
"Loe begok, bilang aja sama mama loe sapa tau bisa bantu masalah kalian ini." jelas Metta.
"Bener sihh, kan mama loe bilang mantunya Abel, ngapain si Kayla ngebett banget."
Dua kalimat yang muncul dari bibir para sahabatnya, menampar telak Abel. Kenapa tak ia coba meminta pendapat mama BG, takut kala dia kalut dalam mengambil keputusan.
"Halo Ma, ini Riki."
"Bagasnya mana Riki, mama telpon dari kemarin enggak angkat. Abel juga ponselnya gak aktif."
"Ehhh ada kok ma, Bagas agak meriang katanya makanya enggak megang Hp."
"Benerannn, mereka enggak berantem kan."
Ucapan mama BG terdengar seluruh ruangan, karena Riki telah meloudspeak Hapenya.
Seisi ruangan terkejut bagaimana bisa mama BG menyimpulkan begitu, apa mama BG seorang cenayang sehingga bisa meramal.
"Kenapa mama bilang begitu. Enggak kok ma, ini malah dirumah Abel."
"Lahh nyambung sama emaknya." gumam Kevin.
"Abel telepati mamanya BG kali." sahut Devan.
"Iyaa firasatnya kuat banget lohh sama mantunya." sela Wira.
"Heyy anak buah Cupat Kai, Ya jelas nyambung Abel tuh jodohnya BG. Lahh yang brojolin emaknya BG." potong Metta.
"Sembarangan, ganteng- ganteng gini dibilang anak cupat kai." sahut Kevin.
"Kamu gak boongin mama kan, awas yahh sampai bohong mama sunat lagi entar."
"Uaduhhhh." sahut Kevin bahkan sudah memegangi celananya membayangkan ancaman mama BG, bahkan Dekka pun sampai terbengong.
"Pffffftt." diantara mereka bahkan menahan tawanya agar tak terdengar oleh mama BG.
"YA jangan dong ma, aset negara ini mahh. Entar pacar Riki kabur sama cowok lain."
"Yasudah mama gak mau tahu nanti kamu bilang Abel atau Bagas suruh telp mama balik. Okey.. sampai 15 menit gak telpon mama. Mama datangin kesana."
"Huaaa, okeyy ma."
Mama BG sekali ancam membuat keringat di dahi Riki bercokol sebiji jagung.
"Bussett dahh nyonya senior tajem dahh feellingnya." celetuk Riki sambil mengusap keringatnya.
"Gihh Bell telpon balik."
"Iyess, sebelum lontong Riki dilenyapkan Nyonya Hermawan." ceplos Devan.
__ADS_1
"Ngomong kasar lagi gie tebas mulut kalian." potong BG.
"Gak anak gak emak sama nyereminn." sahut Metta.
"Bodookkkhh."
Abel menggelengkan kepalanya mendengar ocehan absurb lelaki yang dia sayangi itu, lalu mengaktifkan ponselnya dan menghubungi mama BG segera.
"Mama gue sekali ancen Tembok besar China runtuh dahh." gumam BG.
"Hallo ma. Assalamualaikum." sapa Abel lembut.
"Waalaikumsalam mantu mama kemana aja sihh."
"Ehmmm, dirumah ma. Abel gak sempat ngecharger hape. Maaf yah mama."
"Gak papa sayang, you okey. Mama kok dapat firasat gak enak agak melow. Abel nangis terus."
"Hahhhhh." ucap teman Abel kompak, bahkan Riki dan lainnya pun ikut tercengang.
"Bener kan emaknya nyambung." sahut Kevin, sementara BG tak bergeming.
"Mama, Abel baik kok. Mungkin Abel lagi kangen ayah bunda 2 minggu di Jakarta."
"Oalaaahh iyaa deh, mantu mama mana mungkin bohongin mama yah kan."
Abel memandang keseluruh temannya termasuk sang tunangan. Alvin dan Nina mengkodenya untuk jujur.
Abel pun dengan terpaksa mengatakan semua keributan yang terjadi, tak ada reaksi dari sang mama mertua kecuali berpesan.
"Tunggu mama pulang yahh sayang, kamu gak perlu ngapa-ngapain."
"Iyaa mama."
Balada Abel Bagas x Kayla sungguh terlalu ruwet, hanya karena gadis yang memiliki obsesi tinggi terhadap seorang Bagaskara.
"Lagian udah bagus di kampung juga ngapain pake balik sihh." celetuk Metta.
"Hehh, dia tuh di Ausie keles."
"Iyaa, sama aja kampungnya para bule kan." jawab Metta.
"Tinggal di LN tapi kelakuan ndeso kan sayang banget." sela Dekka.
Abel tak menghiraukan dia hanya memikirkan apa yang akan mama BG lakukan dengan masalahnya ini, Abel beranjak menuju kamarnya hendak membersihkan badan setelah perjalanan perenungan nya.
"Sana urus cowok loe Bell." bisik Dekka, setelah melihat Abel keluar dari kamarnya.
"Anak-anak kemana, kok sepi."
__ADS_1
"Metta sama Cindy pulang sisanya pada ngecheck kafe." jawab Dekka, mereka berdua turun menghampiri BG yang sedang tiduran diruang keluarga sambil menonton TV.
"Gimana ceritanya bisa mogok makan." tanya Abel yang duduk disebelah BG.
"Haruskah ku jawab." BG menjeda ucapannya "Hemm, dimana ada cahaya di lampu jika energinya bahkan telah meninggalkan nya. Bagaimana aku bisa makan jika kamu tak ada rimbanya." jawab BG sendu.
Abel memandangnya erat, sungguh dia tak terbayangkan jika Bagas akan seperti ini akibat keegoisannya. BG menaruh kepalanya dipundak Abel, dengan lembut Abel mengusap kepala sang Bagaskara.
"Bagaimana ceritanya sampai bisa chatingan sama Kayla." tanya Abel.
"Enggak pernah kok, nihh lihat kalau enggak percaya." BG menyodorkan ponselnya. Terlihat jelas jika BG tak pernah membalas satupun pesan Kayla. Tak direspon saja ancamannya seperti itu bagaimana jika BG membalas bisa besar kepala itu Kayla.
"Awas saja sampai ketahuan telponan sama smsan sama dia." ancam Abel.
"Never. Dia sering chat aku tapikan aku gak pernah balas. Begitunya dia kirim nada ancaman yang bisa bahayain kamu, enggak mungkin aku diam saja. Lhaa pas dikantin aku respon dia kok kelamaan mulai berani. Apalagi pas pulang itu yang kamu lihat."
"Perempuan sama lelaki kalau curhatan atau smsan, takut ada maksud tertentu." ucap Abel.
"Maksudnya."
"Cowok sama cewek itu memiliki perbedaan Rasa. Jika cewek menemukan sosok untuk berbagi cerita bisa jadi dia nyaman akhirnya bisa MUNCUL PERASAAN. Beda jika cowok menyikapinya, belum tentu muncul perasaan, atau emang bener-bener cuma jadi tempat curhat saja. Intinya kita harus berhati-hati sama perasaan cewek terlebih cewek itu modelannya kayak Kayla." jelas Abel, BG pun mengangguk paham.
"Dann ingat jangan main peluk-peluk lagi, awas aja." ucap Abel.
"Sumpah baby yang kemarin tuh, dia langsung nyerang aku. Padahal pas itu aku mau nyusulin kamu di UKS, bisa barengan banget sama yang kamu keluar." jelas BG.
"Sudahlahh janji jangan lagi. Aku aja sama Devan dan yang lain enggak pernah gitu-gitu."
"Wooo, sampe berani mereka sentuh kamu seinci pun besoknya aku tebas." Jawab BG penuh dengan keyakinan.
"Dihhh, dia hina aku aja kamu diem." balas Abel.
"Hemmmb, aku harus gimana dong. Pas itu kan dia udah ancem-ancem gitu."
"Yaa seenggaknya kamu bisa belain apa gitu kek." jawab Abel.
"Nahh justru saat itu aku lagi puyeng tuhh mikirin ancemannya dia." balas BG.
"Yasudahh tidurlah, besok sekolah." ucap Abel.
"Iyaa."
"Mau aku antar ke kamar." tanya Abel.
"temenin bobok aja kalau bisa." goda BG.
"Jangan harap." jawab Abel lalu berjalan menuju kamarnya, sedangkan BG masuk kedalam kamar tamu.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Abel, karena bahkan diponselnya tak ada nama cewek lain terkecuali yang satu circle dengannya dan Abel.
__ADS_1
Seorang Bagaskara pengusaha muda penerus keluarga Hermawan bahkan telah merintis usaha miliknya sendiri sejak SMA. Sudah pasti banyak yang mencoba mendekatinya, namun tak ada yang bisa menandingi sosok Arabella.