
Disinilah mereka berada, Abel bersama para teman dan sahabat saling menguatkan satu sama lainnya. Didepan pintu ruang ICU menantikan tirai terbuka, agar mereka bisa melihat bagaimana kondisi temannya yang sedang terbujur lemah.
Meskipun sudah melewati masa kritis, Metta masih harus mendapatkan perawatan di ICU karena kesadarannya masih menurun.
BG pun tak mampu menghibur Abel, bagaimanapun dia pun masih terkejut dengan keberadaan Kayla. Terlebih dengan kondisi Metta yang belum ada kata membaik pun semakin membuat hati Abel tak menentu.
"Ai, gue harus gimana." tanya BG lirih saat mendapat kesempatan bertanya pada Airin.
"Apanyaa."
"Tentang gue sama Abel. Jujur gue kaget dengan pengakuan Kayla, gue gak mau sampek gara-gara ini Abel ngejauhin gue." jawab BG.
"Yaa terus itu sih bocah ingusan mau loe gimanain." tanya Airin.
"Ya sabodo aja Ai, enak aja datang- datang main hancurin kehidupan gue. Dulu-dulu dia kemana." jelas BG, Airin pun yakin tak ada keraguan di diri BG untuk meninggalkan sahabatnya.
"Gue gak tahu yah, mungkin aja setelah ini Abel akan sedikit berubah ke elo. Kalau elo nya mendadak berubah juga." jawab Airin.
"Gue tahu Ai, sebenarnya kemarin- kemarin gue sempet ngediemin dia tanpa sadar karena gue kaget dengan kehadiran Kayla."
"Apa loe kata Gas." tanya Airin.
"Awal-awal gue sadari kedatangan dia, gue jadi sempat berfikir dan tanpa sadar gue diemin Abel. Dan itu bikin dia ngambek gak mau ngomong sama gue." jelas sang Bagaskara, membuat Airin pun menghela nafas panjang.
"Gue peringatin aja, jangan sampai itu si cewek gila ngusik Abel dan buat dia gak nyaman. Cuma itu aja saran gue. Dan meskipun ditengah cobaan apapun gue mohon loe selalu ada dipihak Abel." ujar Airin, BG pun mengangguk paham.
Setelah melihat Abel tengah menuju mereka Airin dan BG menghentikan prmbicaraan mereka. Selepas melihat Metta Abel dan yang lainnya berpamitan pada kedua orang tua Metta, walaupun belum sadar namun kondisi Metta berangsur membaik terlebih vital sign nya sudah mengalami kemajuan.
*
Selama Tiga hari ini Abel belum datang lagi kerumah sakit namun dia terus memantau lewat dr.Adam. Bahkan sehari-harinya disekolah Abel memilih untuk menghindari yang namanya Kantin. Seolah moodnya berubah jika pergi ke kantin, bahkan kebiasaan Abel sontak membuah kelasnya menjadi tempat makan bersama.
"Yooo mari kita mainkan musriknyaaa." teriak Devan sambil memetik gitar, Adit pun sudah mulai menabuh mejanya seolah menjadi genderang baginya.
Jrengg Tung gedang dung..
"Mari kita saksinyaaa, penampilkan." ucap Devan.
"Hehhh, bahasa loe yang baku dong sesuai eyd." protes Nayla.
"Inilah artis koplo terhits kita, Arabelle." teriak Devan.
"Ayoo Bell sambil nyanyi Elaah."
"Nyanyi apaa." tanya Abel.
"Apa aja deh udah gue iringin musiknya." sahut Adit.
Dung tung gedang tung dangdang..
"Kalaa kupandang langit bintang nan jauh disana." buka Devan.
"Seperti melody cinta yang membara."
Dan jadilah kelas Abel menjadi konser dadakan.
"Huaseeekkk."
"Goyangg guys."
"Hahahhahahh."
Yang sibuk goyang, berdendang bahkan bercanda tawa, BG pun tengah membawakan makanan untuk Abel merasa terhibur dengan interaksi teman sekelas Abel.
"Yooo lanjut, huasekkk."
Tung gedang dung..
"Kowe mbelok kiwoo tengennn."
"Atiku tansahhh kelingaaaannn."
Abel anggap mereka hiburan, sembari menghabiskan makanannya bersama BG dan beberapa temannya yang sedang makan pun terhibur.
"Ketua kelas kita rusaaak.." teriak Fransiska.
"Nikmatin ajaa bebihhh." sahut Devan.
"Dahh mau request lagu apa ada Boss BG nihh capa tau disawer." ucap Adit.
"Nihh sana loe pergi bawa cemilan." BG mengulurkan beberapa lembar uang pada Devan.
"Asyeeekkk, makan-makan kita, yokk Dit." ajak Devan, seperginya Adit dan Devan seketika membuat kelas Abel sunyi.
"Yaa ampun gak ada mereka jadi kek kuburan kelas kita." celetuk Nia.
"Iyaa looh."
"Gimana kalau kita sediain panggung buat mereka didepan kelas." ceplos Nia.
"Kamsudnya."
"Sekali-sekali bikin mereka konser."
Akhirnya mereka pun segera menyiapkan panggung dadakan didepan kelas mereka.
"Jagain pintu loe Nya."
"Rebess."
Dan ketika melihat kedua teman somvlaknya itu pun segera Fransiska meraih bungkusan yang dibawanya.
"Ehh.. ehh apaan ini."
"Mari kita saksikan dua kembar siam berbakat, ketua kelas IPA1." teriak Nia lalu Nayla dan Anggel pun mendorong keduanya menyodorkan gitar.
"kagak begini juga keles."
"Loe ngamen dulu baru boleh makan.'
"Yaelahh gini amat temen gua." sahut Adit.
"Suapin dong dayang- dayang." celetuk Devan.
"Dihh manja."
"Buruuu nyanyi kagak loe." ancam Fransiska sambil mengacungkan sapu ditangannya.
"Cendol dawet seger piro
Limang atusan terusss
gak pake ketan
__ADS_1
tak gitak-gitak woy.. Woyo-woyo Josss."
"huasekkk."
"sawerannya guiss." sapa Nia pada murid yang tengah menyaksikan sambil menyiapkan kardus didepan kedua pengamen dadakan itu.
Sedangkan teman-teman mereka didalam kelas sudah terpingkal-pingkal dengan kelakuan mereka, bahkan mereka tak lupa mengabadikannya dengan merekamnya.
"sumpah kocak banget dahh."
"mana lagi suaranya, masih receh ini." ucap Nia sambil menunjukkan isi didalam kardus.
"Lahh beneran ada lohh uangnya." ucap Adit.
"Emang gilak loe Nya." celetuk Devan.
Plakkk..
Dengan sekuat tenaga Nia menggeprak pundak Devan.
"Buruan nyenyong kagak loe."
"Aduuhh kok digeprak Nya."
"Anjir juragan kita galak bro." sahut Adit.
"Nyanyi kagak, buruan."
"Ibu tiri, hanya cinta kepada ayahku sajaaa
Pabila ayah pergi ku disiksa dan dicaci."
Brang.. gedang dung.
"udah ibu tiri, haus gue." ucap Devan.
"Lanjut woeyy" teriak dari kelas sebelah.
"Gasskeuun."
"Mo nyawer berapa loe kalau receh sorry bye." jawab Nia.
"Sayang opo koe krungu jerite atiku
Sayang nganti memutih rambutku.
ra bakal luntur trisnoku.'
Dan sekian banyaknya murid yang menghampiri panggung dadakan semakin membuat aksi Devan dan Adit menggila.
"Tareeekkk ses."
"Wes tak coba lalek ke jenengmu soko atiku."
"Gilakk-gilak pada gak waras dah.."
"Sawer mana kelean."
Tak lama bunyi bel masuk pun menggema, membuat sebagian diantaranya merasa kecewa.
"Yahhh, udahan."
"hahhahahhh."
"Anjirr si Nia, kek mami-mami." bisik Adit.
"Heeehh, apaan loe bisik-bisik, ngomongin gue yah."
"Kagakk."
"Jihhh sensian, pede gilak."
"Sana loe masuk pada ngumpul dimari." usir Fransiska pada teman-teman seangkatan mereka yang masih bergerombol.
"Gilakk laper gue." celetuk Devan.
"Kasihan lohh Nya mereka loe suruh kerja rodi."
"Tauukkk juragannya galak." sahut Adit.
Bagghh Bugghh..
Nia melancarkan aksi gebukannya dipunggung Adit.
"Ngomong sekali lagi gue patahin punggung loe." ucap Nia.
"Berantem mulu, jodoh kelean." sahut Devan sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
"Baby aku balik dulu yahh. Guys thanks yahh hiburannya." ucap BG.
"Yoyoii boskuhh." sahut Devan.
Malas kekantin bukan berniat menghindari pertemuan dengan Kayla, Abel dan BG hanya malas meladeni tingkah gak normalnya. Mereka lebih memilih mengasingkan diri tidak lain tidak bukan untuk quality time keduanya.
*
Hari ini merupakan hari kelahiran Abel, semalam BG menyempatkan menelphon Abel tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat bertambah umur.
Bahkan kini BG tengah mempersiapkan surprise untuk sang Arabella. Tentu kerjasama dengan para sahabat dan teman sekelas Abel.
Setibanya di halaman sekolah tak ada yang berbeda, Abel berjalan dan menaiki tangga menuju kelasnya.
Blurrbbbb...
Surprise.... ledakan confetti dan teriakan menggema saat Abel memasuki kelasnya.
"Happy birthday my baby Abel."
"Met Ultah yahhh."
Abel masih menormalkan degub jantungnya mendapati surprising dari teman-temannya. Satu orang yang kini tengah mendekat ke arahnya, menutupi wajahnya dengan buket bunga.
"Selamat ulang tahun yah baby." ucap BG lalu memberikan bunga pada Abel.
Abel pun segera berhambur memeluknya, perhatian kecil BG sudah lebih dari cukup buatnya.
"Mamaci yahh my fiance." ucap Abel.
"Weeehhh sudah dong masih ada kita nihh."
"Elahhh kita jadi nyamuk sekelas."
Abel meregangkan pelukannya lalu beralih menuju para sahabat dan teman-temannya.
__ADS_1
"Mamaci all, Abel seneng banget."
"Gak gratis yahh."
"ahahhahahh."
"Siapppp." jawab Abel, namun tak tahu saja jika BG dan yang lainnya sudah menyiapkan sebuah jamuan khusus.
"Udah masuk dulu, nanti jam istirahat kelean kembali kesini." ucap BG.
"Ada apa." tanya Abel polos.
"Pesta lah sayang apalagi." ucap BG lalu meninggalkan Abel yang masih belum paham.
Airin mendekapnya membawanya ke tempat duduk mereka, tidak ingin membuat Abel menerka-nerka. Semua ide yang sudah disetujui oleh BG merupakan hasil mereka berdiskusi. Abel bahkan tak sabar menanti jam istirahat tiba.
Setelah dua jam pelajaran berakhir, Nia mendatangi Abel menyodorkan sebuah kain.
"Mau ngapain." tanya Abel polos.
"Manut aja loe."
Grepp.. sreett..
Nia menutup kedua mata Abel dengan menggunakan kain.
"Nahh sekarang gih loe cari laki loe." ucap Fransiska.
"Hahhh, gimana caranya kalau ditutup gini." sahut Abel.
"Gampang entar kita arahin loe menuju sang pangeran." ucap Nia.
"Beneran lohh mandunya, jangan ngasal dan ngerjain yah." jawab Abel.
"Sinii udahh jangan bawel."
"Inget cuma laki loe yang bisa buka penutup mata loe."
"maju dua langkah."
"Belok kanan, jalan dua langkah."
"Kekiri dua langkah."
"Dua langkah lagi."
"Abis ini undakan turun pelan-pelan."
"Ehh yang bener dong, mana ada undakan deket kelas." jawab Abel.
"Hahahha, yang nipu begok sihh."
"Udah tau yang dikerjain pinter."
"Syuuut.. syutt."
"Maju dahh Bell kedepan."
"Awas ada yang lewat."
"Baru kali ini si Abel nurut-nurut ajah."
"Dia emang penurut dari sono nya."
"Buahahhahhah."
"Maju Bell."
"Nahh sekarang hadap kanan."
"Loe pilih dah mana diantara mereka, lakik lo."
Abel merentangkan kedua tangannya, walaupun dia bingung karena pasti semua yang dipilih adalah cowok. Namun yang berbeda dari sang Bagaskara adalah parfum yang dikenalinya.
"Ngapa loe ngendusin mereka Bell."
"Gilak Abel."
"Menang banyak dahh mereka sampek diendus Arabella."
Setelah melewati beberapa orang dan bisa dipastikan mendapati sang tunangan, Abel pun memilihnya.
"Mana tangan kirinya." ucap Abel pada sosok yang dipilihnya, setelahnya dia meraba kebagian jemari cowok itu hanya memastikan keberadaan cincin couple dengannya.
"Udah bener yang ini." ucap Abel, membuat BG tersenyum menang ternyata Arabellanya dapat mengenalinya dengan baik dan teliti.
"Yahhh ketahuan."
"Si BG begok harusnya loe pake parfumnya pak satpam."
"Dihhh gilak, trus sampek sore si Abel gak mau peluk-peluk gue." jawab BG.
"Lhaa emang napa."
"Yaah, dianya kebayang gue pak satpam begok." jawab BG.
"Udahh bisa dibuka, aku pusing."
"Lahhhiyaaa."
"Sorry baby." ucap BG lalu membuka penutup mata Abel.
Abel melihat-lihat sekitar masih diarea lorong kelasnya ternyata sudah didekorasi dan disediakan jamuan makan untuk teman-temannya.
"Marii kita makan."
"Yooooi."
"Selamat makan yahh."
"Makasih yah Bell."
Senyuman Abel tak pernah luntur di bibir Abel.
"Seneng nggak." tanya BG membuyarkan lamunan Abel.
"Senenglah, makasih yahh."
"Yuk maem." ajak BG, mereka ikut bergabung dengan yang lainnya.
Sedangkan dikantin seketika sepi hanya berisi kelas sepuluh dan sebelas, karena murid kelas dua belas tengah berpesta di lorongnya.
"Auto sepi dah bu kantin."
__ADS_1
"Iyaa udah diborong makanannya dimari."