Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Menegangkan


__ADS_3

Beberapa Minggu terlewati Abel kini bisa berjalan normal seperti dulu. Seminggu kepulangan dari Singapura Abel kembali pulang kerumahnya.


Meskipun mama BG sedih Abel sudah kembali ke rumah orang tuanya, namun mau bagaimana lagi papa dan mama BG akan pergi ke Singapura untuk pertemuan bisnis.


Sekembalinya Abel kerumah rutinitasnya pun kembali lagi kemana- mana selalu bersama ajudan. Alvin pun merasa hampa ketika tak mengantar jemput Abel.


"Baik sudah siap ulangan Mtk hari ini anak-anak." tanya guru mapel dikelas Abel. Karena banyak tertinggal pelajaran dan kuis, mau tak mau membuat Abel sedikit mengejar ketertinggalannya.


"Siaappp bu."


"Belummmm."


"Siap enggak siap yah harus siap yahh. Ohiyaa Arabella ada pesan dari pak Yono nanti kamu ikut ulangan harian Kimia susulan di kelas IPA 4 setelah ulangan saya." ucap sang guru, Abel pun mengangguk.


"Okey silahkan dimasukan semua bukunya, Ketua kelas bagikan soal."


Selang 30 menit ulangan berakhir Abel dipersilahkan untuk menuju kelas XII IPA 4 yang notabene kelas BG.


Abel meninggalkan kelasnya menuju kelas IPA4 dengan membawa peralatan menulisnya. Setibanya dikelas BG Abel mendapat atensi dari para murid dikelas itu.


"Ngapain cewek loe Gas."


"Abel kenapa kesini."


"Lahh ada Abel."


"Permisi pak Yono." ucap Abel.


"Ohiyaa silahkan Arabella." jawab pak Yono.


Abel pun duduk ditempat yang sudah ditunjuk oleh guru kimia. Sempat Abel menyapa teman-teman BG sekedar melambaikan tangan, lalu tersenyum pada sang tunangan.


"Maaf yah dadakan kasih taunya, Bapak yakin kamu bisa selesaikan tanpa ada kendala." ucap pak guru, Abel pun mengangguk paham.


Proses belajar mengajar dikelas BG tak kondusif karena keberadaan Abel membuat kelas lebih fokus pada sosok yang sedang menggerakkan pensil didepan mereka.


Cukup 20 menit Abel menyelesaikan ulangan susulan dan memberikan pada guru kimia. Sebelum meninggalkan kelas Abel, conector phone dengan Alvin berdering. Abel menekan untuk menerima panggilan namun tak menjawab karena sedang mendengar arahan dari guru kimia.


"Sudah silahkan kembali ke kelas kamu." ucap pak guru, Abel menunduk hormat menoleh sebentar pada BG dan temannya lalu melenggang.


"Mass."


"Bell dengerin mas, mas dapat peringatan akan ada serangan kesekolah untuk mencarimu."


"Apaa mas."


"Tetap tenang okey, mas dan team sudah melacak keberadaan penyelundup itu."


"Mas Al kasih tau Bagas yah."


"Iyaa habis ini, mas kabarin dia."


"Kenapa mau nyerang Abel."


"Serangan balasan, mereka tau kamu anak bapak, pimpinan tim gabungan yang menggerebek kelompok penimbun uang palsu."


"Abel harus apa sekarang."


"Tetap tenang yah, mereka gak mungkin bisa masuk ke area sekolahan."


"Iyaa mas."


"Mas telp Bagas dulu yah."


Alvin menutup sambungan berganti menghubungi BG, walaupun sedang pelajaran BG tahu jika ponselnya berdering.


Matanya menyipit kala nama Alvin tertera, sudah pasti akan ada pesan penting. Karena jam pelajaran segera berakhir BG mengabaikan dia berencana untuk menelpon nya balik.


Waktu berlalu BG sedang menuju kelas Abel setelah bel istirahat berbunyi. Mencoba menelphon Alvin lagi nyatanya belum tersambung. Abel baru saja keluar dari kelas bersama teman-temannya, BG segera menghampirinya lalu menuju kantin bersama-sama.


"Mas Al telpon ada apa." tanya BG pada Abel.


"Kamu belum tau." sahut Abel justru bertanya balik.


"Tadi gak keangkat, pas aku telpon balik gak ada jawaban dari mas Alvin." jelas BG, Abel segera merapatkan badannya pada sang tunangan


.


BG yang merasa ada perubahan padanya pun semakin curiga. Dilihat dari gesturnya Abel seperti tengah berwaspada.


"Kenapa baby." ucap lirih BG.


"Tunggu mas Al telpon aja." jawab Abel.


Beruntung banyak teman sekelas Abel yang ikut ke kantin, jika ada apa-apa mereka bisa diandalkan.


Tengah menikmati makanan ponsel BG kembali bergetar, Alvin terhubung dengan segera dia mengangkat telponnya.


"Mas, sorry tadi masih pelajaran."


"Iyaa gak papa. Gas tolong perketat penjagaan Abel, ada rencana penyerangan. Mas sudah kumpulkan team untuk menyisir pelaku."


"Kenapa bisa gitu mas."


Karena nada bicara BG yang tak biasa membuat Riki dan yang lain bahkan teman sekelas Abel memperhatikan BG.


"Serangan balasan dengan target keluarga pimpinan pasukan. Tapi kamu gak perlu panik, kasusnya sebenarnya remeh mungkin mereka hanya ingin menculik Abel untuk pembalasan."


"Gila Abel kan baru sembuh juga mas."


"Justru itu tolong perketat penjagaan, Mas otewe ke sekolah. Kita berjaga di luar sekolah."


Jelas Alvin sedikitnya BG paham, dia butuh penjagaan Abel didalam sekolah takut mereka menyusup. Sedangkan Alvin dan Team mengamankan diluar sekolah.


"Okey mas siapp."


Sejenak BG menghela nafas, lalu dia mengkoordinasikan dengan para sahabat dan kenalan.


"Ada apa."


"Kek bau-bau gaswat."


"kenapa Gas."


"Hemmm, gimana yah guys. Habiskan makanan lalu kita ngumpul dikelas Abel." jawab BG, namun justru dia tengah tak berselera.


Teman dan para sahabat tak mendebat sudah pasti ada urgensinya jika seorang Bagaskara menginginkan mereka berkumpul.


"Vin loe panggil ghenk loe biasanya."


Setelah menyelesaikan makan, segera semua berkumpul dikelas Abel. Bahkan teman Abel yang tak berada dikelas terkejut kala banyaknya murid yang datang ke kelas Abel.


BG tak sedikitpun melepaskan tangannya dan mengenggam erat Abel. Walaupun ada rasa takut namun Abel berusaha tetap tenang.


"Guyss, gue dapet kabar dari mas Alvin. Beberapa aksi penggerebekan mas Al memicu aksi serangan balasan, Ada rencana penculikan Abel karena dia sosok paling dicari, ayahnya selaku pimpinan pasukan.


Hemmmbb, gue minta bantuan banget sama kalian buat jagain, didepan ada mas Al dan team kita hanya menjaga Abel didalam lingkungan sekolah. Sebenarnya gue gak mau ngelibatkan kalian, tapi kalau bukan kalian siapa lagi yang akan bantu kita." Jelas BG panjang.


"Kita usahain yah."


"justru kita seneng banget bisa bantu."


"Abel teman kita."


"Loe tenang aja Gas."


Sementara Airin memeluknya, memang resiko Abel menjadi keluarga sosok penting. Dia yang akan menjadi sasaran bola panas dari profesi sang ayah.


BG melanjutkan diskusi dengan ghenk Kevin yang sudah sering ia mintai bantuan dalam hal penyerangan.


"Kita-kita udah sering makan gratis saatnya kita kerja."


"Yupps dah lama gak aksi kita."

__ADS_1


"Yaa kalo kalau yang nyulik gak bawa senjata gebukin mampus, kalau bawa sajam gimana."


"Kita butuh strategi, ajudan Abel dan pasukan gak mungkin gak bawa senjata. Jadi selagi penjahatnya gak nunjukin senjata kita aman. Sebaliknya mereka kelihatan bawa senjata kita waspada."


"Lagian pada pandei beladiri takut sama senjata."


"Yahh kalau pisau, clurit, pedang kita bisa halau. Kalau pistol kagak pernah kita."


"Okeyy, sampai sini paham guys." ucap BG setelah koordinasi dengan ghenk Kevin, teman-teman Abel dan para sahabat.


"Apa mereka tahu wajah Abel."


Kini BG dan para lelaki tengah diskusi dengan ciwi-ciwi.


"Sekelas penjahat sudah pasti nyelidiki."


"Trus gimana caranya dia ngenali Abel kalau kudu merhatiin satu sekolah."


"Kalau saran gue sihh, gimana caranya agar Abel tak dikenali." celetuk Airin.


"Ide bagus tuhh."


"Trus gimana."


"Pesan mas Al asal Abel keluar dari sekolah, dan dia akan aman jika dirumah karena penjagaan dirumah sudah diperketat." ujar BG.


"Coba loe buluk dah Bell." ceplos Nia.


Pletaakkk...


Airin menjitak Nia, membuatnya meringis, sedangkan para cowok terkekeh melihat kebar-baran cewek-cewek didepan mereka.


"Sakit Rin."


"Biarr, ngomongnya ngasal sihh."


"Yahh bukan gitu, gak perlu dia jadi anak jendral, dengan muka bening gini aja udah jadi pusat perhatian."


"Yaahh bener sikkk."


"Udahh trus gimana."


"Bell loe ngomong kek."


Ucap teman Abel, memang sedari mereka masuk kelas Abel tak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Ini bukan pertama kali aku bakal dicelakai, aku enggak bisa ngomong karena semuanya unpredictable." jawab Abel.


"Benar juga, kita berencana gini, kita belum tau penjahatnya."


"Iyaa ntar kita kenalan dulu yah."


"Ngomong sompral lagi gue gebuk loe Nya."


"Iyee-iyee mangap." sahut Nia, ketika seorang Fransiska bersuara.


"Kalau Siska kicep dah loe."


"Iyaaa lah, mana bogemannya kek kuli pang-gul." ucap Nia terbata karena segera dia menjauh setelah menghina Fransiska.


"Sini loe bangshat."


"Lahh buseet malah berantem."


"Ciwi-ciwi pada asik sendiri."


"Okey jadi Abel mau digimanain ini."


"Van tolong belikan seragam hijab set." titah BG.


"Lahh bener boleh ugga."


"Kamu gak keberatan kan baby." tanya BG, Abel pun mengangguk setuju dengan pemikiran BG.


"Misi sukses hadiahnya apaan boss." celetuk Kevin.


"Bebas, mau voucher belanja, liburan atau mentahan juga boleh." jawab BG, Abel tak menyela apa yang sudah BG putuskan.


"Hurraaaaa."


"Yessss."


"Asekkkk."


"Emangg top boskuhh."


Belum bekerja mereka sudah mendapat angin surga, membuat teman-teman nya bersemangat.


Setelah Devan memberikan seragam yang diminta BG, banyak diantara mereka terpukau dengan penampilan Abel menggunakan hijab. Sangat berbeda, sepetinya misi penyamaran sukses.


"Tambah wauuuw."


"Iyaa lohh makin cantik kalau gini."


"Ukhtii."


"Tapi mukanya masih familiar, nanti pakai masker yah." ucap Airin, diam-diam BG memotret Abel dengan penampilannya yang memakai hijab lalu mengirimkan pada mamanya.


Jangankan temannya, BG pun sebenarnya menikmati keindahan ciptaan Tuhan.


"Kenapa cantik banget sihh." gumam lirih BG, Abel pun mencubit pelan karena merasa malu atas ucapan sang tunangan.


"Sana loe balik kelean, dah mau masuk nihh." usir halus Devan pada BG dan yang lainnya.


"Iyaa aman dah sama kita." lanjut Adit meyakinkan BG.


Sang Bagaskara mengangguk, namun sebelumnya dia berpesan pada Devan untuk bertugas memindahkan Mobil BG yang berada di parkiran agar mendekatkan kehalaman sekolah.


*


Jam pulang sekolah tiba, membuat teman Abel berdebar, semoga tidak ada insiden berdarah-darah kali ini.


"Astagaa deg-degan gue."


"Yupp sama."


"Jantung gue diskoan gilak."


"Mana musuh gak kelihatan lagi."


Kevin dan teman-teman nya sudah berdiri didepan kelas Abel menunggu perintah BG, Devan sudah berlari menuju parkiran.


"Mas Alvin udah didepan Gas." ucap Devan, BG segera menghubungi Alvin, meminta instruksi darinya.


"Mas Al, masuk."


"Okeyy, kita udah siap. Musuh terlihat, kalau ada pergerakan dari mereka mas melakukan serangan."


"Berapa jumlahnya mas."


"Sekitar tujuh, tapi belum pasti takut sudah ada yang nyusup ke sekolah."


"Okey kita bergerak yah mas mobilku udah ready."


"Lanjutkan."


Segera BG mengatur barisan.


"Abel diantara para ladies, Kevin dan boys depan, samping, belakang. Rik, Dekka sama Wira kan." ucap BG, lalu bertanya pada Riki.


"Aman, misi kelar gue nyusul." jawab Riki karena Dia yang akan mengemudikan mobil BG, disampingnya ada Kevin sedangkan BG dan Abel dibelakang.


Dengan dampingan dari teman-temannya Abel melangkah pasti tanpa ada rasa takut sedikitpun. Mengenggam erat tangan Airin sambil menyalurkan kecemasannya.

__ADS_1


Setelah melewati lorong sekolah bisa mereka harus waspada karena, bisa jadi pergerakan musuh dimulai saat banyaknya murid keluar dari lorong.


"Gemeteran gue anjir."


"Tahan guys, mas Alvin terlihat."


"Pasukan banyak didepan."


Ucap Airin dan Devan menenangkan teman-temannya. Walaupun mereka pun juga sedikit takut, namun sebisa mungkin tak menampakkan agar Abel pun tak terpengaruh.


"Breathing guys."


"Mas ada yang masuk gerbang." ucap BG melihat sosok tak dikenal sedang memeriksa para siswa yang berhamburan.


"Okeey masuk, mas gerak."


Buggghhh.. Tim Alvin melumpuhkan orang yang mencurigakan, sontak membuat beberapa siswi histeris.


"Akkkkkhhh."


"Tolonggg."


"Bergerak Gas."


"Udah mas keluar lorong ini."


Abel semakin panik kala melihat banyaknya murid berlarian ketika ada yang dilumpuhkan.


"Keep walk, stay calm Bell. Don't be panic." ucap Airin, Abel semakin mengeratkan genggamannya, tangannya sedikit bergetar.


"Tolong jangan panik, tetap jalan aja guys." ucap Devan.


"Ngga, mobil loe siap." tanya Devan pada Angga, yang akan mengangkut para gadis.


"Mama, Nia ingin pulang."


"Adooooh, derama banget sihh Nya."


Dorr,. Dor.. dorr


Terdengar tembakan peringatan tiga kali, membuat mereka semakin berdebar.


"Goddd, save our life."


"Lindungi kami ya rabb."


Abel dan yang lainnya sedikit berjalan cepat, melihat kode BG untuk mempercepat langkah mereka. Salah satu teman Kevin menyadari ada yang mendekat, segera dia menghentikan langkahnya dengan menendang keras orang asing itu.


Bughhh, Braaakk..


BG menoleh melihat dua teman Kevin menangani satu orang yang sepertinya membawa sajam.


"Carefull guys." peringat BG.


"Buruan Gas, Abel ketakutan kayaknya." ucap Riki, BG pun mendekati Abel yang tengah diapit oleh temannya.


"Mas Al masuk, ada yang lolos kedalam."


"Terima, team bergerak."


"Kalian langsung masuk mobil Angga." ucap BG kepada para cewek, lalu menarik tangan Abel membawa kemobilnya.


"Target aman, evakuasi lingkungan." terdengar perintah Alvin saat Abel sudah memasuki mobil BG dan mobil pun bergerak keluar halaman sekolah.


"Vin kelar ini ajak teman-temanmu ke salah satu cafe kita." perintah BG, karena nampak teman Kevin masih terlibat baku hantam dengan penyusup.


Saat berhasil keluar halaman sekolah, justru diluar terlihat sudah banyak yang dilumpuhkan oleh tim Alvin. Abel hanya bisa merapalkan doa semoga tak ada yang terluka.


"Samsak gratis dah buat anak-anak." celetuk Kevin.


Dorr.. terdengar tembakan keras, membuat Abel berjengit. Dari kaca spion Riki melihat jika ada yang berniat melarikan diri.


"Apaan Rik." tanya BG, yang langsung mendekap Abel saat dia terkejut dengan suara tembakan.


"Ada yang kabur, padahal kakinya udah luka." jawab Riki.


Beruntung mobil yang ditumpanginya sudah cukup menjauh, karena semakin banyak petugas yang mengevakuasi.


"Devan, dan rombongan aman kah." tanya Abel lirih.


"Van, monitor."


"Gue kehalang mobil tim mas Al baru datang sekompi."


Jawab Devan, diseberang sana terdengar sahutan teman Abel yang sedang merapal doa.


"Mas Al."


"Aman kita tinggal evakuasi dan clearance, Mas tangani temanmu lanjut aja yang penting Abel aman."


"Okey mas."


BG pun mengatakan pada Devan jika tim mas Alvin akan segera mengevakuasi mereka dan menetralkan situasi. Sedangkan teman-teman Kevin seolah mendapatkan media pelampiasan, mereka sangat senang bisa membantu dengan cara mereka sendiri.


"Bangshat emang." ceplos Kevin.


"Apaan Vin." tanya Riki.


"Nihh anak-anak malah sempet- sempetnya ngerecord." jawab Kevin sambil menunjukan video.


"Kesenangan mereka anjir."


"Gak ada yang luka kan." tanya Abel.


"Pfffft." sahut Kevin terkekeh mendengar pertanyaan Abel.


"Loe tahu Bell, temen-temen gue justru seneng banget bisa baku hantam kek gitu. itung-itung pelampiasan lah." jelas Kevin.


"Bawa mereka berobat yah." ucap Abel memohon pada BG, Kevin dan Riki saling pandang. Mereka paling tahu Abel tak ingin menyebabkan orang lain terluka.


"Iyaah."


"Bell, loe gak perlu khawatir. Bagi mereka luka kecil itu gak berarti yang penting loe selamat." ucap Riki.


"Itulah kenapa aku melibatkan teman Kevin, karena mereka sudah biasa dengan main fisik." jelas BG.


"Naaaannti aku mau ngomong sama mereka yah." melas Abel, matanya mulai menggenang menandakan akan segera pecah emosinya.


"Iyaah, nanti video call kalau mereka udah kumpul di cafe." rayu BG sambil mengusap air mata yang sudah diujung mata Abel.


Kejadian hari ini sungguh tidak bisa diduga, segala resiko yang harus dialami oleh Abel patut dia terima.


"Kasus apaan sih Gas sampek mereka ada dendam." tanya Kevin.


"Bandar Upal kalau gak salah." jawab BG.


"Gue kira terorisme."


"Kalau ******* justru gak akan ngincer keluarga, karena mereka punya target sendiri." kelakar BG menjelaskan pada Riki dan Kevin.


Mobil mereka berhasil masuk kehalaman rumah Abel, benar saja penjagaan diperbanyak bahkan dari jarak 5 meter sudah ada pengecekan. Semua akan berlalu saat semua dalang penyerangan tertangkap, jika pasukan Alvin memastikan aman maka semua penjagaan diperlonggar.


Plat nomor mobil BG sudah dikenali oleh paspam, tanpa pengecekan mereka bebas melaju. Terlebih didalamnya terdapat Abel yang akan menjadi target musuh.


"Alhamdulillah, anak bunda sudah sampai. Yuk masuk dulu." ucap bunda Riya, yang sudah pasti sedari tadi dia tak tenang. Setelahnya bunda pun mengabarkan pada Ayah jika Abel sudah pulang.


"Anak-anak disuruh kafe mana nih Gas." tanya Kevin.


"Baruna aja, lagi sepi enak biar santai mereka. Suruh pesen apa aja. Sekalian kabarin Devan bawa rombongannya kesana kalau mereka mau." jawab BG.


"Okeyy."


"Setengah jam kita meluncur." ucap BG, Riki dan Kevin mengangguk. Misi cukup berat namun bisa berjalan lancar, semoga tidak ada trauma diantara mereka yang terlibat dalam misi ini.

__ADS_1


__ADS_2