
Kini Abel sedang mengikuti pelajaran selanjutnya setelah jam istirahat, sesuai berita orang tua dari Melisa akan didatangkan hari ini juga.
Guru BK sudah menghubungi kontak orang tua Melisa.
Didalam ruang BK.
"Jadi ini gimana ceritanya pak anak saya di DO, kesalahan besar yang dia perbuat." tanya Kristi, mama Melisa.
"Kesalahan anak ibu berat dan mengarah ketindak kriminal, apakah ibu sebelumnya mengontrol putri ibu jika dia sedang ada masalah disekolah." tanya kepala sekolah, sedangkan Melisa dia tetap menunduk dan mengepal erat jemarinya.
Antara malu, marah dan kesal campur aduk.
"Tentu saja saya kontrol dan saya yakin dia baik-baik saja bahkan dia sedang bahagia karena sedang menikmati masa remajanya, katanya sudah dapat pacar." jawab mama Melisa.
"Lalu kejadian dimana dia mencelakakan seseorang apa juga bicara pada anda." tanya guru BK.
"Te- te- tidak memangnya siapa yang dia lukai. Dan mungkin orang itu sudah menyakiti anak saya sehingga Melisa membalasnya." jawabnya santai.
"Hemmm, apa dengan membayar seseorang untuk menabraknya juga masuk kategori membalas perbuatan."
"Apa maksud bapak berkata seperti itu, tidak mungkin Melisa berbuat nekat."
"Dan kenyataannya seperti itu ibu, dan korbannya merupakan putri orang penting. Kasusnya sudah masuk penyelidikan pihak berwajib, dan sudah diusut tuntas." jawab kepala sekolah tegas.
"Apaaaaa.. ini tidak mungkin, Melisa kamu apa benar." tanya mama Melisa pada anaknya.
"Huhuhuhhuhh." Tangis Melisa semakin pecah.
"Kamu benar-benar bikin mama malu Melisa, masalah apa yang bisa bikin kamu jadi penjahat seperti itu." lanjut mama Melisa mengoceh sedangkan anaknya terisak dan tak mau berbicara.
"Cukup bu, ini berkas dari pihak penyidik, dan ini surat Drop out dari sekolah, mohon ibu bersabar menghadapi putrinya. Semoga disekolah barunya nanti ananda Melisa menjadi lebih baik lagi." ucap kepala sekolah disaksikan para guru BK.
Mama Melisa sudah tak bisa membendung rasa malunya, sungguh dia hanya ingin segera pergi ke planet pluto saja.
"Terima kasih bapak ibu guru mohon maaf atas kesalahan anak saya, saya pamit undur diri."
Mama Melisa berdiri dan menggeret sang anak keluar dari ruang BK.
"Ini kamu bikin malu mama Melisa, kenapa sampai kamu bikin anak orang celaka hahh." sungut mama Melisa.
"Si Abel itu mempermalukan Melisa ma, Melisa sebal." jawab Melisa.
"Mempermalukan kayak gimana, sampai kamu punya pikiran bayar orang hahhh."
"Dia bikin Melisa diolok-olok sama teman sekelas bahkan di depan pacar Melisa, mentang-mentang dia anak jendral jadi banyak yang belain." jawab Melisa sontak mamanya terlihat kesal.
"Bodohh amat dehh mama ngamuk terkahir ini sekolah disini." batin Melisa.
Mama Melisa yang sudah terbakar mendengar cerita dari Melisa pun langsung emosi tingkat tinggi.
"Dimana bocah itu berada, harus mama kasih pelajaran."
Melisa yang mendengar penuturan mamanya bergegas membawa mamanya ke arah kelas Abel yang kini sedang ada pelajaran.
Brakkkkkk
Semua yang ada dikelas terkejut termasuk guru yang sedang mengajar.
"Ada apa ini, maaf kami sedang ada pelajaran." ucap guru kelas Abel.
__ADS_1
Tak menggubris perkataan sang guru, mama Melisa mendekat kearah Abel setelah ditunjukkan olehnya.
Abel yang melihat keberadaan Melisa pun paham jika akan terjadi keributan, melihat seorang paruh baya yang dia kira ibu Melisa terlihat sedang tersulut emosi.
"Kamu, jangan mentang-mentang anak jendral bisa memenjarakan anak saya yang tidak bersalah." ucap Kristi.
Abel dan Airin sudah bersiap menghadapi ibu anak itu, Airin memerintahkan pada teman kelasnya untuk meminta bantuan memanggil BG.
Angga yang hendak berjalan ke arahnya dilarang oleh Airin.
Abel tak bergeming, dia tau arah pikiran ibu Melisa, dia cukup waspada saja.
"Kenapa kamu tega sehingga membuat anak saya di DO." lanjut Kristi.
"Ada apa ini, kenapa ibu ribut-ribut, tolong disini sedang ada pelajaran." lerai guru yang mengajar dikelas Abel.
"Biarkan saya bicara dengan anak tidak tau diri ini." jawab Kristi, sedangkan guru Abel yang mengetahui permasalahan Abel sebenarnya ingin membela tapi Abel seolah memberi isyarat untuk gurunya tak menyahuti.
"Ibu orang tua Melisa." tanya Abel yang tetap tenang.
"Iyaaa, kenapa hah, kamu kan yang bikin anak saya di DO."
Airin menggandeng tangan Abel memberi kekuatan, bahkan Airin menjadi tameng Abel dengan berada di depan Abel takut-takut ada serangan.
"Lalu kenapa ibu marah sama Abel, ibu bahkan tahu alasan dia dikeluarkan." jawab Abel.
"Itu karena kamu bikin malu anak saya sehingga dia dihina oleh teman-temannya iyaa kan."
Abel tahu ternyata ibu Melisa tak mengetahui fakta sebenarnya, Airin dan orang disekitar sana bahkan sudah geram.
Sementara itu Nayla teman sekelas Abel kini sedang memanggil BG dikelasnya.
"Ohiyaa silahkan."
Bagas mendekat kearah teman Abel dia tak mengenal namun sering terlihat dikelas Abel.
"Gawat Gas, Abel di labrak sama emaknya Melisa."
"Haaahhh." teriak BG lalu mereka menuju kelas Abel secepatnya.
"Tapi ibu tidak tahu cerita sebenarnya, yang ibu katakan itu salah." jawab Abel.
"Apaaa, trus maksud kamu anak saya yang bohong gitu hahh, beraninya kamu." sungut mama Melisa, lalu berlari kearah Abel dan menarik rambut Abel.
"Ahhhkk, Mas Alvin." teriak Abel lalu menyambungkan interkom dengan Alvin.
"Lepasin ibu.. Ibu salah dengan melukai Abel."
"Ehhhhh, ehhh."
"Inii rasain biar kapok kamu."
Riuhh gaduh terlihat Abel menahan sakitnya dijambak mama Melisa.
Setibanya BG dikelas Abel melihatnya sedang dijambak oleh seorang wanita BG segera berlari kearahnya.
"Berhenti." ucap BG lalu menarik tangan mama Melisa dan memitingnya.
"Ya ampuun, kamu udah telp mas Alvin." teriak Airin sambil memeluk Abel dan mengusap rambut Abel guna mengurai rasa panas dikepalanya.
__ADS_1
"Anda jangan main kekerasan ini sekolah." teriak guru Abel yang juga ikut panik melerai mama Melisa.
"Biar saja, biar tau rasa dia sudah nyakitin anak saya."
"Siapa yang bilang Abel yang menyakiti anak ibu, SIAPA." teriak BG lantang.
Melihat BG sudah emosi Abel menarik tangannya agar tak semakin emosi.
"Kamu kan pacar Melisa kenapa kamu justru belain dia sih, apa karena dia anak Jendral sekarang kamu jadi milih dia daripada Melisa, benar - benar keterlaluan." jawab Mama Melisa.
Abel mendengar Ayahnya disebut, sontak bereaksi.
"Sudah hentikaannn, ibu terus hina Abel dengan segala tuduhan Abel terima, ibu jambak Abel walau Abel tak bersalah Abel terima, tapi aku mohon jangan sekali-kali bawa ayah Abel disini. Semua yang ibu katakan itu salah, ibu lihat dia." ucap Abel sambil menunjuk Angga.
"Dia terluka karena menolong Abel saat putri ibu membayar orang untuk menabrak Abel.
Dan masalah anak ibu yang katanya Abel permalukan, dimana dan Kapan karena Abel bahkan tidak pernah merasa seperti itu.
Lalu jika disangkutkan dengan saat dikelas Melisa, itu karena Melisa lah yang memancing dirinya untuk dipermalukan." lanjut Abel lalu dia memanggil Devan meminta salinan Video dokumentasi saat kunjungan Mahasiswa LN.
Abel menunjukkan videonya kepada mama Melisa, ada raut terkejut saat melihat video itu.
"Jadi ibu, dimana salah Abel, Abel sudah dimaki, dijahati bahkan sekarang ibu juga menyakiti Abel." ujar Abel tetap tenang.
"Emmmm maafin tante yah nak, tidak mendengar cerita sebenarnya karena Melisa bilang yang seperti tadi, tante marah karena tante tidak tahu ceritanya. Maaf yah." ucap Kristi bergetar.
"Tidak apa ibu, Abel maafkan."
"Makasih ya nak kamu baik sekali, dan kamu Melisa teganya kamu bohongin mama, mama gak pernah ajarin kamu bohong dan jadi jahat seperti ini." ucap Kristi lalu mengangkat tangannya hendak menampar sang anak.
"Stopp ibu, jangaaan." teriak Abel sambil menangkap tangan mama Melisa.
Semua yang berada di kelas Abel terkejut, namun tersanjung dengan perbuatan Abel.
Sedangkan diluar Alvin dan Dimas yang baru datang membelah kerumunan untuk masuk kedalam kelas Abel, bahkan kepala sekolah pun juga mendatangi kelas Abel.
"Ayah dan bunda Abel tidak pernah menampar bahkan melukai Abel walau Abel berbuat salah, jadi Abel mohon jangan sakiti anak ibu."
"Kamu anak baik sekali nak, orang tua mu sudah mendidik anak sebaik kamu tentu orang tuamu juga baik sekali." ucap Kristi lalu memeluk Abel.
Alvin melihat keberadaan BG sedikit lega, setidaknya dia tidak akan membiarkan Abel celaka.
Kepala sekolah dan para guru segera menbubarkan kerumunan, Airin membawa Abel ke UKS untuk menghilangkan rasa kebas dikepalanya.
BG, Alvin dan Dimas sedang bersama, Alvin mendengarkan penjelasan dari BG.
"Maaf mas aku telat, sampai dikelas Abel ibu itu sudah menarik rambut Abel, sebelumnya teman Abel manggil aku dikelas katanya mama Melisa sedang melabrak, tapi endingnya Abel memaafkan karena anaknya berbohong dan mengarang cerita." cerita BG pada Alvin dan Dimas.
"Gak papa Gas, mas juga telat gak nyangka aja kejadian gini." jawab Alvin.
"Loe telp komandan dulu dehh Vin, tadi Abel telp komandan dengar tuh kegaduhan." potong Dimas, Alvin mengangguk.
"Lapor ndan kondisi terkini, situasi Aman terkendali."
"Abel gak kenapa-kenapa kan Vin." tanya Ayah Abel, Alvin yang ditanya pun bingung mau menjawab dia menoleh ke arah Bagas, sang Bagaskara menghendikan bahu memasrahkan keputusan pada Alvin.
"Siap tidak Ndan, sekarang sedang di UKS karena sedikit syok." jawab Alvin, diseberang sana ayah menghela nafas lega.
Mendengar Abel kecelakaan kemarin membuat sang ayah terapi jantung, kini apalagi dengan ada dugaan indikasi penyerangan kembali.
__ADS_1