
Thanks yahh Guys masih setia baca novel mee meen..
Tap 👍 like ❤️ love 🎁 Gift dan Vote 🎫 jangan lupa ⌨️ Komennya Ditunggu selalu biar Minthor tambah Semangkaa, Ehhh Kesalah Semangaats..
Happy Reading Guys...
"Kenapa kamu gak mau Dan." tanya Kevin setelah Dania menolak nya.
"Jangan ngorbanin masa depan mu untuk diri ku yang sudah tidak berguna ini Vin. Aku takut jadi aib untuk keluarga kamu." jawab Dania.
"Lalu kamu mau bagaimana, sudah nggak ada waktu lagi buat kamu Dan. Dia akan semakin besar."
"Ayah tidak tau harus bagaimana nak semua ada di dirimu."
"Kevin yakin mau menikahi Dania." potong Abel yang sedari tadi diam, Kevin mengangguk mantap.
"Apa yang kamu pikirkan sehingga mau menjadi suami Dania, bukan karena kamu merasa kasihan kan." lanjut Abel, disini Abel lebih berfikir secara logika.
"Munafik kalau gue gak kasihan Bel... Lebih tepatnya kasihan bayinya, dia butuh pengakuan yang kelak bisa menjadi sandarannya. Walau gue bukan orang yang seratus persen baik seenggaknya gue punya rasa manusiawi. Gue hanya ingat Nia, dia bahkan berkorban nyawa kenapa untuk melindungi Dania dan anaknya gue gak bisa." papar Kevin tegas, sisi dewasanya terlihat saat ini.
"Om dukung kamu nak, bicarakan baik-baik. Om akan berunding dengan ayah Dania, mari pak ikut saya." sahut Sagara lalu membawa ayah Dania keruangan nya. Tak lupa ia membawa hp Dania yang tersambung cctv rumah nya untuk memastikan apa yang sudah Dania katakan.
"Kita semua ke middle aja, sekalian ketemu Riki." ucap BG, Abel dan yang lainnya mengekori dibelakang.
Abel tak akan membiarkan Dania sendirian lagi, dia tak mau Dania berfikiran sempit yang ingin mengakhiri hidupnya. Semua sudah terjawab dan semoga akan segera terselesaikan.
"Apa kamu setuju jika Kevin sama Dania menikah baby." tanya BG saat mereka sedang diperjalanan menuju kafe middle tempat mereka berkumpul.
"Benar kata Kevin, karena saat ini nggak ada yang lebih baik untuk Dania kecuali segera menikah. Jika om Dania yang menjadi suaminya bukan kah nasib Dania tak lebih baik." jawab Abel, BG tersenyum hatinya merasa Abel sudah kenyang berbagai masalah, ditempa berbagai cobaan pemikiran nya semakin matang.
"Yahh kita keduluan Kevin baby."
"Gapapa ihhh, kan bentar lagi juga lulus. Gak kerasa loh udah mau dua tahun kuliah." jawab Abel, hari ini mereka harus bisa meyakinkan Dania agar mau menerima Kevin.
"Kita langsung aja, om Sagara udah kasih kabar ke gue. Ayah Dania dan om sagara sudah menyiapkan untuk melangsungkan pernikahan agama Dania dan Kevin. Untuk sementara kalian dinikahkan secara agama, setelah melahirkan akan didaftarkan akad resmi." Jelas BG, Dania meremat erat jemari nya.
"Gimana Dania, apa yang masih mengganjal dihati kamu saat ini. Katakan mari kita bantu." sela Abel, yang melihat keraguan Dania.
"Ibu hamil gak boleh banyak tekanan." sahut Dekka.
"Ayoo, Dania gak boleh egois. Anak itu titipan Tuhan kamu harus menjaga nya. Anak bukan kesialan, mungkin jalan nya saja yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Kamu cukup ikhlas dan tetap menjaganya dengan baik. Tuhan nggak memberikan rintangan kalau kamu gak mampu jalanin. Setelah kamu menikah sama Kevin, kamu bisa berbagi beban dengannya, kamu gak akan sendiri lagi." ucap Abel.
"Aku takut orang tua Kevin nggak bisa menerima, apalagi dengan kondisi aku seperti ini." gumam Dania lirih.
"Loe gimana Vin." tanya Riki, dia tak tau apa-apa saat rombongan mereka justru datang berkumpul ditempatnya sekarang.
"Kalian tau ortu gue gimana, mereka bukan orang yang egois. Mereka nggak pernah diktator hidup gue." jawab Kevin, karena semua sahabat nya tahu dari masih sekolah mereka membebaskan Kevin dalam bergaul.
"Nggak ada halangan lagi Dan, sekarang apa yang masih Loe pikirin." sela Dekka.
"Engggg."
"Apa kamu sudah periksa kandungan." celetuk Cindy, satu-satunya orang yang mengingatkan Masalah baru lagi. Dania menggeleng, hidupnya tak tentu arah dia bahkan tak tau tujuan hidupnya.
__ADS_1
Maaf jika memang aku yang bersalah
Lelah dengan kesunyian ini
Bersama pun tak saling bicara
Uh
Aku tak sanggup kita terus begini
Tak ingin cinta usai di sini
Kurindukan senyummu
Ku ingin peluk dirimu
Tapi rasa egoku terlalu tinggi
Tuhan tolonglah diriku
Ku tak ingin pisah dengannya
Ha ha
Terdengar lagu "Ego" yang mengalun di kafe, Abel sadari kalimat per kalimat dari lagu itu namun dia kesampingkan.
"Yaudah kayak gini kan kasian debay nya, Dania jangan egois yahh. Terima saja apa yang sudah Tuhan kirimkan termasuk mungkin Kevin yang akan menemani Dania sampai lanjut usia sebagai suami Dania." ucap Abel lembut, namun entah mengapa secara tidak langsung dada Abel terasa sesak.
"Iyaaa, aku mau." jawab Dania lirih membuat kita semua akhirnya merasa lega.
Bukan karna ku tak cinta lagi
Tapi ku ingin berhenti
Tidak saling menyakiti
Aku tak menahanmu tetap disini
Bukan karna tak bahagia lagi
Tapi kini ku sadari
Cinta tak harus saling miliki
Lagi, sebuah lagu meluncur Abel sudah tak kuasa lagi, dia menoleh kesana kemari mencari sosok yang sedang dalam pikirannya.
"Guys ada liat Metta nggak." ucap Abel pada Dekka dan Cindy, karena sedari mereka datang Metta duduk didekat mereka.
"Nggak Bell, kan dari tadi disini kita gak ngeh kemana dia." sahut Dekka.
"Kenapa baby." tanya BG, Abel memilih menggeleng karena bahkan semua sedang menatapnya.
"Enggak kok, kan tadi disini kok ngilang aja tuh bocah." jawab Abel santai. Akhirnya Kevin mengantar kan Dania ke apartemen unit Cindy atas saran Abel dkk.
__ADS_1
"Sayank, kamu kenapa." tanya BG pada Abel karena dia terus terlihat melamun, Abel menggeleng tapi dia justru melihat kearah Dekka.
"Apa Bell." tanya Dekka penasaran.
"Apa aku enggak salah ambil keputusan."
"Hahhh."
"Maksud Loe."
"Yang jelas baby."
"Apaan sih Bel."
Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut para sahabat Abel, karena nona Arabella sedang ambigu mode on. Tak lama Abel memanggil salah satu karyawan kafe yang melintas.
"Mas, lihat Metta nggak."
"Ohh mbak Metta di kantor kalau enggak salah."
"Gitu yah, makasih yah." jawab Abel, seolah mendapat jakpot dia bergegas menuju ruangan yang dijadikan kantor oleh BG saat di kafe.
Deg..
Abel seketika terhenti saat mendapati siluet Metta yang sedang duduk menunduk, pundaknya bergetar tanda dia sedang tak baik. Dibelakangnya Dekka dan BG pun memperhatikan Abel yang berdiam didepan pintu kaca memandang sosok yang terlihat jelas dari pintu kaca.
Hati ini (hati ini) ingin mencoba
Mempertahankan kisah kita
Namun, tak mungkin
Terlalu sulit untuk kita bisa bersama, wo-wo
Mungkinkah kujalani hidup tanpa cinta?
Tanpa dirimu
Haruskah kurelakan keadaan ini?
Meski tak mampu ku hidup tanpamu
ho-oh, tanpamu
Tanpa dirimu
Haruskah kurelakan keadaan ini?
Meski tak mampu ku hidup tanpamu
Ho-oh
Ku hidup tanpamu
__ADS_1
Hati Abel semakin berdesir, entahlah saat ini apa dia salah mengambil keputusan.