Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Ending MPAA


__ADS_3

"Nanti tuhh yahh kita adain perpisahan yang hebohh."


"Idee bagus tuhh."


"Bolehh juga."


"Ogaah buang-buang uang."


"Hehhh sun gokong, pelit amat idup loe." sahut Fransika sarkas.


"Sembarangan ganteng gini dibilang keraa, yang loe mau cowok loe dibilang sun gokong, belain yang." jawab Devan.


"Pffffffftt."


"Alemannn loe Van."


"Jijik gue." sela Gama.


BG mengkondisikan Abel, dia tahu betul Abel jika tak berhenti menangis bisa berefek demam. Meskipun sudah tak menangis tapi matanya masih berair, tapi setidaknya bibir mungil itu sudah menampakkan senyum.


"Gue dengar OSIS ada rencana adain Prom kok buat kita." celetuk Airin.


"Wahhh beneran."


"Lahhh keren."


"Hemmmb."


Airin hanya membalas senyum sahutan -sahutan dari teman- temannya itu, pun dengan Arabella.


*


Sebulan berlalu tiba saat Abel dkk mengikuti Ujian praktik lapangan sebelum UN. Aktivitas mereka disekolah akan berkurang setelah Ujian Nasional. Banyak yang sudah menentukan pilihan melanjutkan kuliah dimana termasuk Abel dan Airin.


Airin memilih menentukan tujuannya untuk kuliah di luar Negeri. Sudah ada Universitas di Jepang, Singapura dan Australia. Alasan utamanya tentu sekaligus ingin menghilangkan jejak rasa nya pada satu sosok yang telah memporak-porandakan hidupnya.


Abel tak bisa lagi komentar melarang Airin, apapun rencananya asal masih bisa masuk diakal Abel dukung dan dia akan selalu menjadi support system Airin.


Hari ini praktikum Olah raga, seluruh kelas IPA digabung, fokusnya adalah volly dan basket. Jika olahraga volly Abel masih sanggup lain jika basket dia tak ada bakat sama sekali meskipun dia paham betul teorinya selama ini.


"Okey kegiatan kita praktik Volly dan basket kelas IPA 1 akan versus IPA 2 yahh untuk yang lain bisa menonton dipinggir lapangan." jelas guru olah raga.


"Siapp pak."


Tim volly Abel mengeluarkan team andalan bola volly ada Nia, Angel, Nayla, Mona, Airin sisanya menjadi cadangan. Begitu juga nantinya team basket putri, Fransiska lebih ahli di basket.


Abel melakukan serve pertama dengan sempurna, dari pinggir lapangan BG memperhatikan permainan Abel.


"Okeyy juga Abel." celetuk Riki, BG pun hanya tersenyum menyahutinya.


"Sering main kalau ada kegiatan di kantor ayah." jawab BG.


Setelah memastikan poin unggul Abel memilih meminta pergantian pemain karena tak ingin memforsir tubuhnya. Karena akan bermain lagi praktikum basket setelah team volly putra selesai.


BG tak lepas pandangan dari Arabellanya, walaupun dekat tak mungkin dia menghampirinya sekarang.


"Setelah ini lanjut basket tolong persiapkan staminanya." potong guru olah raga.


"Rebeess pak."


"Wasiyappp."


Abel nampak bercengkrama dengan temannya, Airin pun terlihat cukup tegar kini.


Setelah praktikum olah raga berakhir BG segera menggeret Abel dkk ke kantin. Ujian Praktikum Olah raga agaknya membuat cacingnya berdemo seperti mahasiswa demo kenaikan BBM.


"Besok jadwal praktek apa baby." tanya BG.


"Sains, nge Lab kita." jawab Abel sambil menyedot minumnya.


"Aku besok agama."


"Heummb."


Mereka menikmati makan bersama-sama, setelah sekian lama jatuh dalam kubangan kesedihan. BG dan Abel memutuskan kuliah satu kampus hanya beda jurusan. Abel antara sastra Inggris dan Hubungan internasional, BG dengan jurusan bussines sesuai dengan jalur yang selama ini dia tekuni.


Sedangkan yang lain pun mengambil jurusan yang berbeda-beda. Airin mengambil jurusan hukum, sedangkan Devan akan tetap menjalani kehidupannya dengan bekerja dan bekerja. Kuliah bukanlah prioritas Devan, karena dia yang menjadi tulang punggung memilih untuk menaikkan perekonomian terlebih dahulu.


Devan akan menjalankan dua cafe karena Riki dan Kevin akan melanjutkan kuliah sama dengan yang lainnya membuat Devan bekerja di dua tempat. Sedangkan Wira akan mengambil Pelatihan kejurusan, sehingga tidak terlalu banyak waktu terpakai untuk kuliah.


Sedangkan sahabat Abel yang melanjutkan pendidikan adalah Dekka dan Cindy, kemungkinan besar mereka akan 1 universitas dengan Abel. Metta lebih fokus dengan membantu Devan di cafe, karena pekerjaan nya tidak terlalu berat untuk Metta yang memiliki keterbatasan.


"Jadinya ambil jurusan apa Bell." tanya Fransiska.

__ADS_1


"HI, kalau enggak SI."


"Pengen gue masuk ditempat loe Bell."


"Yaudahh daftar aja." sahut Nia.


"Kejauhan begok dari rumah gue."


"Yaa kagak usah ngebegok- begok in juga. Kan loe bisa ngekos." jawab Nia.


"Hehh napa jadi ribut sih."


"Ayukk dah kuliah satu tempat."


"Gue enggak yahh." potong Airin.


"Iyeee kagak napa, entar kita bisa samperin kesana."


"Kek punya ongkos buat kesana."


"Hooo gampang." jawab Devan.


"Banyak duit loe."


"Yee kagak."


"Lahh terus."


"Kan bisa pinjem jet nya pak boss."


"Huuuu."


"Yahh gue nebeng juga kalau gitu."


"Beres, tinggal bayar avturnya aja." sahut BG.


"Yahhh sama juga boong."


"Kalau pake pertamax mahh gue sanggup bos." jawab BG.


"Loe kira CBR pake pertamax."


"Lahh anjir, jet nya jalan darat kalau pke pertamax."


"Devan gilak."


"Lahh gue bisa bikin."


"Bikin apa."


"Anak."


1, 2, 3, menit mereka mengerutkan keningnya bingung. Barulah mereka tersadar bahkan ada yang menoyor Devan.


"Apa hubungannya paspor sama anak."


"Hahhhh."


"Lahh Devan jorok."


"Mesummm ihhh." sahut Nia.


"Loe ngebet banget dah peng punya anak."


"Gihhhh daftar KUA." celetuk Kevin.


"Itu rencana gue."


"Sama siapa nikahnya, gue masih muda belum siap." jawab Nia.


"Kalau bikin dulu bisa kan." ucap Devan sambil menaik turunkan alisnya.


Abel dan BG sedari tadi diam saja tak menanggapi obrolan dewasa para temannya itu, pun dengan Airin dia memilih menjadi wasit.


"Jang mau Nya di buka segel dulu."


"Dihh ogahh, bayar mahar dulu baru main buka-bukaan."


"Stop yahh, bicara adegan dewasa disini." potong Airin.


"Gak terasa yahh udah mau lulus aja." sela Abel mengalihkan pembahasan.


"Kayak baru kemarin MOS, ketawa bareng, nangis bareng, berjuang bareng." lanjutnya.

__ADS_1


"Iyaa udah mau tiga tahun lohh."


"Kek baru kemarin kita dengerin labrakan dari Karina." potong Metta, seketika mereka menoleh mengingat peristiwa itu.


"Lahiyaaa ingat gue Abel diserang kakak kelas."


"Iyaa bener."


"Inget aja loe."


Abel tersenyum mengingat moment menggelikan itu.


"Yang paling berkesan sihh pas kita kejar-kejaran waktu kemah."


"Gue suka yang pas kita games."


"Gue juga, berkesan banget tuhh."


"Nahh kalau gue yang pas jadi suporter team basket."


"Nahiyaaa itu juga momentum."


"Iyaa itu juga."


"Every moment with all of you guys, is the best time for me. Semuanya, enggak ada yang gak berkesan. Semua moment sama kalian terlalu istimewa buat dilupakan." jawab Abel, mendengarnya BG mendekatkan diri, memeluk Abel dari belakang.


"Bila perlu nihh kita flashback yukk."


"memory penuh kalau kita flashback."


"Iyaa sihh, banyaaaak banget cerita yang udah tercipta."


"Gue ada beberapa dokumentasi pas di OSIS." sahut Devan.


"Nahh bisa digabung tuh sama yang di CCTV." sela Riki.


"Masookk, gue bisa editing." sahut Gama.


"Wahhh seruu."


"Buruan gihh bikin, gue penasaran juga."


"Iyaa gak sabar peng lihatnya."


"Yee sabar dong Sobriii."


"Entar mintak soft copy." sahut Airin.


"Gue setujunya di perbanyak burning di CD. Keknya laku keras." celetuk Devan.


"Asal gak mehong aja."


"15 rebu gue mau."


"Loe kira Cilok 15 K, gak ngehargain yang bikin loe."


"Buahahahhaha."


Terjadilah acara flashback diantara mereka tanpa ada yang menyebutkan nama Anggada.


"Jadinya gimana di Cetak di CD gitu kah."


"Boleh loe cetak 100 biji aja dulu."


"Dikit amat."


"Seangkatan 450an kalau loe lupa."


"Yaa jangan pada bilang-bilang, loe kira gue penjual pilem apa." ucap Devan.


"Yaa sapa tau loe bisa jadi sutradara."


"Iyaa masruuk."


"Apapun itu bikin sebagus mungkin, biar ada kenang- kenangan bisa ditonton juga dirumah." ucap Abel.


"Pake format DVD aja Van." potong sang Bagaskara yang baru keluar suaranya, sedari tadi dia hanya menjadi pendengar setia.


"Gue usulin entar ditampilin pas prom gimana." potong Airin.


"Hemmmb."


"Boleh juga."

__ADS_1


Masa remaja khususnya masa putih abu-abu terlalu indah untuk dilewatkan. Banyak kesan dan pesan dikala itu, hanya sebagian dari mereka yang tak ingin membuat cerita dimasa itu.


Masa putih Abu-abu seorang Arabella seolah komplit bahkan terselip rumit. Ceritanya dengan Bagaskara sang tunangan menjadi pelengkap dalam ceritanya. Begitu juga bagi BG, Abel seolah awal babak kehidupannya sekarang dan tentu dimasa yang akan datang.


__ADS_2