
Hoeeekkk... Hoooeekk..
Sehari-hari alarm pagi dan malam BG sudah menjadi kebiasaan yang dia dengar. Mendengar suara Abel yang tengah memuntahkan isi lambungnya membuatnya tak tega.
"Apa masih mual." ucap BG sembari menggosok punuk sang istri.
"Keluar semua yang tadi dimakan.. Hiks." ucap Abel yang sebenarnya merasa sayang karena hari ini dia begitu lahap makan.
"Aku panggil mama yah." Ucap BG, Abel hanya mengangguk lalu digendonglah Abel menuju tempat tidur.
"Maa.."
Abel memejamkan matanya sejenak, namun rasa bergejolak diperutnya sudah tak tertahan lagi.
"Heeeekkk., Uhhmm." Abel menutup mulutnya agar tak mengeluarkan muntahan dikasur. Dia beranjak dengan pelan karena kondisi tubuhnya yang lemah.
Sembari merayap berpegangan tembok karena pusing yang mendera, tertatih menuju wastafel.
"Hoeeekkk."
Byurrrr... Keluar lagi muntahan diperut Abel, setelah dirasa sudah tak ada lagi yang ingin dikeluarkan Abel gegas menuju kasur karena sudah merasa tak enak badan.
"Hufffttt." susah payah berjalan tertatih nyatanya sang Arabella sudah tak mampu menapak lagi.
Sreeett
Brugghhhh
Abel jatuh pingsan..
BG dan mama Mia yang tak sadar dengan kondisi Abel, kini menuju ke dalam kamarnya.
"Honey, ini mama masakin kamu lagi." ucap BG ketika memasuki kamar nya namun tak ada sang istri diatas kasur, justru pemandangan pertama yang ia temui sang istri sudah berada dilantai tak jauh dari wastafel.
__ADS_1
Pyarrr...
Mangkuk berisi makanan terjatuh dari tangannya begitu saja.
"Astaga sayang." ucap BG yang melupakan makanan yang ia jatuhkan dan berlari menuju sang istri lalu membawanya keatas tempat tidur.
"Gas ada apa." tanya mama Mia yang mendengar suara pecahan dari kamar BG.
"Astaga, kenapa istrimu." tanya mama Mia saat melihat BG yang menggendong Abel menuju kasur.
"Bagas datang dia udah pingsan dekat wastafel mam." jawab BG sambil menyeka buliran keringat di dahi Abel.
"Lalu apa dia tidak terbentur sesuatu, kenapa kamu tinggalin lama-lama sihhh." ceramah sang mama membuat BG terhenyak, jika Abel terjatuh gimana kondisi bayinya.
"Gimana ini ma, Bagas juga gak terlalu lama kan tadi dari bawah."
"Huuuhh, sudah ayo kita baya kerumah sakit saja." titah sang mama, BG pun segera membopong sang istri, sedangkan mama Mia menyiapkan keperluan untuk dibawa ke RS.
"Bukan rewel, tapi memang istrimu mengalami morning sickness berlebihan, padahal sudah ada vitamin dari dokter. Hemmmm." jelas mama Mia, sejenak dia berfikir dulu saat hamil BG tak separah ini.
Sesampainya dirumah sakit Abel diperiksa dan dicek apakah ada benturan atau yang membahayakan janinnya ketika dia terjatuh.
"Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan nyonya, pasien sepertinya memiliki riwayat gastritis sehingga saat mengalami mual muntah berlebihan memicu asam lambungnya naik. Saya sarankan untuk memberikan makan sedikit tapi sering bertahap dulu jika memang nafsu makannya berlebih diingatkan saja." jelas sang dokter BG dan sang mama menghela nafas lega.
"Lalu apa perlu dirawat dokter." tanya BG.
"Tidak perlu, dicoba dulu makanan yang tekstur lembut dan hangat, sementara hindari makan rujak dulu yah mbak." jelas sang dokter Abel mengangguk, lebih baik dia menahan diri untuk tak memakan rujak seperti yang selalu ia inginkan. Nyatanya keinginan rasa ngidamnya harus ia redam sementara.
BG tau jika sang istri sangat berminat pada yang namanya rujak selama kehamilan nya, melihat wajahnya lesu dan pasrah membuatnya tak berdaya.
"Gak apa nanti kalau sudah nggak mual muntah bisa makan rujak lagi yah dokter." sela mama Mia, sang dokter pun mengiyakan.
"Sehat-sehat yahh ibu dan bayinya." ucap sang dokter saat Abel dan rombongan meninggalkan UGD.
__ADS_1
"Terima kasih dokter."
Mama dan Abel segera menuju kendaraan, sedangkan BG mengambil resepan tak jauh dari sana.
Saat berada didalam mobil Abel terus memperhatikan sang suami didepan apotik, tampak seorang perempuan muda menghampiri nya dan mereka tengah mengobrol.
Meskipun nampak jika BG menyikapinya datar namun tidak dengan perempuan itu yang seolah terlihat tebar pesona.
Tak biasanya Abel merasa gelisah dan cemburu melihatnya, namun bukan hanya Abel yang merasakannya sang mama pun merasakan hal yang sama.
"Kamu bicara sama siapa." tanya mama Mia saat sang anak telah memasuki mobilnya. Nampak perempuan itu masih terus memandang hingga kearah mobil terparkir.
"Hahhh, apa mam."
"Itu perempuan itu siapa. Dan ada apa." cecar mama Mia, walau ia tak sadar jika Abel pun merasa tak nyaman melihat sang suami mengobrol dengan perempuan lain.
"Ohh, itu bukan siapa-siapa ma, mungkin karyawan."
"Ada urusan apa. Kenapa jam segini ada dirumah sakit."
"Enggak tahu ma, dan Bagas juga gak mau tau. Mungkin dia sakit." jawab BG sekenanya tanpa sadar jika dia sedang dicurigai sang mama.
"Ingat istrimu sedang hamil, bawaan sensitif jangan sampai kamu membiarkan istrimu berfikiran yang tidak-tidak." kelakar mama Mia, BG berfikir sejenak lalu memandang sang istri, walau ia tak nampak bereaksi namun ia tau jika kini mood sang istri jelek.
"Enggak ma, sayang kamu mau apa sebelum kita pulang." tanya BG, Abel menggeleng lalu memejamkan matanya.
"Hahhhh." melihat keterdiaman sang istri membuat BG yakin jika kini Abel sedang tak baik.
"Mama bilang juga apa." gumam mama Mia.
BG pasrah akhirnya memilih menyalakan mobil dan segera meninggalkan rumah sakit. Berharap jika sang istri segera membaik moodnya.
Abel tau jika orang yang suaminya duga karyawan nya itu sepertinya ada ketertarikan dengan sang suami, entah bagaimana ceritanya bisa seperti itu.
__ADS_1