
Tragedi dirumah sakit sepertinya terbawa hingga kerumah.
"Mama, Abel pengen itu." ucap lirih Abel saat masih diperjalanan pulang dari rumah sakit. Karena masih enggan dengan sang suami Abel memilih bicara pada sang mertua.
"Mau apa nak."
"Eummm." Abel melirik ke arah BG, bahkan sang empunya sudah sedari tadi diam-diam memperhatikan sang istri.
"Mau sup buah boleh kah."
"Ohhh boleh kok, Gas udah dengar." sindir sang mama BG pun mengangguk, dia merasa istrinya sangat imut jika merajuk seperti itu.
Sementara BG sedang menepikan mobil lalu turun dari mobil memesan permintaan sang istri, senyum manis Abel pun terbit.
"Sayang, kalau Bagas ada salah ditegur aja yah, jangan dipendam sendiri. Gak baik buat mami sama dedek bayi kalau mami nya stres." ucap mama Mia yang sadar jika menantunya sedang menghindari anaknya. Abel terhenyak dengan ucapan dari mama Mia.
"Abel gatau ma, ehmm kenapa rasanya gak terima lihat Bagas nya sama perempuan. Ehmm yah walau nggak direspon sama Bagas tapi entah kenapa Abel marah banget." jawab Abel yang sedang bingung dengan perasaan nya.
Mama Mia tersenyum mendengar curhatan Abel, mungkin karena bawaan bayi yang tak suka lihat BG berinteraksi dengan lawan jenis.
"Nahh, Abel tau sendiri Bagas paling cuek sama perempuan manapun. Mungkin karena bawaan dedek bayi maminya sensi an." jelas mama Mia, Abel pun mengangguk sedikit lega setelah dia meluapkan isi hatinya pada sang mertua.
"Kedepannya juga jangan kasih lemah perempuan manapun untuk dekatin suami mu yah nak." titah sang mertua, membuat Abel sedikit tersadar jika kemarin-kemarin dia merasa yakin pada sang suami jika tak akan pernah meninggalkan nya.
Rasa cinta yang besar tidak menjamin seseorang bakal setia, jika kita sendiri tak mampu mempertahankan dan meyakinkan pasangan kita agar tetap berjalan dijalan lurus.
"Bantu Abel yah ma, kalau Abel kurang perhatian sama Bagas. Ehmmm." ucapan Abel terjeda namun sepertinya Abel masih bingung untuk menyikapi masalah nya, untungnya mama Mia memahami sang menantu.
"Mama bantu ingatin Abel asal Abel mau jujur sama mama." sela mama Mia Abel pun mengangguk patuh.
Melihat kedatangan BG Abel meyakinkan dirinya untuk tak lagi merasa kesal dengan sang suami, sedikit enggan karena dipikiran nya masih teringat saat ada perempuan tadi.
"Huft, antri banyak maaf yah udah nunggu." ucap BG meletakkan bawaannya dikursi penumpang sebelahnya karena Abel dan mama Mia berada di jok belakang.
"Kalau mau dimaem dimobil itu ada yang ditaruh cup kok." lanjut BG sembari melakukan kendaraannya.
__ADS_1
"Gimana sayang."
"Nanti aja dirumah takut tumpah."
"Tumpah gapapa nanti biar dicuci mobilnya sama mamang." sahut mama Mia, namun Abel menggeleng.
Setibanya dirumah mama Mia memilih membawa pesanan Abel membiarkan BG dan Abel berjalan bersama. Abel paham maksud mama Mia, dia mencoba menekan rasa egoisme nya.
"Kenapa honey." tanya BG karena sedari tadi Abel memandang nya walau dia sedang fokus mengemudi. Abel menggeleng lalu mengalungkan ke leher sang suami. BG pun merespon nya langsung menggendong Abel, dia tau sang istri sedang mengalami fase hamil kebo yang artinya sedang bermalasan dalam segala hal.
"Aduhh-aduh cucu Oma ternyata manja sama papi nya iyaah." goda mama Mia, membuat Abel malu dan tanpa segan menyembunyikan wajahnya didada sang suami. Tentu saja hal itu membuat BG tersenyum menang, sepertinya istrinya yang merajuk sudah mulai meleleh.
"Nahh, Jang dibuat bad mood lagi lohh." pesan mama Mia, BG pun mengangguk lalu membisikkan sesuatu pada Abel.
"Jadi mau maem sup buahnya nggak." Abel mendongak menatap wajah rupawan sang suami lalu mengangguk.
"hemm."
Segera BG mendudukkan Abel di sofa dan mengambilkan pesanannya.
"Boleh nggak sekalian bawakan squeezel rasa mangga dikulkas." sela Abel sebelum BG meninggalkan nya, meskipun sedikit bingung dengan permintaan Abel nyata BG tetap mengiyakan kata Abel lalu menanyakan pada sang mama.
"Ohh itu kamu lihat di kulkas banyak pilihan kok, Abel yang minta dari kemarin-kemarin." jelas sang mama, setelah mendapat benda yang dicari BG membawakannya ke hadapan sang istri.
Mata Abel berbinar melihat sup buah dimangkuk beserta squeezel ditangan sang suami.
"Huwahhhh." ucap Abel lalu menuangkan squeezel keatas sup buah, BG dan mama Mia hanya takjub dengan ulah Abel apa enak makanan itu nanti.
"Sayang, jangan terlalu banyak dulu, pelan-pelan okehh." pesan mama Mia, hampir saja Abel kalap.
"Ahhh iyaa maaf mama." jawab Abel lalu dengan tak sabar menyendokkan sup buah ke mulutnya.
Ternyata makanan barusan bisa diterima oleh tubuh Abel tanpa ada drama mual muntah, tentu saja membuat Abel senang.
Dikamar dia merebahkan beban tubuhnya karena selalu merasa lelah.
__ADS_1
"Honey aku meeting bentar sama Angga di ruang kerja."
"Hemmm, okey." jawab Abel singkat.
Cuppp..
Sebelum meninggalkan sang istri BG menyambar bibir mungil sang istri, Abel pun menerimanya ini salah satu langkahnya untuk tetap menjaga keharmonisan keluarga nya. Karena sedang hamil muda Abel tak bisa memberikan lebih dari sekedar ciuman.
Beberapa jam merebahkan dirinya dikasur dan cukup lama terlelap Abel terbangun ketika mendengar sebuah notifikasi ponsel. Bukan ponselnya, melainkan ponsel sang suami yang berada di meja nakas sebelah nya.
Tanpa sengaja Abel melihat pop up notif itu yang berupa chat.
"Ini Nadia tuan, terima kasih atas bantuan dan perhatiannya kepada saya. Saya sangat tersanjung, jika tuan butuh saya bisa hubungi saya saja."
"Macam sebuah godaan saja. Kenapa bisa dia tau nomor ponsel suami aku. Enggak bisa dibiarin." monolog Abel dalam hati, darahnya mendidih kala membaca pesan itu. Apa sang suami telah berhubungan dengan perempuan itu sehingga tahu nomor ponselnya.
Sedang asyik mengomel-ngomel dalam hati pintu kamar terbuka, BG datang dengan menenteng laptop dilengannya. Abel pun seketika teringat pesan mama Mia jika kondisi mood swing saat hamil memang banyak dialami ibu hamil.
"Sudah bobok nya."
"Hemm." jawab Abel singkat karena dia masih sebal dengan sang suami.
"Lohh kok gitu lagi sama akunya." tanya BG karena mendadak sang istri bad mood.
"Siapa Nadia."
"Hahhhh."
"Ngaku nggak."
"Enggak tau sayang, beneran aku nggak punya teman atau kolega Nadia." jawab BG panik karena abel menyebut sebuah nama yang bahkan dia tak tahu itu siapa.
"Cepat ngaku siapa, Hiksss.. Hikss."
"Astaga, honey aku bersumpah enggak tau siapa itu." ucap BG lalu merengkuh sang istri, ternyata Abel tidak mengelak nya bahkan ia membalas pelukannya.
__ADS_1
"Teruss siapa yang kirim pes-san tadii, hu hu hu." jawab Abel terbata, segera BG mengambil ponselnya lalu mata nya terbelalak saat ada satu pesan baru dengan pengirim yang bernama Nadia.
"Sayang percaya sama aku, aku enggak tau siapa ini, biar aku block nomernya yahh, Jang nangis kasihan baby nya yang didalam kalau maminya sedih terus." ucap BG sembari mengusap kan tangannya diperut rata Abel, akhirnya Abel tenang.