Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
Action Time


__ADS_3

Sore harinya dr.Adam datang dengan dokter Psikiatrik kenalannya, dr.Rania. Setelah mendapat konsultasi dengan psikiater nampak Abel pun hampir tak ada lagi raut murung. Kedatangan dr.Rania semakin membawa perubahan suasana hati Abel.


Teman-teman dan para sahabatnya sudah meninggalkan ruangan bahkan sebelum dr.Rania dan dr.Adam datang. Sehingga saat konsultasi suasana tenang agar konsultasi berjalan dengan baik.


"Aaak." ucap BG menyuapi Abel.


"Besok aku mau bubur ayam dekat sekolah yah." ucap Abel sambil mengunyah makanannya.


"Ini kan juga bubur." jawab BG.


"Enggak enak, aku maunya dimakan ditempat juga." jawab Abel seketika pergerakan BG terhenti. Ada maksud lain yang sedang dipikirkan Abel.


"Ada maksud terselubung baby." gumam BG namun Abel masih bisa mendengar dengan jelas.


"Masss." panggil BG, nyatanya malam ini BG akan ditemani Alvin dan Nina untuk menjaga Abel. Karena tak mungkin Alvin meninggalkan Nina sendiri karena status mereka yang sudah suami istri.


Akhirnya BG pun meminta Nina ikut menginap karena kamar penunggu ada bed khusus sehingga Nina pun bisa beristirahat disana. Sedangkan BG dan Alvin cukup dengan menggelar kasur lipat.


"Ada apa." tanya Alvin, sedangkan sang Bagaskara hanya mengkode dengan menunjukkan dagunya ke Abel.


"Kenapa Bell."


"Besok jadi investigasinya mas."


"Hemmm, kenapa. Jangan bilang kamu mau terlibat." jawab Alvin, seolah tau isi otak Abel.


"Bolehkan, yang sakit cuma kaki aku harus memantau secara langsung." jawab Abel, benar sekali dugaan BG dan Alvin.


"Babyyy."


"Bell, itu tidak mungkin."


"Kenapa emangnya." sela Abel.


"Hahhhh."


"Kamu kan habis operasi sayang, gak bisa langsung keluar RS." jawab BG hati-hati.


"Aku hanya minta hadir pas penentuan hukuman, setelah itu kembali ke RS lagi." balas Abel.


"Kamu gak percaya sama mas Bell."


"Abel hanya ingin lihat secara langsung wajah-wajah mereka ketika mereka diadili, lagian mereka gak akan bisa berkelit kalau ada aku disana. Asal mas tahu mereka sejenis manusia yang memiliki kelainan pola pikir." jelas Abel.


Alvin dan BG saling pandang, bahasa Abel terlalu susah dipahami.


"Hembb, mereka pandai berkelit dan cara berfikir mereka berbanding terbalik dengan pemikiran normal manusia." lanjut Abel.


"Maksudmu mereka alien atau binatang gitu." sahut Alvin.


"Mmmungkin." jawab Abel santai.


"Gimana nanti lihat dokter Adam dulu, boleh apa enggak." potong BG.


"Please, setelah ini Abel gak mau lagi terlalu mencolok, atau terlalu sering tampil depan publik." kelakar Abel, sontak membuat kedua lelaki itu bungkam.


"Jadi rencana Abel pengennya gimana, biar besok mas bisa menyesuaikan seperti yang kamu mau." tanya Alvin, Abel pun menjelaskan semua yang sudah diangan- angankan.


Nampaknya Alvin maupun BG sedikit terkejut nyatanya Abel paham karakter para siswa yang diindikasi melakukan bullying kepadanya. Bahkan hingga apa saja yang harus mereka bayar untuk semua perbuatan mereka.


"Mas konsultasi dengan bapak dulu yah Bell, gimana pun juga kita besok terjunin team jadi kita harus tahu job desk masing-masing." Jawab Alvin, BG maupun Abel harus setuju dengan pendapat Alvin.


"Sekarang bobo, gak ada bantahan." ucap BG.


"Iyaa."


Setelah Abel terlelap BG dan Alvin segera menggelar kasur untuk rebahan. Tak lupa BG mengabarkan pada Airin jika besok kemungkinan Abel akan hadir dalam proses investigasi.


*


Keesokan harinya...


Semua proses perijinan pihak sekolah mulus, semua berkat kerja team dari OSIS dan kelas Abel didukung pengantar dari ayah Abel atas tuntutan perkara yang terjadi pada Abel. Karena ada beberapa hal yang diusut masalah fitnah dan berita hoax dan tentunya kasus krusial bullying serta tindakan keke.rasan terhadap Abel yang menyebabkan dia cedera.


Pihak sekolah sebagai pihak penengah sekaligus sebagai jembatan antara pelaku dan korban. Apapun tindakan yang menyebabkan ada korban dengan sengaja atau tidak tetap diberlakukan hukuman paling maksimal DO.


Semenjak pukul 7 tidak ada jam pembelajaran, karena proses investigasi dimulai pukul delapan hingga selesai. Mendengar Abel terluka bahkan sempat terjadi pembullyan pihak guru bahkan geram dan merasa kecolongan.


Sementara itu diruangan Abel kini tengah terjadi perdebatan dimana dokter Adam tak menyetujui ide gila Abel.


"Ayolah bang, entar balik lagi kok." rayu BG pada dr.Adam.


"Gila aja dek, ini rumah sakit bukan punya Abang, gimana bisa pasien keluar. Lagian hari gini kan bisa telekonferensi aja toh." jawab dr.Adam tak mau kalah.


"Abel cuma mau lihat terakhir kali wajah para psikopat itu dihukum dan sebelum pergi dari sekolah bang." jawab Abel, dokter Adam membola bagaimana bisa seorang Abel menjudge orang lain dengan lugas.


"Jadi maksud kamu mereka ada gangguan kejiwaan gitu Bell." tanya dokter Adam.


"Mereka bahkan tahu Abel enggak salah tapi mereka tetap berfikir kalau Abel yang jahat disitu, ngerti nggak. Abel udah jelasin padahal nyatanya mereka masih ada niatan ndorong Abel, nyelakain Abel. Gimana bukan psikopat coba bang." jelas Abel.


"Iyaa sihh."

__ADS_1


"Ini kalau kata Abang udah bahaya kalau tetap ada dilingkungan sekolah." sahut dr.Adam.


"Makanya kasih Abel ijin, abang juga bisa ikut biar sekalian belajar mengamati dan mengatasi remaja dengan gangguan pola pikir yang mengarah ke psikopat. Tanpa Abel disana aku yakin mereka berkelit. Dan satu hal lagi Abel mau mengutarakan ungkapan perasaan aku sebelum mereka out dari sekolah." papar Abel.


"Menarik sihh, abang juga mau ikut deh." jawab Adam, senyum Abel terbit tak sia-sia dia mengompori dokter kesayangannya itu.


BG mengabarkan pada Alvin jika dia mendapatkan ijin dr.Adam untuk meninggalkan RS. Dan segera Alvin meluncur ke sekolah Abel.


"DIMOHON UNTUK SELURUH SISWA - SISWI KELAS SEPULUH HINGGA DUA BELAS BERKUMPUL KERUANG AULA UTAMA. AKAN ADA ACARA KHUSUS DARI BAPAK KEPALA SEKOLAH."


Announcement terdengar sontak gemuruh setiap kelas terjadi, tidak dengan suasana kelas Abel. Semua teman-teman Abel tahu akan ada kejadian heboh setelah ini.


"Horeee jamkos."


"Huaseekkk."


"Horeee."


"Ingat 5 penjaga khusus mengawasi jangan sampai ada yang meninggalkan aula sebelum selesai." ucap Angga pada teman-temannya yang sudah di briefing sebelumnya.


"Dev, mas Al otewe." ucap Riki, Angga dan Devan mengangguk.


"Abel gimana Ai." tanya Dekka.


"Kayaknya masih nego dr.Adam dehh."


"Yaudahh kita jalankan dulu sesuai perintah mas ajudan." potong Nia.


"Abelngers." teriak Fransiska.


"Haaah."


"Apaan Sis."


"Avengers, kan ini buat Abel." jelas Fransiska.


"ABELNGERS ASSAMBLE."


"Saaa ae loe itik betina."


"Yeee kambing gila."


"Syuutt diam."


Setelah seluruh murid berada didalam aula tanpa sisa, bahkan ada yang bertugas mengecheck seluruh ruangan dan tempat agar tak ada yang tertinggal atau bahkan lolos.


Nampak banyak dari mereka bersenda gurau bercanda satu sama lainnya.


"Yoii, habis ini tegang-tegang dehh."


"Kelarr tuh idup upil badak."


Anggota OSIS berjejer bahkan team justice Abel pun bergabung, tak lama Timsus dari Alvin pun memasuki Aula dengan menggunakan seragam khusus safari tak akan ada yang tahu jika mereka adalah seorang petugas.


"Selamat pagi semuanya, harap tenang dan saya mohon untuk kooperatif yah." ucap Nina, sedangkan tim nya sedang menyiapkan alat untuk pelaksanaan proses identifikasi sidik jari siswa yang berjumlah sekitar hampir 1000 siswa dari seluruh kelas.


"Ada apa ini."


"Woeey mo ngapain sihh."


"Ini kita mau diapain dong."


Kasak kusuk mulai terdengar, Alvin mengkode saat kegiatan sudah bisa dimulai. Satu persatu siswa mulai diidentifikasi sidik jarinya. Setelah data siswa kelas sepuluh masuk 100%, Nina mengkode Dimas untuk mengelola dan mengidentifikasi pelaku kasus pertama. Terdapat 7 orang siswi kelas sepuluh, 5 orang kelas sebelas valid terdeteksi sidik jarinya di portofolio mading, dan akan dikembangkan lagi setelahnya.


Kedua belas nama segera dipanggil keruangan khusus, berikut enam orang pelaku bullying untuk selanjutnya investigasi.


Sementara itu murid yang tersisa adalah mereka yang kemungkinan tak terlibat, masih tetap diruang aula untuk mendengarkan klarifikasi langsung dari seorang Arabella.


"Baiklah saya selaku ketua OSIS berdiri disini menyampaikan sebuah amanat, yang nantinya semoga bisa hadir. Kak Airin fix bisa kan." ucap Steven lalu bertanya pada Airin.


"Otewe." jawab Airin.


"Mohon adik kelas sepuluh, teman-teman dan kakak kelas dua belas bersabar mengikuti proses ini hingga selesai." jelas Steven, tak lama kehadiran Abel menginterupsi ucapan Steven.


Abel dengan beberapa petugas medis dan beberapa orang bersamanya dengan brankar emergency.


"My baby Abel."


"My hero Abel." teriak Nayla


"Uhh sayangkuhh.


"Kak Abeell."


"Omg kak Abell."


Teriakan suporter dan fans Abel menggema namun tak sedikit pula mencibir Abel.


"Ohh ini yang beritanya dimading."


"Cihh syukurin lumpuh."

__ADS_1


"Nahh udah jelek habis ini gak bisa tepe-tepe."


Deggg.. cibiran itu sungguh menyakitkan Abel, BG yang mendengarnya pun geram.


"Vin Evakuasi yang mulitnya nyinyir." perintah BG lalu Kevin dan beberapa diantaranya menarik paksa netizen mulut cabe.


"Hai kak Abel." sapa Steven, saat Steve mendekat ingin berjabat tangan Devan menghentikannya.


"Stop no physical touched." sergah Devan membuat Airin dan BG bangga.


"Salaman doang kak."


"Loe termasuk tersangka disini jangan bikin rusuh." ucap Devan.


"Lahh gak ikut bikin cerita gue." sahut Steven, intermezzo itu membuat orang disekitar pun ikut menanggapinya.


Segera dimulai klarifikasi dari Abel mengenai semua kericuhan yang sebenarnya dibuat satu orang namun berkembang biak kemana-mana.


"Terima kasih atas waktunya semua yang hadir disini. Akan saya klarifikasi berita saya dimading dimana dari keseluruhannya merupakan berita palsu dan disengaja, berikut saya sudah siapkan bukti foto aslinya." ucap Abel tanpa basa-basi, sementara itu sudah ditetapkan pelaku utama dari sekian masalah diantaranya pun telah dipanggil orang tuanya untuk hadir saat ini juga.


"Tanpa perlu saya jelaskan kalian semua pasti tahu kan, dan ini mas Alvin ajudan pribadi saya, sebelahnya mas Dimas dan semua orang diberitakan dengan saya merupakan satu circle dengan saya. Jika kalian masih bermasalah dengan saya kemari kita selesaikan tanpa ada kekerasan. Saya dan Bagas bertemu sejak kelas sepuluh kami sudah bertunangan dengan restu dari kedua oerang tua, jika sebelumnya dia ada masalah pribadi dengan orang lain saya tidak ada sangkut pautnya. Masalah saya cacat, itu karena disengaja oleh kalian pembenci saya yang bahkan saya tidak pernah membuat kesalahan sedikitpun pada kalian. Maka dari itu saya Arabella pribadi meminta keadilan pada pihak sekolah untuk mengusut dan mengadili masalah ini, sekian." jelas Abel.


Setelah mengklarifikasi dan menampilkan bukti tindakan bullying dan keke.rasan padanya, mereka terkejut dengan kedatangan ayah Abel beserta para ajudan.


"Vin bapak datang." kode Dimas, membuat Alvin dan Nina menghela.


Alvin merelease hasil investigasi berikut bukti dan keterangan kepada pihak sekolah.


Tak lama orang tua para pelaku memasuki ruang Aula.


Dua orang dipastikan DO sisanya skorsing 1 minggu dengan masa percobaan.


Dihdapan orang tua pelaku, kepala sekolah menjelaskan duduk perkara, bahkan kesalahan masing-masing yang dilakukan oleh mereka.


"Jadi bapak ibu mohon dapat menerima keputusan dari sekolah." ucap kepala sekolah.


"Ini tidak mungkin."


"Iya betul anak saya tidak mungkin begitu."


"Tapi ini semua Kayla yang nyuruh."


"Tuh anak saya ada yang nyuruh."


"Si Kayla saja yang dikeluarkan."


Karena banyak dari mereka yang memprotes dan agar tidak membuat semakin rumit, akhirnya para murid yang tidak terlibat dikosongkan dari Aula. Tinggalah mereka yang tengah diadili.


"Bener kata Abel." gumam dr.Adam dan diangguki BG.


"Kayla mana orang tuamu." tanya salah satu dewan guru.


"Ada diluar negeri bu."


"Hahhh."


"Begini pak, kan otaknya semua mengarah ke Kayla kenapa bukan dia yang di DO." protes salah satu orang tua.


"Tidak bisa bu, Stevi di DO karena dia yang melakukan kekera.san pada Arabella. Lalu Rena berita mading yang dia buat menjadikannya dia pelaku utama, Kayla memang menyuruh mereka tapi tidak ada bukti perintah yang otentik padanya. Kami menganggap jika Stevi dan Rena yang mengembangkan masalah ini."


"Ya tapi kan gak harus DO saya bisa ganti rugi."


"Mentang-mentang bapaknya petinggi angkatan sihh."


"Yahh kamu bodohh sudah tau anak pejabat kamu jahati."


"Punya anak kok gak mikir."


"Iyaa tolong lah pak kepala sekolah masak harus skorsing dua minggu."


"Bapak ibu, Saya orang tua Arabella tidak minta dan tidak butuh ganti rugi. Saya hanya menegakan apa yang harus dilakukan dan diproses walaupun ini seharusnya masuk ranah hukum, saya masih tolerir. Jika bapak ibu masih tidak terima maka jalur hukum yang saya tempuh." Jelas secara lugas ayah Abel.


"Iyaa tapi kenapa harus dikeluarkan pak, bagaimana kalau kami tidak diterima disekolah lainnya."


"Itu permasalahan ibu dengan putra ibu, sekarang jika saya balik. Bagaimana jika putri ibu yang dicelakai, terima tidak atau bahkan jika kaki putri ibu menggantikan kaki putri saya yang cedera." papar Ayah.


"Enakk aja."


"Ya gak mau lah."


"Abel juga gak mau diganti dengan kaki orang lain, sampai kapanpun orang yang sudah cedera pola pikirnya maka seluruh sel-sel yang mengalir didarah berisikan hal-hal yang berburuk sangka pada orang lain. Artinya Aku juga gak akan mau dialiri darah orang yang jahat." potong Abel, bahkan orang yang disana mendengar penuturan Abel tercengang.


"Maksud kamu apa." tanya ibu Stevi.


"Jaga batasan ibu disini." ucap Abel tegas saat ibu Stevi melotot dengan suara meninggi.


"Ehhm ibu saya dokter pribadi Arabella, saya hanya mau menyampaikan jika kemungkinan putri ibu mengalami gangguan pola pikir, yang bisa mencelakai dan mencederai orang lain. Bahkan Abel sempat mengalami depresi akibat terluka."


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2