
Masih terus bersikap tak sewajarnya seperti Abel biasanya membuat beberapa orang disana dilanda ke bingungan.
"Gas ini Abel habis loe apain dahh."
"Coba pegang dahinya kali-kali aja demam tuh bocah."
"Baby.." panggil BG, Abel hanya memandangnya sebentar lalu kembali fokus ke IPadnya.
Merasa tak digubris Abel, BG memilih diam dan berfikir keras bagaimana caranya untuk meminta maaf padanya.
"Okeyy beres.." celetuk Abel.
"Apanya."
"Okehh mari kita bahas satu persatu dulu yah." jawab Abel lembut.
"Akhirnyaaa kembali juga ni anak."
"Abis kepentok bola basket kek nya, rada-rada tuh anak."
"Hemmmb, sudah selesai menggunjingkan kuhh."
Dan para ciwi-ciwi itu pun mengangguk cepat.
"Karena player berkurang satu, jadi mau gak mau kapten harus berfikir dan bekerja keras hari ini. Untuk pengaturan pemainnya Shooter 3 Deff 2, Ahiyaa coach kemana, hemm sebentar." ucap Abel terpotong.
"Bentar dulu deh trus kita-kita buat apaan ini Bell." tanya Fransiska, Abel yang ditanya justru bengong.
"Ni anak enggak kesurupan kan." ucap Nia, Abel tersenyum.
"Aku baru inget, heheheh." ceplos Abel.
"Astajimmmm."
"Hahhh, untung sayang." ucap lirih BG.
"Jadi gini, Riki bilang mereka melakukan pelanggaran. Aku udah nemuin bukti-bukti, aku akan membereskan hingga tuntas masalah ini. Trus buat kalian yahh tolong bantuin bagian dokumentasi untuk menampilkan acak dan ulang tayangan yang nanti aku edit, Nahh Ai sama Siska bantu aku menggugat masalah ini, sisanya mengurusi perdokumentasian." jelas Abel.
"Abeeeelll." teriak seseorang.
Semuanya menoleh kearah kedatangan tiga orang berbadan tegap dengan tergesa-gesa.
"Kali ini problem apalagi Bell." tanya Nina.
"Lahh kok pada kesini sihh."
"Tadi kamu telpon lohh." sahut Alvin, dia datang bersama Nina dan Dimas.
"Gas, masalah apa emangnya." lanjut Alvin sedang si BG hanya menggeleng.
"Aku kan gak nyuruh kesini mas." ucap Abel penuh penekanan.
"Lahh terus tadi telpon kenapa."
"Hahhhhhh." hela Abel lalu berdiri menghampiri ketiga abdi negara itu.
"Salah siapa main matiin telpon, salah siapa gak mau dengerin dulu, dan salah siapa gak percayaan sama Abel, Hahhh." jawab Abel sambil berkacak pinggang, Sedangkan Alvin menggaruk kepalanya yang tak gatal dikala mendapat sorotan tajam dari Nina.
"Abel kalau udah ngomel gaswat guys." ucap Airin.
"Hahhhh, Kev tolong belikan es krim." hela BG, lalu menyuruh Kevin tahu saja sang tunangan bakalan bad mood jika dibiarkan obatnya cukup satu itu.
"Sekarang Abel tanya kenapa pada kesini, coba tadi kasih aplikasi aja kan beres gak perlu jauh-jauh kek kurang kerjaan aja nyamperin Abel." lanjut Abel.
"Nahh kan gak kelar ini."
"Bisa berabe, mana si Kevin lama kalikkk."
"Hehhh, syuuut sudah yahh jangan ngomel-ngomel malu dilihatin temennya." ucap Nina menenangkan Abel.
Setelah tenang, Nina mulai menginterogasinya.
"Jadi ada apa sihh, masih pada lomba kan." tanya Nina, Abel pun mengangguk.
"Ada pelanggaran yang bikin temen cedera, dan aku yakin itu sengaja nihh Abel udah nemuin rekamannya." jawab Abel lalu menunjukkan layar iPad nya.
"Trus minta lie detect buat apa, bikin heboh aja." sahut Alvin, Abel yang tak terima kembali tersungut emosinya.
"Padahal Abel cuma minta link, enggak mintak kalian kesini. Mas Alvin resek Abel sebel hiksss." jawab Abel lalu dia mulai merengek.
"Kok jadi nangis sihh." ucap Nina sambil menghapus bulir air mata.
"Nahh kan sensi nih bocahh."
"Eng-enggak ta-tau ini main keluar ajaaa huhuhuhhh." jawab Abel.
"Ini tanggal berapa sihh." gumam BG.
"Tanggal 10."
"Hahhh pantes." ucap BG lirih.
"Apaan." tanya Angga.
"Mendekati PMS dia." jawab BG.
"Lahh gawaatt."
Tak lama Kevin datang menyerahkan bungkusan pada BG, sang Bagaskara pun berdiri menyodorkan bungkusan itu pada Abel.
"Aaa-apa." tanya Abel lembut, BG pun memberikannya, seolah obat mata Abel berbinar-binar lalu mulai memakan Es krim yang diberikan BG.
"Habis meloww langsung dahh tuh muka ceria kek Cerry."
"Yaudahh ini biar mbak yang bereskan, masalah lie detector buat apa." tanya Nina.
"Jadi tadi tuh Abel cuma mikir plan B jika plan A gagal, sejenis second opinion. Dalam artian jika kita gagal mengusut kejahatan ini kalau pelaku enggak ngaku." jelas Abel sambil menikmati Es krimnya.
"Astagaa belum jalan aja loe udah mikir tahap kegagalannya." sahut Airin.
__ADS_1
"Abel kan gitu Ai, kita masih mikir A dia udah ke Z."
"Gak mampu menerima otak guee."
"Habisnya lawan kita itu sekolah unggulan guys." jawab Abel.
Sementara itu Nina tengah sibuk mengotak-atik iPad Abel, sedang Alvin dan Dimas tengah melipir seperti sedang menerima telp.
"Nin, bapak mau kesini." ucap Alvin.
"Hahhh.," teriak spontan Nina.
"Ayahh, ngapain." tanya Abel.
"Yahh kan tadi Abel telpon ada Bapak, jadi beliau khawatir." sahut Alvin, beruntung Abel sudah ada obat jadi tak merasa sebal lagi dengan apa yang diucapkan Ajudannya itu.
"Siap Ndan, situasi Aman."
"............."
"Abel aman, semua terkendali tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"........."
"Siapp Ndan."
Ucap Nina saat menerima panggilan dari ayah Abel.
"Nihh udah mbak kerjakan bahkan sudah ada keterangan juga, tinggal capture lalu diprint out untuk bukti fisik."
"Yahh harus ke OSIS dulu buat ngeprint." sahut Airin.
"Ehhb nggak usah sini mbak kebetulan bawa portabel." jawab Nina.
"Wahh gercep yahh anda." ucap Abel.
"Iyaahh soalnya bapak kalau kerja harus stay on, langsung kelar gak bisa tunda kalau ada kasus." jelas Nina, Abel pun mengangguk percaya.
"Gak anak gak bapak sama keknya." gumam Alvin.
Setelah membaiknya mood Abel, nampak dia kembali ceria. Sudah ada bukti fisik cetak maupun rekam untuk pelaporan tindak kecurangan. Tinggal bagaimana cara Abel mengeksekusi nya, ada turunan dari Raharjo bukan tidak mungkin Abel pun layak saat menyelesaikan masalah.
"Loe kenapa Gas, gak denger kicauan dari tadi." tanya Alvin yang sedari tadi murung.
"Berantam mereka." bisik Devan.
"Hemmmb, kelarin mas gak mau tau."
"Gue udah minta maaf mas, gue kurang apa cobak, gue kudu gimana dong." jawab BG sambil terus memandang Abel yang tengah berdiskusi dengan Nina dan para genk cewek.
"Bawa keluar aja nanti, mas kasih waktu gak sampe malam pokoknya." jawab Alvin.
BG paham Abel akan melupakan penat hanya dengan mencari suasana baru, terlebih yang bisa membuat moodnya membaik.
Nina dan Alvin yakin Abel bisa menuntaskan kasusnya, caranya berdiplomasi tak ubahnya seperti sang ayah. Mereka meninggalkan Abel namun tetap memantau dari jauh.
"Jadi ini gimana strateginya." tanya Airin.
"Sesi pertama Orlando, Angga, Kevin, Devan Gesta, Captain, Gama masuk sesi kedua. Angga bantu Tiga bloker ini belajar mencoba shooting 3 point. Kode tempat-tempat yang menjadi tumpuannya. Sisa Wira dan Adit kalian juga harus belajar juga walau masih memantau. Penjagaan captain enggak seketat saat versus Starlight kemarin jadi sesi dua masuk tapi kita rombak semua mainsett saat di sesi satu, sampai sini paham." jelas Abel.
"Targetnya gak harus 3 point kan Bell." tanya Orlando.
"Enggak sihh tapi kalau 3 point kan mempercepat pertambahan point kita. Apalagi pointer guard kita berkurang." jawab Abel.
"Gempur habis-habisan mereka tanpa celah." ucap Kevin.
"Nihh aku kasih liat bagaimana pandainya rubah licik mereka." ucap Abel menunjukan hasil penyelidikan sekaligus penjelasan detail yang sudah disempurnakan oleh Nina.
Didalam rekaman bahkan menujukkan pintarnya pelaku saat bertindak kelihatan jika dia mencoba merebut bola, namun dia meraih tangan Riki lalu meng crushnya membuat pergelangannya dislokasi dan tidak nyaman. Mungkin tak bahaya namun bisa menyebabkan bengkak jika tak ditangani.
"Rekaman ini akan aku tampilkan dilayar pertengahan sesi kedua, nahh disitulah aku akan bergerak jika mereka tak terima." lanjut Abel.
Sang Bagaskara tak mengeluarkan sepatah katapun, hatinya sedang tak karuan, namun tetap dalam pengawasan Abel.
"Tugas kita apa Non." tanya Nia.
"Karena aku juga tetap mantau team, aku akan turun tangan saat mereka protes dikala video ini diputar. Tolong Nia, Metta Dekka kontrol David dan tim dokumentasi. Cindy kamu pantau jika mereka mulai muncul gelagat tak baik." ujar Abel.
"Hahhh, lahh gue pantau pakai apa Bell." tanya Cindy.
"Pakai Menyann." sahut Abel.
"Dikira mak lampir."
"Canda mulu nih Abel."
"Tauuuk giliran Canda dia nya serius."
"Pak BG nihh binik nya kenapa dahh." ucap Devan, BG tak bergeming sedikitpun.
"Cindyyy kan kita ada tampilan dilayar segede gaban, kamu pantaunya kesitu ada 4 kamera nanti Metta sama Dekka yang mengaplikasikannya. Kan kelihatan tuh kalau ayam mau bertelur, pasti bikin kegaduhan." ucap Abel, Cindy masih melongo bingung.
"Nahh lohh Cin makanye punya otak tuh gedean dikit biar pandei loe." celetuk Metta.
"Mang loe tau apa kata Abel."
"Kagakk, cuma die doang yang otaknya seluas samudra." jawab Metta.
"Sudahh bisik-bisik nya. Masih belum paham juga yahh maksud Abel. Yasallam." ucap Abel frustasi, lalu menjambak rambutnya.
"Ehhh.. ehh jangan gitu juga Bell."
"Astagaaa yaa ampunn."
BG yang melihat Abel hendak melukai dirinya itupun berdiri menarik tangan Abel yang tengah menarik rambutnya. Tunangannya itu seperti tengah stres dan banyak tekanan.
"Jangan gitu nanti sakit kepalanya." ucap BG lirih lalu mendudukkan Abel disebelahnya sambil memijat bagian rambut yang dijambak Abel.
"Iyaaa." jawab Abel lembut.
__ADS_1
"Bell keknya loe terlalu banyak pikiran, cool down dulu lah." ucap Airin.
Karena sesi kedua dimulai dan pemain yang masuk disesi pertama pun telah memasuki lapangan Abel melanjutkan penjelasan kepada para tim huru hara. Sepelan mungkin dan sejelas mungkin Abel mengarahkan mereka. Mungkin efek bertengkar dengan BG juga yang mempengaruhi mood Abel.
"Cin, Okey yahh." tanya Abel.
"Asal loe gak ngejelasin pake perumpamaan otak gue masih nyaut Bell." celetuk Cindy.
"Hahhahah."
"Minum susu yang banyak Cin biar cerdas dikit."
"Loe kate gue dungu apa." sahut Cindy, Wira yang sedang dalam masa pendekatan dengannya pun dibuat terkekeh.
"Dahh lah kelakuan para ladies ini emang pada Absurb." ucap Metta.
"Termasuk elo, anjir."
"Lahhhiyaa loe juga cewek begok."
"Iyaaa.. iyaa gue cewek."
Perdebatan para ciwi-ciwi gak akan kelar dalam waktu singkat, meskipun sering berdebat tak jelas namun tak bisa dipungkiri kedekatan satu sama lainnya.
"Sini." panggil BG pada Abel agar mendekat padanya.
"Hemmb."
"Masih marah." tanya BG.
"Hahhhh, enggak kok. Aku tau alasan kamu semarah itu dan seemosional itu."
"Apaa..?"
"Karena aku kan." jawab Abel, namun BG hanya memandang wajah cantiknya.
"Aku jadi gak enak hati karena udah jayus ke kamu." lanjut Abel.
"Enggak kok, aku juga over control, dan ngebuat kamu jadi kena imbasnya. aku janji gak akan gitu lagi." jawab BG.
"Ekhhemm."
"Mon maap bapak ibu ditahan dulu, eike mau laporan nih." potong Dekka.
"Bell, kita ketinggalan 12 point." ucap Airin.
"Tarik Gesta, Orlando captain Gama in." ucap Abel.
"What should i do."
"Do the best, kamu wajib kasih mereka pembalasan udah bikin Riki cedera. Balas dengan mengambil kepemilikan piala mereka." ucap Abel sambil menangkupkan kedua tangannya kewajah BG.
"Gama, do you're best all of on your arms." titah Abel pada Gama.
"I'll Do."
Abel, BG, Gama, Airin dan pemain cadangan Mereka semua berpelukan sebelum memasuki lapangan. Sebelum BG masuk Abel memanggil Angga, Devan dan Kevin untuk memberikan semangat dan arahan, karena pak Sam sedang ada kegiatan sehingga tak bisa menemani mereka saat bertanding.
"Keluarkan semua kemampuan kalian, aku tahu kalian punya bakat dan skill lebih. Buktikan dengan mereka menyingkirkan Riki, bukan berarti mereka bisa menang hari ini." ucap Abel.
"Siapp coach."
"Pastii."
"Akan kubuat mereka sampai tak berdaya."
"Remember, jangan sampai membuat fault. cukup mereka yang licik enggak dengan team kita." lanjut Abel.
Mereka mengangguk paham, Abel tak mengindahkan perbuatan yang melanggar peraturan, ingin menang maka kita harus cerdas dan memiliki strategi.
Jika sebelumnya mereka taj membuat penjagaan pada kapten, kini justru berbalik BG sang kapten bahkan tak bisa bergerak mau tak mau membuat Gama dan Angga yang bekerja keras.
"Ini dia penjahatnya." celetuk Kevin.
"Hahh maksud loe." ucap pemain Labschool yang sudah membuat Riki celaka.
"Bukan hal besar, btw Abel gue udah mengumpulkan bukti kejahatan loe." potong Devan kini mereka berdua tengah mengepung pergerakan pelaku itu, berniat membuat mentalnya down.
"Ohhh, massak."
"Cihhh, loe gak tahu kedatangan 3 petugas tadi, trus loe lihat dehh banyak kamera disini." ucap Devan penuh intimidasi setelah gertakan mereka seolah tak digubris dan dianggap santai.
Pemain Labschool itu pun mengikuti yang Devan tunjuk mendapati beberapa kamera bahkan ada yang menyorot ke layar besar.
"Hahhh."
Kesempatan Devan dan Kevin bekerja mereka menyambar bola mengoper ke BG yang sedang terbebas dari pengawasan. Sang Kapten pun segera mencetak tiga point, bahkan saat pemain Labschool menggiring bola ke daerahnya BG dengan sigap mengejar dan merebutnya melempar jauh kearah Angga seolah tak membiarkan mereka mencetak point.
Kapten tim Labschool berteriak kencang dikala tak ada kesempatan mereka menambah point bahkan kini berbalik tertinggal dari Tunas Kelapa.
"Kalian semua gak ada yang becus, Begook semua."
"Ehhh santuy, kenapa teriak-teriak bikin sakit telinga." sahut BG.
"Apaaa loe."
BG tak menghiraukan dia berjalan keluar karena sesi kedua berakhir jeda 15 menit untuk masuk sesi ketiga.
"Loe tau tim kita kacau, gue salut banget sama mereka walaupun enggak menang tetap kompak."
"Yaps tull, kaptennya gak suka marah-marah kek kapten kita." bisik-bisik para pemain Labschool dikala kaptennya sedang mengomel.
"Lhaa loe Don, kenapa kusut banget tuhh muka." tanya pemain Labschool pada Doni pelaku yang mencederai Riki.
"Hahhh, bakal ada kejadian buruk."
"Apaa.."
"Serius loe."
__ADS_1
"Entahlah."