
Dua jam sudah BG dan Airin menemani Abel belum ada tanda-tanda sang Arabella membuka matanya. Namun menurut petugas terakhir kalinya mengatakan jika kondisi Abel stabil bahkan saturasi oksigen sudah hampir 98% menandakan jika emosional Abel pun stabil.
Walaupun sang ayah pun berada diruangan namun beliau tetap menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. Terlebih proses kelanjutan dari masalah Abel di sekolah.
Ayah Abel paham betul sosok anaknya, meskipun sang ayah mampu bertindak tetap Abel yang akan menentukan hukumannya. Jika tidak maka bahaya mengintai sang ayah, alias alamat Abel akan ngambek.
"Gas loe udah kabarin Riki, ini nanti siapa yang jagain Abel." ucap Airin, sejenak BG pun tengah memikirkan apa yang dikatakannya.
"Blank gue Ai." jawab BG lalu dia segera mengabari Riki.
"Hallo Rik, bawain tas gue ke RS."
"Gimana Abel loe gak ngabarin sama sekali."
"Sorry gak sempet gue, ini udah selesai Operasi dia."
" Kenapa harus Op."
"Iyaaa ada saraf kejepit, tulang lututnya geser."
"Gilakk segitu parahnya."
"Yess, segitu kuat didorong."
"Whattt gak salah denger gue."
"Iyaa, Abel ada yang nyelakain."
"Paraaaahhh,. btw diproses dong."
"Hummb."
"Yaudahh entar gue tanya Dekka dianya mo jenguk apa nggak."
"Okey bye."
BG menghela nafas kasar bagaimana caranya agar bisa melindungi Abel jika terus saja banyak yang tak suka. Mungkin dengan dia kembali menjadi sosok yang tak terpublish seperti dulu.
"Kayaknya belum banyak yang tahu kejadian Abel." ucap BG pada Airin.
"Hemmbb, baiknya gitu. Gue udah kabarin anak-anak, kalau entar pada kesini pas Abel belum sadar mending mereka bergantian aja lihatnya." ujar Airin.
"Iyaa, gue juga gak bisa nyegah anak-anak karena mereka juga sama khawatir nya kek kita." jawab BG.
"Loe coba tanya ayah dulu deh, gimana enaknya."
"Ahh iyaa bener juga."
BG pun beranjak menuju ke tempat ayah Abel.
"Ayahh."
"Ada apa Gas, udah bangun Abel nya." tanya Ayah sambil membolak-balikkan map ditangannya.
"Belum ayah, ehmm nanti ada temen-temen kesini. Menurut ayah apa Bagas larang aja atau bagaimana."
"Biar aja, siapa tau dengan kedatangan temennya Abel jadi gak mikirin sakitnya." jawab ayah.
"Begitu yahh ayah, mungkin nanti Bagas bilang suruh gantian aja gimana." sahut BG.
"Hemmb, baiknya gitu nak."
"Okeyy yah." BG pun kembali ke Bed Abel.
Tak lupa BG mengabarkan pada ART dirumahnya untuk membawakan pakaiannya kerumah sakit. Bagaimana pun juga meskipun tak diminta BG pun harus punya inisiatif untuk menjaga Abel selama perawatan.
BG setia menggenggam tangan Abel menatap lekat wajahnya yang masih terlelap. Entah sampai kapan matanya akan memejam, bahkan Airin pun telah terbawa dalam alam mimpinya disisi sebelah lain Abel.
"Bangun Baby, aku kangen sama kamu." ucap BG sambil mengusap kepala Abel.
"Hemmmb." gumam Abel, seperti menyauti BG.
Tak lama matanya mengerjap, jemari tangannya bergerak pelan.
"Eunhgghhh." lenguh Abel, dengan suara yang sedikit serak.
"Baby ada yang sakit." sahut BG.
"Enggak haus." jawab Abel, namun BG pun segera memencet tombol panggilan pada perawat. Tak lama seorang perawat masuk.
"Permisi."
"Sus, apa sudah bisa minum." ucap BG.
"Sudah buang angin belum."
Abel mengeleng pelan, suster jaga pun mendekat memberikan minum hanya sesendok teh.
"Sementara untuk mengurangi kering ditenggorokan, nanti kalau sudah buang angin baru bisa minum lagi sedikit demi sedikit." jelas perawatnya.
"Coba miring sebentar." perintahnya, lalu membantu Abel miring lalu menggosokan minyak angin dipunggungnya guna memancing reaksi sistem pencernaan.
Setelah membantu Abel dan menjelaskan beberapa hal, sang perawat meninggalkan ruangan. Airin pun sudah terbangun dari tidurnya setelah mendengar adanya percakapan disekitarnya.
"Sabar yahh." ucap BG sambil mengusap kepala Abel yang kini miring menghadapnya.
"Ayah mana."
"Ahiyaa sebentar gue panggilin." sahut Airin.
Tak lama muncul lah ayah Abel, disusul Nina dibelakangnya.
"Bell, mana yang sakit." tanya Ayah, nampak BG pun sudah melipir memberikan ruang pada ayah mertuanya.
"Abel gak kerasa apa-apa yah." jawab Abel.
"Masih efek anastesi yah, jadi belum kerasa." jelas BG, ayah pun mengangguk.
"Kakinya belum bi- sa geraak." rengek Abel.
"Ya mana bisa orang baru dioperasi jadi harus sabar yah." jawab Ayah.
"Kalau jadinya Abel gak bisa jalan gimana ay-ahhh." jawab Abel terbata, sang ayah pun menghela nafas. Menjawab takut salah tak dijawab juga semakin salah.
Airin, BG dan Nina pun saling pandang, dalam kondisi pasca operasi wajar jika pasien mengalami stres.
"Ada aku yang bisa menopangmu." potong BG.
"Capek pengen duduk." ucap Abel manja mode on.
"Setengah duduk dulu yaa." jawab BG lalu menekan tombol pengaturan bed menjadi semifowler (setengah duduk).
Tak lama kedatangan seorang dokter menginterupsi.
__ADS_1
"Selamat sore nona Abel." ucap Dr. Adam.
"Yaa ampun loe tidur di Rs dok, masih disini ajah." sahut BG.
"Hemmm, nihh nungguin si Abel gue, ada laporan dari dokter bedahnya." jawab dr.Adam, seketika ayah maupun BG khawatir.
"Kenapa Dam."
"Pas operasi dr.Sony bilang ngerasa ini Abel sepertinya cemas. Kalau Adam kata sepertinya dia sedang mengalami fase gangguan body image." jelas dr.Adam.
"Maksudnya gimana bang." sahut Airin, namun sepertinya BG sudah paham betul arah pembicaraan itu.
"Bang loe ngobrol dulu deh sama ayah." potong BG sambil mengkode Dr.Adam jika obrolan mereka tengah didengar Abel.
"Disini aja aku juga mau dengar." sahut Abel.
"Kamu harus istirahat gak boleh mikir aneh-aneh." jawab BG, akhirnya ayah dan dr.Adam menuju ruang tunggu.
"Minum."
"Udah kentut."
"Udahhh." jawab Abel lirih.
"Kok gak bau."
"Hemmb, kamu ishhh." rengek Abel, melihat Abelnya sudah tak murung membuat BG tenang.
"Sedikit dulu yah Bell." peringat Airin.
"Keknya emang kita butuh bocah-bocah sableng pada kesini deh." gumam Airin.
"Emang kenapa." tanya Abel.
"Sepii Bell, udah biasa rame."
"Entar gue suruh mereka ngamen dehh." jawab BG.
"Nahh pas biar ada hiburan juga."
Sementara itu ditempat ayah dan Dr.Adam berada, dimana dr.Adam tengah menyampaikan kondisi paling darurat Abel.
"Jadi bapak seperti yang saya sampaikan didalam, sepertinya kita perlu konsultasi pada psikiater. Karena kalau Abel mengalami kecemasan berulang efek ditanda vitalnya nanti." jelas Dr.Adam.
"Bapak pasrah ke kamu aja Dam, gimana baiknya. Memang bapak rasa dia selalu bilang takut, takut tidak bisa jalan takut tidak bisa kembali seperti dulu." jawab Ayah.
"Nahh itu pak, selama operasi meskipun dia tertidur efek anastesi, vital sign nya bergejolak. Abel masih muda wajar dalam kondisi seperti ini dia mengalami over thinking." papar dr.Adam.
"Ini seharusnya bunda yang bisa atasin anaknya, tapi ada Arkana tidak mungkin bisa jagain disini." jawab Ayah.
"Mungkin dengan ada hiburan dan dari dukungan keluarga dan teman-temannya juga bisa membantu bapak." jelas dr.Adam.
"Tepat, nanti katanya ada temannya kesini."
"Assalamualaikum."
"Sepadaaaa."
"Anybody rooms."
"Weii jang berisik loe kira rumah emak loe pada."
"Syuutt ini rumah sakit keles."
"Nahhh baru diomongin sudah muncul saja"
Untuk menghindari semakin gaduh Nina bergegas menjamu mereka.
"Ayoo masuk, Jangan pada ngumpul depan kamar." ucap Nina.
"Makasih mbak."
"Maaf yahh pada bikin rusuh."
"Kampungan pada bocah dahh."
Tak lama BG pun segera menggiring pasukan katak yang tengah bikin gaduh.
"Masuk kelean jangan ngamen depan pintu." celetuk BG.
Buggghh, bagghh bughhh..
Pukulan demi pukulan diterima BG dari para ratu bar-bar kelas Abel.
"Berisik loe Gas."
"Tauk nihh si Madun."
"Dia bukan tendangan si Madun."
"Sakit gilak, aduhhh main gaplok ajah loe berdua." sahut BG, seketika ruangan Abel penuh dengan hiruk pikuk khas teman- teman sekelasnya.
"Baby...."
"Ehhh buset ciwi-ciwi kalok teriak yahh."
"Brisikkkk, rumah sakit woyy."
"Nohh ada babang dokter kagak malu loe."
"Semoga mereka menjadi obatnya Abel." ucap lirih ayah.
"Iyaa pak, kental banget pertemanan mereka. Saya permisi dulu mau ke dr.Rania psikiatri." ucap dr.Adam.
"Makasih Dam." jawab Ayah, dr.Adam mengangguk dan meninggalkan ruangan Abel.
Sementara itu didalam, Abel kembali ceria.
"Gimana loe Bell."
"Wahh btw kagak ada minum nih aus."
"Astaga loe kesini cuma numpang minum." sahut Airin.
"Lupa gak bawa minum Ai." jawab Nia.
"Mana gak bawa bingkisan loe pada, kesini cuma mau ngerampok makanan loe." jawab Airin.
"Gas, minggir elahh gue juga peng deket Abel."
"Taukk, loe kan bisa dempet nih bocah entar."
"Yasalamm kelean kenapa pada berisik dahh." sahut Devan.
__ADS_1
"Boss kagak ada makanan nihh." lanjut Devan.
Cetakk, sebuah jurus jitakan mendarat dari Airin.
"Loe sama aja kek Barbara, kesini mintak makan."
"Sana ngamen dulu loe, entar gue kasih makanan." jawab BG.
"Assalamualaikum." ucap beberapa orang baru datang, rombongan Dekka dan Sahabat BG. Semakin membuat ruangan Abel menjadi ramai.
"Udah enakan Bell." tanya Dekka, dan Abel hanya mengangguk.
"Bibir loe sakit juga Bell."
"Iyaa kenapa loe jadi pendiem."
Mendengar pertanyaan dari temannya membuat Abel berkaca-kaca, BG dan Airin saling pandang, BG pun mendekat pada Abel.
"Hehh, syuutt." ucap Airin sambil mengkode para temannya itu untuk tak mengatakan hal yang sensitif. Dan mereka yang pada dasarnya pandai paham betul jika Abel tengah bersedih dengan sakitnya.
"Gue bantai kalau sampai tau pelakunya." sungut Fransiska.
"Astagaaa, nihh bocahh."
Sementara BG masih mendekap erat sang Arabella yang sudah terisak.
"Jangan sedih lagi, selama masih ada aku jangan pernah berfikir kamu gak bisa apa-apa." bisik BG.
"Kita disini buat loe Bell."
"Selagi loe belum bisa jalan, kaki kita akan selelau menjadi penopang elo." jawab Airin.
"Dr.Adam bilang kamu bisa jalan kok. Memang butuh waktu, jadi dengar yahh jangan fikiran yang aneh-aneh." jelas BG.
"Be-ne-ran aku bi-sa ja-lan lagi kaaan." tanya Abel sambil berurai air mata.
"Bisaa, kok kaki loe gak patah."
"Ada tetangga gue Bell, kakinya putus trus dioperasi dong disambung lagi. 5 bulan terapi sekarang udah bisa jalan lagi." cerita Nayla.
"Nahh elo cuma geser doang gue jamin satu bulan bisa jalan lagi." sela Nia.
"Sudah yahh, apapun yang terjadi kita selalu jadi garda terdepan loe." sahut Dekka, dan yang lain pun kompak setuju.
"Mana Abel gue yang penuh semangat, dan juga penyemangat." potong Devan.
BG menghapus air mata Abel, merapikan penampilan Abel dengan menguncir rambutnya dengan telaten.
"Gas loe udah siap banget jadi suaminya."
"Iyaa nihh suamiable banget."
"Kasih kita deket Abel dong." ucap Nia sambil menggeser BG.
"Iyaa-iyaa astagaa kalian ini."
Devan pun mulai bersenandung, yang laki-laki sedang berdiskusi tentang rencana selanjutnya begitupula dengan para gadis tengah mengobrol ringan menghibur Abel.
Sedari tadi ayah Abel pun mendengar interaksi dan keakraban Abel dengan teman-teman nya. Beruntung Abel memiliki circle pertemanan yang positif, terlebih mereka saling dukung.
BG memperhatikan jika Abel sudah mulai banyak berbicara, meskipun dia tahu jika Abel masih ada yang dipendam setidaknya Abel mulai mencair. Ayah Abel memasuki ruangan, yang hampir memenuhi ruangan.
"Gas, ini temannya udah dibelikan maem." ucap ayah.
"Otewe yah." jawab BG karena Kevin dan Wira tengah bertugas menjadi seksi konsumsi.
"Yasudah, terima kasih yahh anak-anak sudah menghibur Abel." ucap ayah Abel.
"Sama-sama om."
"Iyaa om."
"Abel, pesan ayah ini selagi ada temannya juga. Ayah tau, Abel sedari bayi bahkan sampai sekarang. Abel anak ayah selalu punya pandangan positif, selalu berjiwa besar, tidak mudah menyerah dan selalu berfikir positif." ujar ayah, bahkan teman-teman Abel pun mendengarkan dengan seksama.
"Ayah mau Abel bersyukur, meskipun ini musibah Abel harus jadikan ini semua pembelajaran. Ayah tahu Abel tidak salah, mereka yang berbuat jahat jangan pernah dijahati kembali. Meskipun mereka harus dihukum tapi jangan pernah MEMBALAS. Sekarang Abel harus yakin Abel sembuh, ada teman kamu yang setia disamping kamu, ada ayah bunda, adik, Bagas dan yang lainnya yang selalu mendukung kamu sampai kamu sembuh." lanjut ayah.
Sejenak ayah menghela nafas, melihat Abel mulai terisak.
"Ayah sudah dengar dari dokter Adam, beruntung segera dilakukan pertolongan jadi, dokter Adam yakin 98% kaki kamu bisa sembuh." jelas ayah.
"Jaaadi 2% enggak bisa sembuh kann ay-yaah. Hiks." tanya Abel.
"Hahhhhh."
"Saking pinternya ini bocah kagak bisa kalau gak detail."
"Cuma dua persen loh Bell."
"2 % nya adalah tugas Bagas dan temanmu untuk membantu kamu kembali seperti semula." jawab Ayah.
"Taaa-pi."
"Dengarr anak ayah yang hebat, kuat seperti bunda. Buku kalau sobek masih bisa diperbaiki tidak." tanya ayah, Abel mengangguk.
"Trus gimana cara memperbaikinya. Pakai solatip, pakai lem." lanjut ayah, Abel pun kembali mengangguk.
"Trus setelah diperbaiki bisa dibaca lagi nggak, bisa kan. Karena bukunya walau sudah tidak perfect tapi masih bisa bermanfaat untuk dibaca lagi kan." tanya Ayah lagi, dan Abel pun mengangguk cepat.
"Jadiii." tanya Ayah, bahkan para sahabat dan teman Abel menyaksikan interaksi kedua orang beda usia itu secara seksama.
"Abel juga bisa seperti buku itu." jawab Abel lirih.
"Pintarr, anak ayah hebat, sekarang tugas ayah dan teman-teman kamu untuk memberi hukuman tanpa membalas perbuatan mereka yang sudah jahat." papar ayah.
"Iyaa Bell, biar kita-kita yang jalan."
"Loe fokus buat sehat lagi."
Senyuman terbit dibibir mungil Abel, bahkan menular ke semua orang yang berada diruangan itu.
"Abel kalau ngambek kudu dijelasin pake rumus yah."
"Iyaa beban otak Abel berkelas."
"Kalok elo ngambek receh dibelikan cilor beres."
"Ayah nanti malam biar Bagas sama mas Al yang jaga." ucap BG.
"Ayah gak ngerepotin kan."
"Bagas justru seneng kalau bisa jagain Abel ayah." jawab BG.
"Ayah percaya, yasudah ayah pulang dulu yah, titip Abel. Anak-anak bapak tinggal dulu yah." pamit ayah, tak lupa menciumi Abel sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1
BG membiarkan teman-teman Abel berceloteh mengembalikan mood Abel, setidaknya setelah mendapat pencerahan dari ayahnya Abel sedikit paham.
Beruntung Abel berada diruangan yang terpisah tidak gabung dengan pasien lain. Sehingga walaupun suasana ruangan sedikit ramai tidak mengganggu pasien lainnya dan setidaknya berguna untuk menghibur Abel.