala minta anterin. manja banget sihh anak sapee loh." sahut Fransiska.
"Kalau aku anterin trus aku balik sama siapa." tanya Abel.
"Yaa aku anter balik baby." jawab BG, semakin membuat mereka mendengkus sebal.
"Hahhh anter balik, ujung-ujungnya duduk sini lagi gitu."
"Yaaasalaaam ni bocahh."
"Goddd please."
"Sama aje bo'ong fergusooo."
"Loe anter diye balik, trus lo ngedeprokk di sini balik. Buang-buang tenaga aje."
"Hahahhahah." pecah tawa BG melihat Devan dan yang lainnya frustasi.
"Balikk." ucap Abel.
"Okeehhh." jawab BG lalu dia membuat kehebohan.
Cuppp.. sang Bagaskara mendaratkan bibirnya di pipi Abel.
"Aaaakkkh, Bagas siyalan."
"Speechless gue."
"Tidaaak mata gue."
"Astaga dragon si bapak kagak kesihan sama kita-kita yang jomblo."
Sahutan dari teman-temannya membuat Abel semakin malu, pipinya terasa panas.
Acara api unggun dimulai dengan berdoa bersama untuk kakak kelas yang akan menghadapi ujian dan juga mendengarkan pengarahan dari kepala sekolah. Selama kegiatan api unggun berlangsung mata BG tak lepas dari mencari sosok Abel. Dia harus bertanggung jawab atas Abel semenjak dia meminta ijin dari ayahnya.
Keesokan harinya setelah Sarapan pagi pukul sembilan mereka harus berkumpul untuk mengikuti kegiatan outbound.
"Ayookk guys berkumpul sesuai kelas masing-masing yah, jangan sampai menyusup ke kelas lain." Celetuk Devan, BG yang merasa disindir pun terkekeh ditempatnya.
"Hafal dia. Hahahaha." ceplos Riki ikut menimpali celetukan dari Devan.
Didalam kegiatan outbound ini kan menunjukkan kekompakan masing-masing kelas.
"Jadi games dalam outbound kali ini yaitu Scavenger Hunt (atau perburuan barang) tiap kelas ada target masing-masing nanti akan kami bagikan ke ketua kelas masing-masing." jelas salah satu anggota OSIS.
"Interupsi.." Fransiska mengacungkan tangan.
"Ketua kelas kita ada dipihak kalian kalo kalian lupa." celetuk Fransiska, sontak membuat para murid tertawa karena keberaniannya menyampaikan pendapat.
Angga yang merasa dibahas pun ikut tertawa dengan kelakuan teman sekelasnya itu.
"Buaakkkakkak."
"Hhahahhahhh."
"Aduuuhhh duhh kocak banget dahh."
"Hehhh, bisa-bisanya loe protes." jawab Devan.
Sedangkan Abel dan teman-teman yang lainnya merasa malu karena menjadi pusat perhatian.
"Kelas Unggulan anaknya kocak-kocak banget."
"Yaa ampun malu gue."
"Ehhhmm ekhemmm." dehem Airin meredakan tawanya.
"Pppffffttt Aduuh ya ampunn, Ekhhemmm.. jadi yahh.. Hahahah.. Aduhh maaf.. untuk kelas XI IPA 1 silahkan sementara diganti dengan Wakil ketua kelasnya dulu." ucap Airin sambil mengelap air mata yang keluar karena terlalu terbahak.
"Hehhh, loe amnesia yahh. Wakil kita juga disitu asal to tau." jawab Fransiska.
"Buaakakkakakakak."
"Nasibbb, punya temen gini banget sihh."
"Lahiyaaa donnk."
"Upppss.. iyaa lohh." Devan pun sadar.
"Kesihannn terlantar."
"Yasudah begini saja, kalian voting untuk ketua pengganti, gimana." potong Angga.
"Aseemm loe Ngga, gak bertanggung jawab." gumam Nia.
"Baiklah maju ketua kelasnya masing-masing berdiri didepan kelompoknya." ucap Devan.
Hingga semua ketua kelas lainnya berdiri di depan kelompoknya tidak dengan kelas Abel.
"XI IPA 1, mana penggantinya." ucap Devan sambil berdiri didepan kelas.
"Woee yang cowok maju gihh salah satu." teriak Fransiska.
"Gama, Adit." teriak Devan.
"Ogahhh."
"Gue anak buah aja."
"Hahhhh.." Devan menghela nafas.
"Miko, Fandy, Roland."
"Heyyy kalian laki apa cewek sihh, maju salah satu aelahhhh ribet bocah pada." ucap Fransiska.
"Ayoo dong maju."
"Kagak ada yang maju nihh."
"Urusan makan aja loe maju duluan."
"Bell, loe aja dehh." bisik Devan.
"Hahh nggak mau." jawab Abel.
"Ayolahh Bell, cuma otak loe doang yang waras." jawab Devan.
"Truss kita-kita kagak gitu."
"Yaa enggak utuh warasnya ahhahahahahha." celetuk Devan.
"maju gih Bell." ucap Nayla sambil mendorongnya ke depan.
__ADS_1
Akhirnya Abel yang maju dia sempat menoleh kearah BG, yang juga sedari tadi memperhatikan nya.
"Ahhh ya ampun gue lupa lakiknya, Mampusss dahh." ucap Devan sambil menepok jidatnya, lalu melenggang menuju ketempat OSIS.
"Okeeyy baiklah, silahkan dibagikan petunjuk gamesnya. Jika ada yang bingung silahkan ditanyakan." jelas Airin.
Sejenak Abel membaca kertas petunjuk mencoba memahaminya. Tak lama Abel mengangkat tangan interupsi. Pihak OSIS mempersilahkan Abel.
"Tolong dijelaskan pada games mine field, Ranjau yang bagaimana itu, kemudian di point target grup jika tidak didapati bendera kelas dilokasi kemana kita akan mencari karena tidak ada point penjelasan. Dan untuk yang human knots ini apakah dilakukan disaat kita hunting target atau bagaimana mohon penjelasannya." papar Abel, sedangkan pihak OSIS menganga mendapat pertanyaan dari Abel.
"Bell, please loe kritisnya jangan sekarang kita kagak lagi pelajaran." jawab Devan.
"Mampuuusss loe."
"Hahahhaha, syukurin."
"Belum-belum sudah dibikin ribet kan sama Abel kita."
"Lahiyaaa dong gak teliti gue."
"Cerdaaas."
Sementara itu BG terkekeh, sang tunangan sungguh cermat dalam segala hal.
"Gas, entar loe jadi lakiknya kudu was-was loe, teliti banget cewek loe sumpah." celetuk teman sekelas BG.
Dengan segala ketelitian Abel mau tidak mau membuat panitia kegiatan pun menjelaskan rinci kegiatan. Games dimulai, Abel memimpin kelompoknya dengan teknik dan strategi yang sudah dia pikirkan.
Dengan membagi kelompok menjadi tiga, lalu menjelaskan tugasnya masing-masing tanpa ada yang protes. Lima kelas pertama yang dapat menyelesaikan tugas pertama akan melanjutkan ke tugas selanjutnya hingga menyisakan dua kelas terakhir.
Tugas pertama kelas Abel menjadi kelas pertama yang menyelesaikan tugas tercepat. Disusul XII IPA1, X1, XI IPS1, XI IPA4. Lima kelas tercepat bergabung menjadi satu, kelas yang lainnya akan menjadi penonton kelanjutan games.
"Baiklah istirahat dulu yahh 10 menit." ucap Panitia.
"Yaiyalah dikira robot kagak capek apa."
"10 menit doang sihhhk.
Disaat semua sedang beristirahat tidak dengan kelas Abel karena mereka yang selesai duluan otomatis mereka sudah mendapat istirahat diawal. Kini mereka bahkan sedang berdiskusi tentang games kedua.
"Bell, hati-hati yahh yang ini."
"Hemmm, jang sampek luka loe."
"Yeess, bisa ngamook si bambang."
Abel hanya tersenyum tak menggubris celetukan temannya.
BG menghampiri Abel, memastikan dia baik-baik saja. Temannya Abel menyadari kedatangan BG pun mengkode Abel.
"Amann kan." tanya BG, Abel merespon dengan anggukan. BG mendekat lalu melepas kunciran Abel, mengumpulkan rambutnya dengan teliti lalu mengikat kembali rambutnya. Mereka yang memperhatikan perlakuan BG pada Abel pun melongo.
"Loe kerja jadi hairstylist Gas."
"Mleyooot guehhh."
"Stylist khusus Abel doang." jawab BG santai.
*
*The Mine Field (Ladang ranjau)*
Pada games ini BG memperingati Abel untuk berhati-hati, meskipun bukan ranjau betulan namun jika tak hati-hati bisa bisa terperosok. Karena ranjau yang dimaksud adalah lubang yang dipersiapkan untuk menghentikan permainan bagi kelompok sehingga menyisakan kelas yang mampu menghindari ranjau darat.
Dalam games ini, hanya 10 orang yang diturunkan dan pemenang akhir adalah dengan jumlah sisa team terbanyak. Kelas Abel mendapatkan urutan terakhir, 5 kelompok yang bermain berada dalam 1 tenda yang disediakan agar tak bisa menebak lokasi ranjau yang sudah di eksekusi oleh kelompok berikutnya.
Kelompok kelas Bagas menyisakan 6 orang 4 orang terkena Ranjau menjadi pemimpin sementara dengan sisa anak terbanyak, kini giliran kelompok Abel. Gama, Adit, Miko, Roland, Fransiska, Dania melesat aman dari ranjau, tidak dengan Angel, dan Nayla mereka terperosok karena tumpuan titian yang mereka injak merupakan ranjau.
Nia maju pelan hendak melangkah namun tak lupa dia berdoa.
"Bismikalloh humma ahyaaa....."
"Ituu doa tidur Goblock."
"Hehhh mau tidor loe."
"Loe kira ini kasur sampek2 doa mau tidur."
"Bisa-bisanya yahhh.
"Bikin malu nihh si Nia."
Nia melangkah, di titian tengah ternyata dia menginjak Ranjau yang menyebabkan dia terjerembab.
"Akhhhhhh, mamaaaaaa." teriak Nia.
"Astogeeee dahsyat teriakannya."
Menyisakan Abel, dia berjalan sambil menyipitkan kedepan tempat games, tak ada perbedaan mana yang ada dan tidak ada ranjau pure hoki lahh disini.
Ditempatnya BG sedikit was-was Abel tergolong gadis yang penuh kelembutan, games seperti ini tak cocok untuknya.
"Ayooo Abel semangat." teriak Fransiska.
Abel mengangguk penuh keyakinan, Titian pertama, kedua lolos hingga titian terakhir.
"Yang ini harus lari deh kayaknya." desis lirih Abel.
"Giliran Abel kenapa begitu menegangkan yahh."
BG dan Alvin mengawasi dari kejauhan.
Abel berlari kecil, lalu mempercepat larinya dibalok terakhir yang dia injak ambles hampir terjerembab namun Abel dengan cepat menumpukan dibalok berikutnya lalu dia melompat.
"Aaahhhhkkkk." Abel berhasil mencapai papan tumpuan finish, mendarat dengan tidak sempurna dengan menggelinding.
"Astagggaaa."
"Yeeey Abel hebat."
Abel memperbaiki posisinya bangun dari posisi terjatuh, dia merasa puas bisa sampai di finish, meskipun ada sedikit nyeri mungkin ada yang lecet karena terjatuh. Teman sekelompok mendekati Abel memastikan kondisinya.
"Haduhh, gimana bisa ngadepin cowoknya ini." celetuk Nia.
"Tadi kenapa maksa bertahan sihh Bell."
"Sumpahh loehh hebat sihh."
Sanjungan dari teman-temannya, Abel hanya bisa tersenyum karena dalam otaknya dia berfikir bagaimana respon BG melihatnya terjatuh.
"Amann kok." Sahut Abel.
Grepppp...
"You're the best, tangguh gak salah jadi anak ayah." ucap BG sambil memeluknya, sambil mengusap kepala Abel.
Diluar dugaan ternyata sang Bagaskara memberikan pujian pada Abel tanpa membahas kejadian yang membuatnya harus terjatuh dulu. Lalu BG membawa Abel untuk mengobati luka disiku dan tangannya akibat gesekan dengan papan tumpuan. Semakin gak paham dengan sikap BG, kadang overprotektif, tengil, manja, Menyebalkan, hingga perlakuan yang manis pada Abel.
__ADS_1