Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
KOPABEL (komando pasukan Abel)


__ADS_3

Bukan mencari siapa yang akan menang atau kalah, melainkan mencari siapa yang SALAH. Kalimat itu yang di tegaskan oleh sang Arabella, kepada semua pihak yang kini berada dibalik Justice Team.


Siapa pun yang sudah kenal lama pasti dibuat bergidik, karena sosok dibelakang komando Abel. Ada pasukan yang terdiri dari sang Ajudan dan team belum lagi BG dan team.


BG bersendekap dadah, memantau dari jauh segala interaksi antara Abel dan Steven yang tengah membahas proses investigasi nanti. Memang bukan main sosoknya, beruntung Steven dan Abel berbeda kalau tidak bisa jadi bumerang buat BG. Fansboy Abel satu ini cukup berkelas.


"Sebentar yah." potong Abel kala mendapat panggilan yang sudah dipastikan dari sang ajudan.


"Iyaa mas."


"Sudah clear yahh Bell, mas dan team ready."


"Okey besok kita start yah."


Jawab Abel lalu memutuskan sambungan.


"Gimana." tanya BG.


"Mas Al dan team udah selesai tugasnya, besok kita mulai."


"Baik sekarang tinggal saya yang bergerak meminta ijin bapak kepala sekolah yah kak." ucap Steven, Abel pun mengangguk lalu dia meninggalkan kelas Abel.


BG dan para sahabatnya kembali ke kelas masing-masing karena pelajaran akan dimulai. Sedangkan Abel mendapat tugas karena guru mapel tengah ijin.


"Buru kerjakan guys." ucap Devan.


"Segala merintah- merintah."


"Tauk kayak situ udah ajah."


"Udah lah dia kan tinggal salin punya Abel."


"Heummmb."


Abel merasa ingin ketoilet.


"Ai aku mau PIP nihh."


"Dianter nggak."


"Nggak usah." Abel pamit pada Airin karena letak toilet tak jauh dari kelasnya.


Setelah membuang air kencing Abel pun bergegas kembali ke kelas, namun saat keluar dari pintu toilet matanya membola kala dia dihadang beberapa orang. Tak ada rasa takut dan tegang pada diri Abel.


"Jadi ini cewek kegatelan."


"Tukang perebut pacar orang."


"Sok kepinteran."


Caci makian dan lainnya masih terus terdengar namun Abel tak gentar, dia sengaja mendengar semua keluh kesah mereka.


"Loe jadi orang jangan keganjenan deh kak, semua laki-laki loe gaet."


"Cihh, sok suci nyatanya udah jebol duluan."


Abel santai menanggapinya, jika mereka melakukan kekera.san baru Abel merespon.


"Jawab, mulut mu bisu yah."


"Jangan sok kecakepan loe anjingg." teriak salah satunya bahkan sambil mendorong bahu Abel.


"Yang kalian sebut perebut pacar yang mana, Bagas kah. Kami terikat karena direstui kedua orang tua bukan kehendak kita pribadi. Lebih tinggi mana kelas seorang pacar dengan Tunangan. Ralat bahkan CALON ISTRI." jawab Abel penuh penekanan.


"Sekarang katakan pacar siapa diantara kalian yang saya rebut, dan yang pasti terjelas adalah nama 1 orang di cincin saya." ucap Abel sambil menunjukkan cincin di jarinya.


"Saya sudah selesai kalian minggir." teriak Abel tak kalah tegas.


Namun gagal diantara mereka ada yang mendorongnya, membuat Abel terbentur tembok dan karena posisi dilantai yang sedikit licin dia tergelincir.


Sreett Dukkk.


"Akhhhhh." teriak Abel.


"Ehh gilak loe."


"Aduhh gue gak tanggung jawab yang ini."


"Ishhh, masshh Al." Abel menekan connector dengan sang ajudan. Mendengar Abel sedang merintih membuat Alvin terkejut dan sedikit panik disana.


"Tunggu mas otewe."


Segerombolan adik kelas Abel itu meninggalkannya di toilet seorang diri, Airin yang menyadari Abel tak kunjung kembali pun menjadi over thingking.


"Tolooong." teriak Abel sambil berusaha berdiri, Airin yang sudah dekat dengan lorong toilet pun ketika mendengar teriakan minta tolong dan suara itu dikenalinya.


"Abeeeelll." teriak Airin, karena kondisi sedang pelajaran otomatis tak ada lalu lalang orang.


"Astaggaaa, bentar gue cari bantuan." ucap Airin lalu kembali kekelasnya.

__ADS_1


"Guys tolong bantuin Abel jatuh. Dev loe panggil BG yahh." ucap Airin, semua temannya merespon dan kelas Abel seketika gemuruh.


Angga dan Adit mengevakuasi Abel secara hati-hati, takut membuatnya semakin terluka.


"Permisi pak, bisa dengan Bagas." ijin Devan setibanya dikelas BG, sang Bagaskara bahkan Riki pun sudah menebak ada hubungannya dengan Abel.


"Ada apa Dev." tanya BG.


"Loe jang tanya dulu dehh, lagi gawat. Siniin hape loe yang ada rekaman CCTV." mendengar nama Abel disebut mata BG membola sudah bisa dipastikan ada hubungannya dengan Abel.


BG menyerahkan salah satu HP nya lalu berlari kencang. Bahkan tanpa ijin ke guru kelasnya.


"Dasar bucin, pake kabur lagi. Ehmm pak permisi itu saya ijin bawa Bagasnya dipanggil dewan guru." ucap Devan pada guru kelas BG.


"iya silahkan."


Devan meninggalkan kelas BG, teman-teman BG sontak saling berbisik, sebelum benar-benar keluar kelas Devan sempat bersitemu pandang dengan Riki.


"Kasihan si Abel."


"Hemmb, kek hidupnya gak tenang banget."


"Susahnya jadi orang hebat yah."


Semua teman seangkatan Abel setidaknya mengenal betul sosoknya, walaupun tak begitu dekat namun mereka kenal baik.


Sementara itu di UKS dimana Airin membawa Abel untuk mendapatkan perawatan setidaknya sampai pertolongan datang.


"Kaki ku sakit Ai gimana kalau aku hiks.. gabisa jalan la-gi hiks." ucap Abel sambil terisak.


"Enggak kok, gue yakin kaki loe gak kenapa-kenapa."


"Tapi aku gak bisa gerakin Aiiiii. Hiks. hiks.." jawab Abel, seketika Airin pun bungkam dia bingung hendak menjawab apa.


Dari luar BG yang sempat mendengar keluhan Abel pun sama terkejutnya.


"Baby." BG masuk keruangan itu langsung menggenggam tanganya.


"Gue yakin 100% ayah gak mungkin biarin loe sakit Bell." ucap Airin mantap sambil bertukar pandang dengan BG.


"Hiks.. hikss."


"Kok Abel kayak sesek yah Rin." tanya petugas UKS.


"Hahh, saturasi oksigen nya turun ini, biar gue ambil oxymetri punyanya." sahut Airin, BG pun mengangguk.


Sang Bagaskara menghapus jejak air mata Abel yang terus mengalir, dengan kondisi stres dan tingkat kecemasan tinggi bisa membuatnya mengalami penurunan saturasi oksigen.


"Sakitt." jawab Abel, sambil meringis.


"Gas."


"Mas, bawa oksigen."


"Kenapa ini katakan dulu." tanya Alvin penuh selidik melihat kondisi Abel menangis dan nampak jelas memar didahinya.


"Gue gak tau mas, anak-anak nemuin udah jatuh di toilet sekolah." jawab BG.


"Lebih tepatnya jatuh yang disengaja." ucap seseorang yang baru saja datang, sembari menunjukkan rekaman CCTV yang sudah diidentifikasi oleh Devan.


Alvin menggeram lalu dia nampak menghubungi bantuan.


"Mas ini kayaknya gue bawa RS aja." ucap BG lalu membisikan pada Alvin, matanya nampak nyalang tak kalah kalutnya. Sedangkan Abel sudah merasa pusing tak memperdulikan lagi sekitarnya.


BG dan Airin membawanya kemobil segera menuju RS, sedangkan Alvin, Devan dan beberapa teman Abel tengah mengevakuasi lokasi jatuhnya Abel. Tak lama Nina dan Dimas datang, cukup mereka bertiga untuk mengumpulkan data.


"Mas kamu belum lapor bapak kan." tanya Nina disela kegiatan mereka.


"Gak sempet, semua serba cepat Nin."


Hampir satu jam mereka mengumpulkan data, Alvin mendapat kabar dari Bagas jika Abel segera dilakukan cito atau Operasi darurat.


Dari pemaparan yang BG terima tempurung lutut Abel mengalami pergeseran dan sedikit menjepit salah satu saraf penggerak, jika tak segera ditangani maka sarafnya akan melemah dan membuat nyeri berkepanjangan. Mungkin itu rasionalnya jika Abel mengeluh tak bisa menggerakan kakinya.


"Sudah Nin kita meluncur kantor untuk lapor bapak. Dua jam lagi Abel akan dioperasi." papar Alvin kepada Nina dan Dimas.


Devan dan yang lainnya mendengar dengan jelas, itu tandanya kasus ini tak main-main dan pasti diusut tuntas.


"Aduhhh tegang banget dah hari ini."


"Yasallam belum kelar nafas udah tegang ajahh."


"Kenapa Ngga." tanya Devan pada Angga yang tengah berfikir.


"Gimana kita besok investigasi kalau Abel di Rumah sakit." jawab Angga.


"Lahiyaaa."


"Tunggu perintah Abel, kita gak tau isi otak itu bocah." sahut Gama dan disetujui oleh yang lainnya.

__ADS_1


*


Operasi akan dimulai, kedatangan ayah Abel membuat situasi semakin tegang. Dimana sosoknya didampingi beberapa ajudan pribadi.


"Ayah." sapa BG pada sang ayah mertua.


"Gimana Abel nak."


"Masih belum selesai operasinya." jawab BG.


"Ehhmm ayah, maaf Bagas tidak bisa menjaganya." lanjut BG, membuat ayah Abel mengernyit mendengar ucapan sang Bagaskara.


"Ayah justru akan sangat marah kalau kamu menempel terus si Abel, kamu juga punya aktivitas nak tidak mungkin kamu akan berada didekat Abel setiap saat. Semua kejadian ini anggap sebuah pelajaran berharga untuk kita, kamu dan Abel kedepannya." jelas bapak Raharjo.


Sekitar 75 menit lebih operasi berjalan, akhirnya pintu ruang operasi terbuka disusul munculnya brankar isi Abel diatasnya dengan mata terpejamnya.


Abel dipindah keruang VIP sesuai pesanan sang tunangan mengingat ayah Abel pun bahkan terbiasa dengan ruang khusus untuk mereka.


"Karena masih proses pemulihan akan ada petugas pendamping yang memantau kondisi pasca Operasi." jelas dokter Adam, BG pun mengangguk paham. Asalkan mereka dalam ruangan khusus saja agar bisa tetap memantau Abel dari jarak dekat.


"Ndan." Kode Alvin pada ayah Abel, dan segera diangguki oleh sang komandan.


Alvin menyodorkan satu map beserta I-Pad milik timsus, bisa dipastikan itu adalah hasil penyelidikan.


"Kinerja bagus team." puji ayah Abel kepada Alvin dkk.


Airin dan BG saling pandang, mungkin keduanya sedang berfikiran sama. Namun tak etis membahasnya dikala kondisi sedang tegang seperti ini.


"Lapor Ndan, Ibu menghubungi." potong Nina menginterupsi kegiatan ayah Abel.


"Hallo Bun."


"Ada apalagi ayah, kenapa bisa Abel dioperasi mendadak." ucap sang bunda.


"Sudah diatasi semua bun, bunda jangan khawatir."


"Lahiyaa kenapa itu anakmu dioperasi kan bunda jadi mikir yang enggak-enggak."


"Jatuh ditoilet bunda."


"..................."


Diseberang sana bunda Riya tengah mengutarakan isi hatinya, dan dengan penuh kesabaran ayah mendengarkan suara merdu dari sang istri.


"Nanti biar dibawakan Alvin Es campur kesukaan bunda yahh okey." ucap ayah Abel untuk menghentikan celotehan bunda Riya.


"Okey."


"Pfffftttt." nampak Nina menahan tawa kala melihat sang komandan berniat menyogok istrinya itu.


"Kenapa Nin,." tanya Ayah.


"Gak papa ndan."


"Biar gak ngambek si bunda kudu disogok." ucap ayah sambil melanjutkan kegiatannya melihat data dari Alvin.


Sementara itu Alvin dan BG tersenyum kala mendengar bapak Raharjo menyebutkan salah satu keistimewaan nyonya Raharjo itu.


"Si Abel nurun dari bunda." bisik Airin.


BG pun paham maksud dari Airin, tentu saja jika mood Abel jelek dia harus segera diberi penawarnya.


"Vin berangkat bawa es campur langgan.nan ibu." titah sang komandan, Alvin pun segera berlalu.


"Ayah, Bagas sama Airin cari camilan dulu, takutnya nanti temen-temen pada kesini." ucap BG.


"Sekalian kamu makan juga Gas, kamu juga sekalian Nin, belikan temanmu didepan dan itu petugas yang didalam juga." ucap ayah Abel.


"Siap Ndan."


"Iyaa ayah."


Satu jam lamanya mereka kembali membawa banyak plastik berisi makanan. Nina menyajikan makan siang untuk sang komandan dimeja ruang tunggu kamar perawatan Abel.


"Permisi pak."


"Iyaa, bagaimana mas." ucap Ayah pada petugas yang menangani Abel.


"Kondisi saudara Arabella tanda vitalnya sudah stabil, tinggal menunggu sadar efek anastesi. Nanti jika sudah sadar mohon pencet tombol perawatan, nanti biar ditangani petugas jaga." jelas perawat.


"Sudah boleh ditengok kan mas " tanya BG.


"Silahkan."


"Baik mas terima kasih yah."


"Sama-sama bapak, saya juga terima kasih makan siangnya, mari."


"Ayah Bagas masuk yah." ucap BG setelah ayah Abel mengangguk, bersama Airin melihat sosok sahabat masa kecilnya itu terpejam dengan beberapa Alat ditubuhnya.

__ADS_1


Airin mengirimkan foto Abel kepada forum kelas, mengabarkan jika Abel telah selesai menjalani operasi. Tak ayal seketika ratusan spam chat dikirimkan ke grup kelas.


__ADS_2