
"Lepasinnn, pergi aku gak mau ketemu kamu lagi, Hiksss." ucap Abel yang berusaha menghindari lelaki itu bahkan sudah mulai terisak.
BG yang sudah berjarak cukup dekat dari Abel mendadak terbakar emosi saat mendengar isakan dari tunangannya itu.
Bughhh.. Bughhhhh..
Tak hanya satu kali pukulan mendarat diwajah lelaki itu, bukan hanya emosi yang menyerang BG namun juga ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan Abel.
Bughhhh..
"Berengsekk Loe."
BG memukulnya cukup telak, Kevin dan Riki yang baru saja sampai ditempat itu pun cukup tercengang melihat BG tengah memukuli seseorang.
"Berhentiiii.." teriak Abel melerai BG bahkan dia segera berlari memeluknya untuk meredam amarah sang Bagaskara.
"Sudahhhh yiaahh Jang dipukuli lahh lagi." ucap Abel terbata karena menangis hingga tersedu-sedu, akhirnya BG pun berhenti dan memeluk Abel agar tangisannya mereda.
Tak lama bahkan lelaki itu hendak berusaha berdiri, tubuhnya terhuyung kembali nampak dua lelaki sahabat BG pun ikut menghajarnya kembali membuat Abel berteriak histeris.
"Berani Loe datang kesini." teriak Kevin sembari menghujam perut lelaki itu.
Bughhh ...
"Badjingan Loe Angga." ucap Riki, pun ikut memukuli lelaki yang bernama Angga. Sahabat yang telah lama hilang itu berani menampakkan wajahnya.
Baghhh bughhhh...
"Jangaannnn.. berhenti sudah Jang berantem lagiiiii."
BG yang mendekap Abel pun segera turun tangan menghentikan kedua sahabatnya yang hendak menghabisi Angga.
"Berhenti sebelum kalian bunuh anak orang."
Bahkan Angga tak membalas sedikitpun pukulan demi pukulan dari Riki dan Kevin. Karena mereka masih berada di plataran kampus bahkan kejadian ini pun banyak yang menyaksikan.
"Biarin gue hajar dia Gas." teriak Kevin saat BG melerainya.
"Bangsattt emang Loe Ngga."
Bugghhhhh bughhh..
"Yaa Tuhan tolongin itu."
"Woeeyy kalian masih dikampus."
"Gilak bisa metong anak orang."
Teriakan dari mahasiswa lainnya membuat Kevin dan Riki mereda.
"Begok Loe mau masuk penjara." ucap BG terengah-engah karena capek melerai dia temannya yang sudah emosi seolah kesurupan.
__ADS_1
"Hah hahhh hahhh badjingan Loe Angga."
"Hahhh hahhh gue bahkan peng bunuh dia."
Mereka bertiga terduduk dilantai paving taman, beruntung pohon cukup rimbun sehingga mereka tidak terpapar panas.
Sementara itu ditempat lain dimana Dekka dan Cindy berada masih di kantin mendengar obrolan dari mahasiswa lain yang nampak menggunjingkan Abel.
"btw bukannya si Arabella itu udah punya pacar yahh."
"Udah tunangan kayaknya."
"Iyaa itu cowok yang namanya Bagaskara nggak sih."
"Nahh itu padahal cowoknya udah cakep kok maen belakang sihh."
"Lahh iyaa Sampek sujud-sujud pulak."
"aihhh apa hebatnya si Arabella sihh."
"Cantik doang dikampus banyak tapi kelakuan iyuuuuhh."
Obrolan itu membuat telinga Dekka sakit, mana mungkin seorang Abel bisa berpaling dari BG even pernah ada kesalah pahaman waktu itu.
"Bacot doang mereka belum tahu aja realita." celetuk Cindy.
"Kayaknya mereka tahu Abel dimana." jawab Dania.
"Gue juga penasaran siapa sih cowok yang datang kesini." ucap Dekka.
"Gue tanya mereka kali yah." sela Dania dan di angguki Dekka.
"Ehh elo lihat Abel dimana." tanya Dania pada segerombolan mahasiswi itu.
"Ohhh Arabella maksud Loe."
"Iyaa."
"nohh di taman dekat parkiran."
"Ohh okey Thanks." jawab Dania singkat bahkan para mahasiswi itu cengo melihat kelakuan Dania yang menggeret dua perempuan lainnya yaitu Dekka dan Cindy dengan tergesa-gesa.
Kembali ke tempat Abel.
"Cabut yuk sebelum gue emosi lagi liat nih bocah." ucap Riki, setelah menetralkan nafasnya yang cukup tersengal. Hari ini ternyata cukup memacu adrenalin para lelaki itu.
"Uhuuukk, mo kalian bunuh gue silahkan. Tapi gue mohon katakan dimana Airin." ucap Angga lirih mungkin karena merasakan tubuhnya cukup sakit setelah dihajar tiga lelaki didepannya. BG, Riki dan Kevin menoleh kearah Angga.
"Please, gue terima gue mati sekalipun asal...."
Abel dan lainnya tak bergeming menanggapi ucapan Angga, mereka masih setia menunggu Angga menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
"Asal kalian ijinkan gue ketemu Airin untuk yang terakhir kalinya." Kata Angga melanjutkan ucapannya, ada rasa sesak di dada Abel, setega-teganya Angga pergi saat itu namun hati kecilnya masih penasaran kenapa sampai dia pergi ada masalah apa pada diri Angga.
"Loe udah lama pergi ngapain sekarang kembali lagi."
"Seharusnya Loe pergi aja dan biarin Airin bahagia tanpa Loe." pungkas BG yang cukup bersabar untuk tidak ikut komentar.
"Gue gak bisssa...." jawab Angga gemetar, cowok pendiam yang dijuluki kulkas berjalan itu bergetar saat mengatakan nya. Abel masih duduk dibangku taman sedangkan keempat cowok berwajah tampan itu terduduk dibawah.
"Gue udah coba berusaha menjauh bahkan... bahkan melupakan Airin tapi gak bisa." lanjut Angga yang sudah mulai menangis.
"lalu ngapain kamu harus menjauh." sela Abel.
"something happened that I couldn't say at the time. Pleeeeaasee help me." jawab Angga terisak, air mata Abel yang sudah dipelupuk pun terjatuh lagi tak sanggup mendengar keluh kesah Angga. Nampak rongga luka di dada Angga yang sepertinya wajib dia dengarkan. Sementara itu BG, Riki dan Kevin terdiam.
"Gak ada lagi yang perlu Loe lakukan saat ini Angga." sahut BG lirih.
"Kasih waktu Airin buat bahagia."
"Please Bel, gue serasa gak ada daya untuk hidup lagi." ucap Angga sendu, Abel tetap diam. Dia tak mau menghianati janjinya pada Airin jika tiba saat seperti ini.
"Ngapain, Loe gak butuh hidup lagi ya udah sana jemput Malaikat maut Loe." celetuk Kevin.
"Segitu bencinya kalian ke gue."
"Of course we are."
"Semuanya itu karena ulah Loe sendiri."
"enough...." teriak Abel nyaring mendengar perdebatan tiada henti dari para lelaki.
"I'm done, go away." ucap Abel telak bahkan Angga pun tak mendebat, Abel beranjak mengajak pergi BG.
"Loe mikir lagi Angga, Jang ganggu Airin lagi. Tembok kalian terlalu tinggi." ucap Riki sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
"Gak ada yang jadi pemisah antara kita lagi.... gue seiman dengan kalian." teriak Angga lantang, bahkan Abel yang sudah sedikit jauh dari sana pun seketika terhenti menoleh kembali pada Angga.
"Apa maksud Loe." tanya Kevin.
"Gue sudah lama memilih untuk mualaf." jawab Angga lirih, bahkan sedikit merintih.
Abel menoleh ke sang tunangan bahkan mengeratkan genggamannya, Ada rahasia apa sebenarnya yang terjadi pada Angga. Penampilannya sekarang cukup buruk, dengan tubuh yang semakin kurus bahkan rambutnya yang gondrong seolah tak terawat.
Takk.. takk.. takkk..
Baghhh.. bughhhh gedebuggghh..
Terdengar suara langkah sepatu mendekat lalu tak lama diiringi dengan pukulan membabi buta untuk Angga lagi. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Dekka dan Cindy, Bahkan Abel BG, Riki dan Kevin yang masih syok dengan pengakuan besar dari Angga pun tak mengira kedatangan mereka berdua.
"Sialannnn rasain Loe Angga."
"Nihhh mamammmm."
__ADS_1
Baghhhh Bughhhhh..
Hai Guys Jang lupa likπ love β€οΈ gift π vote π« dan komentnya β¨οΈ yahhh... Mamaciii.. luvvvv πππ