
...Aku tak mengejarmu saat kau pergi...
...Bukan karna ku tak cinta lagi...
...Tapi ku ingin berhenti...
...Kita saling menyakiti...
...Aku tak menahanmu tetap disini...
...Bukan karna tak bahagia lagi...
...Tapi kini ku sadari...
...Cinta tak harus saling miliki...
...Lebih baik berpisah...
...Dari pada terus terluka...
...Karena ku selalu yang salah...
...Jujur aku trauma...
...Metta Naura...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=••••••\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa bulan kemudian
Setelah bulan demi bulan berlalu, kegiatan Devan pun sudah normal kembali di kafe Ujung dibantu oleh Metta. Setiap Minggu diakhir pekan sebisanya Devan akan mengunjungi makam Nia.
Sementara itu kegiatan dikampus Abel pun sedang disibuk kan oleh beberapa tugas, mengingat semester depan Abel akan menjalani KKN selama 2 semester yang itu artinya Abel akan semakin dekat dengan tahap akhir.
Rencana Abel akan mengikuti KKN di Kedubes atas rekomendasi dari Prof Zayn yang menilai sosok Arabella cukup mumpuni.
"Metta ada apa mau ketemu kamu." tanya BG pada Abel yang kini mereka sedang perjalanan menuju apartemen BG. Sebenarnya mereka ingin ngobrol di kantin kampus sembari maksi, namun Abel pikir ulang karena kemungkinan disana ada Kevin takut membuat Metta tak nyaman.
Dekka R is calling
Abel mengernyit kala ponselnya tertera nama Dekka yang menghubungi nya.
"Kenapa Dekka telpon." gumam Abel, namun sang Bagaskara masih bisa mendengar jelas ucapan gadisnya.
__ADS_1
"Ya angkat aja baby."
"heumm."
"Hallo Dekk, ada apa."
"Loe dimana Bel udah balik kah."
"Heummm, aku mo ke apart Bagas dulu bentar."
"Ohh okey."
Ternyata Dekka hanya menanyakan keberadaan sang Arabella, saat tak mendapatinya di kantin. Mengingat Abel siang ini dia masih ada jam mata kuliah.
Sesampainya di apartemen BG Abel menunggu kedatangan Metta yang katanya naik tukang ojek, sebenarnya membuat Abel bingung karena tak biasa Metta naik ojek.
Belum 10 menit menunggu nampak Metta datang dan membuat Abel mengernyit dahinya adalah sebuah tas besar ditangannya.
"Ada apa ini Mett."
"Iyaa gue katakan nanti yuk." sahut Metta lalu menarik Abel menghindari praduga dari sahabatnya itu. BG pun telah mengekori kedua gadis itu dibelakang tanpa ada respon apapun darinya.
Tanpa Abel sadari BG sudah mengirimkan pesan pada Angga, karena dia sudah menebak garis besarnya.
Gue ada misi sama Abel, tolong ijinin.
Send->
Angga tau jika hari ini mereka bertemu dengan Metta, point pentingnya adalah semua hal yang berkaitan dengan Metta. Jika BG mengatakan ada misi, Angga pun paham jika mereka sedang tidak baik-baik saja dalam tanda kutip.
"Bel, Gas sebelumnya gue minta maaf sama kalian, sama temen-temen kalau ada gue salah...." ujar Metta sejenak ia tampak ragu menjelaskan dan bercerita, namun mengingat ancaman Abel saat itu jika dia tak mau berbagi dengannya maka selamanya Abel akan membencinya.
"Gue harus pulang ke kampung, ayah ingin tinggal di kota kelahiran bunda. Dan rumah yang disini sudah kita lepas." lanjut Metta sendu sambil menggenggam kedua tangan Abel.
"Lalu kenapa kamu harus ikut, bukan kah kamu disini juga kerja." tanya Abel, Metta menggeleng, meskipun Abel tau jika Metta hanya ingin mengubur hidup perasaannya tapi tak untuk pergi begitu saja.
"Tolong Bel, kasihani gue... Eummm bohong kalau gue cuma mau rawat ayah, tapi disisi lain gue enggak ada tujuan bertahan disini... Justru... Justru semakin gue bertahan disini, semakin gue gabisa sembuh kaaann. Hikss." jawab Metta yang sudah berderai air matanya.
Lama Abel terdiam, menyelami perkataan Metta, benar katanya jika luka yang masih belum sembuh tapi terus dibalut dengan luka yang baru lagi maka kapan Metta akan benar-benar bersih jika di keseharian nya dia selalu bertemu dengan Kevin.
"Hikss.. entahlah aku bingung, antara ingin mempertahankan kamu disini, tapi aku juga egois jika membiarkan kamu terus terkurung dalam lukamu sendiri. Hikkss.. Hikss." ucap Abel, sungguh saking ikut terbawa rasa sakitnya Metta, dada Abel seketika terasa sesak dan nafasnya tersengal.
BG tak kuasa melihat sang tunangan begitu tersakiti saat Metta mengatakan ini semua.
__ADS_1
"Gue mintaaaakk toloooong banget Bel, hiks.. Hikss i-ijin-kaaan Gu-gueee perrrgiiii. Hu hu hu huuuu, gu-gu-guuweee ssaaaakiiiit bangeett Bel." ucap Metta tergugu sampai menyayat hati.
"Hikkkss.. Hiksss.."
"Baby." sergah BG mengingatkan sang tunangan agar tak memperberat langkah Metta.
Abel tak bergeming, air matanya semakin menganak sungai, bahkan ia tak kuasa hanya untuk sekedar menjawab Metta.
BG berlutut didepan gadisnya, lalu merengkuh tubuh gadis itu yang sudah tak bisa kompromi dengan situasi Metta.
"Huaaaaaaa." Abel semakin histeris kala sang tunangan memeluknya, rasa kecewanya dengan mendekatkan Kevin dengan Dania membuatnya lupa akan perasaan sahabatnya.
"Apapun yang terjadi, Tuhan pasti ada rencananya dibalik ini semua, kita lepas Metta, biarkan dia menyembuhkan luka dihatinya yahhh." ucap BG sambil mengusap punggung Arabella nya.
"Hiksss.."
"Kita antar yahh Mett. Biar Abel yakin Loe bisa hidup bahagia ditempat baru Loe. Dan satu hal lagi, Abel bisa datang pada Loe saat dia kangen." ucap BG merendah agar Abel luluh dengan pemikirannya.
Disaat sedih dan stres Abel hampir tak bisa berfikir logis terlebih menyangkut dengan orang yang dia sayangi.
"Bolehh, tapi tempat nya cukup jauh dan pedesaan banget, yakin Loe mau anter." jawab Metta semangat, seolah kakinya mampu berdiri tegak lagi.
"Heummm." gumam Abel menjawab Metta, akhirnya dia bisa merespon apa yang BG tawarkan tadi.
"Ayook kita berangkat sekarang, aku udah bilang sama Angga buat ijin kan kamu ke dosen." ucap BG, sontak membuat Abel kaget, sejak kapan sang tunangannya itu menghubungi Angga.
"Hahhh."
"Mingkem sayang, aku udah bilang tadi, karena aku yakin Metta mau kabur dari kita." jelas BG, Abel pun mengangguk sambil membersihkan bekas air matanya dari sisa-sisa kesedihannya.
"Haaaahhhhh mulai babak baru lagi." bathin Metta, setelah mendapat ACC dari sosok yang paling ditakutinya.
Keluarga Metta memilih balik kampung setelah sang ayah sudah memasuki masa pensiun ditempatnya bekerja. Berbekal pesangon pensiun dan hasil jual rumah, mereka ingin memulai hidup baru di desa dengan menjajal entah itu menjadi petani atau kah berwirausaha.
"Sekalian kamu bawa baju beberapa baby, ntar kalau kemaleman kita nginep saja, kami kan besok ada jam sore." ucap BG, dan Abel pun segera mengambil beberapa pakaian yang sengaja ia tinggalkan di apartemen BG.
"Tunggu, kalian enggak lupa kabarin mas Al kah ini." tanya Metta, karena Abel dan BG seolah sudah hidup bebas dari Kungkungan sang ajudan.
"Ohh mas Al ada Penataran 1 Minggu, jadi aku cuma ngabarin mbak Nina kalau gak pulang." jawab Abel, Metta pun mengangguk paham.
"Guys, please Jang bilang anak-anak dulu gue dimana yah. Bukan gue kegeeran mereka bakal nyariin cuma gue beneran pengen balik menjadi kertas putih lagi." sela Metta.
"Iyaaa dehh UGD disini udah tutup." sindir halus Abel, membuat Metta terkekeh dengan maksud dari ucapan Abel.
__ADS_1