
Satu minggu berlalu setelah liburan ke Bali, Abel dkk pun comeback ke rutinitas sehari-hari. Dua hari yang lalu Airin dikejutkan dengan panggilan dari kepala sekolah untuk menghadapnya. Proposal yang sudah diajukan beberapa bulan yang lalu tentang kegiatan Makrab nyatanya baru difollow up oleh pihak sekolah.
Abel dan Airin bersama dengan kedua dayang setianya Angga dan Devan tengah berada di kantin karena baru saja mengikuti kegiatan olahraga. Belum banyak murid dikantin karena jam istirahat belum tiba.
"Ai surat persetujuan ortu kapan dibagi." ucap Devan.
"Persetujuan apa." tanya Abel.
"Ohhhiyaa belum tau yahh, Proposal Makrab camping 2hari disetujui sekolah." jelas Airin.
"Kapan."
"Jumat besok berangkat, Balik minggu pagi." jelas Airin.
"Aku gak tau dikasih ijin apa enggak."
Ucapan Abel membuat ketiga temannya bungkam, bagaimanapun kegiatan alam rentan untuk Abel mengingat statusnya putri petinggi wilayah Abdi Negara yang harus dijamin keselamatannya.
Tak lama obrolan mereka diinterupsi oleh kedatangan BG dan yang lainnya. BG menarik kursi membawanya kesamping Abel.
"Pantesan dicari dikelas gak ada."
"Hemm, iyaah tadi selesai cepet." jawab Abel, BG pun mengangguk lalu memberikan Kevin beberapa lembar uang, Kevin pun paham dan segera menuju booth sesuai pesanan bersama Wira.
"Boss, Jumat ada camping kita." ucap Devan pada BG.
"Camping..??" tanya BG dan diangguki oleh Devan.
"Kok dadakan, kamu ikut baby." lanjut BG lalu menanyakan pada sang tunangan, Abel pun menggeleng.
"Kamu pengen ikut apa gimana, biar nanti aku yang bilang ke ayah." jelas BG, Abel pun menoleh ke arah Airin dan teman-temannya.
"Emang boleh."
"Aku usahain, kalau perlu ajak mas Alvin biar gak bikin ayah was-was."
Abel mengangguk jika BG sudah keluar statement, itu menandakan dia serius.
"Yeeeii liburan lagi kita."
"Kek kurang asupan libur aje loe."
Karena Abel sudah selesai makan dan Airin, Angga Devan yang notabene Anggota OSIS harus kembali duluan karena ada rapat OSIS tentang Camping 3hari lagi.
Abel pun mengatakan jika kegiatan ini sudah diajukan beberapa bulan yang lalu entah mengapa baru di Acc kepala sekolah. Apalagi murid kelas XII pun akan segera mengikuti Try out untuk selanjutnya pun UNAS.
"Mett, kenapa loe diem aja sihh." tanya Dekka, sontak Abel menoleh kearah Metta.
"Kamu sakit gih ke UKS."
"Enggak kenapa kok, cuma sakit pinggang aja, biasanya sihh kek mo dapet." jelas Metta.
"Sudah lama loe ngeluh sakit pinggang Mett, kalau loe lupa." ucap Dekka.
"Kamu periksa dehh, kalau sakit biar segera diobati." sela Abel, dan Metta pun mengangguk.
Sementara para lelaki hanya menjadi penonton para gadis didepan mereka karena kini mereka sedang asyik dengan gawai masing-masing.
Dua puluh menit kemudian bel masuk jam pelajaran berikutnya tiba, namun tiap kelas akan ada perwakilan OSIS yang mendatangi guna memberikan surat keterangan persetujuan ortu untuk mengikuti camping.
Tidak dengan kelas Abel karena kelas XI IPA 1 yang menjadi ketua kelasnya adalah Angga sehingga dia bisa handle untuk kelasnya.
*
Setibanya dirumah Abel menghampiri sang bunda guna konsultasi sebelum dia menghadap sang ayah.
"Bun, jumat besok ada camping Makrab."
ucap Abel.
"Yaaa truss."
"Boleh nggak Abel ikutan."
"Enggak tahu coba tanya ayah. Emang dimana tempaknya enggak dihutan gitu kan."
"Yaa enggak lahh bun, di bumi perkemahan bukit Pramuka, ini ada suratnya juga." jelas Abel.
__ADS_1
"Yaudahh, minta ttd ayah Bell."
"Kira-kira dikasih nggak Bun." tanya Abel serius.
"Bagas ikut kan." tanya bunda, Abel pun mengangguk.
"Yaa semoga ayah kasih." ucap Bunda sambil terkekeh menggoda Abel.
Abel memberengut, bahkan saat BG menelponnya pun masih nampak wajah kusutnya.
"Kenapa itu muka kusut banget sihh, astagaaa cewek gue."
"Jangan mulai iseng yahh."
"Hahahha becanda baby, kenapa hummm."
"Takut gak dapat ijin ayah."
"Emang sudah bilang." Tanya BG namun Abel menggeleng.
"kenapa belum."
"Ayah masih diluar kota baru pulang besok malam."
"Yasudah nanti aku telpon ayah."
Nampak senyum Abel mulai terbit, dia yakin jika BG mampu meyakinkan sang ayah.
"Nahhh gitu dong, jangan murung terus."
Obrolan mereka berlanjut seolah tak ada hari lagi, hingga Abel tertidur.
"Night baby, nice dreams." Ucap BG saat sambil memandang wajah Abel yang terlelap, setiap harinya BG selalu sempatkan menelpon sebelum gadisnya tidur.
*
Dua hari berlalu, hari terakhir dimana pengumpul surat persetujuan dari ortu untuk kegiatan camping membuat Abel sering membuang napas berat.
"Harus yahh ttd ortu." celetuk BG.
"Emang napa Gas." tanya Airin.
"Yahhh gak bisa kecuali loe suaminya." jawab Airin.
"Yaa kan calon suami Ai, gimana dong." ucap BG terus bernegosiasi pada sang ketua OSIS.
"Berat Gas, kalau ayahnya gak kasih ijin entar nuntut ke sekolah gimana." ujar Airin.
"Yaudahh gak papa aku gak ikut aja, kalau ayah gak kasih." desis Abel, bahkan matanya pun sudah berkaca-kaca.
"Aku coba telpon ayah lagi yah baby." ucap BG.
"Enggak usah, kamu kalau mau ikut, ikut aja aku enggak usah."
"Kenapa kamu bilang gitu, kalau kamu gak bisa ikut aku juga gak akan ikut dong sayang." jawab BG.
"Yaa terus gimana ayah belum pulang, enggak bisa kasih ijin. hiksss." sahut Abel merengek.
"Heeeeyyy, shuuutt.. udah yahh, aku telp ayah dulu." ucap BG sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Abel dan membersihkan bulir air matanya yang menetes.
BG menunjukan pesan dari ayah Abel kepada Airin menyatakan jika menyetujui keikutsertaan Abel di kegiatan camping.
Hingga pulang sekolah pun Abel belum mengetahui perihal sms ayah kepada sang tunangan.
"liat daftar peserta yang ikut camping besok yukk guys."
"Yukk Bell."
Ajakan dari teman sekelasnya itu pun tak digubris oleh Abel. Hingga kedatangan BG kedalam kelasnya lah yang mampu menggerakan Abel.
"Yuk pulang." ajak BG.
"Mampir mading dulu liat pengumuman." lanjut BG, Abel tak menanggapinya tak ada raut kesal atau muram. Namun jelas terlihat Abel nampak murung tak bersemangat.
"Aku langsung pulang."
"Ikut dulu baby, sebentar doang."
__ADS_1
"Hemmmb." gumam Abel lirih akhirnya pasrah mengikuti langkah BG.
Setibanya didepan mading terlihat antusiasme murid yang membuat terlalu ramai.
"Aku duduk sini aja kamu liat aja sana, kan aku gak ikut." ucap Abel, namun semakin membuat BG gemas ternyata dia masih teguh dengan pendiriannya.
"Kamu gak ikut aku juga enggak lohh." sahut BG lalu mendudukkan pantatnya dibangku sebelah Abel.
"Yaaa truss kamu ngapain ngajakin kesini pulang ajah mas Alvin nungguin lohh." jawab Abel.
"Mas mu udah aku suruh pulang."
"Hahhhhh." Abel semakin tak mengerti maksud BG.
"Mingkem syang entar ada yang lewat bahayaa."
"Kamu kalau godain aku terus, aku pulang naik ojek yahh."
"Babbbbyyyyyy..."
"Huaaaa, besok kita liburaaan."
"Kenapa kalian teriak, aku kan gak ikut."
Celetukan Abel membuat teman-teman nya seketika membeku.
"Haahhhh.."
"Ini bocah kenapa yakkk."
"Loe lagi dapet Bell."
"Apaan sihh, enggak. Emang aku gak ikut kenapa kalian seneng banget sihh." desis Abel.
Sedangkan temannya itu memandang Abel dan BG bergantian.
"Trus itu yang namanya Arabella di papan nama siapa."
"Tauuukk, anak pak Raharjo kalik."
"Lahiyaaa dipapan kan Arabella bukan Abel."
Bisik-bisik mereka semakin absurb, namun bisa Abel dengar tanpa delay sedikitpun.
"Kalian bilang apa." tanya Abel.
"Yang dipapan itu nama siapa kalau bukan elo, Yasalamm." teriak Nia frustasi.
"Tapi aku belum ngumpulin surat ortu lohh.. Kokk Biss.... sa." jawab Abel terbata lalu menoleh kearah BG yang sedari tadi menahan untuk tidak tertawa.
"Jelassssinn." ucap Sebal Abel sambil mencubit lengan BG.
"Auhhhhh sakit baby. Kamu kan udah aku kasih tau sedari tadi."
"Kapaaann."
"Hemmmbb, kamu sihh ambil kesimpulan sendiri kan. Padahal yahh sedari tadi aku telponin ayah lohh, dan ayah ngijinin." jelas BG, Abel mengerjapkan kedua matanya.
"Trus siapa yang ttd." cecar Abel.
"You're future Husband of course." jawab BG.
"Telp ayah kalau gak percaya, atau mas Al gihh." lanjut BG.
"Sudahhh yuukk pulang kita harus packing." potong Fransiska.
Akhirnya mereka pun pulang, meskipun Abel masih belum yakin, entah apa yang dia fikirkan, namun setidaknya Abel senang karena bisa ikut camping bersama teman-temannya.
"Masihh cemberut aja sih, enggak seneng."
"Seneng cuma sebel ajaa kamu main rahasia." jawab Abel.
"Lahhh ko rahasia sih, kan sedari tadi kamu yang gak mau dengerin aku dulu. udah nevthink ke ayah dulu kan.."
"Hemmmbb."
"Sudahh yahh, ini mau cari apa dulu sebelum packing."
__ADS_1
"Mampir supermarket aja yahh."
"Okeyy let's gooo.."