
Kejadian pemeriksaan kelengkapan atribut menjadi trending topik hari ini, tidak hanya para Maba yang tetap mengagumi sikap Abel yang tetap santai dan santun menghadapi Bullyan dari seniornya tapi juga ramai dibicarakan para panitia ospek.
"gila banget si Agnes gak ada kapoknya."
"Emang dia cari banget gara-gara."
"Kemana tuh si centil, kalah saing tuh sama si Arabella."
"Jauh banget bahkan dengan muka si Ara menor sekalipun gak ada apa-apanya si Agnes."
"Ini bahkan si Bima apa gak tau ini berita."
"Dia lagi banyak kerjaan."
"Iyaa dibantuin Merry sama Rey."
Sementara itu di aula para Maba yang mendengarkan arahan materi dari panitia menyimak dengan seksama sampai terdengar peringat jam istirahat.
Abel, BG dan yang lainnya pun menuju food corner kampus, sedari tadi Abel gelisah merasa ingin segera menghapus sesuatu yang menempel dipipinya. Abel meraih tisue basah ditasnya yang selalu tersedia. Tak ada yang menyadari bahkan BG pun yang terbiasa peka pada Abel pun sama.
"Sssshhhhh." desis Abel sambil menghapus bubuhan eyeshadow di pipinya.
"Kenapa Bell..... Ya Alloh astaghfirullah." ucap Dekka yang mendengar Abel mendesis, tak lama dia pun berteriak membuat BG dan yang lain melihat fokus Dekka.
"Ya ampun ini iritasi Bell." ucap Cindy, BG pun seketika mendekat memastikan apa yang terjadi pada sang tunangan.
"Jang digaruk baby." ucap BG melihat pipi Abel kemerahan tak wajar akibat terlalu banyak eyeshadow yang dibubuhkan dipipinya.
"Enggak kok." jawab Abel sambil membersihkan dengan tisue basah pelan-pelan, BG mengambil tisue basah membantu tunangannya itu memastikan eyeshadow itu enyah dan pipi mulus Abel bersih.
"bawa ke dokter Gas, Loe ijin sana ke panitia."
"Iyaa lagian ini juga salah satu akibat kesalahan dari mereka, kalau gak boleh cabut Loe bilang om Saga aja." sahut Riki.
BG meraih tangan Abel menuju keruang panitia dengan terburu- buru bahkan tanpa sadar menggeret Abel begitu saja.
"Astagaa pelan Gas." ucap Dekka menyadari kecemasan BG, sedangkan semua para Maba di sana tahu kejadian itu semakin membuat bisik-bisik menggema. Bakalan jadi trending topik lagi hari ini.
"Permisi" Teriak BG menggema di ruang yang menjadi basecamp panitia ospek, terdapat beberapa senior disana namun tidak semua panitia berada ditempat karena ada yang sebagian menyiapkan kegiatan selanjutnya dan sebagian diruang BEM.
"Iyaa dek kenapa."
__ADS_1
"Saya mohon ijin keluar kak mau ke dokter."
"Ada apa, siapa yang sakit."
"Sakit apa sampai harus ke dokter."
"Iyaaa sementara bawa ke ruang kesehatan dulu dek."
"Kalian buta apa memang tidak bisa melihat." teriak BG lantang, habis sudah kesabaran nya karena seniornya mengulur waktu, Abel semakin mengeratkan tangannya yang digenggam BG. Mereka tak menyadari jika kedua Maba didepannya itu mendapat stempel merah, karena BG dan Abel tak memakai papan biodata. Agnes yang mendengar keributan pun tertarik dengan apa yang terjadi didepan sana.
"Maksud kamu apa dek, jelaskan jangan marah dulu."
"Ada apa sihh brisik banget." ucap Agnes, BG yang menyadari keberadaan Agnes pun semakin memantik emosinya.
"Ini dia si trouble maker." sahut BG.
"Apa maksud Loe, kurang ajar banget." jawab Agnes.
"elo yang udah bikin cewek gue iritasi, elo juga yang nambahin ngelukis diwajah cewek gue yang bahkan diluar peraturan yang elo-elo semua bikin." teriak BG sambil menunjuk Agnes dan semua panitia yang disana, mendengar penjelasan BG mereka pun tertuju pada pipi Abel yang ruam.
"Alahhh sok kecakepan, makanya beli make up jangan yang murahan." sahut Agnes yang semakin membuat BG murka.
"Bangshattttt, Loe goblok apa pura-pura goblok. Pewarna yang Loe coretin di pipi cewek gue itu eyeshadow bukan blush-on anjing. Gue yang cowok aja tau itu, masak elo enggak kalau bukan dasar Loe goblok atau emang sengaja bikin cewek gue begini, hahhh jawab Jang bisu Loe.." murka BG semakin tak terhindarkan, bahkan Abel tak bisa membuatnya tenang karena dia pun dalam perasaan kalut saat ini.
"Jangan-jangan dia stempel merah guys."
"Iyaa kalau gak salah dia yang jadi trending topik off the day."
"Mampus gak tuhh."
"Truss gimana ini."
"Heee Loe cewek laknat jawab jang pura-pura bego Loe, Sampek kenapa-napa sama cewek gue, gue hancurkan Loe dan keluarga Loe." ucap BG yang terus menebar ancaman, hingga terdengar deheman keras.
"Gheemmmm."
Semua menoleh pada sumber suara, begitu pun Abel dan BG yang membelakanginya.
"Om."
Deg.. deg..
__ADS_1
Satu kata dari BG membuat lutut para seniornya lemas seketika, ancaman hukuman segera menanti mereka saat kehadiran sosok yang ditakuti mereka.
"A-aaaapa o-ooom."
"Mmmmmammmmpuuuusss."
"Kenapa Bagas, Abel." ucap Sagara, Adik kandung papa Hermawan. Pria berusia 42 tahun namun masih nampak rupawan diusia matangnya. BG memeluk pria yang dia sebut om didepan para seniornya, tanpa sadar sedikit terjawab hubungan diantara keenam Maba spesial dengan sang rektor. Abel mencium punggung tangan adik dari papa mertuanya.
"Om, Abel iritasi di wajahnya aku minta ijin tapi dipersulit, padahal karena siapa Abel Sampek seperti ini, semua karena mereka." jawab BG jujur, sedangkan om Sagara dalam hatinya pun merasa kecewa pada mahasiswa senior BG. Lama om BG terdiam lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikan kepada BG.
"Pergilah nak, bawa Abel ketempat teman om. Dia dokter spesialis kulit dan kecantikan."
"Gracias Dios mio."
"De nada (sama-sama)."
"Makasih om."
"Pergilah, hati-hati." jawab Sagara sembari mengusap rambut Abel.
Bagaskara melenggang meninggalkan kampusnya secepat mungkin, Dekka dan Cindy berpesan agar BG tak terburu-buru daripada terjadi apa-apa dijalan. Sementara itu Sagara sang rektor tak berkata sepata kata pun kepada mahasiswi-mahasiswi didepannya, dia meninggalkan basecamp panitia ospek dan segera menelepon seseorang diponsel nya.
Sebenarnya hari ini jadwal Sagara mengisi acara kegiatan penyambutan mahasiswa baru sekaligus memantau para keponakan termasuk sahabat Abel BG diantaranya. Sungguh diluar prediksi bahkan tak pernah terfikir kan Sagara langsung menghadapi kejadian hari ini.
"Tolong kirimkan hasil pemeriksaan keponakan ku Rania, dan berikan pengobatan terbaikmu." ucap Sagara dalam sambungan ponselnya.
Sagara tipe pria yang tidak menerima pengakuan mentah, dia harus mencari bukti kongkrit nya. Terlebih itu berhubungan dengan keselamatan keponakannya, Abel sudah menjadi pendamping BG meskipun masih dalam tahap mengikat tapi Sagara yakin jika keponakannya Bagas tulus pada gadis itu.
Tiba saat panitia ospek memintanya untuk memasuki gedung pertemuan untuk kegiatan Ospek, dia pergi sambil menunggu kabar langsung dari temannya. Ditengah dia mengisi materi, Sagara menerima panggilan dari dokter Rania.
"Mohon maaf sebentar saya terima telpon. Halo, Rania." ucap Sagara, para senior dan Maba banyak yang mengagumi sosoknya yang humble namun tak berkurang sedikitpun aura ketegasan.
"Arabella iritasi sedang namun beruntung segera ditangani dalam tiga jam ruamnya akan menghilang."
"Kenapa bisa terjadi."
"Dia memiliki kulit sensitif, terlebih penggunaan make up tidak sesuai dengan takaran dan kegunaannya. Dari cerita keponakan mu itu eyeshadow dipakaikan untuk blush di pipi Ara. Aku kasih dia krim dari Paris Saga, sedikit mahal gak apa kan."
"It's oke Rania, keponakanku itu bahkan bisa menebusnya sampai ratusan juta sekalipun, tolong kirimkan juga diagnosa kamu."
"Ahahahhhh aku tau, Okee wait then. See yaaa."
__ADS_1
Sagara melanjutkan persentasi dan meminta asisten untuk menyiapkan berkas kejadian Abel guna meminta pertanggung jawaban dari ketua BEM. Kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi pada Abel terlebih Sagara sudah memberikan ultimatum kepada ketua BEM jauh sebelum ospek dimulai.