
Drama penyelamatan Abel beberapa hari yang lalu nyatanya berdampak bagi Abel. Bagaimana tidak banyak sekali yang memprotes karena bisa membahayakan murid lainnya.
Berita miring itu tentunya ada pihak yang menggiring. Meskipun banyak yang memprotes namun tak sedikit pula yang tetap memberikan support kepada Abel.
Bahkan berita miring itupun sudah sampai ketelinga sang ayah, namun ayah tak bergerak selagi Abel masih sanggup mengatasi emosinya.
Jangan tanya BG disini yang paling tak terima Abel mendapat perlakuan buruk, terlebih kebanyakan dari kelas sepuluh yang belum lama sekolah di sini.
Bahkan dengan susah payah Abel meredam emosi teman-temannya, dengan cara memberitahukan jika ada agenda liburan bersama untuk reward misi penyelamatan.
"Van entar kumpulin anak-anak kita rapat untuk bahas vacation." ucap BG, tentu saja siapa-siapa yang akan ikut Devan pun tahu.
"Washiaappp joss."
"Ini adik kelas masih ada yang protes kah." tanya Riki.
"Gue gak peduli, senggol dikit aja gue gerak. Kalau cuma isue miring kita abaikan aja." jawab BG.
"Bau-baunya sih ada yang main cantik disini." celetuk Kevin. Tentu mereka sudah menduga dalang dibalik isue ini.
Semua para murid berbaris, karena hari ini upacara bendera akan segera dimulai.
"Kok kek ada yang kureng yah." ucap Devan.
"Apaan."
"Anehh aja kelas kita missed something." jawab Devan.
Semua murid kelas IPA4 pun segera meneliti satu persatu dari mereka.
"Abeeeelll." teriak mereka kompak, sontak membuat semua memperhatikan kelas mereka.
"Coba telp salah satu."
"Tanya cowoknya gihh."
"Abelll."
Semua teman-teman Abel berhambur mencari keberadaan nya karena sebelumnya mereka melihat tas Abel.
Sedangkan kelas sebelah mereka pun ikut berfikir keras. Langkah mereka terhenti kala pasukan pengibar bendera telah memulai upacara.
"Abell kemana sihh."
"Duhh, gak tenang gue."
"Daah diem dulu."
Sama halnya BG setelah mendapat info jika Abel tak bergabung di barisan upacara pun terkejut.
Sementara itu Abel yang tengah menenangkan diri ditempat yang cukup damai tanpa ada lalu lalang murid satupun.
Dia berada di rooftop bahkan dari posisinya dia bisa melihat para murid tengah berdiri dilapangan mengikuti upacara bendera.
"Apa yang harus aku lakukan." monolog Abel sambil memejamkan kedua matanya.
Isue merebak bukan berarti Abel tak mengindahkannya, namun Abel hanya mencoba mengulur perasaannya. Bagaimanapun dia tetap sosok yang mudah rapuh terlebih bersifat sensitif seperti saat ini.
Ponselnya terus berdering, Abel tetap tak bergeming. Beberapa menit kemudian dia beranjak berdiri melihat hamparan pemandangan kota.
"Bukan saatnya menyerah." gumamnya.
Meskipun dibawah masih berlangsung upacara bendera, tentu saja beberapa orang tak fokus dengan kegiatan itu. Terutama kelas Abel dan juga termasuk kelas BG, yang sedang memikirkan dimana Abel berada.
Abel membuka ponselnya yang terus berdering, panggilan dan chat menghiasi layarnya. Sang tunangan memimpin chat dan panggilan spam terbanyak disusul temannya.
Abel mengetikan pesan mengabarkan dia baik-baik saja, tak perlu khawatir dan menjanjikan akan kembali setelah upacara berakhir.
Satu jalan yang Abel yakini, Tegar, ikhlas dan bersabar ketika banyak yang menghujatnya.
MyLastBG calling....
"Baby... kamu dimana sayang."
"The place that can make me feel free."
"Don't do anything that can harm you."
"Don't worry my fiance."
"Where are you."
__ADS_1
"Aku turun sekarang."
"Okay aku tunggu di depan kelasmu."
Abel tersenyum melihat sikap BG yang khawatir padanya. Dengan santainya dia berjalan, melihat BG dari kejauhan yang mondar-mandir di depan kelasnya.
"Goddd."
"Nahh tu Abel."
"Hemmmbb."
"Bocahh dari mana aja dahh."
Grepppp..
BG berlari memeluknya erat tak memperdulikan lagi dimana mereka berada.
"Kamu tuh nakal banget sihh.. Jangan menyendiri kayak gini lagi." ucap BG.
"Padahal gak lama lohh." jawab Abel, BG mengurai pelukannya.
"Bisaa yah jawab begitu, kita semua panik nyariin kamu tau nggak." balas BG sambil mengusap pipi Abel.
Abel mengerjapkan mata sungguh mereka berdua kini sedang menjadi tontonan teman seangkatan mereka.
"Kalau ada apa-apa jangan pendem sendiri, kamu masih ada aku, ada sahabat dan teman-teman yang lain." papar BG, Abel pun mengangguk.
BG menggandeng tangan Abel membawanya kembali kekelas Abel, semua teman sekelasnya tak ada yang bergeming. BG sudah pasti mencecar Abel, tak baik jika mereka ikut berkomentar.
"Bukan bermaksud bikin khawatir semuanya, sungguh aku hanya ingin menenangkan diri enggak lebih. Dan aku enggak sedikitpun terlintas untuk bahayain diri aku sendiri. Aku masih bisa berfikir sehat." ujar Abel pada BG dan yang lainnya, mereka paham memberikan waktu Abel untuk merenung adalah solusi terbaik saat ini.
"Setelah ini gak ada yahh main ngilang- ilang gini." sahut Airin.
"Kita jalani sama-sama Bell."
"Kita disini ada untuk kamu."
"Cuma segelintir curuut yang perlu dibasmi Bell, loe gak perlu buang tenaga dan fikiran loe dengan percuma." sarkas Fransiska.
"Loe emang terbaik dah Sis urusan beginian."
"Yodahh loe balik dah Gas, biar kita yang jagain Abel." ucap Airin.
Saat jam istirahat Abel dan temannya pergi kekantin, tak perlu Abel menghindar dia yakinkan pada dirinya jika ia mampu menghadapi dunia pernyinyiran.
BG mengulurkan tangannya menggenggam erat sang tunangan menuju kantin. Bagas lah garda terdepan untuk Abel sampai kapanpun. Meja berjejer panjang cukup untuk 20 orang lebih diklaim milik BG dan Abel tak akan ada yang bisa menempatinya.
"Boss besar datang."
"Gimana perjalanannya mulus." celetuk Kevin.
"Sampek ada yang ngebacot langsung gue bantai." sahut Fransiska.
"Terbaikkk."
"Yukk, dimulai bahas vacation kita." potong Devan.
"Trus siapa yang pesan."
"Tinggal panggil si ibuk."
"Samain aja kalik yahh."
Semua mengangguk kompak.
"Jadi Vin temen loe mau ikut apa gimana." tanya Riki.
"Mereka milih mentahan."
"Trus kalau ada yang mau gabung gimana." tanya Nia.
"Sekelas Abel prioritas sama kita-kita disini." jawab BG.
"Wahhh asyikkk."
"Mantulll sodara."
"Tujuan, dan data peserta yang mau ikut dua hari lagi udah fix." ucap BG.
Kini obrolan mereka terhenti dan menikmati makan bersama-sama.
__ADS_1
"Ehh jangan makan disini bahaya."
"Yukk bungkus makan dikelas aja."
Brakkkkk, Fransiska menggebrak meja. Abel berjengit, begitu juga yang lainnya. Abel memandang temannya itu, mengkode untuk membiarkannya saja.
"Heyy kalian balik kelas aja ngapain disini."
"iyaa yuk-yuk."
Tak ada yang menggubris, bahkan Abel dan yang lain tetap santai melanjutkan makanannya. Siska sempat tersulut tapi dia coba tahan sebisa mungkin.
"Heyy anak jendral loe gak bawa kerusuhan lagikan."
Kayla, itu suara Kayla beberapa teman Abel tersulut emosi.
"Bangshat." teriak Fransiska yang sudah bangkit dari duduknya, Airin menarik lengannya menahan sekuat mungkin.
"Biarin aja Sis dia mau ngomong apa sampai mulutnya membusuk sekalipun." celetuk Metta santai sambil membersihkan sudut bibirnya.
"Gue peringatin loe cewek laknat, loe bikin rusuh lagi dan nyangkutin Abel awas aja loe." ucap Fransiska sambil menunjuk-nunjuk Kayla.
"Gue gak takut, lagian dibayar berapa sih kalian bisa tunduk banget sama si Abel ini. Gue bisa kasih 3x lipat dari dia." jawab Kayla.
"Cihh gak sudi gue jadi babuh loe." sarkas Metta, Abel hanya memejamkan matanya.
"Loe kasih ginjal loe pun gak sudi, gue jijiek sama kelakuan anak kecil bau kencur kayak elo, yang nggak punya otak dan sedikit gangguan mental." cerocos Fransiska.
"Sana loe pergi aja ngerusak udara disini tau nggak." potong Devan sambil mendorong bahu Kayla.
"Ihhh, kak Bagas tolongin Kayla dong." teriak Kayla saat Devan terus menariknya keluar.
Mendengar Kayla yang terus meronta-ronta, ada rasa kasian dibenak BG. Namun dia masih punya akal sehat untuk tak menggubrisnya.
"Bikin rusuh aja."
"Herman gue populasi curutt modelan kek gitu kenapa bertambah aja sikk."
Abel merasa jika berhubungan dengan Kayla BG selalu diam tidak berbuat apa-apa dan tidak pula menyalahkan Kayla. Apa mungkin BG merasa kasihan pada teman kecilnya itu.
"Hemmmb, kalau Kayla terus begini. Aku yakin banget sama keputusan ku." gumam Abel namun semua orang yang dimeja masih bisa mendengar dengan jelas. Saat ini dia tengah memancing reaksi dari sang tunangan.
"Apa maksudmu."
"Jangan ngadi-ngadi loe Bell."
"Jang gilak dahh."
"Sebenarnya bukan aku yang kenak mental, hanya saja aku harus mengalah kali ini." jawab Abel, sementara BG masih bungkam.
"Jika perlu aku pergi, akan aku lakukan, akan aku lepas semua yang berhubungan dengan Kayla." ucap telak Abel membuat BG membola.
"Sumpahh gak masuk akal loe Bell."
"Kayla itu gak waras Bell."
"Emang, karena masih ada yang kasihan sama dia jadi enggak akan kelar kalau tidak ada yang ngalah. Dan aku cukup waras untuk melakukannya." kelakar Abel.
"Jangan pernah katakan itu lagi kumohon." sahut BG.
"Dia yang harusnya pergi Bell, bukan loe."
Abel sedang galau..
"Terkadang ekspektasi tinggi sering melenceng dari realita. Aku tahu kalian sayang sama aku, tapi aku gak mau menyebabkan kalian selalu bermasalah dengan orang lain hanya gara-gara aku, entahlah aku yakin dia akan terus memperburuk keadaan sampai dia dapat apa yang dia mau." jelas Abel, BG masih tak menyelanya.
"Ambisius."
"Obsesi."
"Yess, she is complicated." jawab Abel, akhirnya keyakinan Abel pada sang tunangan terbukti.
"Balik kelas yuk." ucap Abel tanpa menoleh kearah BG. Riki merasakan perubahan pada kedua sahabatnya itu hanya mampu memandang.
Abel berdiri lalu menarik tangan Airin, dan melambai pada yang lain meninggalkan BG yang berkutat dengan pemikirannya sendiri.
"Loe nunjukin yang seharusnya enggak loe tunjukan Gas." ucap Riki.
"Loe lupa Abel itu peka, dan pemikirannya tajam." lanjut Dekka, seolah kedua orang itu semakin cocok dalam segala hal.
__ADS_1
"Abel beneran pergi, jang nyesel loe."
"Iyaaa." jawab singkat BG lalu beranjak mengejar Abel. Memang tak seharusnya dia perhatian pada Kayla, tapi melihat Devan memperlakukan seperti itu juga BG tak tega.