Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Angga yang Malang


__ADS_3

"Sialannnn rasain Loe Angga."


"Nihhh mamammmm."


Baghhhh Bughhhhh..


Dekka dan Cindy memukulkan tas dan bukunya tanpa ampun. Bertubi-tubi kemalangan Angga hari ini, mungkin badannya akan kerasa remuk redam.


"Astaggaaa.."


"Yaampun kasihan banget."


"Sayang kamu kok diam aja sihh." ucap Abel menyadarkan BG yang masih memandang kedua wanita tanpa belas kasih itu.


"Heii.. hei stop."


"Woyyy udah woy kesian."


"Udahh yahh udah babak belur nih anak."


"Uhuuukk... uhuuukk." suara Angga terbatuk-batuk tak mampu menghentikan kebringasan Dekka dan Cindy.


BG membantu Angga menjauhkan diri betina yang bar-bar itu, sementara Kevin dan Riki sudah menyisihkan Dekka dan Cindy. Memang mereka masih belum tahu masalah berat apa yang menimpa Angga.


"Udah beib tenang dulu, kita gak tau ada apa dengan Angga." ucap Riki menenangkan Dekka, meskipun Kevin pun masih diliputi emosi namun dia merasa kasihan pada Angga saat para gadis memukulinya tanpa ampun.


"Ayo bawa ke apartemen gue, biar gak jadi tontonan kita." ucap BG, Kevin dan Riki mengangkat Angga membantunya berjalan.


Bippp...


Abel mendapatkan panggilan dari sang ajudan.


"Tadi ada telp mas Al."


"Heummm, nanya lokasi kamu."


"Trus."


"Enggak bilang apa-apa karena kamu gak kirim SOS ke dia." jelas BG, Abel pun mengangguk.


Abel pun mengangkat panggilan itu setelah mendapat jawaban dari BG.

__ADS_1


"Yaa mas."


"Kamu udah ketemu Bagas."


"Sudah mas, tadi emang lagi ada perlu."


"Ohhh yasudah kalau gitu."


Klik..


Setibanya di apartemen BG yang kini sudah berubah menjadi basecamp mereka, Riki dan Kevin yang bertugas memapah Angga menuju unit milik BG.


Sedangkan Abel sudah menyiapkan peralatan medis untuk mengobati luka-luka Angga. Dekka dan Cindy bertugas sebagai seksi konsumsi, mereka seolah sudah terorganisir hari ini.


Digrup chat Kevin sudah memberitahu kan informasi keberadaan Angga, mahkluk yang selama ini dicari-cari.


Duduk bersama mereka berenam bermaksud untuk mengorek masalah pribadi Angga yang menyebabkan kepergian Airin.


"So, what happened with you buddy." tanya BG membuka percakapan mereka, nampak Abel sembari mengobati nya. Mengalir lah cerita dari seorang Anggada.


"Papaku ketahuan selingkuh dengan sekertaris nya." satu bait kalimat mendarat namun Angga seolah mengorek luka lama, nampak raut sedih yang mendalam.


"Mamaaa.... mama terpuruk bahkan depresi hingga dirawat oleh psikiater sampai sekarang. Sungguh gue juga bingung saat itu mama yang tiba-tiba seperti itu tanpa gue tau ada apa. Dannn..,kenyataan bahwa papa selingkuh udah bikin gue Doble down."


Slurrrppppp... Terdengar isakan dari para gadis yang menangis dalam diam. Bahkan Abel sudah tak kuasa menahan rasa sedihnya hingga memilih menyembunyikan diperlukan BG.


"Gue panik dan bingung mau gak mau gue fokus ke kesehatan mama, disitulah keluarga mama menyuruh kita untuk pulang dan merawat mama. Oke satu solusi gue dapet, tapi dimana saat gue tau papa gue udah gak mau nafkahin mama, disaat itulah gue berjuang setengah mati untuk pengobatan mama dan kelanjutan hidup kita berdua." Hingga saat ini tak ada yang menyela sedikitpun.


"Kalian tau terakhir kali gue datang ke sekolah, itulah hari dimana mama mencoba bunuh diri dengan menyayat tangannya. Semenjak saat itu gak pernah semenit pun gue tinggalin nyokap. Setelah terapi hampir enam bulan gue baru bisa lepas mama dan mulai ujian paket C, karena gue pindah sekolah pun nggak mungkin ninggalin mama dengan kondisi seperti itu."


"Saat itu mama prioritas gue, nothing else matters besides my mom. Apa menurut kalian gue saat itu egois, kalau gue egois gue pasti bakalan nyesel kehilangan orang tua gue satu-satunya."


"Gue gak tau Bro, harus ngomong gimana. Karena kalau gue diposisi Loe saat itu gue mungkin gak tau harus gimana juga." ucap BG menenangkan Angga.


"Yasalammmm... banyak bombay nya sihhhkk." celetuk Kevin sambil menyeka air matanya.


"Gue tinggal nyamperin ke sekolah waktu itu di pikiran mama gue pergi ninggalin dia."


"Nggaaaaa... " ucap Cindy menggema membuat yang lain sontak menoleh kearahnya.


"Gue baru kali ini dengar Loe ngomong panjang kali lebar kali tinggi." celetuk Cindy mengurai suasana membuat Dekka berdecak.

__ADS_1


"Teruuuss, Gi gimana mama ka kamu sekarang." ucap Abel terbata, sambil menghapus air matanya dengan tisue.


"Masih pantauan psikiater."


"Loe tinggal gini aman kan." sela BG, Angga pun mengangguk.


"Sebulan yang lalu dia mulai sadar, entah kenapa dia tanya in Airin. Sorry bahkan ponsel udah gue jual buat biaya pengobatan nyokap, gue gak ada niatan menghilang dari kalian." jelas Angga, sahabat didepannya pun paham maksudnya, tak terasa sudah sejam lamanya bercerita.


"Loe tinggal dimana, masih dikeluarga nyokap Loe." tanya Riki, Angga pun mengangguk.


"Trus rencana Loe gimana." tanya BG bahkan Angga terdiam, sepertinya dia juga belum ada kepikiran tujuan nya kedepan.


"Gue gak tau."


"Loe ada kerja." Tanya Riki, Angga menggeleng lalu menjelaskan jika dia hidup dari hasil jual barang-barang berharga yang dibawa termasuk mobil, perhiasan dan ponsel.


"Loe tanya BG gih siapa tau dia punya solusi." sela Kevin, Riki pun mengamini ucapan Kevin karena kini BG sedang membawa Abel yang tertidur ke kamar, mungkin karena lelah terlalu banyak menangis.


"Cin, Loe temenin Abel sana mata Loe udah tinggal setengah Watt tau nggak." ucap Dekka, Cindy pun beranjak tak lama BG pun sudah bergabung dengan yang lainnya.


"Dimana Airin." satu pertanyaan Angga membuat mereka bungkam, yang berhak menjelaskan tentang Airin hanya Abel seorang.


"Gue gak ada hak untuk mengatakan Ngga, itu tunggu Abel." jawab BG, Angga setengah mengangguk pun setengah Ling Lung.


"Kalau tujuan Loe nyari Airin buat mama Loe... Baiknya Loe jawab lain waktu kalian bisa ketemu." lanjut BG ambigu.


"Sebenarnya Airin kuliah diluar negeri." sela Dekka, karena penjelasan BG membuat Angga bingung.


"Jang Loe tanya kenapa dia pergi." potong Kevin ketus.


"Gue tau gue salah."


"Kalau pengobatan mama Loe udah kelar ajak balik kesini, sewa apartemen disini Loe bisa kuliah ditempat kita." ucap BG.


"Mana ada duit gue buat kuliah sama sewa apartemen."


"Loe bisa ikut program beasiswa, dan Loe bisa mulai kerja mau di cafe atau di perusahaan gue kalau Loe mau." jawab BG, mendengarnya seolah angin surga untuk Angga.


"Semangat bro gue yakin Loe bisa bangkit." ucap Riki.


"Yok, tunjukin ke bokap Loe hidup gak melulu tentang aduhainya goyangan sekertaris." celetuk Kevin membuat BG dan Kevin berdecak untung hanya ada Dekka yang mendengar kefrontalan Kevin.

__ADS_1


__ADS_2