
Udah Up dolorr, waktunya mee meen minta vote,, pencet tombol 🎫 Votenya ❤️ sama 🌷☕ jangan lupa 👍 juga yahh luvv mamacii.. Yuuukkk dipencet- pencet lahhh, minthor tunggu yah bestieee..
*
*
"Sayank, mama hari ini mau tengok papa dulu yah." pamit mama Mia, karena dirasa BG sudah bisa mengatasi masa morning sickness Abel.
"Iyaa ma, makasih yah udah jagain Abel sampai ninggalin papa lama." jawab Abel.
"Kamu ngomong apa sih, kan mama juga pengen rawat cucu mama sama mami nya." sahut mama Mia sembari mengelus puncak kepala Abel. Interaksi mama Mia dan Abel tak lepas dari pandang BG.
"Gas bawa aja istri mu ke kantor sementara."
"Nggak usah ma Abel dirumah aja nanti ada mbak Nina sama Abrisam." sela Abel, karena di kantor BG justru dia akan bertemu dengan trouble maker si Nadia.
BG yang mendengar ucapan sang istri pun menghela nafas, bagaimana tidak ia tahu sendiri jika Nina sedang tugas, jadi tak mungkin akan datang menemani Abel.
"Nanti Abel antar mama aja yah, sekalian pengen hirup udara segar." lanjut Abel yang tak ingin sang mertua terbebani karena akan meninggalkan nya..
"Okeeyy."
"Memangnya mama berangkat jam berapa." tanya BG yang sedang sarapan dan menerima piring makan yang sudah disiapkan Abel.
"Makasih sayang."
"Nanti jam 10 an." jawab mama Mia.
Setelah sarapan Abel mengantar sang suami kedepan, walaupun hamil muda yang terkadang dia suka ngebo alias bermalasan entah kenapa hari ini ia sudah merancang beberapa rencana.
Singkat cerita Abel yang sudah selesai bertugas mengantarkan sang mertua kini dalam perjalanan menuju kantor sang suami mengantar kan makan siangnya.
Meskipun dia tak memberi pesan pada BG tapi Abel sudah mengirim chat pada Dinda sang sekertaris. Kenapa tidak kirim pesan pada Angga, karena dari Dinda lah Abel tau jika kini mereka sedang meeting sehingga sedang sibuk-sibuknya.
"Aduhhh itu ada penjual manisan mangga." gumam Abel tapi dia harus mengingat jika tidak boleh memakan buah asam terlebih dahulu.
"mau toh mbak biar mamang yang belikan."
__ADS_1
"boleh deh tapi Jang banyak-banyak yah mang."
Setelah berburu manisan mangga sungguh Abel sampai tak kuasa menahan ingin segera menyantapnya.
Tibalah Abel dikantor sang suami, sembari menenteng plastik berisi manisan mangga yang menggiurkan dan juga paper bag berisi rantang makanan.
Tap..
Tap..
Sepatu teplek nampak cantik dan elegan dipakai oleh istri dari pengusaha muda Bagaskara Hermawan.
"Lohh itu kan Nadia, kenapa masih bisa gentayangan diatas sih." gumam Abel dalam hati.
"Huhhh."
"Mbak Din, kenapa kemarin makanannya dikasihkan OB kan saya kasih buat bos." kata Nadia yang seperti melabrak Dinda sekertaris kesayangan BG.
"Lahh tuh mulut Loe tau kalau boss, kenapa Loe gak sadar diri hahh." sahut Dinda.
Abel menghela nafas panjang sebenarnya dia malas melihat adu mulut seperti ini, hanya akan bikin mood nya jelek seketika.
"Wahh udah sampai nyonya bos, ehh maaf ada gangguan sampai gak liat." sahut Dinda setengah menyindir Nadia.
"Suamiku udah selesai kah mbak."
"Ehh barusan kayaknya masuk yuk." ucap Dinda namun belum berpindah tempat suara Nadia menyela kepergian mereka berdua.
"Tunggu, kan saya ada perlu sama mbak Dinda kenapa main tinggal aja sih."
"Hehh kamu gatau kalau ada yang lebih penting daripada ngurusin ocehan sama tingkah kamu gak jelas itu." jawab Dinda.
"Gak jelas gimana sih mbak, aku kan minta tolong baik-baik dari kemarin kenapa balasan mbak Dinda kayak gini."
"CUKUPP." sentak Abel karena memang Nadia sudah diluar nalar tingkahnya.
"Kamu jam segini kenapa keluyuran begini." lanjut Abel.
__ADS_1
"Lohh pekerjaan saya sudah selesai jadi gak saya mau kemana-mana."
"Ehh kamu gak ada sopannya yah." sergah Dinda karena Nadia berani meninggikan suara pada Abel.
"Biar aja mbak Din. Ohhya kamu anak bawah kan, bukan nya sudah ada peraturan dilarang menginjak kan kaki ke lantai jajaran petinggi perusahaan kenapa kamu melanggarnya." ucap Abel tegas, mau tak mau dia harus mengeluarkan sedikit keringat untuk mengurusi belalang hama satu ini.
"Kamu siapa sok tau banget sama peraturan kantor. Kan kamu hanya istri boss sih ngapain ngurusin masalah kantor seharusnya yahh enak-enakan dirumah aja Soni dasteran." celetuk Nadia mulai berani, karena merasa Nadia berani melawan nya Abel tak tinggal diam.
"Ohh gitu yah, baiklah mulai hari ini saya haram kan pegawai seperti kamu ini untuk keluyuran keatas, sudah belajar jadi penggoda atasan yah jadi bisa bicara hebat seperti itu." ucap Abel dengan nada santai namun tegas nya, melihat Abel sedikit emosi Dinda terpaksa memencet tombol darurat interkom langsung terhubung dengan sang boss tanpa mengangkat gagang telpon.
"Boss suara Abel." kata Angga karena interkom darurat dari Dinda.
"heuumm." jawab BG lalu beranjak keluar menuju meja sekertaris.
"Jangan pernah kamu kira saya tidak tau apa niat dan tujuan kamu, benar kata mertua saya ternyata kamu nggak lebih hama yang penasaran mendapat perhatian besar dari suami saya. Saya katakan lagi saya memang hanya seorang istri CEO kamu tapi perintah saya sama tinggi dari jabatan Presdir sekalipun." ucap Abel menggebu, bahkan setelah mengeluarkan ulti yang menghujam jantung, Nadia gemetar tak hanya cantik ternyata istri sang boss tak lemah bahkan ucapannya bisa berpengaruh pada nasib nya kini.
"Helehhh, kicep dah kalau diulti sama nyonya muda." gumam Dinda yang merasa puas karena Abel mampu menghempaskan sekali terjang calon bibit pelakor.
"Hadehhh, kenapa si Abel jadi dakwah disini." ucap Angga sedangkan sang Bagaskara takjub melihat ketegasan Abel. Semenjak hamil ia bahkan jarang berkata panjang lebar seperti ini.
"Honey." panggil BG, Abel pun menatap tajam sang suami karena perintahnya untuk tak membiarkan pegawai bawah naik keatas gagal.
"Ya lord, tuh mata tajem amat." celetuk Angga, baru kali ini Abel seemosi ini.
"Itu lah, perempuan hamil kalau emosi lebih menyeramkan dibanding orang pms." sahut Dinda.
BG pun akhirnya meraih tangan sang istri lalu membawanya keruangan nya, melirik sebentar pada Angga agar membereskan sisa kekacauan di meja sekertaris.
"Kamu bukan nya sudah tau peraturan yang bahkan belum 24 jam diterbitkan." ucap Angga tegas, karena dia juga tak ingin masalah rumah tangga Abel dan BG berlarut-larut hanya gara-gara Nadia yang iseng ingin mencari perhatian BG.
"tau pak Angga."
"Lantas kenapa kamu seperti pura-pura tak melihat dan mendengar, kamu kira peraturan dibuat main-main. Sekarang saya tanya apa urusannya kamu naik bahkan dengan beraninya kamu kirim pesan pribadi ke boss. Hehhh dikiranya bos tertarik sama kamu, jangan lupa beberapa saat yang lalu bukan hanya kamu saja yang mendapatkan reward dari boss tapi 127 orang karyawan berprestasi. Bukan berarti dengan lancang kamu masuk keranah pribadi bos."
"Hahh muke gila nih bocah berani amat japri bos." sela Dinda yang baru tahu keberanian Nadia.
"Sekarang saya kasih kamu kesempatan kamu terus bekerja disini tapi tidak melanggar aturan perusahaan atau mengajukan resign agar kamu tidak kami pecat secara tidak hormat." lanjut Angga tegas.
__ADS_1
"Ma-maaf pak Angga saya minta maaf saya butuh kerja, saya janji tidak akan mengulanginya." ucap Nadia, lalu Angga mengangguk dan menyuruh Nadia segera menyingkir dari lantai atas.