Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Hopeless


__ADS_3

Hari-hari Abel dilalui dengan selalu berada disisi Airin guna menguatkan nya. Bagaimana pun juga Angga sudah masuk dalam kehidupannya lama ini. Meskipun badai mengancam mereka tetap bersama, kini setelah seperginya Angga seolah merubah semuanya.


Semuanya menjadi sandaran untuk sang mantan ketua OSIS. Berubahnya Airin menjadi sosok yang tak tersentuh membuat keluarganya terutama Azzam sang kakak bertanya- tanya dan khawatir.


Setelah berakhirnya Ujian Akhir Sekolah, kedepannya Abel akan menghadapi ujian try out hingga ujian pra UN. Semua bersiap dari awal, Abel pun mengurangi jam les agar memberikan space untuk otaknya.


"Seminggu lagi try out, gak kerasa banget yah." ucap Nayla.


"Hemmmb, loe mau kuliah dimana guys."


"Gue mau kerja aja."


"Gue sama kek Devan."


"Mo nyoba SMPTN."


"Nyari kampus yang hits gue."


"Aku udah nyoba Ujian online di beberapa kampus." jawab Abel, mereka semua kini memandang pada Airin yang tengah termenung dalam diam.


"Apaa." tanya Airin ketika seluruh mata memandangnya.


"Haaahhh."


"Hembbb."


"Tskkk."


Begitulah sahutan semuanya yang mendengar ucapan Airin yang dingin. Tak akan ada yang banyak keluar dari mulut Airin ketika bersama temannya. Bahkan dengan Abel sekalipun.


"Ai mau kuliah dimana anak-anak tuh tanya karena pengen tau." ucap Abel dengan sabar menyikapi Airin kulkas mode on.


"Enggak tau."


"Kenapa." tanya Abel.


"Gak papa."


"Udah bosan hidup yahh." cecar Abel, semua yang mendengar pun membola terkejut dengan ucapan Abel bahkan Airin pun tercekat.


"Aku udah lelah sama sikap kamu yang sekarang ini, mau sampai kapan kamu akan seperti ini." lanjut Abel.


"Yaudah kalau kamu capek."

__ADS_1


"Ya okey ayok kita akhiri hidup bersama, sekarang juga kalau kamu sepakat." jawab Abel sedikit meninggi.


Tak ada yang berani menyela kedua gadis itu, diam-diam Devan mengabarkan pada BG jika Abel kini marah-marah dan esmoni tingkat tinggi.


"Kamu tahu hidup kita saat ini terlalu berharga untuk disia- siakan. Aku tahu kamu sedih, tapi enggak untuk berlarut-larut. Lihatlah kita disekitar kamu yang masih setia sampai detik nafas ini. Please kembalikan Airin ku yang dulu please, Hiksss aku tahu bagaimana rasanya tersakiti, dan kehilangan rasa semangat Ai. But you must cherish your life. Tuhan memberikan kita kesempatan untuk bernafas gratis tanpa imbalan bukan berarti kita harus menyerah dalam hidup hanya karena kita sudah gak punya apa-apa." Ucap Abel panjang lebar dengan berurai air mata bahkan ia tak sadari jika BG sudah berada didepan kelasnya, mendengar dengan jelas ucapan gadisnya.


"Hiksss.. hikss."


"Huhuhuhhhh."


"Kamu gak sendiri Ada aku Ai, hiks ingat aku please, ingat mama, papa, mas Azzam juga kita semua. Believe me, may god have another beautiful destiny in your future. Hikss, sekarang tugas kamu hanya bertahan dan menunggu saat itu datang. Kalau kamu gak anggep aku dan sahabat kamu sama sekali gak apa-apa tapi apa kamu tega ngeliat papa, mama mas Azzam terus sedih lihat kamu gini terus." lanjut Abel lalu memeluk erat Airin.


"Hikkkkksss."


Sluuuuurrrp, sluuuurpp. tarikan lendir terdengar menggema di seantero kelas unggulan XII IPA 1.


"Banyak bawang sihhh, huhuhuhhhhh."


Buggghhh. Nia menggeplak Devan yang tak tahu kondisi.


"Hikss, mulutnya gak tau tempat banget sihh.."


"Aaa aaku takut sendirian menjalani ini semua Bell, Hiksss, aku gak punya semangat lagi hikss." jawab Airin terbata.


"Kalau elo gini terus gue jadi benci sama Angga tau gak Rin. Kalau sampek ketemu gue hajar sampai babak belur." celetuk Fransiska yang ikut menangis namun dalam diam.


"Huaaaaaa, udahh yahh jangan sedih sedih lagi. Huaaaa.. huaaa." sahut Nayla.


"Ishhhh Nay enggak teriak juga, hikss sakit telinga gue, gue juga sedihh nih." ucap Nia.


Airin menghabiskan semua keluh kesahnya, Abel dkk pun mendengarkan dengan penuh kesabaran. Sang Bagaskara pun turut menjadi saksi Tangis berjamaah kelas Dua belas IPA 1.


Dalam kondisi suka dan duka mereka tetap bersama, canda tawa itu sekarang berganti menjadi tangis sedu sedan. Kapan mentari akan segera menyinari lagi dikelas ini, hanya Tuhan dan waktu yang akan menjawab.


BG datang masuk menghampiri Abel yang masih setia mendengarkan curhat Airin. Sambil bersendekap dadah, BG memperhatikan sang tunangan yang sudah cukup terlalu lama menangis.


"Sudahh yah nangisnya." ucap BG lirih sambil mengusap kepala Abel, Abel menoleh menyadari kedatangan sang Bagaskara.


"Gue gak tahu apa alasan Angga pergi Ai, dan gue pastikan akan tahu alasan itu jika loe mau." ucap BG penuh penegasan.


"Embbbb, enggak usah Gas. Bener kata Abel, gue harus terus menjalani hidup tanpa dia. Mungkin memang ada alasan dibalik ini semua, tapi gue anggap dia udah nyerah dan nggak mau berjuang bersama." jawab Airin, senyum Abel terbit.


"This my Airin."

__ADS_1


"Betuul tuh Rin."


"Berarti Loe sama Si Paiman itu belon jodoh Rin." celetuk Fransiska membuat banyak yang membeo.


"Hhahhhhh."


"Adaaaa ajahh."


"Adee lagi tuh Paiman, habis Paijo entar berapa menit lagi ganti sape lagi itu sihh kutu kupret." sahut Nia.


"Lahh tuh Kata Loe kutu kupret."


"Nahh sekarang senyum lagi, canda canda lagi yahh, kan bentar lagi UN."


"Entar juga nyesel tuhh si rengginang."


"Kalau dia balik trus tetiba nyariin elo gue orang pertama yang gebukin dia gak pake ampun dah." ucap Siska menggebu- gebu.


"Iyee- iyee yang tenaga badak nya gak ada tanding."


"Cewek elo Gam, entar kalau elo nikah sama dia ambruk dahh kasur Loe." celetuk Devan, BG yang tau arah bicara Devan segera menutup telinga Abel.


"Jang rusuh Loe Dev, ngotorin otak cewek gue." ucap BG sembari menutup telinga Abel. Abel yang ditutupi telinganya oleh sang tunangan pun tak mampu menutupi rasa bahagianya punya pasangan seperti BG.


"Ce ilahh si Abel juga udah 18 tahun udah ready tuhh." sela Gama menggoda BG.


"Udahh- udah Nay juga masih anak kecil gak mau dengar." teriak Nayla membahana.


"Astaggaaa."


"Yaa ampunan pecah gendang gue."


"Gendang apaan."


"Gendang dut."


"Eyaaaa, tung gendang dut."


Drama yang mengandung bawang pun diakhiri dengan celoteh dari para warga dua belas IPA 1. Saat para wanitanya menangis, bersedih para lelaki cukup menjadi penonton setia drama itu. Namun saat suasana terurai para lelaki itu pun mampu menghadirkan suasana menghibur untuk the ladies. Kompaknya kelas unggulan digawangi oleh Arabella apalagi kedatangan tamu agung sang Bagaskara hari ini cukup menarik atensi dari kelas lainnya. Berita menghilangnya Anggada bukan hanya sekedar berita buruk di kelas Abel, pun dengan kelas IPA lainnya dan juga jurusan IPS.



__ADS_1


__ADS_2