Masih Di Putih Abu-Abu

Masih Di Putih Abu-Abu
AGC~ Mimpi Nia


__ADS_3

Dua hari sudah meninggal nya Nia, dan dua hari itu juga Devan masih dalam keadaan koma. Selama dua hari ini Devan masih berada di ICU. Riki, Kevin dan Angga bertugas bergantian menjaga di rumah sakit tak membiarkan ibu Devan menjaganya seorang diri, sedangkan BG Dia masih memantau kondisi Abel.


Bisa dibilang Abel mengalami traumatik Dalam bahasa medis ini disebut dengan anxiety PTSD (post traumatic stress disorder). Ketika secara mendadak mata diperlihatkan langsung pada sebuah kematian salah satu anggota keluarga atau kerabat, pasti timbul perasaan cemas yang berlebihan, hingga pada kasus terparah berdampak pada kehidupan sehari-hari.


"Mas apa gak sebaiknya gue telpon bunda yahh." tanya BG pada ajudan Abel, mereka kini berada dirumah Abel masih memantau kondisinya yang belum stabil. Abel masih sering mengigau menyebut- nyebut Nia.


"Jangan dulu, mas yakin Abel bisa jaga emosinya setelah tenang."


"Tapi gue udah takut banget loh mas dia agak susah makan dan tidurnya juga kacau."


"Yaahh okey kalau sampai besok dia masih begini Loe telpon ibu." jawab tegas Alvin, meskipun BG pemegang kuasa tertinggi atas Abel selama ayah di Kota, BG masih harus tetap konsultasi pada ajudannya. BG paham Alvin memberikan solusi terbaik agar tak membuat bunda Riya khawatir pada Abel.


"Niaaaa.." sebut lirih Abel terdengar Lamat ditelinga BG dan Alvin karena mereka kini tengah menjaga Abel yang tertidur.


BG mendekat agar bisa menenangkan Abel dalam tidurnya.


"Baby.... Bangun sayank." ucap BG sembari menepuk bahu Abel, tak lama Abel mengerjap sungguh ia merasa tak nyaman belum lama tertidur dia seolah bersama Nia.


"Kenapa Heummm." tanya BG pada gadisnya yang dia hari ini tak banyak bicara.


"Aku ketemu Nia." jawab Abel, membuat Alvin menghembuskan nafas dalam.


"Nia udah tenang disana baby."


"Aku tau." jawab Abel lirih lalu merunduk, benar kata Alvin, yakin Abel bisa mengontrol emosinya.


"Trus kenapa bobo nya masih gak nyenyak." tanya BG seolah ingin mengorek masalah yang dipendam Abel.


"Dari kemarin Nia bilang minta tolong trus terima kasih, tolongin nah tadi dia bilang...." jawab Abel terjeda seperti bingung melanjutkan ucapannya.


"Apaaa."


Alvin mendekat seperti ada tabir yang tertutup dan ingin Nia sampaikan.


"Nia bilang tolongin, cari tahu tapi aku belum sampai Nerima pesannya udah kamu bangunin tadi." jawab Abel, Alvin dan BG yakin Nia seolah ingin berbicara pada Abel. Kedua lelaki beda usia itu kompak mengangguk mengerti maksud Abel.


"Yaudah yuk maem dulu kamu tadi sarapan cuma sedikit." sahut BG, lalu menuntun Abel menuju ruang makan. Setibanya mereka didapur, tak mereka dapati Nina yang sedang ngemong putranya Abrisam.


"Lohh kok sepi mbak Nina kemana mas." ucap BG, pun Alvin nampak menoleh kanan dan sekitar ruangan.

__ADS_1


"Mbok mbak Nina kemana." tanya Abel pada mbok Yem.


"Mbak Nina nya nenangin den bagus, nangis terus coba mas Alvin cari diteras." ucap mbok Yem, yang nyatanya tidak ada yang tau perihal Abrisam yang rewel.


Sepeninggalan Alvin mencari Nina, BG menemani Abel sarapan, karena nampak enggan sekali gadisnya itu menyendok kan makanan ke mulutnya dengan terpaksa BG menyuapinya.


"Gas, mas tinggal periksain Abrisam yah, demam dia." ucap Alvin yang masuk tiba-tiba, membuat Abel dan BG pun kaget karena mendadak Abrisam demam.


"Kok tiba-tiba demam mas." tanya Abel, Alvin pun menghendikan bahu, dengan terpaksa Alvin dan Nina meninggalkan Abel disana.


Lama mereka menunggu kabar dari Alvin, akhirnya Alvin mengatakan jika Abrisam harus dirawat karena ada gejala Infeksi saluran nafas. Otomatis mereka pun bingung siapa yang akan menemani Abel dirumah malam ini hanya dengan para art saja. BG pun menelpon sang bunda guna meminta ijin agar dia menginap disana, tak lupa mengabari para sahabatnya yang bisa datang kerumah Abel.


"Hallo assalamualaikum bunda."


"wa'alaikum salam nak, gimana kabarnya."


"Alhamdulillah sehat Bun, maaf Bagas malam-malam telpon bunda."


"Iyaa nak tak apa, apa ada sesuatu, Abel sehat kan."


"Abel sehat Bun, hanya saja."


"Hanya apa nak, ayoo ngomong sama bunda Pumpung ada ayah juga."


"Dua hari yang lalu teman kita meninggal Bun, dan dia akrab banget sama Abel. Trus sampai sekarang Abel masih suka keganggu Bobonya..."


BG pun menjeda menunggu takut bunda nya menimpali nyatanya bunda Riya justru menunggu BG menuntaskan ceritanya.


"Abel sering ngigau Bun, dan hari ini Abrisam sakit. Jadi dirumah Abel nggak ada yang jagain. Ehhmm Bagas mohon ijin nemanin dirumah, ada teman-teman yang lainnya juga Bun."


"Gitu ya nak, kok sampai Abel ngigau padahal pas eyang nya meninggal Abel tidak sampai begitu."


"Itu Bun, teman kita meninggal nya pas dipangkuan Abel Bun. Bunda kenal Nia kan teman sekelas juga dan sering main kerumah."


"Innalilahi wa innailaihi, Bagaimana ceritanya nak sampai meninggal didekat Abel."


Karena pertanyaan dari bunda Riya akhirnya BG pun menceritakan detailnya, bunda pun terkejut lalu menanyakan pada ayah apa boleh Bagas menginap bersama teman nya yang lain. Sang ayah pun mengijinkan, apa boleh buat tak ada solusi lagi karena mera pun tak bisa datang dalam waktu dekat.


Tepat setelah BG mengakhiri percakapan dengan ayah bunda Abel, terdengar suara Abel yang mengigau, bahkan semua teman-teman pun sedang berkumpul disana karena mereka memutuskan untuk menggelar kasur dadakan diruang tamu.

__ADS_1


"Niaaaa, kamu mau ngomong apa." gumam Abel, ada Riki, Angga dan Dekka disana yang saling pandang karena sebelumnya BG sudah cerita perihal Abel didatangi Nia.


"Siapaaa."


"Aku gak tau Nia."


"Yah aku harus gimana."


"Aku Usain cari tau, kamu yang tenang yah kita jagain Devan buat kamu."


"Iyaa aku tau Devan akan baik-baik saja."


Beruntun Abel seolah tengah berbincang dengan Nia namun lagi-lagi matanya terpejam.


"Pergilah Nia, aku akan sering datang berdoa ke makam mu."


"Hikkss, we are still love you forever." Ucap Abel untuk terakhir kali sebelum bibirnya sudah tak lagi terdengar mengatakan apapun, namun air matanya tak bisa ditahan untuk tidak membasahi pipinya.


"Hikss, Nia ngomong apa sama Abel. Hikss, Ya Alloh gue gak nyangka banget." ucap Dekka, hari ini giliran Kevin berjaga di RS.


"Ini Abel beneran liat Nia, apa dia mimpi Gas." tanya Angga yang cukup penasaran.


"Gue dua hari disini jagain dia tidur doang, dia bilang Nia datang pas tidur. Yahh pasti orang nyangka itu mimpi tapi Abel yakin banget Nia ada yang mau disampek in." jawab BG, mereka pun manggut-manggut mendengar penjelasan BG.


"Seyakin itu Abel kalau yang Dateng Nia bukan Korim." tanya Riki.


"Ckk segala yang dibahas jin mana udah malam gini." sahut Dekka, membuat para lelaki terkekeh geli.


"Pffft."


"Hahahh, ya jelas arwah karena belum 40 hari pasti masih disekitar kita, kalau kata mbok Yem sih." jawab BG.


"Udah-udah ini Abel bangunin tanyain sekalian tadi Nia pesen apa. Pumpung masih ada yang buka orang jual."


"Astagaa Loe yank segala kode mintak makan jugaa.." sela Riki, Dekka tersenyum menang dan mereka pun membangun kan Abel yang sudah tak mengigau lagi.


Yukk mampir di Judul Meee Meen lainya


__ADS_1



__ADS_2