
"Sayang kamu kenapa."
BG masih terus menyelusuri arah yang menjadi tujuan dimana Abel kini berada, entah dengan siapa dan akan kemana sampai dia menekan notif SOS tak mungkin jika Abel tak sengaja menekannya. Mengingat kini gadis itu bahkan tak bersama dengan ajudan pribadinya.
Sementara itu Alvin diseberang sana masih mencoba mendeteksi salah satu GPS yang terhubung dengannya. Gagal ponsel dan earphone Abel ternyata masih berada di kampus kemungkinan terjatuh atau bagaimana itu nanti akan Alvin usut. Alvin pun mulai mencoba menyambung dengan kalung yang diberikan ayah Abel saat ulang tahun ke 20.
Sukses, Alvin pun segera meluncur mengikuti pin yang cukup jauh dari jaraknya. Dengan sedikit memacu pedal gas nya Alvin meminta bantuan tim Alfa untuk memencar.
"Bantuan tim Alfa, telusuri jejak ponsel dan earphone Beta yang berada dikampus. Sisanya menuju lokasi titik point. Ganti."
"Siappp Alfa terima, berita ganti."
"Tolong Dimas ganti status Beta menjadi merah, butuh bantuan pasukan beladiri."
Agaknya Alvin berlebihan jika dia meminta tim penembak jitu dalam proses pencarian Abel, meskipun BG dkk cukup menguasai beladiri namun demi keamanan pangkatnya mau tak mau Alvin melibatkan tim nya agar mudah dalam proses laporan pada pimpinan nanti.
Kembali pada BG
Titik posisi Abel sudah mulai memudar, pertanda posisi akan berhenti dititik itu. Benar saja tak lama titik GPS stuck disatu lokasi BG pun sudah membagi titik lokasi pada yang lainnya termasuk Alvin. Meskipun Alvin sudah mengikuti GPS dikalung Abel namun tentu Alvin tetap mensinkronkan dengan kiriman dari BG.
"Gue udah dilokasi." ucap BG yang tersambung dengan panggilan bersama dengan banyak orang termasuk Alvin didalamnya.
BG memandang sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi menjulang, bisa dipastikan rumah ini milik orang dengan kondisi ekonomi yang sangat baik. Entah sultan atau kah seorang crazy rich yang jelas saat ini BG fokus pada Abel.
"Gue kirim gambar mas, Loe selidiki rumah siapa ini. Gue pastikan akan bumi hanguskan rumah ini jika sampai Abel kenapa- kenapa." ucap BG, diseberang sana Alvin pun merasa hal demikian. Dia kecewa merasa kecolongan terlebih mendengar suara terakhir Abel sebelum sambungannya terputus.
"Enggapppppp mmmmmpph."
Suara itu terngiang jelas dikepala Alvin, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Sudah jelas ini penculikan, meskipun belum pasti siapa yang melakukannya.
"Shittt." teriak Alvin frustasi, sontak memantik BG dan lainnya.
"Kenapa Loe mas." tanya BG karena ajudan pribadi Arabella itu sosok yang anti mengumpat.
"Tumbenan Loe mas."
"Terakhir mas dengar Abel sebelum telponnya mati, haaahhh."
"Apa katanya mas."
"Gimana."
"Seperti ada yang mbungkam Abel, setelah itu mas udah gak dengar suara nya lagi. Gak lama kamu telp mas Gas." jelas Alvin, sejenak BG bungkam seperti sedang merunut kejadian seperti yang diceritakan Alvin.
"Fix Abel gue disandera." gumam Devan.
"Sok tau Loe Goo Kong." sahut Kevin.
"Yeee, makanya dengerin tuh mas Al, sebelum Abel ngilang ada yang ngebungkam Abel, kebiasaan kalau sekolah suka cabut sihh."
"Yeeeee, bukan itu maksud gue kadal. Loe yakin yang nyulik bakalan minta tebusan. Kalau filing gue tuh salah satu fans boy Abel."
"Ahhh brisik, gue Sampek Gas, Loe dimana." sergah Riki, lelah dengar ocehan Kevin dan Devan.
__ADS_1
"Masuk gue udah di depan pintu masuk."
"Lahh gak ada yang jagain kah."
"udah gue lumpuhin." jawab BG, sontak semua nya terkejut, diam-diam BG memukuli orang tanpa terdengar suara orang berkelahi.
"Gilakk Loe, ajar berapa orang."
"7 mau be." jawab BG singkat, Riki pun segera bergabung dengan BG, Alvin yang mendengar jika BG sudah melumpuhkan 7 orang pun semakin geram.
BG dan Riki ancang-ancang mencari dan was-was jaga kalau masih ada penjaga yang menghuni dirumah besar ini.
"Sial dibawa kemana Abel gue." gumam BG, Riki dan yang lainnya pun paham dengan kegelisahan seorang Bagaskara.
"Sorry guys gue baru gabung, baru kelar meeting." ucap Angga.
"It's okee Ngga."
"Gue bisa bantu apa ini." tanya Angga karena terlalu telat jika dia ikut nimbrung disana.
"Loe mending hubungin Dekka, kasih tau pelan-pelan, trus ayah."
"Gak usah bapak biar mas yang laporan, ini masalah serius Gas." sela Alvin.
"Okeey mas, gitu ja Ngga Loe bawa cewek-cewek gue butuh kalau-kalau urgent." pungkas BG.
"Nina dan team sudah otewe Gas." Potong Alvin, tak lama Alvin pun sudah bergabung dengan Bagas mencari keberadaan Abel.
"Bagaimana bisa terjadi."
"..........."
"Lalu bagaimana rencananya."
"............"
"Baiklah saya tunggu kabarnya, pastikan anak saya selamat."
"Siap Ndan."
Ayah Abel mendengarkan penjelasan dari anggota timsus karena ketua tim dan pasukan inti sedang menjalankan tugas inti masing-masing yaitu penyelamatan.
"Toni apakah ada perjalanan dinas hari ini." tanya ayah pada ajudan pribadinya.
"Siap tidak ada Ndan."
"Lalu apa ada agenda urgent saya beberapa hari ini."
"Siap, tidak Ndan."
"Baiklah, saya minta tolong persiapkan kendaraan untuk kesurabaya hari ini." ucap ayah Raharjo, sang ajudan terkejut ketika mendapat perintah dadakan.
"Maaf Ndan apa ada agenda yang saya lupa." tanya Toni.
__ADS_1
"Tidak, saya mendapat berita jika putriku sedang terkena musibah." jelas ayah Abel, Toni pun mengangguk tanpa tanya lagi segera mempersiapkan perintah dari sang atasan.
Sementara itue disebuah lorong rumah mewah dilantai tiga, Abel tengah digendong seorang pemuda. Dia cukup mengagumi sosok Arabella sehingga membuatnya berbuat nekat hari ini.
Abel dibawa menuju sebuah ruangan yang cukup luas berukuran sekitar 6x8 meter, sebuah kamar yang cukup mewah. Pria itu meletakkan Abel dengan hati-hati di kasur miliknya.
"Tidurlah sayang aku akan menjagamu. Sebentar aku akan mengganti bajumu, hari ini kita akan menikah." ucap pria itu lalu mengusap pelan wajah cantik Abel, hingga terulur menuju bibir mungil berwarna pink Abel.
"Kenapa aku merasakan berhasrat padamu sayang, kecantikan alami mu membuatku ingin segera memiliki mu." lanjut pria itu bahkan dengan kurang ajarnya dia mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Abel.
Cup.. Cup..
Abel dibawah alam sadar nya merasa tubuhnya seperti tertindih, bahkan wajahnya sudah terciumi sosok yang dia ingat bukan lah sang tunangan. Abel berontak ingin segera kembali ke alam sadarnya.
Sementara itu pria itu masih enggan beranjak dari tubuh Abel, dengan beraninya menyingkap rok Abel hingga menampakkan paha putih Abel. Sontak Abel berontak dengan sekuat tenaganya ingin melawan ketidak berdayaannya.
"Jangaaann." teriak Abel sekuat tenaga, dan mendorong kuat pria itu, Abel pun berusaha menjauh dari pria itu.
"Kumohon jang ngaaaan lakukan it-tu pleeeeaaassee." ucap Abel terbata memohon belas kasih dari nya.
"Tidak, tidak Bel, maafkan aku, aku tak berniat menyakitimu." ucap pria itu lalu berusaha mendekati Abel lagi yang bergerak menjauhi pria itu dengan mengendap-endap menuju pintu keluar.
Pria itu membaca arah gerakan Abel, dalam pikirannya sosok gadis yang lemah lembut itu tak akan mudah keluar dari rumahnya.
"Hentikaannn." teriak Abel bahkan tak membuat pria itu berhenti mendekatinya.
"Kau tak akan bisa keluar dari rumah ku ini honey, sebentar lagi kita akan menikah. Menurut lah padaku." ucap pria itu tegas.
"Tidak akannnn."
Sreettt
Dughhh
Bughhh
Suara kegaduhan terdengar karena pria itu mencoba menangkap Abel, namun Abel berusaha terus menghindar hingga mengorbankan beberapa tubuhnya terbentur sofa, lemari hingga tembok.
"Ku-mo-hooon lepass-kan akuuu. Hiksss." ucap Abel yang sudah sedikit lelah, terlebih masih ada sisa obat bius ditubuhnya.
Tappphh
Abel tertangkap, kondisinya yang sudah lemas tak berdaya membuatnya pasrah dengan semua yang akan terjadi, hanya meminta pertolongan dari Tuhan dengan mengirimkan segera tunangan atau ajudannya.
"Menyerahkan sayang aku ampuni kamu yang sempat melawan."
"Hikss.. Hiks.. Kamu jahat."
Bughhh..
Pria itu dengan sekuat tenaga membanting badan Abel ke kasur, lalu.
Braaakkkkk...
__ADS_1