
Setelah menemui para tamunya, Abel dan BG kini sedang menikmati makan malam bersama. Bergantian dengan kedua orang tuanya yang kini sedang menjamu tamu.
Saat menyuap makanan dimulutnya, Abel merasa asing pada makanannya.
"Uhukkk." Abel tersedak karena mencoba untuk mengeluarkan makanan yang dia rasa aneh.
"Baby kenapa." histeris BG lalu beranjak mengambilkan minum.
Nampak Abel terus terbatuk hingga mengeluarkan air mata.
Puk..puk..
Ada yang menepuk punggung Abel untuk meredakan batuknya.
"Ni...h sayang." ucap Bg terpotong Abel yang sedang bersama seseorang yang tak ia kenal.
Abel merasakan batuknya mereda setelah mendapat tepukan dipunggungnya. Dia mengusap air matanya terus menggenang, lalu menoleh kearah BG yang menyodorkan minum padanya.
"Ma.makasih yah Daren." ucap Abel pada Daren yang sudah membantu meredakan batuknya akibat tersedak.
"Iyaa, sama-sama."
"thanks." sela BG pada Daren, dan Daren pun hanya mengangguk.
"Kenapa bisa tersedak hemm." tanya BG.
"Ini ada ini." tunjuk Abel makanan yang sudah membuatnya terbatuk.
BG mengusap air mata Abel yang masih tersisa. Dimakanan Abel terdapat bawang goreng, dan ternyata Abel tak begitu suka. Menurutnya bawang goreng jika tak pandai mengolah terasa getir dimulut. Itulah kenapa ia tak suka.
BG beranjak mengambilkan makanan ganti Abel agar gadisnya itu melanjutkan makan malamnya.
Sementara itu diotak BG terus bertanya-tanya siapa yang telah membantu Abel tadi. Kenapa tunangannya itu nampak dekat dengannya.
"Tadi siapa Baby. " tanya BG.
"Hemmb, apa."
"Yang bantu kamu tadi siapa."
Abel mengernyitkan dahinya, merasa curiga pada BG.
"Bukan siapa-siapa, dia anak temen Ayah dulu sering ketemu kalau ikut ke dinas ayah." jelas Abel, BG pun manggut-manggut.
"Jangan terlalu dekat dengan pria manapun."
"Nothing sayang, ihhh cemburuan banget sihh." ucap Abel sambil melanjutkan makan malamnya.
"Mau maem apa lagi." tanya BG.
"Enggak udah kenyang."
Abel dan BG menyelesaikan makan malamnya bersama, lalu kembali lagi bertemu dengan teman-teman nya. Acara mereka berakhir tepat pukul 9 malam, namun beberapa tetangga sebelum jam sembilan sudah meninggalkan rumah Abel.
BG dan Keluarganya berpamitan 20 menit setelahnya, kini Abel dan Nina sedang bersama karena Abel meminta Nina membantunya membereskan barang bawaan dari BG.
"Mbak."
"Hemmb. Kenapa." sahut Nina sambil membereskan seserahan Abel.
"Mbak Nina nyaman nggak kalau sama mas Alvin."
"Hahhh." jawab Nina ragu.
"Mbak Nin gak ada perasaan gitu sama mas Al, maksud Abel. mbak Nina kan sering ketemu, what about your feelings." tanya Abel, sambil memegang tangan Nina.
"Ehhmb, kenapa Abel dari kemarin arahnya kesitu."
"Gak tau karena Abel ngerasa mbak Nina seperti ada perasaan sama mas Alvin, you both of course."
"Hahhh."
__ADS_1
Nina menghela nafas berfikir sejenak. Agak lama mereka dalam keterdiaman, Nina pun kembali bersuara.
"Mbak nyaman saat sama mas Alvin, cuma itu yang mbak bisa katakan. Meskipun begitu belum tentu mas Alvin merasakan hal yang sama."
"Kenapa mbak bilang gitu."
"Bell, mbak harap jangan coba-coba kamu mencoba untuk ndeketin mbak sama mas Alvin. Mbak gak mau kalau sampai nanti mas Alvin jadi ngejauh sama mbak. Kamu tahu sendiri mas Alvin orangnya gimana."
"Baiklah, Abel gak akan memaksakan perasaan mbak lagi. but Abel cuma pesen kalau ada apa-apa mbak bilang Abel yahh."
"Hemmb, mbak lebih nyaman begini. Kita gak bisa memaksakan atau mengatur perasaan orang kan." jawaban Nina, membuat Abel tersadar memang benar mungkin mbak Nina sayang mas Alvin tetapi belum tentu dengan mas Alvin pada mbak Nina.
Tanpa kedua gadis beda usia ini sadari sedari tadi orang yang mereka bicarakan tengah mendengar semua percakapan keduanya.
Nina dan Abel membawa barang-barang menuju kekamar Abel sedangkan makanan dan kue hantaran diletakkan di dapur agar mbok Yem dan Art lainnya yang membereskannya.
Saat melangkah hendak menuju kamar Abel, sembari membawa barang hantaran keduanya terkejut mendapati Alvin yang berdiri kokoh tak jauh dari mereka.
Abel dan Nina saling pandang, seolah keduanya berfikir berharap Alvin tak mendengar obrolan mereka.
"Mas berdiri aja bantuin Abel dong." ucap Abel mengalihkan situasi yang mendadak mencekam.
"Ma...Maaaas." panggil Nina grogi karena Alvin yang tak segera menyahuti Abel.
Alvin mendekat mengambil barang bawaan Nina tanpa berucap sepatah kata pun. Abel dan Nina hanya menghela nafas kasar.
"God, semoga mas Alvin gak marah sama mbak Nina." batin Abel.
Abel dan Nina mengikuti langkah Alvin menuju kamar Abel di lantai dua. Saat masuk kamar Abel melihat ponselnya menyala pertanda ada notif masuk, segera ia meletakkan barang hantaran lalu meraih HP nya.
"Mbak sebentar yahh, Bagas nelphon." ucap Abel pada Nina, namun belum Nina menjawab Alvin menarik tangannya keluar dari kamar Abel.
Sedangkan Abel sudah menuju balkon untuk menerima panggilan dari tunangannya yang baru sejam berlalu tak bertemu.
*
*
"Mas kenapa."
Alvin menoleh pada perempuan disebelahnya itu. Menatap lekat matanya, membuat Nina merasa salting.
"Jangan-jangan mas dengar yang...."
"Ya." Alvin memotong perkataan Nina, membuatnya menganga bingung karena dia merasa ke gap tengah curhat pada Abel.
"Mas gak usah khawatir, Aku udah bilang Abel buat gak nerusin ide gil...."
"Kenapa.." lagi Alvin menyela ucapan Nina.
"Lanyaa.." gumam lirih Nina melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kamu menolak ide Abel, bukan kah kamu bilang kalau kamu nyaman sama aku." lanjut Alvin.
"Bukan begitu mas, aku hanya gak mau sikapmu berubah jadi menghindari aku karena Abel coba masuk ke ranah pribadi kamu." jawab Nina.
Kedua manusia itu hening, saling memikirkan apa yang akan mereka olah untuk saling bicara.
"Aku paling tau kamu gak suka dikepoin, Aku hanya mencoba menjaga keakraban kita." lanjut Nina.
"Lalu apakah kamu nggak mau mencobanya." sahut Alvin.
"Hahhh, gimana mas." tanya Nina merasa tak paham dengan perkataan Alvin.
"Kamu, ehmm maksudku kenapa kita nggak mencoba apa yang Abel pikirkan." jawab Alvin dengan menekankan kata KITA pada Nina.
"Nina nggak paham mas, emaksud Nina, aku juga gak tau apa yang ada di otak Abel."
"Jadi kamu nolak aku." ucap Alvin lalu dia berdiri.
"Hahh, mas tunggu aku gak paham." potong Nina sambil mencegah Alvin yang akan berlalu meninggalkan nya.
__ADS_1
"Dimana kata aku yang membuat mas Alvin nyimpulin kalau aku menolak mas Alvin." ucap Nina menggebu, dia menarik nafas sebentar.
"Aku hanya berusaha untuk menjaga agar mas Alvin gak berubah sama aku, dalam artian mas Alvin jadi hindarin aku karena ide Abel yang ingin mendekatkan kita." lanjut Nina tanpa cela.
"Terserah kamu." ketus Alvin.
"Lahh kok mas Alvin ngambek sih, Duhh kan ini yang aku gak mau mas. Aku cuma gak mau mas Alvin ngejauhin aku." jawab Nina yang masih menggenggam tangan Alvin.
"Siapa yang jauhin kamu." jawab Alvin.
"Lhaa ini malah mau ninggalin aku maksudnya apa coba. Ahh sudahlah aku pusing." ucap Nina lalu menghempaskan tangan Alvin.
"Kok jadi kamu yang balik ngambek."
"Bodoookkk." ucap Nina memberengut.
"Astagaaa kalian ini apa-apaan malam-malam gini ribut-ribut."
Alvin dan Nina menoleh mendapati sosok komandannya berdiri tegap di ujung pintu.
"Maaf Ndan ganggu." ucap Nina.
"Siap salah Ndan." sahut Alvin.
"Kalian kenapa iniihh, udah pada gede juga." tanya ayah yang melihat kecanggungan keduanya.
"biar Abel yang jelaskan." sahut Abel yang baru datang menyela.
Dari balkon kamar Abel yang sedang menelpon BG dia memperhatikan kedua orang yang dia anggap sebagai kakaknya itu seperti sedang bersitegang.
Akhirnya Abel memutuskan telpon nya dan menghampiri keduanya, kini Ayah dan kedua orang bersangkutan duduk bersama.
"Jadiiii." ucap Ayah mendesak putrinya itu.
"Sebenarnya Abel berfikir lama, mbak Nina sayang sama mas Al, even saat itu mas Al punya pacar. Tapi mas Al justru gak nyaman sama pacarnya tapi dia lebih dekat sama mbak Nina. Dalam artian mas Al nyaman dan lebih dekat sama mbak Nina daripada sama pacarnya.
Abel juga terus berfikir mereka berdua terlalu lama berada di zona nyaman, kenapa mereka tidak melibatkan perasaannya lebih dalam lagi." Abel menjelaskan duduk perkaranya, dan ayah menarik kesimpulan jika putri nya ini sedang mendekatkan kedua anak buahnya. Ayah tak menyela Abel sedikitpun karena pada kenyataannya apa yang dipikirkan Abel tak salah.
"Vin kapan kamu datang melamar Nina." ucap tegas Ayah.
Abel tergelak, sedangkan Nina membola matanya mendengar ucapan dari bapak Raharjo yang seolah seperti perintah bagi Alvin.
"Siap Ndan."
"Ya tuhan, tolong hamba." ucap lirih Nina, sontak membuat Alvin melirik kepadanya.
"Insyaallah bulan depan saya pulang Ndan bicara sama keluarga, dan Nina tolong katakan pada keluargamu segera saya akan lamar kamu." Ujar Alvin.
Abel tersenyum puas, sang ayah memang tegas dalam bersikap membuat kedua manusia didepannya itu tak berkutik.
"Bicarakan baik-baik yah, saya mau istirahat." potong ayah lalu undur diri dari hadapan ketiga anaknya itu.
"Buahhahhahha, emang ayah top paling paham sama Abel." pecah tawa Abel menggelegar, membuat bibir Nina semakin manyun.
"Mbak Nina kan tau mas Alvin tuh bukan tipe orang peka jadi mbak kudu, harus dan wajib banget mengerti." lanjut Abel.
"Ya.ya.yaaa, suka-suka Abel dehh mbak pasrah."
"Hahahhahahah, aduuhh duhh kalian ini kayak anak remaja aja." celetuk Abel yang masih belum berhenti tertawa.
"Buruan telepon ibumu."
"Astaga, mohon maaf ni bapak, ini tengah malam masak ngabarin orang rumah dadakan, dikira apa kita." jawab Nina.
"Saya tunggu laporan kamu respon dari keluarga kamu." ucap Alvin tegas.
"Apaan sihh mas, kok jadi gak sabaran sih, lagian situ juga belum pulang ngabarin juga kalau mas lupa." jawab Nina, membuat Alvin garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Kok jadi berantem sihh." sela Abel.
Alvin dan Nina terdiam, kenapa mereka jadi meributkan hal sepele. Abel mendekat pada keduanya lalu merengkuhnya.
__ADS_1
"Mas Alvin dan mbak Nina udah Abel anggap kayak kakak bagi Abel, jadi sampai kapanpun kalian adalah keluarga Abel. " ucap Abel, mereka berpelukan merasakan kedekatan dan keterkaitan. Alvin merasa haru dia baru enam bulan lebih menjadi ajudan Abel tapi dia sudah merasa dekat seperti keluarga kandung.