
Setelah drama meninggalkan BG di kantin sejak saat itu Abel memilih diam. Kini mereka sedang berkumpul menuntaskan masalah vacation yang kurang 2 minggu lagi.
"Yaa udah fiks ini mahh." ucap Devan.
"Kalau ada tambahan yang ikut langsung catat."
"Iyaaa, kalau tujuan mahh udah gak bisa di rubah yahh." ucap Riki.
Abel tak pernah mengeluarkan suaranya sedikitpun.
Tak lama ponselnya bergetar menandakan panggilan dari sang ajudan, Abel berpamitan pada temannya untuk menerima panggilan. Beberapa temannya merasa bingung dan sedikit curiga pada Abel.
"Kok kek ada yang beda yahh."
"Apanyaa."
"Abel."
Sementara itu BG cukup tahu jika kesalahan kemarin masih belum bisa mengembalikan keadaan lagi.
Sayup-sayup Terdengar suara Abel menjawab singkat dari sambungan telponnya.
"Hemmm, iyaa mas."
"...."
"Udahh kok."
"....."
"Abel tahu."
Tak lama dia kembali bergabung dengan yang lainnya, BG mengisyaratkan untuk mendekat kearahnya Abel pun patuh. Meskipun Abel berada didekatnya tak sedikitpun dia mengeluarkan sepatah katanya. Ohh sungguh BG terlihat semakin frustasi, dengan cueknya Abel.
"Kenapa mas Al." tanya BG.
"Enggak kenapa-kenapa."
"Baby kalau ditanya hadap aku dong." ucap BG saat Abel masih menolak kehadirannya.
"Ada apa." jawab Abel lalu menoleh singkat kemudian kembali fokus memperhatikan temannya yang sedang bercanda.
Tanpa menunggu lama, BG menggeser kursi milik Abel untuk mendekat kearahnya. Abel pun pasrah dengan ulah sang tunangan.
"Jangan cuekin aku please." ucap BG lirih.
"siapa yang cuek, aku biasa aja kok." ucap Abel santai, BG tak mendebatnya.
Sementara itu para sahabatnya hanya memandang mereka berdua lelah. Mereka tau Abel cukup tak bersahabat dengan BG, namun mereka juga cukup kecewa dengan sikap BG. Biarkan sang Bagaskara menyelesaikan sendiri amukan dari seorang Arabella.
Merasakan Abel menjadi sosok yang sangat pendiam dari biasanya juga dapat dirasakan oleh teman sekelasnya. Sangat bertolak belakang dengan Abel sebelumnya. Mereka cukup tahu diri untuk tidak melibatkan diri dalam urusan pribadi Abel dan BG.
Pelajaran hari ini cukup alot bagi Abel, bagaimana tidak ia bahkan harus pergi ke UKS atas perintah sang guru karena wajahnya nampak lelah.
"Istirahat aja Bell." ucap sang guru, bahkan belum lama dia berdiri badannya langsung ambruk.
"Astagaaa."
"Ehhh kucing mata sapi."
"Ya Tuhaan dosa apa dapat teman laknat begini." ucap Fransiska sambil merebut bola.
"Dev tolongin." teriak Airin yang sudah menangkap kepala Abel akibat terjatuh pingsan.
Devan dan Airin membawa Abel ke UKS dan langsung mendapat pertolongan. Tak lama mata Abel mengerjap, memandang pada kedua teman yang hampir dua tahun bersamanya.
"Bell, loe kenapa sampai pingsan."
"Perlu gue panggil BG kah." ucap Devan refleks Abel menggeleng.
"Gue tau loe ada masalah sama dia." sahut Airin.
"Bolehkan aku kecewa Ai." rintih Abel.
"Tentu saja, kamu berhak." jawab Airin sementara Devan, tak banyak komentar.
Tangis Abel pecah, namun dalam diam, Airin dan Devan memandangnya sendu. Terkadang BG seolah meragu, namun sikapnya juga seolah tak sadari.
Airin dan Devan mendengar semua keluh kesah Abel, bahkan Devan tak mampu berkata-kata. Hanya Airin yang bisa menimpali semua ucapan darinya, sedangkan dia seolah menjadi hakim kedua gadis didepannya itu.
"Apapun keputusan loe, kita selalu dukung Bell." ucap Airin, Abel mengangguk dan semakin yakin dengan niatnya.
__ADS_1
"Tidur lah aku akan kembali ke kelas." ucap Devan, lalu meninggalkan sendiri.
Kegiatan belajar mengajar masih sekitar lima belas menit lagi, namun Abel memilih beranjak dari bed UKS. Setelah mendapat persetujuan dari petugas UKS, Abel segera keluar dari UKS setelah membasuh wajahnya.
Degg.. Setibanya di depan UKS sungguh membuat darahnya mendidih, jantungnya seketika berhenti berdetak. Melihat BG berjalan dengan Kayla yang bergelayut manja dilengannya walau terlihat BG nampak menghardiknya. Mereka berpapasan, seketika BG melemparkan kasar tangan Kayla namun terlambat hati Abel sudah kepalang sakit.
"Baby."
Panggilan itu tak dihiraukannya, Abel memilih mendorongnya menjauh dan meninggalkan keduanya. BG yang hendak mengejar Abel ditarik keras oleh Kayla.
"Kak, aku gimana."
"Sana urusi dirimu sendiri, dasar parasit." teriak sarkas BG, lalu mengejar Abel namu mobilnya sudah nampak keluar dari gerbang sekolah.
Sementara itu didalam mobil, Abel mencoba menetralkan emosinya yang bergejolak memilih memejamkan matanya.
"Mas Abel pusing, entar kalau ketiduran bangunin." ucap Abel tanpa menoleh kearah Alvin karena takut air matanya lancang keluar dari pelupuknya.
Ditempatnya BG mengumpat, dan menyumpah serapah sembarangan. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya dan Abel kedepan.
"Bangshat Kayla, gue ngerasa terjebak." teriak BG frustasi, bahkan membuat Riki dan yang lain menghela nafas kasar.
"Gak akan gue kasih ampun sampai gue berakhir sama Abel. Aaaakkkhhh." teriaknya, sungguh ketiga sahabatnya pun tak ada yang menyelanya.
"No koment dahh."
"Biar dirasain dulu, udah gue peringatin juga." ucap Riki.
"Gue harus gimana, sebenarnya Kayla bilang akan nyelakain Abel kalau gue gak baikin dia." ucap BG sontak ketiga sahabatnya membola.
"Serius loe."
"Gilaaak."
"Emang bener Saikoo dia."
BG mengangguk lalu menyerahkan ponselnya dan menunjukkan pada sahabatnya chat dengan Kayla.
BG tak dapat menemukan Abel dirumahnya, ponselnya pun tidak aktif. Pun dengan Alvin ponselnya diluar jangkauan. BG berharap semoga Abel tak benar-benar meninggalkannya.
*
"Abel ijinnya apa." tanya BG pada Devan.
"Kepentingan keluarga 7 hari, lebih kearah cuti sihh." jawab Devan namun dia seakan menampilkan senyum kecut kepada tunangan Abel itu.
"Akhhhhh." gumam BG nampak semakin kacau.
"Loe apain dia." tanya Devan santai.
"Hahhhhh." sejenak BG menghela lalu fia pun menceritakan semua yang terjadi.
"Seriuss loe." tanya Devan, bahkan kini dia menerima ponsel BG.
Devan sering membawa ponsel BG karena dia seolah menjadi kepercayaan seorang Bagaskara.
"Jadi selama ini ada kesalah pahaman diantara kalian." jelas Devan, membuat BG mengernyit.
Dengan penuh keyakinan Devan menjelaskan perihal kejadian dimulai saat Abel pingsan hingga Abel menceritakan semua rencananya kepada Devan dan Airin saat itu.
Wajah BG pias, mendengar semua cerita Devan. Itulah kenapa BG sangat percaya dengan orang yang sudah bersamanya selama ini termasuk Devan dan para sahabat.
"Kalau dimana dia sekarang jujur gue gak tau." ucap Devan, BG mengangguk paham.
"Gue harus apa Van." ucap BG sambil menelungkupkan kepalanya dimeja.
"Loe udah coba hubungi Ajudannya." tanya Devan.
"Udah semua satu circle Abel.." jawab BG, Devan yakin BG tak mungkin menyerah, semua pasti dia lakukan untuk mencari Abel saat ini.
"Baru sehari juga." ucap Devan santai.
"Sehari rasanya gue mau nekat terjun dari gedung pencakar langit tau nggak. Gue gak sanggup menahan beban rasa bersalah gue Van." ucap BG sendu.
"Haaaahhh."
Tak ada satu pun yang bisa BG lakukan saat ini kecuali mengikuti permainan sang tunangan. Agaknya Arabella benar-benar mempersiapkan semuanya.
BG meyakinkan dirinya jika Abel memerlukan waktu saat ini.
Sehari, Dua hari hingga hari ke tujuh masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Sejak tiga hari yang lalu bahkan BG tak sedikitpun keluar dari kamar Abel yang sudah dia tempati sejak saat itu. Ayah dan bunda sudah 2 minggu berada di Jakarta karena ada kegiatan ayah disana.
__ADS_1
Sahabat dan teman akrab BG cukup prihatin, melihat BG tak mau sekolah dan bahkan belum makan sampai saat ini. Sudah banyak cara mereka lakukan untuk merayu sang Bagaskara.
"Ya ampun Gas loe kayak zombie banget."
"Mandi sana kalau Abel pulang gak malu loe kayak gelandangan gini."
"Sumpahh, kamar Abel jadi bau terasi campur kaos kaki." ucap salah satu diantara mereka, padahal kenyataan nya tidak.
"Bangun loe, udah kayak sampah tau gak." ucap Riki sarkas.
Empat orang lelaki itu dengan terpaksa membopongnya menuju kamar mandi Abel.
"Bangshat kalian." teriak lirih BG, karena kondisinya tak makan tiga hari membuatnya tak punya tenaga.
"Diem loe kerbau."
"Kambing gunung aja baunya kagak begini dahhh."
"Astagaaa kayak anak TK loe."
Sementara itu Riki meminta Art Abel membersihkan kamar Abel selagi BG tengah di eksekusi oleh mereka.
"Kembalikan Abel gueeee."
"Diemm loe berisik."
"Gue racun juga loe aelaaah."
"Goshhh mandiin loe susah amat dahh."
Sementara dibawah sana para gadis mendengar kegaduhan yang dibuat oleh lelaki kurang kerjaan itu tertawa terbahak-bahak.
"Kek anak TK semua."
"Ditinggal minggat Abel aja kek gini itu si BG."
"Apalagi kalau bener-bener diputusin dahh."
"Hemmmb paling mentok si dia minum sianida."
"Kasihan sikk, tapi biar tau rasa aja."
"Yaaa kalok kagak gitu gak kapok juga entar."
Obrolan para gadis tak lepas dari membahas permasalahan BG dan Abel. Bahkan hingga tiga puluh menit mereka mengeksekusinya masih terdengar ribut dan muncul kata-kata frontal dari mereka.
Harapan mereka semoga Abel segera kembali setidaknya jika belum bisa meluruskan masalah tak apa. Melihat BG yang mogok makan dan sekolah seperti ini membuat mereka tak tega rasanya.
Jika dirunut memang BG tak seharusnya melakukan seperti itu, ada baiknya dia mendiskusikan dengan Abel terlebih ada Alvin yang selalu menjaganya.
Riki dan yang lainnya sudah mewanti jika berurusan dengan mahkluk setengah waras Kayla agaknya BG harus konsultasi dulu dengan Alvin sebagai ajudan sekaligus penjaga Abel.
Riki sudah mengirimkan screenshot nada ancaman dari Kayla yang membuat BG dan Abel bertengkar. Tak ada balasan dari Alvin namun dipastikan jika pesannya telah terbaca oleh sang ajudan.
"Makan gihh Gas, badan loe udah gak sixpack lagi."
"Yuupp kerempeng kek bocah ingusan."
"Kalau loe gak menarik lagi justru bisa aja Abel nyari yang lebih gagah dari loe." celetuk Kevin, BG menoleh, sepertinya dia termakan omongan sahabat somplaknya itu.
"Nahh loe, udah kerempeng jelek kek zombie lagi."
Para sahabatnya semakin memanasi sang Bagaskara, dua sendok nasi pun telah masuk. Setidaknya ada yang masuk kedalam perutnya setelah beberapa hari ini dia tak nafsu makan.
"Udahh yah, mual gue."
"Aelaahhh repot amat nih bocah."
"Lagi Gas, mual kek orang bunting ajah."
"Auuuk gue buntingin juga loe."
"Kalian berlima ngapain aja sihh didalam." teriak Metta.
"Lama amat sihhh."
"Bawain Abel gue donng." melas BG.
"Yasallam kalau tau juga udah gue bawa si Abel.
Kehilangannya beberapa hari membuat BG merasa tak sanggup jika terlalu lama lagi ditinggal seorang Arabella.
__ADS_1