Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Malam Akrab, Malam Bakat


__ADS_3

Setelah mengobati luka Abel BG membawanya ke tenda. Bahkan video Abel berjuang untuk menang menjadi trending topik camping. Juara outbound kekompakan akan diumumkan saat makrab nanti malam sekaligus puncak acara.


Saat berjalan menuju tenda bisa Abel dan BG lihat keberadaan Alvin sang ajudan. Raut mukanya datar, tak garang, tak masam, tak marah. Entahlah apa yang akan dia lakukan.


Abel menoleh kearah BG, begitu sebaliknya, sementara teman-teman mereka pun tak kalah tegang. BG menelan ludah susah payah, takut kalau Alvin murka.


"Goddammit, kenapa aku yang tegang baby." gumam BG.


"Gak papa biar aku yang ngomong nanti."


Nampak Alvin berdiri tegap dengan kedua tangan dilipat didadanya, sambil menanti kedatangan kedua remaja itu.


"Ohhh Goshhh angkara murka sang ajudan."


"Keknya bagus tuh jadi judul novel."


"Menegangkan."


"Duubb.. dubb.. dubb."


Abel mendekat tersenyum, menampakkan raut senang, Alvin berkacak pinggang, lalu Abel berlari memeluk sang ajudan. Luntur sudah amarah murka sang ajudan seketika, Alvin pun membalas pelukannya.


"Abel menang maaaas." ucap Abel ceria.


"Haaaahhhh." Alvin menghela nafas, melihat cerianya Abel musnah sudah harapannya untuk menginterogasinya. Bahkan mereka yang menjadi penonton kompak bertepuk tangan.


"Keprak-keprooookk prokk."


"Suiiittt,. suiiiiitt."


"Hehhh, ini kenapa pake peluk-peluk. Stop it." lerai BG possessive.


"Yahhh.. yahh pawangnya senewen."


"Keren nggak tadi cewek gue." ucap BG pada Alvin mencoba mencairkan suasana.


"Tsskkkk." decak Alvin tak bersuara lalu memeriksa bagian tubuh Abel yang luka.


Bippp.. kreet bunyi Ht milik Alvin yang selalu menjadi backsound.


"Aman mas, emang adek loe ini bandel, udah mau jatuh tetep maju." jelas BG.


"Mas harus lapor apa ini." tanya Alvin.


"Enggak usah lapor kan Namanya outbound pasti gak jauh dari accident." jawab Abel sambil tersenyum.


"Mas, loe dulu pas tugas enggak ada gitu lecet-lecet pasti ada kan. Please ini Abelnya seneng banget lohh bisa ngalahin gue." ujar BG merendah, membuat Alvin tergelak menahan tawa.


"Brrrr, ekhemmm." Alvin menahan tawa lalu menampakkan kembali raut mukanya.


"Loe kalau gak bisa jaga Abel, gue cincang loe Gas." sahut Alvin tanpa melihat kearah BG.


"Weittsss, sebelum loe nyincang udah gue culik duluan mbak Nina." jawab BG, sontak dia pun menoleh lalu memiting kepala BG.


"Bocah gebleek, bandel banget dibilangin." ucap Alvin.


"Ahhhh auhhhhh, ampun mas, ampunn baby tolongin dong." ucap BG sambil menjulurkan tangan kearah Abel, Abel hanya tertawa melihat kehebohan kedua orang dia sayangi.


"Buahahhhhhha."


"Wkwkwkkwkwkkw."


Akhirnya suasana mencair dengan ulah BG yang gak jelas banget.


Setelah bersih-bersih dan istirahat kelompok Abel tengah berdiskusi untuk kegiatan malam bakat dipuncak acara nanti malam.


"Jadi kita nampilin apa nih Bell."


"Hemmm kalian pengen gimana." tanya Abel.


"Lahh balik tanya."


"Begimane sihhk."


"Maksudnya kita mau nampilin nyanyi, dance, drama, puisi apa gimana." sahut Abel.


"Dihhh kenapa kagak sekalian rebanaan, selamat-selamat pengantin baru."


"Upin-ipin dong."


"Hahahhaha."


"Drama musikal seru tuhh cuma minim atribut aja." ucap Abel.


Semenit, dua menit teman se kelompok Abel mencerna ucapannya.


"Boleh juga tuuhh."


"Masruuuk."


"Masuuuk kelees."


"Ahiyaaa itu kamsudnya."


"So temanya apa."


Antusias mereka cukup tinggi, membuat Abel merasa senang.


"Suku pedalaman."


"Adat, budaya."


"Hemmmb, gimana kalau pesona Indonesia." celetuk Arabella.


"Bolehh masrukkk tuhh."


Akhirnya mereka berdiskusi sekaligus berbagi peran, beberapa diantaranya ditugasi mengumpulkan bahan untuk atribut seperti daun, ranting, rumput menjulur dll.


"Bahhh ini mahh Abel totalitas banget."


"Haruss dong, tahun depan belum tentu ada kek gini." jawab Abel.


"15 orang menjadi figuran, tokoh inti Adit, Nia menjadi ketua adat, 4 orang wisatawan, aku sama Fransiska tourist, dua operator." jelas Abel.


"Ini buat konten mahh mantul."


"Hajaaar, Yukkk mulai latihan." celetuk Fransiska.


Hingga sore hari Abel tak menjumpai BG, namun sempat BG menelphonnya mengingatkan untuk tak banyak aktivitas.


Saat Abel tengah mengantri untuk mandi di toilet, tak sengaja dia mendengar obrolan jika dilihat-lihat sepertinya dari kelas X.


"Ituu yang mbaknya peserta outbound yang jatuh, lebay banget dehh."


"Dihh jangan sok tau loe."


"Dihh gak suka gue, mana pake tebar-tebar pesona, kelihatan ganjen banget."

__ADS_1


"Loe kenapa sentimen sama kak Abel."


"Loe tau dia."


"Taulah dia kan pacarnya kapten basket sekolah kita, anaknya pinter banget, banyak yang sayang sama dia."


"Masak iyaaa."


"Hehh loe kemana aja, kak Abel tuh banyak fansclub nya ati-ati lohh."


"Hilihhh, sok kecakepan."


Brakkkk,,,.. Gedubrakkk.


"Brensekkkk, mulut kalian minta dicabein, seenak udel loe ngebacot." teriak Fransiska menghardik 4 gadis yang tengah membicarakan Abel, padahal Abel berada ditempat.


"Apaaan sih kak datang-datang marah-marah."


"Loe... loe yang paling nyolot sini gue jabanin dahh." ucap Fransiska.


Dari tenda Abel terdengar ribut-ribut, bahkan menarik atensi dari tenda yang lainnya. Sedangkan Abel memilih diam tak melerai, namun tetap mengawasi pergerakan Siska.


"Datang gak diundang juga "


"Banshattt berani loe yah." sungut Fransiska menghampiri gerombolan cewek itu. Abel beranjak takut akan ada kekherasan jika tak dilerai.


"Stop Sis, udah yahh biarin aja." ucap Abel, keempat gadis itu terkejut mendapati Abel dipojokan, apa mungkin dia mendengar pembicaraan mereka.


"Hehh ada apa itu ribut-ribut."


"Panggil anak OSIS deh."


"Kok gesturnya kek kenal yahh."


"Lepasin Bell, biar gue bogem ini bocah. Mulut kek sampah." sahut Siska.


"Siapa yang sampah situ kali yang sampah masyarakat."


"Berani loe yahh sini kalian." Fransiska mendorong adik kelasnya itu, dan akhirnya terjadi saling dorong.


"Waduuh baku hantam mereka."


"Cewek-cewek kalau berantam serem."


Tak lama beberapa anak OSIS datang, dan bahkan semakin rame saja yang melihat. Teman sekelompok Abel menyadari jika yang tengah ribut adalah Fransiska.


"Ada apa ini ribut-ribut." ucap Angga.


"Bell, Sis." sahut Devan, mereka paham Fransiska tergolong bar-bar namun tak akan tersulut tanpa sebab.


"Ini nihh bocah gesrek ngomongin Abel yang enggak-enggak, emosi gue." jelas Fransiska.


"Siapa yang ngomongin, mana buktinya."


"Cihhh, udah mulut sampah, pembohong pulak."


"Jangan asal nuduh yahh."


Sementara tiga adik kelas yang lainnya hanya diam bahkan diantaranya sudah bergetar.


"Kamu, cantik, kelihatan kamu orang baik. Tapi kenapa punya fikiran, mulut dan hati yang tak sejalan. Saya disini, sekarang kamu keluarkan unek-unek kamu, keluarkan semua amarah kamu bahkan katakan sekarang juga apa kesalahanku sehingga kamu berani stand up tentang saya tanpa melihat fakta yang ada." Ucap Abel meninggi.


"Omaygattt baby Abel bisa-bisanya selow kek gitu." celetuk Nia.


"Ehhhmm a-a-aku."


"Ehhhh Ma Ma mmaa."


"Aku maafin, tapi next jika ada yang seperti ini lagi enggak ada yahh." potong Abel lalu beranjak meninggalkan keramaian.


"Udahh yahh, bahkan kakak ini enggak marah loh sama kamu, padahal kamu udah nyakitin hatinya, Bubarrr kalian." ucap Devan.


"Yaaahhhh huuuuu."


"Hehhhh, gue keprett juga loe bocah." ceplos Nia sarkas.


Sementara itu BG menyaksikan dan mendengarkan semuanya dari depan tendanya yang berjarak 3 tenda dari tenda Abel.


BG mengetatkan rahangnya menahan serentetan emosi, namun dia tak ingin terjun langsung takut kala tak mampu menahan emosinya.


"Baby.." panggil BG saat Abel akan masuk ketendanya.


"Udahh jangan diambil hati, kalau tetep kamu ambil hati entar aku yang turun tangan nihh bisa berabe kan."


"Jangannn nggak usah." sahut Abel.


"Yaudah senyum dong,." ucap BG sambil mengusap pipi Abel.


"Goshhhh mleyooot gue."


"Baperrr parahh."


"Bubar-bubar disini gak ada tontonan." usir Devan.


"Bell gihh mandi mumpung kosong." ucap Fransiska.


"Hemmm.. Aku mandi dulu yah." ucap Abel lalu berpamitan pada BG.


"Aku tungguin biar gak ada yang resek." sahut BG, Abel pun mengangguk.


"Jang ngintip loe Gas."


"Dihh cewek gue inihh." balas BG santai.


*


Malam harinya..


"Hii semuanya welcome back.. malam puncak nihh mana semangatnya. Okehh karena malam ini merupakan malam keakraban yang meliputi kegiatan malam bakat untuk masing-masing kelas yang akan menampilkan bakat dan keahliannya. Nahh langsung aja yah karena pesertanya banyak." ucap pembuka acara.


Kegiatan berlangsung cukup mulus, terlihat kebanyakan menampilkan bernyanyi dan Bermusik. Kelas BG menampilkan Acapela dengan BG sebagai vocalnya.


"Okeyy next kita akan ke Sebelas IPA 1, kalau dari bau-bau nya sih ini yang paling pecah,... Hemmm jadi gak sabar, yuk langsung aja kita panggil mereka."


"Wahhh menarik nihh."


"Ohh pangeran Daun."


"Kelas unggulan mahh, harus woow."


Sedang BG ditempatnya pun tak kalah antusias menanti penampilan dari sang tunangan. Dia sungguh penasaran kali ini apalagi yang ditampilkan gadisnya itu.


"Ohhhhh wahai rakyatku." Ucap Adit pembuka, lalu terdengar lagu-lagu daerah dimulai dari pulau sabang hingga merauke. Para figuran pun keluar dengan busana yang sudah dibuat dalam waktu sekejap oleh mereka. Ada yang berjoget maumere, ada yang menari kecak, ada yang menari tor-tor.


"This Wonderful Indonesia." Ucap Nia mendampingi Adit, tak lama muncul Miko, Gama dan yang lain sebagai wisatawan bahkan ada yang menggunakan Wig dari anyaman daun pisang muda seolah seperti bule.


"Huaaa kocak."

__ADS_1


"Huhuhuhhhh terniat banget nih kelasnya."


"Dalangnya pasti si Abel ini."


"Proookk .. proookkk priwwwiiiit."


"Ahhh nyesel gue gak ikutan mereka." sebal Devan.


Masih terdengar nyanyian dari lagu daerah. Muncul penari joger Bali, Abel keluar bersama Fransiska sambil menenteng kamera dan dan paper bag bertuliskan Indonesia Punya Nihh.


Abel berlari-lari kecil sambil bersenandung.


"Rasa sayange, ohh rasa sayange heey lihat dari jauh rasa sayang-sayange."


"Ada mangga baru jatuh, Ehh lihat diambil orang. Berani rusak ini hutanku, Sini mari ayo kita perang." Ucap Fransiska berpantun.


Penonton pun larut dalam pertunjukan yang ditampilkan. Abel dan Fransiska menampilkan drama seolah menikmati wisata, Fransiska seolah mengambil foto namun tanpa disadari muncul figuran orang hutan mendekati Abel dan Fransiska. Abel dan Fransiska berlari menghindari orang hutan lalu mereka tersesat di suku perdalaman milik Adit dan Nia.


"Tersesat kita Bell. Hoshh..hosssh."


"Aduuhh capek Sis." sahut Abel.


"Sini gue pijitin gratis kok." celetuk seorang murid.


"Iyuuuhh, itu mau loe dia belum tentu mau Bahahahhah."


"Hu.. huu. haa.. Dumbaaa." muncul figuran rakyat suku pedalaman.


"Huhuhahhh."


"Kalian siapa berani masuk kewilayah kita."


"Bbbbell, gaswaat."


"Ahkkkhhh ayahhh bunda, Abel mau pulang."


Bughhhh... Nia datang sambil memukul pundak ketua suku, sontak membuat penonton tergelak.


"Jangan nakutin, ohh sini anak cantik mendekat ke mamak." ucap Nia.


"Jangan bunuh kami, kami enggak enak dimakan." celetuk Fransiska.


"Ohhh tidak Nak kami tidak makan manusia, tapi Cium boleh lah.." sahut Adit.


Plaaaakkkk... Nia menampar Adit.


"Aduhhh nyaa kok beneran." sahut Adit.


"Buahahhahah."


"Digeprak beneran dong."


"Aduhhh ya ampunnn lucu banget sihh."


Sedangkan Abel dan Fransiska pun ikut terkekeh bahkan Siska sudah mulai menahan tawa.


"Buakkakakakkak."


"Ehhh sorry Dit kelepasan." jawab Nia.


"AHAHHAHAHHH."


Penonton tak puas tertawa terbahak, membuat konsentrasi mereka akhirnya buyar.


"Hahahha rasain loe Dit." celetuk Devan dibelakang layar.


Abel fokus sedangkan Siska masih saja belum bisa berhenti tertawa.


"Ohh god, Nia sakit perut gue." ceplos Fransiska, nampak Nia mengusap pipi Adit.


"Maaf Suhuuu, Ehhh salah." ceplos Nia sambil menepuk jidatnya lupa narasi.


"Aaaahhhhhahahhahah."


"Buahahahhahah."


"Sudah yokk fokus, pppffffttt hahahhaha." ucap Fransiska menghentikan tawanya.


Setelah hening, mereka berpusat pada para pemain.


"Baiklahh karena kalian sudah masuk ke wilayah kami maka kalian akan menjadi penduduk kami." ucap Adit.


"Ehhh jangannnnn." teriak Abel dan Fransiska kompak.


"Hehhh, jangan teriak-teriak loe kira hutan." ucap Adit.


"Ini emang hutan begok." sahut Nia sambil menoyor Adit.


"God bisa kejang otak gue di hajar Nia." gumam lirih Adit, namun masih bisa didengar Nia."


"Mamak ini bukan hutan ini rumah kita." lanjut Adit.


"Ohhh terserah bapake sajalah." ucap Nia.


"Maa ma maaf mamake, bapake kami tidak bisa disini terus." ucap Abel menjiwai.


"Ehhh kenapa."


"Ehhhmm nanti kita enggak bisa tidur, banyak nyamuk." sahut Fransiska.


"Tidak ada nyamuk disini mereka takut karena mamake galak."


"Mau bogem bapake."


"Ohh tidak mamake, bapake sudah kenyang. Ohh lalu kenapa kalian tidak mau tinggal disini." lanjut Adit.


"Ehhhm itu bapake, nanti ayah sama bunda Abel nyariin, mereka pasti sedih kita gak pulang."


"Siapa itu Abel." tanya Adit.


"Sa.. saya bapake., Ehhm bagaimana kalau anak bapake hilang ditahan orang. Apa mamake tidak sedih." ucap Abel.


Bapake dan Mamake sebagai ketua suku pun saling berpandang.


"Huaaaa mamake pasti sedih lahhh."


"Baiklahh, kalian bisa pulang dengan syarat, kalian akan menjadi anak angkat kami."


"Baiklah bapake, asal kita bisa pulang."


"kemarilah." panggil Adit.


"Duduk sini." Ucap Adit menepuk kursi sebelahnya.


"Kita semua Basudara." ucap mereka berempat menutup penampilan mereka.


Riuhh tepuk tangan penonton menghiasi malam yang hening, disertai dengan tawa dan canda mereka.

__ADS_1


__ADS_2