Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Kayla's End game


__ADS_3

Abella Pov


Setelah menghadapi berbagai macam cobaan, canda tawa, duka lara, susah senang bersama. Hingga ujung dari segala kesedihanku usai. Dua hari setelah Bagas berada di rumah sakit, aku hari ini datang untuk mengantarkan pulang dari rumah sakit.


Aku mengatakan pada mas Alvin untuk meninggalkanku dirumah sakit karena nanti akan ada sopir Bagas yang mengantarkan.


Aku bergegas masuk kedalam rumah sakit, tak lupa aku mengabarkan pada mama Mia jika aku sudah berada di RS. Saat di lorong dekat dengan ruangan Bagas, aku bersisipan dengan seroang perempuan paruh baya baru keluar dari ruangan Kayla. Aku tak menyapa mungkin saja itu ibu dari Kayla. Aku sudah meyakinkan diriku jika aku tak ingin berurusan lagi dengannya.


Semakin mendekat nampaknya dia menyadari keberadaanku. Aku tetap berjalan dengan langkah pasti, sempat kulihat dia seperti tengah berfikir meyakinkan dirinya. Aku tersenyum menyapa walaupun aku bersitegang dengan anaknya bukan berarti aku lampiaskan pada orang tuanya.


Dia tak berbalas senyum, wajahnya nampak Datar, Pikirku ohh anaknya mungkin gambaran dari ibunya. Tak kuperdulikan segera aku berjalan cepat untuk menuju kamar Bagas yang berjarak 3-4 blok kamar.


Namun setelah aku benar-benar melewatinya sayup-sayup ku dengar dia berbicara.


"Percuma pilih yang cantik tapi gak ada sopannya."


Nampak jelas walaupun sangat pelan, aku masih bisa mendengarnya. Ohh dia masih mencoba menghardik keberadaanku untuk Bagas. Yasudah lah jodoh Tuhan yang mengatur.


Aku masuk kedalam kamar perawatan Bagas, sebelumnya aku ketuk pintu setelah terdengar suara mama menyahut aku pun masuk kedalam. Kulihat tunanganku itu tersenyum melihat kedatanganku. Hahhhh suasana hatiku berubah seketika. Musnah sudah sakit hatiku mendengar ucapan emak-emak tadi.


Okayy lets start our beginning, Happiness forever.


Abella Pov Off


*


"Assalamualaikum." ucap Abel setibanya dikamar BG, melihat Abel datang sontak BG sumringah.


"Kok lama sih."


"Haaahh." ucap Abel tak paham.


Sang mama yang tahu maksud anaknya pun menimpalinya.


"Anak mama gini amat yah, ini juga masih jam 8 pagi Abel udah disini katanya lama."


"Yahh kan dari kemarin sore ma." jawab BG, Abel duduk di kursi pengunjung.


"Kok disitu, sini." ucap BG sambil menepuk kasur pasien sebelahnya.


"Mintak digetok pala anak mama ini." sahut mama BG.


"Apaa sihh ma."


"Kamu yang rewel banget, kan bisa aja kamu nyamperin Abel kenapa mintak Abel yang kesitu." jawab mama BG, sebal menghadapi tengilnya BG.


Akhirnya BG pun turun dari Bed, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang tunangan. Abel pun refleks mengusap kepala BG bak menimang adiknya Arkana.


"Kok jadi kek Arkana dielus begini baby." ucap BG.


"Iyaa karena kamu Arkana versi jumbo." jawab Abel diikuti tawa menggelegar dari mama BG.


"Hahahhahah."


BG tak marah karena memang pada dasarnya dia menyadari jika dirinya akan manja mode on pada Abel jika sudah bersamanya.


"Lohh Abel udah datang." ucap papa BG yang baru keluar dari kamar mandi.


"Baru saja pa, tuhh langsung ditempel sama anak papa." jawab mama sambil menyiapkan sarapan untuk papa.


"ayo sini gabung sarapan." ucap Papa BG.


"Abel sudah sarapan sebelum berangkat pa, ehmm biar Abel suapin Bagas aja." jawab Abel.


"Asikkk." sorak senang BG mendengar ucapan Abel.


"Hemmm, manja banget anak papa."


"Cuma sama Abel ini, lagian entar kalau Bagas manja sama mama entar papa marah." sahut Bagas.


"Jangan coba-coba." jawab Papa BG.


Mama BG dan Abel pun tersenyum menanggapi kedua lelaki itu. Sembari menyuapinya Abel pun bertanya pada BG.


"Bagas."


"Hemmm, kenapa baby."


"Ehmmm, orang tua Kayla sudah datang yah." tanya Abel hati-hati.


"Hemmb, kata mama sudah. Kenapa emangnya."


"Ohhh, enggak." jawab Abel lalu dia mengalihkan pembicaraan saat mama Mia mendekat.

__ADS_1


"Sayang nihh, tadi mama belikan jus alpukat kesukaan kamu." ucap mama BG sambil menyodorkan gelas pada Abel.


"Makasih ma."


"sama-sama sayang."


"Punya Bagas mana ma." tanya BG.


"Biar Abel yang ambil ma." cegah Abel saat mama BG akan beranjak.


"Makasih yah sayang."


Mama BG berbinar, melihat Abel sangat perhatian pada anaknya, rasanya dia tak salah pilih pasangan untuk Bagaskara.


Melihat ketelatenan Abel pada Bagas, juga perhatian- perhatian kecil darinya membuat mama Mia tersenyum lega.


Setelah dokter visite sekaligus mengurus administrasi kepulangan mama Mia dan Abel segera membereskan barang- barangnya dibantu sopir keluarga BG.


Saat berjalan keluar dari kamar rawatnya mereka berpapasan dengan ibu-ibu yang Abel temui tadi pagi.


"Lohh jeng sudah pulang anaknya." ucap ibu itu.


"Ohiyya mbak, alhamdulilah bisa dirawat jalan. Kebetulan juga ada tunangannya yang bisa merawatnya." jawab mama BG.


"Kayla kan juga bisa seharusnya. Tapi sekarang jadi cacat."


"Yaa karena siapa dia cacat, maaf yah mbak Sofi saya tidak mau emosi siang- siang." jawab mama BG, sedikit tersungut pada ucapan Sofi ibu Kayla.


"Itu karena anak jeng Mia meninggalkan anak saya. Jadinya dia khilaf."


"Whatt khilaf kata mbak Sofi. Hemm, dengar yahh yang pergi lama dari sini itu siapa, dan kenapa balik-balik anak mbak bikin masalah. Sekarang anda bilang khilaf, luar biasa cerdas sekali anda." jawab Mama BG.


"Maaa." potong Abel, mama Mia pun menoleh kearahnya lalu mengangguk.


"Saya rasa sudah cukup masalah yang dibuat oleh Kayla, jadi saya mohon dengan sangat saya tidak mau ada lagi ulahnya yang membuat kepala saya sakit. Dan tolong mbak Sofi bawa kembali anak kesayangan mbak itu. Terima kasih." lanjut mama BG lalu mereka pun bergegas keluar dari rumah sakit. Sedangkan ibu Kayla masih berdiri tercengang dengan ucapan dari mama BG.


Sore harinya Abel sudah bersiap-siap setelah membantu mama Mia menyiapkan makanan, minuman dan camilan untuk menyambut kedatangan teman-teman nya.


Yaa, setelah pasti keluar dari rumah sakit para sahabat dan teman-teman berencana untuk menjenguk BG. Mama BG pun sangat senang menyambut kedatangan teman Bagas.


"Assalamualaikum."


"We are coming."


"Ehh sudah pada datang yuk masuk." sapa mama BG.


"Iyaa tante."


"makasih tante."


Para sahabat dan temannya datang tak bersamaan, hanya beberapa dari mereka yang mengatakan tak bisa datang.


"Dah sehat Gas." tanya Fransiska


"Udahh nihh."


"Sorry yah gak bisa jenguk pas di RS." ucap Gama.


"Iyaa gapapa Gam."


"Ehh Nia mana yahh." tanya Airin.


"Tadi sih sama Devan berangkatnya." jawab Siska.


"Hahhh."


"Hemmmb, bau-bau PJ besok." Potong Gama.


Tukkkk,.


Airin menjitak keras Gama, membuat sang empunya meringis.


"Ishhh sakit Rin."


"Situ juga kudu PJ jang pura-pura begok bin tolol." sela Angga.


"Dua hari gak masuk gue ketinggalan banyak nihh." celetuk BG.


"Ya ampun cewek sama cowoknya kompak, saling melengkapi." sahut Gama pada Airin dan Angga, membuat semuanya tergelak.


"Baby, Dekka jadi kesini kan."


"Heumm, Masih dijemput Kevin dari rumah Metta, Riki masih di Cafe entar nyusul. Cindy otewe sama Wira." jawab Abel.

__ADS_1


"Ituu si Kevin lagi pedekate sama Metta Bell." tanya Fransiska.


"Entahlahh, gak jelas mereka itu gimana." jawab Abel.


"Metta nya nutup diri dari Kevin, sejak dia sakit udah gak galakin Kevin sihh malah kek ngehindar, kalau kata gue iyaa nggak sihh." ucap Fransiska.


"Haahhhh."


"Hemmb, kelihatan banget. Kevin perhatian tapi Metta nya ngindarin gitu." sahut Airin.


Obrolan para gadis didengarkan saja oleh para lelaki.


"Menurut Abel gimana sayang." tanya BG, Abel menggeleng pelan.


"Metta memang tertutup banget sejak habis operasi. Tapi aku cuma berdoa buat kebaikan mereka berdua, entah mereka bisa bersama atau mereka hanya ditakdirkan berdampingan sebagai teman saja. Kita tidak bisa memaksakan perasaan Metta, kita juga enggak tahu apa yang Metta pikirkan." jelas Abel, membuat mereka yang mendengarkan setuju.


Tak lama mereka pun berdatangan, rombongan Kevin yang menjadi topik, Cindy dan Wira, disusul Devan dan Nia.


"Haii semua, maaf yah telat."


"Haii."


"Yukk, masuk."


Mereka segera bergabung dengan yang lainnya, Moment berkumpul walau dalam tema yang beda.


"Si Kayla udah didepak dari Indonesia kan."


"Lahiyaaa udah dideportasi kan."


"Entahh lah masih dirawat dia."


"Kalian ini ngapain tanyai bocah sableng." potong Devan.


"Gak boleh gitu, justru dengan kejadian kemarin itu buat kita sekarang berkumpul, kalau enggak kan mungkin sekarang pada tidur." sela Abel.


"Iyaa sihh."


"Tapi dia kan bencana buat loe Bell."


"Aku anggap bencana ini sebagai berkah, karena dengan kejadian selama ini aku belajar sabar, belajar mengartikan sebuah hubungan itu jika bisa dipertahankan maka perjuangkan. Dont ever leave in a bad mood. Menyelesaikan permasalahan dengan tidak mengabaikan. Aku banyak belajar dari Kayla, kenapa harus ditinggalkan jika kita masih berharap, even jodoh memang ditangan Tuhan. But kita juga harus berusaha. Hanya satu yang aku sepakat dari Kayla." ucap Abel terpotong.


"Apa.." kompak mereka bertanya.


"Aku bersyukur dengan kepergian Kayla saat itu, karenaaaa aku bisa bersatu dengan Bagas di saat ini." jelas Abel.


"Ahhh i see..


"Yaa iyaa sihh."


"Nahh lohh, trus loe Van udah official nggak sama Nia." cecar Fransiska sedangkan kedua orang itu mendadak pura-pura budeg.


"Apaan sihh Sis."


"Yee kamprett."


"Hahahahhhh." tawa Fransiska menggelegar.


"Kok loe mau sih Gam sama Siska." tanya Devan mengalihkan pembicaraan.


"Justru itu, hidup keras kita butuh pendamping yang keras." jawab Gama.


"Dihh ogahh, Abel gue terbaik." ceplos BG sambil memeluk Abel dari samping.


"Iyeee- iyee Abel mahh beda."


"Gue gak butuh yang keras yang kayak gini cukup." sahut Wira.


Mereka pun melanjutkan canda tawa hingga semua berkumpul, dengan bergabungnya Riki diantara mereka.


Setelah para temannya kembali keperadapan, tinggalah kini Abel dan BG berada di taman sambil menunggu Alvin menjemputnya.


"Aku seneng banget sampai didetik ini." ucap Abel.


"Mee too, aku juga bersyukur banget sayang." jawab BG, ia menggenggam erat jemari Abel.


"Berjanjilah baby, tetap sabar dan bertahan padaku. Kamu adalah jalanku untuk pulang. You're my Home." ucap BG.


"I'm promise."


Sang Bagaskara mendekap Arabellanya, seolah tak ingin ada hari esok. Mengharapkan waktu tak akan pernah berakhir tanpa ada Arabella disisinya.


Masih di Putih Abu-abu

__ADS_1


__ADS_2